Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 60 - Mata Yang Mengawasi

“Saya sangat yakin, Komandan. Georu tahu di mana keberadaan Komandan Mynhemeni. Kakaknya.” Petugas berambut biru itu berdiri tegak, rahangnya mengeras menahan desakan keyakinan. Rambut Turquoise Blue miliknya berkilau lembut di antara cahaya hologram berpendar. Nama Olhuioruik tertera jelas di bawah dadanya. Ia tidak bergeming, bahkan ketika tatapan Komandan Bzarrmu menajam.

Bzarrmu tidak serta-merta percaya. Ia telah cukup lama memimpin pasukan keamanan Distrik Nor untuk tahu bahwa keyakinan pribadi bukanlah bukti. Terlebih, kecurigaan itu diarahkan pada Georu, seorang petugas yang selama ini dikenal disiplin. Bahu Bzarrmu sedikit menegang, tangannya berhenti di atas panel kendali.

Olhuioruik memang sengaja memilih jalur ini. Ia langsung menghubungi Bzarrmu lewat Sanvarnya, memotong prosedur resmi. Saat itu, Bzarrmu baru saja hendak menghubungi seluruh ketua tim di bawah pengawasannya, ketika getaran halus merambat di kesadarannya.

Sanvarnya aktif.

Suara internal bergema di dalam kepalanya, dingin dan terukur. Permintaan sambungan dari Olhuioruik. Informasi penting. Bzarrmu mengizinkan, dengan dugaan awal bahwa ini berkaitan langsung dengan pelacakan Mynhemeni atau tentang anak manusia darat yang kini menjadi pusat kekacauan Distrik Nor. Namun yang ia terima justru rangkaian kesimpulan yang membuat alisnya mengerut.

“Coba Komandan perhatikan posisi terakhirnya sebelum dia pergi bertugas,” lanjut Olhuioruik, nadanya menurun namun tetap tegas. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Olhuioruik memaksa transfer data. Sebuah kepingan memori berbentuk bola kecil mengalir masuk ke kesadaran Bzarrmu melalui Sanvarnya. Cahaya data menyala dalam benaknya. Jalur aktivitas Georu selepas rapat tim kecilnya terurai satu per satu, rapi dan mencurigakan.

“Dia kembali ke rumahnya.” Desakan hasut keluar lancar dari mulutnya.

“Saat aku mencoba mengakses sistem pengamat untuk melihat apa yang terjadi di sana, tidak ada apa pun. Rumah itu seolah menutup diri dari sistem pengawasan,” tambahnya. Informasi itu tersusun cepat, terlalu rapi untuk diabaikan. Membuat Bzarrmu sekali lagi mencetak kerutan di dahinya. Dan di balik semua logika yang ia miliki, Bzarrmu merasakan sesuatu yang tidak ia sukai. Sebuah firasat halus bahwa mereka mungkin sedang mengejar bayangan, sementara kebenaran bergerak satu langkah lebih dulu.

Bzarrmu sama sekali tak memahami obsesi Olhuioruik. Bagi sang komandan, tudingan bahwa gadis yang kini bersama Saljiva dan Cakra itu sengaja membiarkan dirinya dibawa paksa oleh remaja manusia darat terdengar berlebihan. Terlalu dipaksakan. Namun rumor terlanjur menyebar seperti arus liar di antara petugas keamanan tingkat satu gedung pemerintahan Distrik Nor. Bisik-bisik itu menyebut Mynhemeni telah dihipnotis. Dipatahkan kehendaknya. Dijadikan sekutu oleh anak manusia yang seharusnya menjadi tahanan. Sebagian bahkan meyakini lebih jauh. Mereka percaya Mynhemeni telah berpihak pada musuh dan kini bersembunyi, menyusun rencana untuk menyerang negeri Porkah dari dalam.

“Dia sengaja mengaktifkan mode penyamaran, Komandan!” Olhuioruik menyela dengan suara meninggi. Gestur hologramnya bergetar, seolah emosi ikut mengganggu kestabilan proyeksi.

Bzarrmu menghela napas pelan. Ia mengangkat satu tangan dan menggerakkan kepalanya sedikit. Tayangan yang ditampilkan Olhuioruik lenyap seketika. Kini yang tersisa hanyalah bayangan hologram bawahannya, melayang di udara, tanpa kejelasan ia sedang berada di gedung apa atau area mana.

“Kamu tahu, setiap dari kita berhak mengaktifkan mode penyamaran demi privasi. Itu legal. Diatur. Dilindungi hukum.” Ucap Bzarrmu tenang namun tegas. Ia melangkah sedikit, lantai bercahaya di bawah kakinya memantulkan siluet tubuhnya yang tampak matang, nyaris di puncak usia produktif.

“Lagipula,” lanjutnya, “apa yang dilakukan Komandan Mynhemeni bukan tindak kejahatan. Dia jelas sedang berada dalam situasi tidak menyenangkan. Prioritas kita adalah menemukannya. Memastikan dia kembali dalam keadaan sehat.” Nada suaranya menunjukkan satu hal yang jelas. Ia tidak tertarik pada spekulasi.

Kalaupun rumor itu benar, solusinya sederhana dan telah tertulis dalam protokol. Jika Mynhemeni bersikeras melindungi anak itu, maka nyawanya boleh diambil. Perintahnya sudah ada. Namun jika ternyata ia hanya berada di bawah pengaruh, maka seluruh kekuatan Distrik Nor akan dikerahkan untuk menyelamatkan salah satu dari kaum mereka sendiri.

“Sekarang fokus,” potong Bzarrmu.

“Kerjakan tugas yang sudah diberikan ketua timmu.”

Olhuioruik ragu sejenak.

“Mohon izin, Komandan. Tolong sampaikan kecurigaanku kepada Wakil Ketua.” Bzarrmu menatap lurus ke arah hologram itu. Tatapannya tajam, lelah, dan penuh batas.

“Aku tidak tertarik menyampaikan hal yang tidak penting. Kalau kamu mau, sampaikan sendiri. Katakan aku sudah mengizinkan,” katanya dingin.

Secara fisik, ia tampak seperti pria di penghujung tiga puluhan. Bahunya tegap. Wajahnya tenang. Namun di balik itu, usia biologisnya telah melewati tujuh puluh tahun. Dan pengalaman selama itu mengajarkannya satu hal. Tidak semua kecurigaan layak dipercaya.

“Tapi seperti yang kita ketahui, Wakil Ketua sedang berada di Istana,” ujar Bzarrmu, nadanya sedikit diturunkan.

“Jadi…” Ia tidak melanjutkan kalimat itu, karena semua orang di Distrik Nor paham konsekuensinya. Jika Wakil Ketua sudah memasuki Istana Kerajaan Porkah, ia nyaris tak tersentuh. Setidaknya tiga hari. Kadang lebih. Urusan di sana selalu berlapis, selalu berlarut, dan jarang berakhir cepat.

Olhuioruik justru menegakkan bahunya, seolah menunggu momen itu.

“Beliau tidak jadi ke Istana Ketua,” katanya cepat. Ada nada puas yang gagal ia sembunyikan.

“Ratu beberapa menit lalu, tiba di Nor.” Bzarrmu sedikit mengernyit.

“Awalnya hanya kunjungan pribadi,” lanjut Olhuioruik, semakin bersemangat.

“Tapi seperti yang Komandan tahu, Ratu juga tercatat sebagai rakyat Distrik Nor. Begitu kabar itu diterima, Wakil Ketua langsung mengadakan rapat darurat.”

Cahaya dari dinding ruangan memantul lembut di wajah hologram itu, membuat ekspresinya tampak semakin hidup.

“Sekarang Ratu sedang berada di ruang Ketua Thungsiruv. Mereka sedang membahas langkah selanjutnya. Aku akan menghubungi Wakil Ketua begitu rapat selesai.” Ada kebanggaan yang jelas di sana. Kebanggaan seorang bawahan yang merasa selangkah lebih tahu dari atasannya.

Bzarrmu menghela napas pendek. Ia tidak menyukai nada itu.

“Baik, kalau memang begitu” katanya akhirnya. Ia menatap lurus ke arah Olhuioruik.

“Tapi jangan lupa tugas utamamu.” Kalimat itu terdengar sederhana, namun tekanannya cukup untuk meredam euforia. Bzarrmu sudah melihat pola ini terlalu sering. Seorang junior yang lebih tertarik menguliti satu hal, satu pokok, daripada menjalankan mandat yang sudah jelas. Dan saat ini, obsesinya pada Mynhemeni justru menjadi gangguan.

“Siap laksanakan, Komandan.” Suara Olhuioruik terdengar mantap, sedikit mengeras oleh semangat yang nyaris tak ia sembunyikan.

“Saat ini, aku berada di wilayah empat sektor tujuh, teritori Uikol. Tugas hampir selesai. Data akan segera aku kirimkan kepada Ketua Tim, Senior Vuikpuhg.”

“Baik,” jawab Bzarrmu singkat.

“Tidak masalah.” Sambungan itu terputus tanpa basa-basi. Begitu bayangan hologram Olhuioruik menghilang, Bzarrmu langsung bergerak. Ia memanggil satu per satu ketua tim di bawah komandonya, menyalurkan instruksi, memperketat pencarian, dan memastikan roda operasi tetap berputar.

Sementara itu, jauh dari pusat pemerintahan, Olhuioruik kembali pada pekerjaannya. Ia menyusuri area yang ditugaskan, mewawancarai warga, mencatat pergerakan, dan menandai setiap anomali kecil yang mungkin terlewat. Lingkungan di sekitarnya terasa tenang, terlalu tenang. Cahaya laut yang tersaring lembut menyelimuti bangunan dan jalanan seperti udara pagi di daratan.

Tiga puluh menit kemudian, tugas itu rampung.

Data sudah lengkap. Tinggal dikirim.

Namun Olhuioruik tidak langsung menyerahkannya melalui sistem otomatis. Ia memilih kembali ke kantor. Segera menghadap Sang Wakil Ketua. Namun langkahnya terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sebuah nama yang terus berputar tanpa diundang. Georu.

Ia berhenti sejenak, bahunya menegang.

“Uki, Tunjukkan keberadaan Georu.” Bisiknya dalam diam, memberi perintah langsung pada Sanvar miliknya. Sebagai petugas tingkat satu, akses itu terbuka tanpa perlawanan. Jaringan pengamat Distrik Nor langsung aktif, menjalar melalui ribuan titik tersembunyi. Setiap benda, setiap sudut, setiap ruang di negeri Porkah menjadi mata. Sistem itu tidak hanya mengawasi warga, tetapi juga mencatat denyut negeri itu sendiri. Sebuah mekanisme pengamanan yang tak pernah tidur.

Dan Olhuioruik berniat memanfaatkannya sepenuhnya.

Tak lama kemudian, benaknya menampilkan sosok Georu. Pria itu berdiri mematung di halaman salah satu perumahan wilayah lima sektor tiga, teritori Uikol. Area tersebut tampak sunyi, lantainya berkilau lembut seperti batu darat yang disiram cahaya senja, sementara riak cahaya laut menari pelan di udara seolah angin tipis yang tak terasa dingin.

Sebagai petugas tingkat satu, Olhuioruik memperbesar tampilan itu hanya dengan satu kedipan mata. Wajah Georu memenuhi penglihatannya. Ekspresinya serius, rahangnya mengeras, tubuhnya nyaris tak bergerak. Atas perintah mental Olhuioruik, sudut pandang bergeser. Gambar berputar ke belakang, menelusuri setiap detail postur dan aliran energi di sekitarnya.

Lalu, ketika tampilan kembali diperbesar, sesuatu berubah. Bibir Georu terangkat membentuk senyum lebar yang terlalu santai untuk seseorang yang seharusnya tidak melakukan apa pun.

“Tepat seperti dugaanku, dia menggunakan Svalin.” Gumam Olhuioruik, kepuasan menyelinap dalam suaranya. Kecurigaannya akhirnya menemukan pijakan yang solid. Fakta ini cukup penting untuk dilaporkan langsung kepada Rumsun. Ia terus mengamati Georu, mencatat setiap gerak halus dan fluktuasi energi yang muncul. Namun pengamatan itu terpaksa terhenti. Panggilan masuk dari ketua timnya memotong fokusnya tanpa ampun. Permintaan itu jelas dan mendesak. Data wawancara warga harus segera diserahkan.

“Baik, Ketua Tim, aku ke ruangan Ketua Tim sekarang,” jawab Olhuioruik cepat. Dengan enggan, ia memutus koneksi pengamatan. Gambar Georu memudar dari benaknya, padahal pria itu tampak sedang berbicara dengan Mynhemeni. Pembicaraan mereka mengarah pada satu komponen penting yang dibutuhkan Saljiva.

Sementara itu, di lokasi lain, Georu kembali memastikan instruksi yang ia terima.

“Aku cuma perlu membuka bagian kanopinya,” ujarnya pelan tanpa suara, mengulang komunikasi yang berlangsung langsung di benaknya.

“Setelah kakak menyambungkan frekuensi ke ruang kerja kakak, komponen itu akan terlepas sendiri. Setelah itu aku tinggal menyerahkannya, benar begitu?” Ia baru saja menyelesaikan tugas terakhirnya, mewawancarai seorang warga di area yang telah ditentukan. Wajah Georu tetap tenang, hampir santai, sama sekali tidak menyadari konsekuensi dari tindakannya. Ia tidak tahu bahwa setiap langkah yang diambilnya berada dalam pengawasan, diawasi oleh jauh lebih banyak mata daripada yang pernah ia bayangkan.

“Iya, segera,” jawab Mynhemeni mantap. Tatapannya bergerak cepat dari satu layar ke layar lain, mengikuti data yang terus berubah di hadapan Saljiva. Beberapa benda analisis melayang, berputar perlahan seperti serangga cahaya yang patuh pada pola tak kasatmata.

“Sepertinya Shiva sudah menemukan cara untuk memastikan apakah anak itu ancaman atau bukan. Sekaligus mendeteksi apakah ada alat pelacak di tubuhnya.” Ia berhenti sejenak, mengamati grafik yang stabil.

“Sejauh ini dia kooperatif. Tidak melawan. Tidak menolak. Kakak yakin dia aman,” lanjutnya lebih pelan.

“Dan dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.”

“Kalau begitu syukurlah,” sahut Georu. Ia masih berdiri di halaman yang sekaligus berfungsi sebagai taman, tepat di depan bangunan rumah berbentuk segitiga acak dengan sisi terpanjang melengkung cekung. Cahaya laut menembus struktur bangunan itu, membuat permukaannya berkilau seperti batu darat yang baru diguyur hujan.

“Semoga dia bukan ancaman, dan kita semua bisa bernapas lega.” Ia menghela napas pendek.

“Tinggal satu masalah,” sambungnya.

“Bagaimana cara kita melaporkannya pada Raja. Semoga saja beliau tidak termakan rayuan Ratu.” Mynhemeni tidak langsung menjawab.

“Kak,” suara Georu kembali terdengar, kali ini lebih ragu.

“Bagaimana kalau Raja justru menyetujui rencana Rumsun. Menurut kakak, apa yang akan dilakukan anak itu?”

“Aku belum sempat menanyakannya secara langsung.... Tapi sempat terpikir olehnya untuk tinggal di Porkah,” jawab Mynhemeni jujur. Jawaban itu membuat Georu senang, matanya melebar.

“Serius?” Nada suaranya naik.

“Bukankah itu kabar baik. Berarti tidak ada yang perlu kita khawatirkan.” Gelombang kegembiraan itu terasa jelas, bahkan merambat ke dalam benak Mynhemeni melalui resonansi Sanvar mereka.

“Aku juga sempat berpikir begitu... Nanti akan kakak tanyakan lagi. Tapi kalau dia benar-benar mau, hampir pasti dia akan mengajukan syarat,” ujar Mynhemeni, meski nada suaranya lebih hati-hati.

“Syarat?” dahi Georu berkerut.

“Syarat apa?”

“Orang tuanya. Dia ingin mereka bisa mengunjungi Porkah,” jawab Mynhemeni tanpa ragu.

Keheningan jatuh di antara mereka.

“Itu bukan permintaan yang mudah,” lanjut Mynhemeni.

“Dan kakak yakin Rumsun tidak akan pernah menyetujuinya.” Dalam benak Georu, bayangan yang tak diinginkan muncul begitu saja. Pasukan Porkah di bawah komando Rumsun. Perintah penahanan. Perlawanan yang tak terelakkan. Seorang remaja manusia berdiri sendirian menghadapi kekuatan militer penuh.

Ia menarik napas.

Secara logika, Cakra seharusnya tidak mampu bertahan. Namun ingatannya segera membantah. Rusuk kanan bawahnya seolah kembali berdenyut. Pukulan itu. Keras. Tepat. Menghancurkan. Dan itu bahkan belum kemampuan penuh anak itu. Cakra terlalu kuat untuk diremehkan. Dan justru karena itulah, sistem pertahanan nasional Porkah terasa tiba-tiba rapuh.

“Kak,” suara Georu kembali terdengar, lebih tajam dari sebelumnya.

“Kakak sudah menemukan jawaban, seberapa kuat anak itu?”

Other Stories
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma