Bab 59 - Otak Yang Menolak Patuh
“Tentu saja,” jawab Saljiva akhirnya sambil tertawa pendek. Nada suaranya terdengar lega, hampir ceroboh.
“Aku seperti sedang melakukan kriminal.” Ketegangan di bahunya mengendur. Dadanya naik turun dengan ritme normal, tak lagi seperti seseorang yang baru saja menahan napas terlalu lama. Ia menoleh ke arah Cakra, menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu yang terang-terangan.
“Jadi kamu anak remaja daratan itu?” katanya.
“Aku Saljiva. Kamu?” Ia mengulurkan tangan kanannya, telapak terbuka, gesturnya ramah dan spontan.
Cakra menatap tangan itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Gadis di hadapannya berwajah mirip orang Asia Timur, kulitnya cerah dengan sorot mata tajam yang terasa cerdas. Kebingungan masih mengendap di wajah Cakra.
“Kenapa diam saja?” Saljiva mengayunkan tangannya sedikit. “Bukankah cara berkenalan kalian seperti ini?”
“Iya, benar,” jawab Cakra cepat, sedikit tersentak. Ia menjabat tangan Saljiva, cengkeramannya ragu tapi tulus.
“Aku Cakra. Salam kenal.”
“Nama yang terdengar indah,” ujar Saljiva sambil tersenyum.
“Salam kenal juga.” Ia kemudian melayang ringan menyusul Mynhemeni, yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di depan mereka. Kepala Mynhemeni bergerak perlahan ke kiri dan kanan, matanya menyapu ruang kosong di hadapan mereka seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.
“Kamu sudah tahu nama kakak iparku?” tanya Saljiva sambil melayang sejajar dengan Mynhemeni. Ia sampai harus menoleh ke belakang, memastikan Cakra masih di belakang mereka.
Cakra menggaruk tengkuknya.
“Tadi aku dengar dia menyebut aku Hemy,” katanya jujur.
“Jadi aku yakin… namanya Hemy.”
“Namaku Mynhemeni.” Suara itu terdengar tegas, dingin, tanpa emosi berlebih. Mynhemeni tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Hanya orang terdekatku yang memanggilku Hemy.” ucap menoleh kepada Cakra. Mengisyaratkan untuknya mendekat. Cakra refleks meluruskan punggungnya. Kemudian melayang pelan ke arah mereka. Kini ia berdiri di sisi kanan Mynhemeni, sementara Saljiva berada di sisi kirinya, berjarak kurang dari dua meter. Mereka bertiga berada di ujung kiri ruangan persegi panjang itu. Mynhemeni dan Cakra menghadap sisi panjang ruangan, sementara Saljiva berdiri menghadap dinding lebarnya.
Lapisan cahaya tipis muncul di udara, membentuk bidang transparan seperti layar yang hanya bisa dilihat oleh Saljiva dan Mynhemeni. Simbol-simbol geometris bergerak pelan, saling bertaut lalu terpisah. Pilar cahaya yang sebelumnya pasif kini berdenyut lebih cepat. Beberapa bola kristal melayang mendekat, berhenti di sekitar tubuh Cakra, berputar perlahan seperti satelit kecil.
Salah satunya melintas sangat dekat dengan wajahnya. Cakra refleks memejamkan mata, namun tidak merasakan apa pun. Tidak panas. Tidak dingin. Hanya sensasi halus, seperti sentuhan air yang sangat tipis.
Meja transparan di sisi ruangan bergeser sendiri. Permukaannya berubah, menampilkan lapisan cahaya yang terus bergerak, seolah sedang menyelaraskan diri. Cahaya di lantai berpendar lembut, menyusuri tubuh Cakra dari kaki hingga kepala, lalu menghilang.
Saljiva dan Mynhemeni berdiri diam. Kepala mereka bergerak perlahan. Sesekali mereka berkedip serempak, seolah menerima informasi langsung ke dalam pikiran mereka. Detektor di ruangan itu jelas sedang aktif, membangunkan setiap sistem analisis yang ada, mencoba membaca tubuh Cakra dari segala sisi.
Semenit berlalu dalam diam.
Cakra akhirnya tak tahan.
Ia mengangkat tangan sedikit, ragu.
“Aku harus ngapain?” tanyanya.
“Aku nggak tiduran atau... masuk ke tabung gitu?” Suaranya terdengar canggung, nyaris kecil, kontras dengan ruangan yang terasa terlalu besar dan terlalu sadar akan keberadaannya.
“Belum dulu. Sebagian besar data dasar tubuhmu sudah kami dapatkan,” jawab Mynhemeni singkat. Nada suaranya datar, fokusnya tak bergeser sedikit pun dari panel cahaya di hadapannya.
“Kami sedang mencari metode yang memungkinkan untuk menganalisis tubuhmu lebih jauh.”
Cakra mengangguk pelan, meski kebingungan masih menempel di wajahnya.
“Oke… kalau begitu aku boleh duduk?” Ia menelan ludah.
“Aku harus duduk di mana—” Kalimat itu belum selesai ketika tubuhnya terasa ringan, seperti ditarik oleh tangan tak kasatmata. Dalam sekejap, ia sudah duduk di atas sebuah kursi melayang berbentuk setengah lingkaran. Permukaannya empuk, jauh lebih nyaman dari yang ia bayangkan. Bahkan terlalu nyaman.
“Eh—”
Tarikan kedua datang tanpa peringatan. Tubuhnya dipaksa berbaring. Refleks, Cakra hendak protes. Kursi itu jelas tidak cukup panjang untuk tubuhnya.
Namun sebelum suara keluar dari tenggorokannya, kursi tersebut bergerak.
Strukturnya memanjang dengan mulus, seolah memahami proporsi tubuh Cakra. Lengkungan di kedua ujungnya terangkat dan saling mendekat. Dalam hitungan detik, kursi itu berubah menjadi kapsul transparan yang melayang stabil beberapa sentimeter dari lantai bercahaya.
Cakra kini terbaring di dalamnya, terperangkap tanpa benar-benar merasa terpenjara.
“Aku akan coba analisis lebih dalam,” kata Saljiva sambil menggerakkan tangannya di udara. Ia sama sekali tidak menoleh.
“Tenang saja. Ini aman.”
Aman.
Kata itu terdengar terlalu ringan untuk situasi seperti ini.
Hampir satu menit Cakra hanya diam. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak tahu harus merasa apa. Pikirannya berlapis-lapis, saling bertabrakan tanpa aturan. Wajah orang tuanya muncul lebih dulu. Disusul sahabat-sahabatnya. Gedung kampus yang bahkan belum sempat ia datangi. Hidup yang seharusnya sedang ia jalani.
Lalu pertanyaan itu datang lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Siapa sebenarnya aku?
Kenapa tubuhku bisa seperti ini?
Apakah semua ini berawal dari Parangtritis?
Atau… dari tantangan bodoh pada sosok yang selama ini disebut Nyi Roro Kidul?
Tapi Nyi Roro Kidul itu adalah bangsa Porkah yang menyamar.
Ia mengepalkan dan membuka kembali jarinya di atas perut. Perlahan, pikirannya beralih ke negeri Porkah. Negeri asing yang terasa seperti dongeng, tapi berdiri nyata di sekelilingnya. Teknologi yang melayang, cahaya yang hidup, ruang yang seolah bernapas.
Ada bagian dalam dirinya yang justru ingin tinggal. Belajar. Memahami. Ia berharap, dengan segenap keberanian yang ia punya, bahwa dirinya bukan ancaman bagi negeri ini. Bahwa ia diizinkan tetap hidup tanpa harus diburu. Bahwa ia bisa membawa pulang ilmu, bukan kehancuran, dari dasar laut planet ini.
Saat pikirannya melayang terlalu jauh, cahaya biru tiba-tiba menyala dari langit-langit kapsul.
Menyilaukan.
Tubuh Cakra membeku. Ia tak bisa bergerak. Tak bisa mengangkat jari. Tak bisa memalingkan wajah. Sensasinya seperti ketindihan, seperti kesadarannya terjepit di antara bangun dan tidur.
Ia berusaha membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
Cahaya itu mengalir turun, menyentuh matanya.
Bukan panas. Bukan dingin. Tapi ada sesuatu yang menyambar di dalam tubuhnya, merayap cepat melalui aliran darahnya. Nyeri, tapi bukan nyeri. Seperti hidupnya sedang ditarik keluar, lalu dimasukkan kembali dengan paksa.
Waktu kehilangan bentuk.
Ia merasa seolah sedang mengulang seluruh hidupnya. Dari tangisan pertamanya saat lahir, hingga detik ini. Hingga dirinya terbaring di kapsul transparan, disinari laser biru yang menembus bola matanya.
Padahal semuanya hanya berlangsung tiga detik.
Namun bagi Cakra, rasanya seperti tiga tahun.
“Huaaah… itu tadi apa?” teriaknya begitu cahaya itu padam.
Tubuhnya kembali bisa bergerak. Ia langsung bangkit setengah duduk. Seketika, atap kapsul di atasnya menghilang, seolah sistem itu tahu apa yang hendak ia lakukan.
Cakra terengah, dadanya naik turun. Matanya menyapu ruangan dengan panik, mencoba memastikan bahwa ia benar-benar masih ada di sana.
"Kenapa aku tidak bisa bergerak tadi?” suara Cakra meninggi tanpa ia sadari. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
“Rasanya seperti… mayat.” Ia menelan ludah. Rasa takut dan cemas jelas terdengar, bahkan sebelum ia sempat menutupinya.
“Maaf,” jawab Mynhemeni pelan. Kali ini ia menoleh, menatap langsung ke arah Cakra.
“Kami mencoba menganalisis tubuhmu. Tapi otakmu memblokir seluruh akses.” Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata. Tatapan matanya tidak dingin, justru menyimpan sesuatu yang membuat dada Cakra sedikit menghangat.
“Bisakah kamu memerintahkan otakmu untuk mengizinkan kami masuk?”
Cakra menangkap kilatan belas kasihan di wajah gadis itu. Ia mengangguk, meski tidak sepenuhnya paham apa yang diminta darinya.
“Aku akan mencoba,” katanya, ragu namun sungguh-sungguh.
Ia kembali berbaring. Dalam sekejap, atap transparan muncul dan membalut tubuhnya. Permukaannya memantulkan cahaya lembut seperti kaca mutiara. Detik berikutnya, sinar laser biru kembali turun dari langit-langit kapsul dan menyentuh bola matanya yang beriris cokelat terang.
Sensasi itu datang lebih cepat. Lebih dalam.
Tubuhnya membeku. Tekanan tak kasatmata menindih dadanya, jauh lebih berat dari sebelumnya. Matanya bergerak-gerak gelisah, mencoba melawan. Namun perintah dari otaknya seolah tidak sampai ke sarafnya sendiri.
Ia terjebak di dalam tubuhnya.
Lalu cahaya itu padam.
Cakra terengah saat kendali kembali padanya. Dadanya naik turun, tangannya mengepal tanpa sadar.
“Kamu yakin sudah memberi izin?” tanya Mynhemeni. Nada suaranya kini lebih hati-hati. Ia melayang mendekat, berhenti tepat di sisi kapsul.
“Sudah,” jawab Cakra cepat.
“Aku sudah berusaha semampuku.”
Ia mengernyit bingung.
“Aku cuma… memerintahkan otakku untuk pasrah. Itu saja yang bisa kupikirkan.”
Mynhemeni terdiam sejenak, lalu menghela napas tipis.
“Sepertinya otakmu tidak ingin menuruti perintahmu.”
Ia berbalik dan melayang menuju Saljiva.
“Bagaimana, Shiva?” tanyanya pelan. Nada putus asa itu tetap lolos, meski Mynhemeni sudah berusaha menekannya sedalam mungkin. Ia melayang mendekati Saljiva. Berdiri tak jauh di belakangnya, cukup dekat untuk melihat pantulan cahaya dari meja kerja transparan di wajah adik iparnya.
“Apa kamu bisa menciptakan alat yang mendukung metode lain?” Saljiva tidak menoleh. Bahunya tegang, jari-jarinya bergerak cepat di udara seolah sedang meraba sesuatu yang tak kasatmata.
“Aku masih berusaha, Kak,” jawabnya cepat. Terlalu cepat.
“Sebentar lagi.” Nada suaranya naik tanpa sadar, hampir seperti teriakan. Kepalanya bergerak semakin cepat, ke kanan dan ke kiri, lalu mendongak, seolah mencoba menangkap sesuatu yang melayang di atas kesadarannya. Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa Sanvar di tubuhnya bekerja lebih keras.
Meja di hadapannya berpendar.
Di atas meja di hadapannya, cahaya bermunculan silih berganti. Benda-benda dengan bentuk tak lazim muncul lalu menghilang. Ada yang berpendar lembut, ada yang berkilat tajam seperti kilasan petir kecil. Ada yang berbentuk cincin tipis dengan cahaya biru pucat. Ada yang menyerupai pecahan prisma, memantulkan kilatan kecil seperti cahaya matahari yang terjebak di kedalaman laut. Udara di sekeliling mereka bergetar halus, nyaris tak terasa, seperti tekanan arus yang berubah jauh di luar dinding bangunan.
“Duh.” Saljiva mendengus kesal.
“Kenapa?” Mynhemeni langsung bertanya.
Saljiva membuka mata dan menengadah. Sebuah hologram muncul di antara mereka, melayang pelan sebelum bergerak mendekati Mynhemeni. Benda itu kecil, berbentuk segi enam, berputar perlahan. Setiap sudutnya memancarkan warna berbeda yang bergantian menyala. Ukiran di permukaannya bergerak hidup, naik turun, seperti sesuatu yang sedang bernapas.
“Aku butuh komponen ini,” kata Saljiva lirih.
“Tanpanya, semua metode lain mentok.” Ia menghela napas pendek, frustrasi.
“Tapi aku tidak bisa mengajukannya secara resmi. Komponen ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku sekarang.” Mynhemeni menatap hologram itu tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu. Wajahnya tetap tenang, tapi di baliknya, keputusan besar sedang dibentuk.
“Aku bisa mengambilnya dari unit analisis di kantorku.” Ia menggerakkan lehernya sedikit. Svalin aktif, memancarkan kilau samar di balik kulitnya.
“Aku akan minta Georu mengambilnya,” lanjutnya.
“Dan membawanya kemari. Secepat mungkin.” Sinyal dikirim.
Saat itu, Mynhemeni sama sekali tidak menyadari bahwa keputusan kecil tersebut akan menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang kelak paling ingin ia hapus dari ingatannya.
“Aku seperti sedang melakukan kriminal.” Ketegangan di bahunya mengendur. Dadanya naik turun dengan ritme normal, tak lagi seperti seseorang yang baru saja menahan napas terlalu lama. Ia menoleh ke arah Cakra, menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu yang terang-terangan.
“Jadi kamu anak remaja daratan itu?” katanya.
“Aku Saljiva. Kamu?” Ia mengulurkan tangan kanannya, telapak terbuka, gesturnya ramah dan spontan.
Cakra menatap tangan itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Gadis di hadapannya berwajah mirip orang Asia Timur, kulitnya cerah dengan sorot mata tajam yang terasa cerdas. Kebingungan masih mengendap di wajah Cakra.
“Kenapa diam saja?” Saljiva mengayunkan tangannya sedikit. “Bukankah cara berkenalan kalian seperti ini?”
“Iya, benar,” jawab Cakra cepat, sedikit tersentak. Ia menjabat tangan Saljiva, cengkeramannya ragu tapi tulus.
“Aku Cakra. Salam kenal.”
“Nama yang terdengar indah,” ujar Saljiva sambil tersenyum.
“Salam kenal juga.” Ia kemudian melayang ringan menyusul Mynhemeni, yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di depan mereka. Kepala Mynhemeni bergerak perlahan ke kiri dan kanan, matanya menyapu ruang kosong di hadapan mereka seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.
“Kamu sudah tahu nama kakak iparku?” tanya Saljiva sambil melayang sejajar dengan Mynhemeni. Ia sampai harus menoleh ke belakang, memastikan Cakra masih di belakang mereka.
Cakra menggaruk tengkuknya.
“Tadi aku dengar dia menyebut aku Hemy,” katanya jujur.
“Jadi aku yakin… namanya Hemy.”
“Namaku Mynhemeni.” Suara itu terdengar tegas, dingin, tanpa emosi berlebih. Mynhemeni tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Hanya orang terdekatku yang memanggilku Hemy.” ucap menoleh kepada Cakra. Mengisyaratkan untuknya mendekat. Cakra refleks meluruskan punggungnya. Kemudian melayang pelan ke arah mereka. Kini ia berdiri di sisi kanan Mynhemeni, sementara Saljiva berada di sisi kirinya, berjarak kurang dari dua meter. Mereka bertiga berada di ujung kiri ruangan persegi panjang itu. Mynhemeni dan Cakra menghadap sisi panjang ruangan, sementara Saljiva berdiri menghadap dinding lebarnya.
Lapisan cahaya tipis muncul di udara, membentuk bidang transparan seperti layar yang hanya bisa dilihat oleh Saljiva dan Mynhemeni. Simbol-simbol geometris bergerak pelan, saling bertaut lalu terpisah. Pilar cahaya yang sebelumnya pasif kini berdenyut lebih cepat. Beberapa bola kristal melayang mendekat, berhenti di sekitar tubuh Cakra, berputar perlahan seperti satelit kecil.
Salah satunya melintas sangat dekat dengan wajahnya. Cakra refleks memejamkan mata, namun tidak merasakan apa pun. Tidak panas. Tidak dingin. Hanya sensasi halus, seperti sentuhan air yang sangat tipis.
Meja transparan di sisi ruangan bergeser sendiri. Permukaannya berubah, menampilkan lapisan cahaya yang terus bergerak, seolah sedang menyelaraskan diri. Cahaya di lantai berpendar lembut, menyusuri tubuh Cakra dari kaki hingga kepala, lalu menghilang.
Saljiva dan Mynhemeni berdiri diam. Kepala mereka bergerak perlahan. Sesekali mereka berkedip serempak, seolah menerima informasi langsung ke dalam pikiran mereka. Detektor di ruangan itu jelas sedang aktif, membangunkan setiap sistem analisis yang ada, mencoba membaca tubuh Cakra dari segala sisi.
Semenit berlalu dalam diam.
Cakra akhirnya tak tahan.
Ia mengangkat tangan sedikit, ragu.
“Aku harus ngapain?” tanyanya.
“Aku nggak tiduran atau... masuk ke tabung gitu?” Suaranya terdengar canggung, nyaris kecil, kontras dengan ruangan yang terasa terlalu besar dan terlalu sadar akan keberadaannya.
“Belum dulu. Sebagian besar data dasar tubuhmu sudah kami dapatkan,” jawab Mynhemeni singkat. Nada suaranya datar, fokusnya tak bergeser sedikit pun dari panel cahaya di hadapannya.
“Kami sedang mencari metode yang memungkinkan untuk menganalisis tubuhmu lebih jauh.”
Cakra mengangguk pelan, meski kebingungan masih menempel di wajahnya.
“Oke… kalau begitu aku boleh duduk?” Ia menelan ludah.
“Aku harus duduk di mana—” Kalimat itu belum selesai ketika tubuhnya terasa ringan, seperti ditarik oleh tangan tak kasatmata. Dalam sekejap, ia sudah duduk di atas sebuah kursi melayang berbentuk setengah lingkaran. Permukaannya empuk, jauh lebih nyaman dari yang ia bayangkan. Bahkan terlalu nyaman.
“Eh—”
Tarikan kedua datang tanpa peringatan. Tubuhnya dipaksa berbaring. Refleks, Cakra hendak protes. Kursi itu jelas tidak cukup panjang untuk tubuhnya.
Namun sebelum suara keluar dari tenggorokannya, kursi tersebut bergerak.
Strukturnya memanjang dengan mulus, seolah memahami proporsi tubuh Cakra. Lengkungan di kedua ujungnya terangkat dan saling mendekat. Dalam hitungan detik, kursi itu berubah menjadi kapsul transparan yang melayang stabil beberapa sentimeter dari lantai bercahaya.
Cakra kini terbaring di dalamnya, terperangkap tanpa benar-benar merasa terpenjara.
“Aku akan coba analisis lebih dalam,” kata Saljiva sambil menggerakkan tangannya di udara. Ia sama sekali tidak menoleh.
“Tenang saja. Ini aman.”
Aman.
Kata itu terdengar terlalu ringan untuk situasi seperti ini.
Hampir satu menit Cakra hanya diam. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak tahu harus merasa apa. Pikirannya berlapis-lapis, saling bertabrakan tanpa aturan. Wajah orang tuanya muncul lebih dulu. Disusul sahabat-sahabatnya. Gedung kampus yang bahkan belum sempat ia datangi. Hidup yang seharusnya sedang ia jalani.
Lalu pertanyaan itu datang lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Siapa sebenarnya aku?
Kenapa tubuhku bisa seperti ini?
Apakah semua ini berawal dari Parangtritis?
Atau… dari tantangan bodoh pada sosok yang selama ini disebut Nyi Roro Kidul?
Tapi Nyi Roro Kidul itu adalah bangsa Porkah yang menyamar.
Ia mengepalkan dan membuka kembali jarinya di atas perut. Perlahan, pikirannya beralih ke negeri Porkah. Negeri asing yang terasa seperti dongeng, tapi berdiri nyata di sekelilingnya. Teknologi yang melayang, cahaya yang hidup, ruang yang seolah bernapas.
Ada bagian dalam dirinya yang justru ingin tinggal. Belajar. Memahami. Ia berharap, dengan segenap keberanian yang ia punya, bahwa dirinya bukan ancaman bagi negeri ini. Bahwa ia diizinkan tetap hidup tanpa harus diburu. Bahwa ia bisa membawa pulang ilmu, bukan kehancuran, dari dasar laut planet ini.
Saat pikirannya melayang terlalu jauh, cahaya biru tiba-tiba menyala dari langit-langit kapsul.
Menyilaukan.
Tubuh Cakra membeku. Ia tak bisa bergerak. Tak bisa mengangkat jari. Tak bisa memalingkan wajah. Sensasinya seperti ketindihan, seperti kesadarannya terjepit di antara bangun dan tidur.
Ia berusaha membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
Cahaya itu mengalir turun, menyentuh matanya.
Bukan panas. Bukan dingin. Tapi ada sesuatu yang menyambar di dalam tubuhnya, merayap cepat melalui aliran darahnya. Nyeri, tapi bukan nyeri. Seperti hidupnya sedang ditarik keluar, lalu dimasukkan kembali dengan paksa.
Waktu kehilangan bentuk.
Ia merasa seolah sedang mengulang seluruh hidupnya. Dari tangisan pertamanya saat lahir, hingga detik ini. Hingga dirinya terbaring di kapsul transparan, disinari laser biru yang menembus bola matanya.
Padahal semuanya hanya berlangsung tiga detik.
Namun bagi Cakra, rasanya seperti tiga tahun.
“Huaaah… itu tadi apa?” teriaknya begitu cahaya itu padam.
Tubuhnya kembali bisa bergerak. Ia langsung bangkit setengah duduk. Seketika, atap kapsul di atasnya menghilang, seolah sistem itu tahu apa yang hendak ia lakukan.
Cakra terengah, dadanya naik turun. Matanya menyapu ruangan dengan panik, mencoba memastikan bahwa ia benar-benar masih ada di sana.
"Kenapa aku tidak bisa bergerak tadi?” suara Cakra meninggi tanpa ia sadari. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
“Rasanya seperti… mayat.” Ia menelan ludah. Rasa takut dan cemas jelas terdengar, bahkan sebelum ia sempat menutupinya.
“Maaf,” jawab Mynhemeni pelan. Kali ini ia menoleh, menatap langsung ke arah Cakra.
“Kami mencoba menganalisis tubuhmu. Tapi otakmu memblokir seluruh akses.” Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata. Tatapan matanya tidak dingin, justru menyimpan sesuatu yang membuat dada Cakra sedikit menghangat.
“Bisakah kamu memerintahkan otakmu untuk mengizinkan kami masuk?”
Cakra menangkap kilatan belas kasihan di wajah gadis itu. Ia mengangguk, meski tidak sepenuhnya paham apa yang diminta darinya.
“Aku akan mencoba,” katanya, ragu namun sungguh-sungguh.
Ia kembali berbaring. Dalam sekejap, atap transparan muncul dan membalut tubuhnya. Permukaannya memantulkan cahaya lembut seperti kaca mutiara. Detik berikutnya, sinar laser biru kembali turun dari langit-langit kapsul dan menyentuh bola matanya yang beriris cokelat terang.
Sensasi itu datang lebih cepat. Lebih dalam.
Tubuhnya membeku. Tekanan tak kasatmata menindih dadanya, jauh lebih berat dari sebelumnya. Matanya bergerak-gerak gelisah, mencoba melawan. Namun perintah dari otaknya seolah tidak sampai ke sarafnya sendiri.
Ia terjebak di dalam tubuhnya.
Lalu cahaya itu padam.
Cakra terengah saat kendali kembali padanya. Dadanya naik turun, tangannya mengepal tanpa sadar.
“Kamu yakin sudah memberi izin?” tanya Mynhemeni. Nada suaranya kini lebih hati-hati. Ia melayang mendekat, berhenti tepat di sisi kapsul.
“Sudah,” jawab Cakra cepat.
“Aku sudah berusaha semampuku.”
Ia mengernyit bingung.
“Aku cuma… memerintahkan otakku untuk pasrah. Itu saja yang bisa kupikirkan.”
Mynhemeni terdiam sejenak, lalu menghela napas tipis.
“Sepertinya otakmu tidak ingin menuruti perintahmu.”
Ia berbalik dan melayang menuju Saljiva.
“Bagaimana, Shiva?” tanyanya pelan. Nada putus asa itu tetap lolos, meski Mynhemeni sudah berusaha menekannya sedalam mungkin. Ia melayang mendekati Saljiva. Berdiri tak jauh di belakangnya, cukup dekat untuk melihat pantulan cahaya dari meja kerja transparan di wajah adik iparnya.
“Apa kamu bisa menciptakan alat yang mendukung metode lain?” Saljiva tidak menoleh. Bahunya tegang, jari-jarinya bergerak cepat di udara seolah sedang meraba sesuatu yang tak kasatmata.
“Aku masih berusaha, Kak,” jawabnya cepat. Terlalu cepat.
“Sebentar lagi.” Nada suaranya naik tanpa sadar, hampir seperti teriakan. Kepalanya bergerak semakin cepat, ke kanan dan ke kiri, lalu mendongak, seolah mencoba menangkap sesuatu yang melayang di atas kesadarannya. Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa Sanvar di tubuhnya bekerja lebih keras.
Meja di hadapannya berpendar.
Di atas meja di hadapannya, cahaya bermunculan silih berganti. Benda-benda dengan bentuk tak lazim muncul lalu menghilang. Ada yang berpendar lembut, ada yang berkilat tajam seperti kilasan petir kecil. Ada yang berbentuk cincin tipis dengan cahaya biru pucat. Ada yang menyerupai pecahan prisma, memantulkan kilatan kecil seperti cahaya matahari yang terjebak di kedalaman laut. Udara di sekeliling mereka bergetar halus, nyaris tak terasa, seperti tekanan arus yang berubah jauh di luar dinding bangunan.
“Duh.” Saljiva mendengus kesal.
“Kenapa?” Mynhemeni langsung bertanya.
Saljiva membuka mata dan menengadah. Sebuah hologram muncul di antara mereka, melayang pelan sebelum bergerak mendekati Mynhemeni. Benda itu kecil, berbentuk segi enam, berputar perlahan. Setiap sudutnya memancarkan warna berbeda yang bergantian menyala. Ukiran di permukaannya bergerak hidup, naik turun, seperti sesuatu yang sedang bernapas.
“Aku butuh komponen ini,” kata Saljiva lirih.
“Tanpanya, semua metode lain mentok.” Ia menghela napas pendek, frustrasi.
“Tapi aku tidak bisa mengajukannya secara resmi. Komponen ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku sekarang.” Mynhemeni menatap hologram itu tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu. Wajahnya tetap tenang, tapi di baliknya, keputusan besar sedang dibentuk.
“Aku bisa mengambilnya dari unit analisis di kantorku.” Ia menggerakkan lehernya sedikit. Svalin aktif, memancarkan kilau samar di balik kulitnya.
“Aku akan minta Georu mengambilnya,” lanjutnya.
“Dan membawanya kemari. Secepat mungkin.” Sinyal dikirim.
Saat itu, Mynhemeni sama sekali tidak menyadari bahwa keputusan kecil tersebut akan menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang kelak paling ingin ia hapus dari ingatannya.
Other Stories
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...