Bab 56 - Hak Akses
Mynhemeni hanya mengangguk, matanya mengikuti setiap perubahan yang dilakukan Cakra tanpa banyak komentar. Cakra kembali bermain dengan busananya. Ia memilih tampilan yang lebih santai, hampir seperti ingin menegaskan bahwa semua ini hanyalah selingan kecil baginya.
Kaos hijau polos yang tadi menempel di tubuhnya memudar, berganti warna krem lembut tanpa motif. Celana pantai yang ia kenakan saat terseret ombak Parangtritis tetap ia pertahankan, kainnya terlihat sudah jauh lebih bersih dari seharusnya. Sepatu sneakers kebanggaannya berubah wujud menjadi sandal elegan dengan buckle klasik cokelat, tampak terlalu mewah untuk suasana jet militer, seolah Cakra sengaja bercanda dengan realitas.
Setelah puas, ia kembali duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
“Bukan cuma itu,” ucap Mynhemeni tiba-tiba. Ia tampak tersentak oleh pikirannya sendiri, seperti seseorang yang baru menemukan kembali potongan memori yang sempat tercecer. Tubuhnya bergerak maju. Kaki yang semula berselonjor di atas sofa ia turunkan, kakinya kini menapak lantai jet yang dingin dan halus. Getaran halus mesin terasa samar, konstan, seperti detak jantung raksasa di bawah mereka.
“Alat itu juga bisa menampilkan bentuk sosokmu seperti yang kamu inginkan,” lanjutnya, lalu berhenti sejenak. Matanya menajam.
“Kamu masih ingat pertanyaanmu?” Cakra mengerjap. Ia butuh waktu untuk memilah satu pertanyaan di antara ribuan yang ia lontarkan sejak menculik Mynhemeni.
“Pertanyaan yang mana?” tanyanya jujur, sedikit bingung. Mynhemeni tersenyum kecil. Kakinya bergerak naik turun, jelas menahan antusiasme.
“Tentang kami yang menolak jodoh pilihan Ravin karena bentuk fisiknya tidak sesuai selera.”
“Oh.” Cakra mengangguk pelan. “Tapi kamu bilang bentuk fisik cuma sampul identitas. Nggak berpengaruh ke penilaian kalian, kan?”
“Itu benar,” jawab Mynhemeni cepat.
“Tapi ada jawaban lain. Dan ini jauh lebih menyenangkan.” Ia menepukkan tangannya sekali, seperti anak kecil yang tak sabar membuka hadiah.
“Apa?” Cakra langsung condong ke depan.
Cakra mengernyit dan menengadah ke langit-langit jet. Wajah-wajah berkelebat di benaknya. Teman sekolah. Sosok samar dari ingatan masa kecil. Lalu Mia muncul sejenak, cukup lama untuk membuat dadanya menghangat. Namun bayangan itu perlahan memudar, tergeser oleh satu wajah lain yang jauh lebih jelas. Wajah yang terasa akrab meski tak pernah benar-benar ia kenal. Penyanyi perempuan pendatang baru asal Inggris, nama yang belakangan ini tak pernah absen dari obrolan teman-temannya dan kini sedang merajai tangga lagu dunia.
“Sudah?” tanya Mynhemeni tak sabar. Cakra menoleh dan mengangguk.
“Oke. Perhatikan baik-baik.”
Mynhemeni menarik napas, bahunya mengendur, tangannya terangkat lalu turun perlahan, seolah melakukan pemanasan sebelum aksi nekat. Dalam hitungan detik, perubahan itu terjadi. Rambut perak panjangnya yang semula terurai mulai menggelap, memendek, berubah menjadi pirang kecokelatan dengan gelombang halus. Potongannya menyerupai bob, sedikit berantakan, ujungnya menggantung santai di atas bahu yang kini tampak lebih ramping. Wajahnya bergeser perlahan, tulang pipi, mata, bibir, semuanya menyusun ulang diri mereka dengan presisi yang mengerikan.
Cakra menahan napas.
Tidak sampai lima detik berlalu, sosok di hadapannya telah berubah sepenuhnya. Wujud Mynhemeni lenyap, digantikan oleh sosok gadis yang tengah digandrungi remaja seusianya. Gadis asal Inggris itu duduk tenang di sofa jet militer. Ia menatap Cakra tanpa berkedip, dengan wajah yang terlalu sempurna untuk sekadar ilusi.
Dan Cakra menyadari satu hal dengan jantung berdebar. Di Negeri Porkah, bahkan identitas pun bisa dinegosiasikan.
“Wow…” Cakra benar-benar kehabisan kata. Ia menatap sosok di hadapannya tanpa berkedip, seolah takut bayangan itu akan lenyap jika ia lengah sedetik saja. Penyanyi dunia duduk di hadapannya, nyata, bernapas, bahkan memiringkan kepala dengan cara yang terlalu familiar untuk disebut kebetulan. Tangannya sempat terangkat, jari-jarinya bergerak ragu, tergoda untuk memastikan bahwa wajah itu bukan sekadar proyeksi cahaya. Namun niat itu ia tahan. Ada batas tak tertulis yang tiba-tiba terasa perlu dihormati.
Tak lama kemudian, tubuh di hadapannya kembali bergerak. Garis wajahnya melunak, dalam sekejap, Mynhemeni kembali hadir, hanya saja potongan rambutnya kini masih menyerupai gaya idola dunia tersebut, memberi kesan asing yang ganjil.
“Kamu jadi kelihatan sedikit berbeda dengan potongan itu,” ujar Cakra akhirnya, suaranya jujur. Ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa rambut perak panjang Mynhemeni jauh lebih memikat, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Seakan membaca itu, Mynhemeni kembali berubah. Rambut pirang kecokelatan itu memudar, memanjang, lalu kembali menjadi rambut awalnya.
Perak berkilau.
Cakra menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Sekarang aku paham. Pantes saja kalian nggak mungkin menolak jodoh cuma karena selera fisik. Kalian bisa menyesuaikan diri dengan selera siapa pun.”
“Betul,” jawab Mynhemeni santai.
“Berkat Sanvar, kami bisa memproyeksikan bentuk seperti yang kami inginkan. Tapi tidak selamanya. Energinya besar, jadi penggunaannya harus bijak. Biasanya kami memilih mode penyamaran, cukup untuk terlihat berbeda di mata orang lain.”
“Tapi yang melihat perubahan itu kan justru orang yang ingin kalian hindari,” sela Cakra, mengingat kembali aturan aneh dunia Porkah.
Mynhemeni mengangguk. “Iya. Memang begitu.”
Ia tersenyum tipis, lalu melanjutkan.
“Sanvar bisa melakukan apa pun selama sesuai kebutuhan. Bahkan soal aroma.” Kalimat itu belum sepenuhnya selesai ketika udara di dalam jet berubah. Wangi lembut menyebar, hangat dan bersih, seperti campuran laut tenang dan daratan setelah hujan. Tidak menyengat, tapi cukup untuk membuat Cakra menarik napas lebih dalam tanpa sadar.
“Oh,” gumamnya.
“Aku kira wangi dari tubuhmu itu parfum. Ternyata... Sanvar?” Mynhemeni hanya mengangguk pelan. Dan saat itu Cakra menyadari, di Negeri Porkah, bahkan hal paling manusiawi sekalipun bisa direkayasa. Termasuk rupa. Termasuk aroma. Termasuk kesan pertama yang perlahan mulai menggoyahkan logikanya sendiri.
“Sanvar akan mengeluarkan aroma yang pernah terekam oleh otakmu,” jelas Mynhemeni santai.
“Selain itu, ia juga merawat tubuhmu dari bakteri dan virus berbahaya. Selama kamu mengenakannya, tubuhmu akan selalu bersih dan sehat. Bahkan mulutmu langsung dibersihkan begitu selesai mengunyah.”
“Wow…” Cakra refleks membuat lidahnya menyentuh sela-sela gigi. Memastikan tidak ada sisa daging yang terselip.
“Pantesan habis makan tadi mulutku nggak bau daging sama sekali. Jadi kalian itu sebenarnya nggak pernah mandi, atau justru mandi terus?”
Mynhemeni terkekeh kecil. “Tergantung dari sudut pandangmu. Intinya, Sanvar bisa melakukan apa pun yang kami butuhkan.”
“Paham.”
Cakra mencoba bereksperimen. Ia membayangkan berbagai aroma parfum mahal yang pernah ia cium, dan seketika wangi-wangi itu bercampur keluar dari tubuhnya. Terlalu banyak. Terlalu membingungkan. Ia mengernyit, lalu menghentikannya.
Ia memilih satu aroma saja. Aroma parfum bundanya.
Dada Cakra menghangat sekaligus sesak. Ia menarik napas dalam, membiarkan wangi itu menetap lebih lama dari yang ia rencanakan. Rindu datang tanpa permisi.
“Oh iya,” katanya tiba-tiba, seolah ingin mengalihkan diri.
“Aku sudah berapa lama di Porkah? Sekarang tanggal berapa?” Pikirannya langsung melayang ke Parangtritis. Ke ayah dan bundanya yang pasti masih mencarinya, menolak percaya bahwa ia benar-benar hilang.
“Hampir sepuluh jam sejak kami membawamu ke Distrik Nor,” jawab Mynhemeni.
“Hah?” Cakra menegakkan tubuh. “Jadi hari ini masih Rabu tanggal delapan belas?”
“Iya. Menurut penanggalan manusia darat. Kami punya sistem kalender sendiri, tapi untuk waktu, kami menggunakan standar yang sama. Hanya saja tanpa pembagian zona.”
“Kalau begitu sekarang jam berapa di tempat asalku?”
“Cukup gerakkan kepalamu atau kedipkan mata,” ujar Mynhemeni.
“Fokuskan pikiran pada apa yang kamu butuhkan. Casvet akan muncul saat diperlukan. Layar itu akan menyesuaikan jarak pandangmu. Bisa kamu atur hanya terlihat olehmu, atau juga oleh orang lain.”
Cakra langsung mencobanya.
“Waaah…” Sebuah layar transparan muncul mengikuti arah pandangnya.
“Kayak Iron Man.” Informasi waktu dan tanggal terpampang rapi. Pukul delapan lewat empat pagi waktu Indonesia bagian barat. Cakra menghembuskan napas lega. Belum terlalu lama. Dunia darat belum sepenuhnya bergerak tanpa dirinya.
Layar itu juga menampilkan titik koordinat. Jantungnya berdegup lebih cepat saat menyadari posisinya berada di antara Australia dan Antartika. Tak jauh dari Pulau Tasmania. Titik itu bergerak cepat ke arah barat, ke arah Samudra Hindia. Mendekati wilayah dingin yang belum pernah ia bayangkan akan ia dekati seumur hidupnya.
Ia berkedip lagi, mencoba mencari tujuan akhir jet itu.
Tak ada.
“Kok aku nggak bisa lihat tujuan kita?” tanyanya, nada suaranya lebih penasaran daripada waspada.
“Nggak muncul informasi ke mana jet ini akan pergi.” Pertanyaan itu menggantung di udara kabin, ringan tapi sarat makna. Sebab untuk pertama kalinya, Cakra sadar bahwa tidak semua hal di dunia Porkah bisa ia akses, meskipun teknologinya terasa nyaris mahatahu.
“Maaf. Semua informasi mengenai Porkah memang kami nonaktifkan,” ucap Mynhemeni pelan. Nada suaranya turun, seolah tiap kata punya bobot penyesalan sendiri. Cakra menatapnya sesaat, lalu tersenyum tipis. Tidak ada kekecewaan di sana. Lebih mirip penerimaan yang terpaksa. Ia kembali memusatkan perhatian pada Casvet, mengirim perintah ke otaknya untuk mengakses internet. Layar itu berkedip, lalu menggelap. Sanvar menolaknya tanpa kompromi.
Ia menghela napas. “Aku nggak bisa mengakses informasi dari daratan?”
Mynhemeni menggeleng kecil. “Maaf. Fungsi itu sudah kami matikan. Kamu lupa kalau statusmu masih tahanan?”
“Iya, aku paham.” Cakra menggaruk tengkuknya, nada suaranya merajuk tanpa benar-benar marah.
“Tapi aku sudah setuju untuk bekerja sama, kan? Paling nggak… internet saja.”
Ia menelan ludah.
“Aku mau akses akun sosial mediaku, atau akses Wazap-ku. Aku cuma ingin orang tuaku tahu kalau aku masih hidup. Itu saja.” Ruangan terasa hening sesaat. Tekanan air di luar dinding logam seakan ikut menekan dada.
“Untuk mengaktifkan itu, kamu harus kembali ke kantor pusat,” jawab Mynhemeni akhirnya.
“Nivar Sanvarmu berada di sana.” Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, suaranya merendah.
“Masalahnya, situasinya sekarang tidak sesederhana itu.” Cakra menoleh. Alisnya terangkat.
“Mereka percaya kamu benar-benar menculikku,” lanjut Mynhemeni.
“Seperti yang sudah kubilang. Bahkan kalau kamu betulan membunuhku pun… mereka tidak akan peduli.” Nada kecewa menyelinap di suaranya. Ada kecemasan yang samar, namun jelas. Cakra menangkapnya, bersama kesadaran lain yang mengganggu. Suara Mynhemeni memang terdengar merdu. Terlalu hangat untuk kalimat setajam itu.
“Dan meskipun kamu setuju bekerja sama,” sambungnya, lebih tegas, “itu tidak berarti kamu bebas.” Ia menatap Cakra lurus.
“Kamu akan dikurung. Di ruang yang terisolasi. Tidak boleh berhubungan dengan siapa pun. Termasuk aku. Apalagi daratan.” Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti palu kecil yang memaku harapan.
“Mereka akan menahanmu,” ucapnya pelan, “sampai kamu benar-benar dinyatakan bukan ancaman.” Cakra mengepalkan jarinya. Bayangan ayah dan bundanya melintas cepat di kepalanya, lalu memudar seperti cahaya yang tenggelam di laut dalam.
Mynhemeni menarik napas, lalu bertanya dengan suara yang lebih tajam dari sebelumnya, seolah menantang sekaligus menguji.
“Apakah itu yang kamu inginkan?”
Kaos hijau polos yang tadi menempel di tubuhnya memudar, berganti warna krem lembut tanpa motif. Celana pantai yang ia kenakan saat terseret ombak Parangtritis tetap ia pertahankan, kainnya terlihat sudah jauh lebih bersih dari seharusnya. Sepatu sneakers kebanggaannya berubah wujud menjadi sandal elegan dengan buckle klasik cokelat, tampak terlalu mewah untuk suasana jet militer, seolah Cakra sengaja bercanda dengan realitas.
Setelah puas, ia kembali duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
“Bukan cuma itu,” ucap Mynhemeni tiba-tiba. Ia tampak tersentak oleh pikirannya sendiri, seperti seseorang yang baru menemukan kembali potongan memori yang sempat tercecer. Tubuhnya bergerak maju. Kaki yang semula berselonjor di atas sofa ia turunkan, kakinya kini menapak lantai jet yang dingin dan halus. Getaran halus mesin terasa samar, konstan, seperti detak jantung raksasa di bawah mereka.
“Alat itu juga bisa menampilkan bentuk sosokmu seperti yang kamu inginkan,” lanjutnya, lalu berhenti sejenak. Matanya menajam.
“Kamu masih ingat pertanyaanmu?” Cakra mengerjap. Ia butuh waktu untuk memilah satu pertanyaan di antara ribuan yang ia lontarkan sejak menculik Mynhemeni.
“Pertanyaan yang mana?” tanyanya jujur, sedikit bingung. Mynhemeni tersenyum kecil. Kakinya bergerak naik turun, jelas menahan antusiasme.
“Tentang kami yang menolak jodoh pilihan Ravin karena bentuk fisiknya tidak sesuai selera.”
“Oh.” Cakra mengangguk pelan. “Tapi kamu bilang bentuk fisik cuma sampul identitas. Nggak berpengaruh ke penilaian kalian, kan?”
“Itu benar,” jawab Mynhemeni cepat.
“Tapi ada jawaban lain. Dan ini jauh lebih menyenangkan.” Ia menepukkan tangannya sekali, seperti anak kecil yang tak sabar membuka hadiah.
“Apa?” Cakra langsung condong ke depan.
Cakra mengernyit dan menengadah ke langit-langit jet. Wajah-wajah berkelebat di benaknya. Teman sekolah. Sosok samar dari ingatan masa kecil. Lalu Mia muncul sejenak, cukup lama untuk membuat dadanya menghangat. Namun bayangan itu perlahan memudar, tergeser oleh satu wajah lain yang jauh lebih jelas. Wajah yang terasa akrab meski tak pernah benar-benar ia kenal. Penyanyi perempuan pendatang baru asal Inggris, nama yang belakangan ini tak pernah absen dari obrolan teman-temannya dan kini sedang merajai tangga lagu dunia.
“Sudah?” tanya Mynhemeni tak sabar. Cakra menoleh dan mengangguk.
“Oke. Perhatikan baik-baik.”
Mynhemeni menarik napas, bahunya mengendur, tangannya terangkat lalu turun perlahan, seolah melakukan pemanasan sebelum aksi nekat. Dalam hitungan detik, perubahan itu terjadi. Rambut perak panjangnya yang semula terurai mulai menggelap, memendek, berubah menjadi pirang kecokelatan dengan gelombang halus. Potongannya menyerupai bob, sedikit berantakan, ujungnya menggantung santai di atas bahu yang kini tampak lebih ramping. Wajahnya bergeser perlahan, tulang pipi, mata, bibir, semuanya menyusun ulang diri mereka dengan presisi yang mengerikan.
Cakra menahan napas.
Tidak sampai lima detik berlalu, sosok di hadapannya telah berubah sepenuhnya. Wujud Mynhemeni lenyap, digantikan oleh sosok gadis yang tengah digandrungi remaja seusianya. Gadis asal Inggris itu duduk tenang di sofa jet militer. Ia menatap Cakra tanpa berkedip, dengan wajah yang terlalu sempurna untuk sekadar ilusi.
Dan Cakra menyadari satu hal dengan jantung berdebar. Di Negeri Porkah, bahkan identitas pun bisa dinegosiasikan.
“Wow…” Cakra benar-benar kehabisan kata. Ia menatap sosok di hadapannya tanpa berkedip, seolah takut bayangan itu akan lenyap jika ia lengah sedetik saja. Penyanyi dunia duduk di hadapannya, nyata, bernapas, bahkan memiringkan kepala dengan cara yang terlalu familiar untuk disebut kebetulan. Tangannya sempat terangkat, jari-jarinya bergerak ragu, tergoda untuk memastikan bahwa wajah itu bukan sekadar proyeksi cahaya. Namun niat itu ia tahan. Ada batas tak tertulis yang tiba-tiba terasa perlu dihormati.
Tak lama kemudian, tubuh di hadapannya kembali bergerak. Garis wajahnya melunak, dalam sekejap, Mynhemeni kembali hadir, hanya saja potongan rambutnya kini masih menyerupai gaya idola dunia tersebut, memberi kesan asing yang ganjil.
“Kamu jadi kelihatan sedikit berbeda dengan potongan itu,” ujar Cakra akhirnya, suaranya jujur. Ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa rambut perak panjang Mynhemeni jauh lebih memikat, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Seakan membaca itu, Mynhemeni kembali berubah. Rambut pirang kecokelatan itu memudar, memanjang, lalu kembali menjadi rambut awalnya.
Perak berkilau.
Cakra menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Sekarang aku paham. Pantes saja kalian nggak mungkin menolak jodoh cuma karena selera fisik. Kalian bisa menyesuaikan diri dengan selera siapa pun.”
“Betul,” jawab Mynhemeni santai.
“Berkat Sanvar, kami bisa memproyeksikan bentuk seperti yang kami inginkan. Tapi tidak selamanya. Energinya besar, jadi penggunaannya harus bijak. Biasanya kami memilih mode penyamaran, cukup untuk terlihat berbeda di mata orang lain.”
“Tapi yang melihat perubahan itu kan justru orang yang ingin kalian hindari,” sela Cakra, mengingat kembali aturan aneh dunia Porkah.
Mynhemeni mengangguk. “Iya. Memang begitu.”
Ia tersenyum tipis, lalu melanjutkan.
“Sanvar bisa melakukan apa pun selama sesuai kebutuhan. Bahkan soal aroma.” Kalimat itu belum sepenuhnya selesai ketika udara di dalam jet berubah. Wangi lembut menyebar, hangat dan bersih, seperti campuran laut tenang dan daratan setelah hujan. Tidak menyengat, tapi cukup untuk membuat Cakra menarik napas lebih dalam tanpa sadar.
“Oh,” gumamnya.
“Aku kira wangi dari tubuhmu itu parfum. Ternyata... Sanvar?” Mynhemeni hanya mengangguk pelan. Dan saat itu Cakra menyadari, di Negeri Porkah, bahkan hal paling manusiawi sekalipun bisa direkayasa. Termasuk rupa. Termasuk aroma. Termasuk kesan pertama yang perlahan mulai menggoyahkan logikanya sendiri.
“Sanvar akan mengeluarkan aroma yang pernah terekam oleh otakmu,” jelas Mynhemeni santai.
“Selain itu, ia juga merawat tubuhmu dari bakteri dan virus berbahaya. Selama kamu mengenakannya, tubuhmu akan selalu bersih dan sehat. Bahkan mulutmu langsung dibersihkan begitu selesai mengunyah.”
“Wow…” Cakra refleks membuat lidahnya menyentuh sela-sela gigi. Memastikan tidak ada sisa daging yang terselip.
“Pantesan habis makan tadi mulutku nggak bau daging sama sekali. Jadi kalian itu sebenarnya nggak pernah mandi, atau justru mandi terus?”
Mynhemeni terkekeh kecil. “Tergantung dari sudut pandangmu. Intinya, Sanvar bisa melakukan apa pun yang kami butuhkan.”
“Paham.”
Cakra mencoba bereksperimen. Ia membayangkan berbagai aroma parfum mahal yang pernah ia cium, dan seketika wangi-wangi itu bercampur keluar dari tubuhnya. Terlalu banyak. Terlalu membingungkan. Ia mengernyit, lalu menghentikannya.
Ia memilih satu aroma saja. Aroma parfum bundanya.
Dada Cakra menghangat sekaligus sesak. Ia menarik napas dalam, membiarkan wangi itu menetap lebih lama dari yang ia rencanakan. Rindu datang tanpa permisi.
“Oh iya,” katanya tiba-tiba, seolah ingin mengalihkan diri.
“Aku sudah berapa lama di Porkah? Sekarang tanggal berapa?” Pikirannya langsung melayang ke Parangtritis. Ke ayah dan bundanya yang pasti masih mencarinya, menolak percaya bahwa ia benar-benar hilang.
“Hampir sepuluh jam sejak kami membawamu ke Distrik Nor,” jawab Mynhemeni.
“Hah?” Cakra menegakkan tubuh. “Jadi hari ini masih Rabu tanggal delapan belas?”
“Iya. Menurut penanggalan manusia darat. Kami punya sistem kalender sendiri, tapi untuk waktu, kami menggunakan standar yang sama. Hanya saja tanpa pembagian zona.”
“Kalau begitu sekarang jam berapa di tempat asalku?”
“Cukup gerakkan kepalamu atau kedipkan mata,” ujar Mynhemeni.
“Fokuskan pikiran pada apa yang kamu butuhkan. Casvet akan muncul saat diperlukan. Layar itu akan menyesuaikan jarak pandangmu. Bisa kamu atur hanya terlihat olehmu, atau juga oleh orang lain.”
Cakra langsung mencobanya.
“Waaah…” Sebuah layar transparan muncul mengikuti arah pandangnya.
“Kayak Iron Man.” Informasi waktu dan tanggal terpampang rapi. Pukul delapan lewat empat pagi waktu Indonesia bagian barat. Cakra menghembuskan napas lega. Belum terlalu lama. Dunia darat belum sepenuhnya bergerak tanpa dirinya.
Layar itu juga menampilkan titik koordinat. Jantungnya berdegup lebih cepat saat menyadari posisinya berada di antara Australia dan Antartika. Tak jauh dari Pulau Tasmania. Titik itu bergerak cepat ke arah barat, ke arah Samudra Hindia. Mendekati wilayah dingin yang belum pernah ia bayangkan akan ia dekati seumur hidupnya.
Ia berkedip lagi, mencoba mencari tujuan akhir jet itu.
Tak ada.
“Kok aku nggak bisa lihat tujuan kita?” tanyanya, nada suaranya lebih penasaran daripada waspada.
“Nggak muncul informasi ke mana jet ini akan pergi.” Pertanyaan itu menggantung di udara kabin, ringan tapi sarat makna. Sebab untuk pertama kalinya, Cakra sadar bahwa tidak semua hal di dunia Porkah bisa ia akses, meskipun teknologinya terasa nyaris mahatahu.
“Maaf. Semua informasi mengenai Porkah memang kami nonaktifkan,” ucap Mynhemeni pelan. Nada suaranya turun, seolah tiap kata punya bobot penyesalan sendiri. Cakra menatapnya sesaat, lalu tersenyum tipis. Tidak ada kekecewaan di sana. Lebih mirip penerimaan yang terpaksa. Ia kembali memusatkan perhatian pada Casvet, mengirim perintah ke otaknya untuk mengakses internet. Layar itu berkedip, lalu menggelap. Sanvar menolaknya tanpa kompromi.
Ia menghela napas. “Aku nggak bisa mengakses informasi dari daratan?”
Mynhemeni menggeleng kecil. “Maaf. Fungsi itu sudah kami matikan. Kamu lupa kalau statusmu masih tahanan?”
“Iya, aku paham.” Cakra menggaruk tengkuknya, nada suaranya merajuk tanpa benar-benar marah.
“Tapi aku sudah setuju untuk bekerja sama, kan? Paling nggak… internet saja.”
Ia menelan ludah.
“Aku mau akses akun sosial mediaku, atau akses Wazap-ku. Aku cuma ingin orang tuaku tahu kalau aku masih hidup. Itu saja.” Ruangan terasa hening sesaat. Tekanan air di luar dinding logam seakan ikut menekan dada.
“Untuk mengaktifkan itu, kamu harus kembali ke kantor pusat,” jawab Mynhemeni akhirnya.
“Nivar Sanvarmu berada di sana.” Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, suaranya merendah.
“Masalahnya, situasinya sekarang tidak sesederhana itu.” Cakra menoleh. Alisnya terangkat.
“Mereka percaya kamu benar-benar menculikku,” lanjut Mynhemeni.
“Seperti yang sudah kubilang. Bahkan kalau kamu betulan membunuhku pun… mereka tidak akan peduli.” Nada kecewa menyelinap di suaranya. Ada kecemasan yang samar, namun jelas. Cakra menangkapnya, bersama kesadaran lain yang mengganggu. Suara Mynhemeni memang terdengar merdu. Terlalu hangat untuk kalimat setajam itu.
“Dan meskipun kamu setuju bekerja sama,” sambungnya, lebih tegas, “itu tidak berarti kamu bebas.” Ia menatap Cakra lurus.
“Kamu akan dikurung. Di ruang yang terisolasi. Tidak boleh berhubungan dengan siapa pun. Termasuk aku. Apalagi daratan.” Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti palu kecil yang memaku harapan.
“Mereka akan menahanmu,” ucapnya pelan, “sampai kamu benar-benar dinyatakan bukan ancaman.” Cakra mengepalkan jarinya. Bayangan ayah dan bundanya melintas cepat di kepalanya, lalu memudar seperti cahaya yang tenggelam di laut dalam.
Mynhemeni menarik napas, lalu bertanya dengan suara yang lebih tajam dari sebelumnya, seolah menantang sekaligus menguji.
“Apakah itu yang kamu inginkan?”
Other Stories
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Rona
Arga ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...