Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 57 - Distrik Anap

“Tentu aku tidak menginginkan itu,” ucap Cakra cepat, nyaris refleks. Tatapannya meredup, bukan karena takut, melainkan karena ia paham betul posisi dirinya sekarang. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan dorongan gegabah yang biasanya muncul saat emosinya naik. Untuk pertama kalinya sejak terbang di lautan bersama Mynhemeni, ia memilih diam dan menimbang.

“Aku akan mematuhimu,” lanjutnya lebih pelan.

“Sampai aku benar-benar terbukti bukan ancaman. Sampai kalian mau menerimaku.” Ia menelan ludah, lalu memaksa bibirnya membentuk senyum tipis.

“Lagipula, baru sepuluh jam aku terpisah dari duniaku. Itu… belum lama, kan?” Kalimat terakhir itu terdengar seperti usaha meyakinkan diri sendiri. Di baliknya, pikirannya bekerja keras menyusun sugesti. Ayah dan ibunya pasti baik-baik saja. Dunia di atas sana tidak runtuh hanya karena ia menghilang sehari.

Keheningan menyusup di antara mereka, tipis namun terasa. Cahaya biru kehijauan dari dinding kabin beriak lembut, seperti sinar matahari yang teredam lapisan air laut. Samar terlihat cumi-cumi raksasa melesat menjauhi mereka. Cakra sempat menangkap itu. Cukup lama ia mengalihkan pandangan ke luar kabin yang beberapa kali berubah.

Transparan, lalu menutup kembali, transparan lagi, lalu menutup kembali. Ia akhirnya membiarkan seluruh dinding tertutupi, ornamen dinding yang sering berubah, bercahaya dan bergerak itu, lebih menarik untuk diamati. Dibanding dengan lautan gelap yang sunyi. Walaupun otaknya dapat memanipulasi penglihatannya, namun tetap saja. Di luar sana terasa kosong. Tak lama setelah menikmati berbagai macam ragam hias yang terselimuti seluruh sisi jet itu, Cakra kembali menoleh pada Mynhemeni. Seolah baru teringat sesuatu yang lebih ringan.

“Hei,” katanya, mencoba menggeser suasana. “Balik ke topik sebelumnya.”

Mynhemeni mengangkat alis. “Topik yang mana?”

“Yang soal hantu manusia darat,” jawab Cakra.

“Kenapa kamu bisa tahu tentang sundal bolong?” Nada herannya jujur. Pertanyaan itu sebenarnya sudah mengganjal sejak lama, sejak ia memamerkan sosok itu dengan setengah bercanda. Namun kekagumannya pada Sanvar kala itu terlalu besar hingga melelehkan rasa ingin tahunya sendiri.

Mynhemeni tersenyum kecil, ekspresinya berubah lebih santai.

“Tentu kami tahu,” katanya.

“Pertama, di sekolah kami mempelajari budaya kalian. Bukan cuma sejarah besar, tapi juga mitos dan cerita rakyat.”

"Semuanya?" Mynhemeni mengangguk pelan, bibirnya sedikit maju. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih ringan.

“Kedua, kami menonton film-film buatan manusia darat. Beberapa di antaranya… aku suka.” Ia mengedipkan mata, dan seketika udara di depan mereka bergetar halus. Sebuah layar casvet muncul, membentang selebar tiga puluh dua inci, bercahaya jernih di tengah kabin. Cakra refleks menyeringai.

“Ini beberapa daftar film manusia darat favoritku,” ujar Mynhemeni ringan sambil mengedipkan mata.

Setiap kedipan memicu perubahan pada layar casvet. Tampilan bergeser mulus, seolah mengikuti arus yang tak terlihat. Poster-poster film bermunculan satu per satu. Beberapa langsung dikenali Cakra, judul yang pernah ia tonton sendirian di kamar dengan lampu dimatikan. Atau ia saksikan dengan keluarganya. Serta beberapa ia tonton bersama para sahabatnya. Sisanya asing, menampilkan wajah-wajah dan simbol dari berbagai belahan dunia yang tak pernah ia jamah.

Ia sempat mengernyit. Tulisan di poster-poster itu jelas bukan bahasa yang ia kenal. Namun sebelum sempat bertanya, sanvar di pelipisnya berdenyut hangat. Huruf-huruf yang tadinya terasa jauh tiba-tiba terbaca, seolah otaknya memang selalu tahu arti kata-kata itu.

“Eh,” Cakra menunjuk salah satu poster. “Kamu nonton ini juga?”

Judul Kutukan yang Kupanggil Cinta terpampang jelas. Wajah perempuan bergaun pengantin adat Jawa hitam menatap dari layar, senyumnya kaku, matanya kosong. Aksesori emas berlapis di kepalanya berkilau suram, kontras dengan latar gelap di sekelilingnya.

“Kamu menontonnya?” Mynhemeni mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Nada antusiasnya nyaris melompat keluar.

“Iya,” jawab Cakra cepat.

“Itu dari negaraku. Salah satu film horor favoritku. Kamu suka juga?”

Mata Mynhemeni berbinar. “Aku suka alurnya yang tidak mudah ditebak. Walaupun tokoh utamanya meninggal.”

Ia mengangkat bahu kecil, seolah itu justru nilai tambah. “Justru karena itu ceritanya terasa nyata.”

Cakra tertawa pendek. “Aku setuju. Aku jarang nemu orang yang sependapat soal itu.” Ia melirik daftar film lain yang terus bergulir.

“Wah, ternyata kita punya selera yang mirip.” Sebagian besar koleksi Mynhemeni dipenuhi horor. Dari berbagai negara, berbagai gaya. Ada yang bernuansa mistis, ada pula yang dingin dan sunyi, seperti laut dalam yang menyimpan rahasianya sendiri.

“Jadi kamu suka film horor?” tanya Cakra, setengah kagum.

“Bisa dibilang begitu,” jawab Mynhemeni.

“Kami tidak mempercayai hantu. Tapi kami penasaran.” Ia tersenyum tipis.

“Karena itu ada tim pengembang teknologi yang khusus menganalisis kemungkinan dunia lain.” Cakra terdiam sejenak, menatap layar yang masih berpendar. Di negeri bawah laut ini, bahkan rasa takut pun diteliti.

“Kalian sampai membuat teknologi untuk menganalisis dunia lain?” Mata Cakra membulat.

“Itu menarik sekali. Bolehkah aku ikut terlibat di proyek itu?” Semangat Cakra nyaris menular. Di luar fisika, ia memang selalu tertarik pada hal-hal yang menyentuh wilayah metafisika. Cerita-cerita Tomi tentang penampakan dan bisikan di lorong sekolah kembali terlintas di benaknya.

Sejak lama, Cakra merasa semua itu bukan sekadar karangan. Ada sesuatu yang nyata di baliknya. Ia teringat bagaimana dirinya bisa terdampar di negeri bawah laut Porkah, berawal dari ketertarikannya pada makhluk mitos legenda Indonesia, Nyi Roro Kidul. Kini ia sadar, seolah ada dunia lain yang terus memanggilnya untuk didatangi.

“Kamu bisa bertanya langsung pada orangnya,” jawab Mynhemeni sambil tersenyum.

“Sebentar lagi kamu akan bertemu salah satu pengembang teknologinya.” ujar Mynhemeni tak kalah semangat. Ia sendiri tidak tahu kenapa, tapi melihat Cakra antusias selalu membuat dadanya terasa hangat. Anak itu membawa aura yang ringan, jujur, dan terlalu hidup untuk seseorang yang baru saja kehilangan dunianya.

“Jadi adik iparmu itu…” Cakra terdiam di tengah kalimat, masih sulit percaya banyak penggemar horor di Kerajaan Porkah.

Mynhemeni hanya tersenyum lebih lebar, alisnya bergerak naik turun dengan ekspresi nakal yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.

“Kita hampir sampai di Distrik Anap,” lanjutnya.

Cakra refleks menoleh. Ia memerintahkan sanvarnya membuka dinding yang sejak tadi menutup mereka dari dunia luar. Permukaan di sekeliling berubah transparan, seperti kaca yang larut dalam air.

Cahaya jingga keunguan langsung menyergap pupil matanya. Kabut tebal berwarna senja menggantung di kejauhan, menyelimuti bangunan-bangunan tinggi yang hanya tampak sebagai siluet. Kota itu terlihat seperti daratan yang diselimuti asap, padahal Cakra tahu mereka berada jauh di bawah laut. Tidak ada tekanan, tidak ada rasa tenggelam. Hanya keheningan yang berdenyut lembut, seperti arus yang menahan napas.

Ia mengerjapkan mata.

“Itu memang perintah dari otakku atau,” tanyanya ragu, “kotanya memang kelihatan seperti dikepung kabut oranye keunguan begitu?” Nada suaranya bercampur kagum dan waspada, seolah takut jawabannya akan membuka lapisan kenyataan yang lebih aneh lagi.

“Memang begitu suasana Anap,” ujar Mynhemeni.

“Setiap distrik punya ciri khasnya sendiri. Distrik Nor, tempat asalku, meniru kehidupan di daratan, makanya kenapa banyak tumbuhan, terkesan bersatu dengan alam dan hewan lalu lalang.” Penjelasan itu membuat Cakra mengerti kenapa Distrik Nor terasa akrab namun asing dalam satu waktu. Selain kesan futuristik dan bangunannya yang berdiri di atas terumbu karang yang melayang, namun ritme hidupnya tetap menyerupai kota manusia di permukaan.

“Wow… itu…” ucap Cakra pelan saat jet mereka memasuki wilayah kota.

Di hadapannya terhampar pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Anap tampak seolah mengambang di atas awan sore, diselimuti cahaya ungu yang lembut namun asing. Bukan langit yang ia kenal, bukan juga laut yang pernah ia selami.

Di kejauhan, empat benda langit menggantung diam, menyerupai bulan dan planet sekaligus, memantulkan cahaya redup ke permukaan kota. Cakra tak yakin apakah benda-benda itu benar-benar langit, atau hanya pantulan dari teknologi yang tak pernah ia bayangkan ada.

Segalanya terasa berbeda. Sunyi, dingin, dan terlalu teratur. Untuk pertama kalinya sejak terbangun dari laut, Cakra merasa seperti benar-benar telah meninggalkan Bumi. Bukan mati, bukan bermimpi. Ia merasa sedang berdiri di hadapan sebuah dunia yang seharusnya tidak ada.

Distrik Nor tiba-tiba terasa kasar dan berisik di ingatan Cakra saat pemandangan Anap terbuka di hadapannya. Perbandingannya datang begitu saja, tanpa ia undang. Anap tidak menyambut, tidak pula berusaha mengesankan. Kota itu terhampar di bawah mereka seperti sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi. Cahaya di sekitarnya redup dan lembut, berpendar tipis seolah kota itu memilih untuk bersinar sekadarnya, cukup untuk bertahan, tidak lebih.

Gedung-gedungnya menjulang ramping dan melengkung. Bukan berdiri gagah, melainkan tumbuh perlahan dari dasar laut, seperti makhluk hidup yang membeku di tengah tarikan napas. Tidak ada bentuk yang benar-benar simetris. Tidak ada sudut tajam yang memaksa mata berhenti. Segalanya mengalir dan tenang, terlalu tenang, sampai Cakra merasakan sensasi aneh di tengkuknya. Seolah ada sesuatu yang memperhatikannya tanpa perlu menampakkan diri.

Tidak ada kepadatan seperti di distrik sebelumnya, atau kota mana pun yang ia kenal di daratan. Bangunan-bangunan Anap berdiri dengan jarak yang terasa disengaja, memberi ruang bagi arus dingin mengalir di antaranya. Kendaraan meluncur tanpa suara, bergerak pelan seperti bayangan yang lupa punya wujud. Kota ini terasa lebih sunyi daripada yang seharusnya bagi tempat yang dihuni puluhan ribu jiwa.

Warna-warnanya tertahan. Tidak ada ornamen mencolok, tidak ada tanda yang meminta perhatian. Bahkan keberadaan penghuninya nyaris tak terasa. Dari kejauhan, Anap tampak bukan sebagai pusat peradaban, melainkan pos pengamatan terakhir. Sebuah kota yang dibangun bukan untuk hidup nyaman, melainkan untuk menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah datang.

“Kota ini… rasanya beda,” ucap Cakra akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia kira. Ia menoleh pada Mynhemeni yang sudah bersiap berdiri. Jet mereka melambat, hampir mencapai kediaman orang tua Saljiva. “Tidak seperti distrik sebelumnya.”

Mynhemeni melirik ke luar jendela transparan itu sejenak, lalu kembali menatap Cakra. Wajahnya tenang, tapi ada nada yang lebih dalam di suaranya.

“Selamat datang di Distrik Hubungan Antar-Spesies... Distrik paling selatan di Porkah. Paling sunyi. Dan yang paling memilih untuk terisolasi.” Kata Mynhemeni. Ia berhenti sejenak, seolah memastikan Cakra benar-benar melihat Anap apa adanya.

“Tempat di mana kami belajar mengamati, bukan ikut campur.”



Other Stories
Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Rembulan Digenggam Malam

Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Pacar Sewaan

Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...

Download Titik & Koma