Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 61 - Jejak Yang Terlihat

“Belum,” jawab Mynhemeni pelan namun tegas.

“Maroz dan kejut listrik sudah tidak mempan padanya.” Ia berhenti sejenak, seolah membiarkan makna kalimat itu meresap.

“Sekarang kamu bisa membayangkan sendiri seberapa kuat anak itu.”

Kulit tengkuk Georu terasa merinding.

“Kami akan menganalisis kekuatannya setelah ada kepastian dia bukan ancaman. Itu sebabnya aku butuh komponen itu segera,” lanjut Mynhemeni.

“Baik, Kak,” sahut Georu cepat.

“Aku ke kantor kakak sekarang. Yermi sudah diberi akses untukku, kan?” Yermi adalah penjaga ruangan. Sebuah sistem keamanan yang menyatu dengan ruangan, memiliki kesadaran terbatas, dan mampu menampilkan diri dalam berbagai bentuk.

Kadang berupa hologram transparan, kadang berwujud tiga dimensi yang nyaris menyerupai makhluk hidup. Sistem itu terhubung langsung dengan Sanvar pemilik ruangan, memungkinkan ruang kerja diakses dari mana pun selama otoritas masih berlaku.

Jika pemilik berganti, serah terima dilakukan oleh otoritas yang lebih tinggi. Ada kalanya pemilik lama me-reset Yermi, setidaknya bagian personalnya, karena hubungan antara Sanvar dan Yermi sering kali tumbuh menjadi sesuatu yang nyaris emosional.

“Sudah... Kamu tinggal masuk saja. Segera ke kantor kakak,” jawab Mynhemeni tanpa ragu. Sesaat kemudian, ruang di sekitar Georu berlipat seperti kaca cair. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di hadapan pintu ruang kerja Mynhemeni.

“Sudah, Kak,” ucapnya.

“Aku di depan ruang kerja Kakak. Yermi sudah menungguku.”

Meski bangsa Porkah mampu berteleportasi, akan tetapi tetap ada batasan di mana mereka boleh muncul. Mereka tidak dapat muncul begitu saja, terutama untuk ruang-ruang personal, hunian pribadi, dan gedung pemerintahan. Gedung pusat Distrik Nor adalah salah satunya. Hanya mereka yang memang menjadi bagian gedung itu. Atau bagi mereka yang memiliki izin khusus yang dapat langsung hadir di dalamnya. Sisanya akan terhenti tak jauh dari lobi utama.

“Sekarang aku sudah di ruang kerja Kak Hemy,” ujar Georu lagi. Ruangan itu kosong. Tak tampak seperti ruang kerja sama sekali.

“Baik,” suara Mynhemeni terdengar di benaknya. “Aku kirim instruksi ke Yermi.”

“Siap, Kak.”

Begitu Mynhemeni mengedipkan mata di tempatnya berada, ruangan di hadapan Georu bergerak. Lantai bergeser, dinding berpendar, dan dari kehampaan bermunculan meja melayang, panel data, serta perangkat analisis yang tersusun rapi. Semua hadir seolah ruangan itu baru saja terbangun dari tidur panjang.

Georu mengamati sekeliling, lalu matanya tertumbuk pada sebuah kapsul yang terlepas perlahan dari salah satu meja.

“Yang ini, Kak?” tanyanya sambil menunjuk kapsul itu.

“Iya,” jawab Mynhemeni. “Tunggu sampai kanopinya terbuka.”

Permukaan kapsul itu terbelah halus, tanpa suara, memperlihatkan bagian dalamnya.

“Nah,” lanjut Mynhemeni.

“Sekarang ambil komponen Rizr Gp78. Bentuknya seperti ini.”

Contoh visual langsung muncul di benak Georu.

“Oke.” Ia meraih komponen kecil itu. Tidak sulit melepaskannya dari inangnya. Benda itu terasa hangat di telapak tangannya, berdenyut lembut seperti masih hidup.

“Aku menuju tempat Shiva sekarang,” ucap Georu.

“Undangannya sudah kuterima.” Beberapa detik kemudian, tubuhnya memudar dan lenyap. Yang tertinggal hanyalah jejak gangguan energi yang halus.

Jejak yang kini tidak lagi luput dari perhatian Olhuioruik.

Olhuioruik tak membuang waktu. Begitu transfer seluruh data wawancara selesai, ia langsung melayang keluar dari ruang ketua timnya. Cahaya dinding berlapis kristal berpendar lembut saat ia melesat di koridor, arus energi di sekeliling tubuhnya mengikuti gerakan cepatnya. Ada satu hal yang mengganjal pikirannya sejak beberapa saat lalu. Georu.

Ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan juniornya itu sekarang.

Dengan dorongan penuh dari plitan, Olhuioruik melaju kencang menuju ruang kerja pribadinya. Lalu lintas udara di tingkat itu nyaris kosong. Tidak ada perwira senior yang harus didahulukan, tidak ada lintasan yang perlu dihindari. Untuk pertama kalinya hari itu, keheningan justru membuat langkahnya semakin cepat. Setibanya di ruang kerjanya, Olhuioruik menembus dinding yang menyatu dengan hologram penjaga. Struktur tembok terbuka mengikuti pola cahaya, lalu menutup kembali begitu ia masuk. Tanpa menunda, ia mengaktifkan Sanvarnya.

“Tampilkan keberadaan Georu,” perintahnya singkat. Ia menyilangkan tangan, rahangnya mengeras. Ada keyakinan yang sejak awal tak pernah benar-benar ia singkirkan. Georu pasti berhubungan dengan Mynhemeni. Terlalu banyak kebetulan yang berbaris rapi untuk disebut kebetulan.

“Apa dia akan mengaktifkan kembali mode penyamaran... Atau langsung menemui Komandan Mynhemeni?” gumam Olhuioruik pelan.

Sanvarnya merespons cepat.

“Petugas keamanan gedung pusat pemerintahan tingkat lima, Georu, sedang berada di ruangan Komandan Mynhemeni. Akses ke dalam ruangan tersebut tertutup.”

Olhuioruik mendecak.

“Bodoh. Dia bahkan lupa mengaktifkan mode penyamarannya.” Ia menarik napas tajam. “Tetap awasi pergerakannya. Jangan—” Kalimatnya terputus.

“Georu baru saja melakukan teleportasi,” sela Sanvarnya, suaranya naik setengah oktaf.

“Gelombang terdeteksi. Tujuan kemunculan berada di Distrik Anap.” Olhuioruik terdiam sesaat. Matanya menyipit, pikirannya bergerak cepat.

“Untuk apa dia ke sana, Apa hubungannya Distrik Anap dengan Komandan Mynhemeni?” tanyanya, lebih untuk ke diri sendiri.

“Apakah aku perlu mengirim sinyal ke Vorna Distrik Anap untuk mengakses sistem pengamat mereka,” tanya Sanvarnya, kali ini lebih berhati-hati.

“Tidak,” jawab Olhuioruik cepat. “Wakil Ketua Rumsun melarang keras kabar tentang anak itu keluar dari Distrik Nor. Tidak boleh ada distrik lain yang mencium jejaknya.”

Ia berbalik, langkahnya mantap.

“Satu-satunya cara adalah melaporkan ini langsung kepadanya. Cari posisi Wakil Ketua Rumsun.”

Sanvarnya hening sejenak sebelum kembali berbicara. “Lokasi Wakil Ketua Rumsun tidak dapat ditangkap secara spesifik. Sepertinya beliau sedang menutup akses komunikasi. Namun satu hal pasti. Beliau masih berada di gedung ini.”

“Bagus,” ujar Olhuioruik.

“Kalau begitu aku akan menemuinya.” Ia langsung keluar dari ruang kerjanya, melesat ke atas dengan kecepatan penuh. Seribu seratus meter perbedaan ketinggian terasa singkat ketika adrenalin mengambil alih. Struktur gedung pusat pemerintahan melintas di sekelilingnya, lapisan-lapisan arsitektur bercahaya menyisakan jejak kilau saat ia menembusnya.

Begitu ia mendekati ruang kerja Wakil Ketua Rumsun, sosok holografik muncul di hadapannya. Kali ini bukan figur wanita seperti yang biasa ia temui. Sebuah kepala pria berwajah tegas dan rahang kokoh terbentuk dari cahaya.

“Petugas Olhuioruik, ada yang bisa dibantu?” ujar Yermi ruang kerja Rumsun dengan suara datar namun berwibawa. Olhuioruik berhenti tepat tiga meter di depan pintu ruang itu. Dadanya naik turun perlahan. Ia tahu, apa pun yang akan ia sampaikan setelah ini, tidak akan dianggap sepele.

“Aku ingin bertemu dengan Wakil Ketua.” Suara Olhuioruik meledak sebelum siapa pun sempat mempersiapkan diri. Ia menghadap kepala holografik berambut cepak ala militer manusia darat yang melayang di depan pintu ruang kerja Rumsun. Senyum selebar mungkin terpatri di wajah runcingnya, terlalu lebar untuk disebut ramah. Lebih mirip senyum seseorang yang sudah yakin akan menang.

Persis seperti senyum Rumsun.

Ada aroma intimidasi yang menguar dari ekspresi itu, sesuatu yang dingin dan menusuk, seolah ruangan ikut menyempit. Namun Olhuioruik tidak peduli. Dadanya dipenuhi rasa puas yang hampir meluap. Ia sudah tak sabar menyerahkan temuannya. Kecurigaannya tentang Mynhemeni dan Georu bukan dugaan kosong. Kali ini, ia membawa bukti.

“Maaf, Petugas Olhuioruik, Wakil Ketua saat ini berada di ruang Ketua Thungsiruv. Beliau sedang membicarakan hal penting bersama Ratu Huji. Mohon kembali setelah pertemuan selesai,” ujar kecerdasan keamanan ruangan itu dengan suara tenang yang bertolak belakang dengan tatapannya yang terlalu tajam.

Senyum holografik itu tetap bertahan. Tak berkedip. Tak berubah. Alih-alih menenangkan, wajah itu justru terasa lebih menyeramkan. Jika bukan karena cahaya biru kehijauan yang menyusunnya, Olhuioruik bisa saja mengira ia sedang berbicara dengan seorang psikopat, bukan mesin.

“Tidak,” potong Olhuioruik cepat. Ia melangkah setengah langkah ke depan, tubuhnya berdiri tegap tanpa ia sadari.

“Sampaikan pesanku sekarang juga. Aku sudah menemukan petunjuk tentang Komandan Mynhemeni. Dan anak manusia darat itu.” Darahnya berdesir keras. Jantungnya memompa cepat, bukan karena takut, melainkan karena euforia. Ini momen yang ia tunggu.

Hologram itu terdiam sesaat, seolah mempertimbangkan. “Baiklah. Pesan akan disampaikan.”

Dalam sekejap, kepala itu menghilang. Cahaya di depannya memudar, digantikan dinding krem berlapis batu halus yang berkilau lembut. Batu itu tampak hidup, urat-urat cahayanya bergerak pelan, jauh berbeda dari batu mana pun yang pernah ada di Bumi. Sementara itu, sosok Yermi telah sepenuhnya berpindah, menyusup ke dalam jaringan kesadaran Wakil Ketua.

Suara Yermi tiba-tiba menggema di dalam benak Rumsun.

“Wakil Ketua Rumsun. Maaf mengganggu pertemuan Anda dengan Ratu Huji dan Ketua Thungsiruv. Saat ini Petugas Olhuioruik menunggu di ruang kerja Anda. Ia menyatakan bahwa ia mengetahui lokasi Komandan Mynhemeni dan anak manusia darat itu.”

Rumsun tersentak.

Matanya sedikit membelalak, tubuhnya menegang sebelum ia sadar telah berdiri. Gerakan itu begitu tiba-tiba hingga menarik perhatian dua sosok di hadapannya. Ratu Huji dan Thungsiruv sama-sama menoleh, ekspresi mereka berubah waspada. Padahal beberapa detik sebelumnya, mereka baru saja menyelesaikan pemutaran seluruh rangkaian peristiwa tentang Cakra. Dari saat anak itu berada di Porkah, hingga lenyap bersama Mynhemeni yang ia sandera.

“Ada apa,” tanya Ratu Huji, suaranya penuh selidik. Ia memandang kakaknya dengan dahi berkerut.

“Kenapa Kak Sumo terlihat seperti baru melihat hantu?” Rumsun tidak langsung menjawab. Senyum perlahan kembali terbentuk di wajahnya. Kali ini lebih tipis. Lebih tajam.

Dan jauh lebih berbahaya.

“Petugas Olhuioruik melaporkan bahwa Hemy dan anak manusia darat itu telah ditemukan.” Ucapan itu memecah konsentrasi ruangan dalam sekejap.

“Apa?” Thungsiruv langsung menegakkan tubuhnya. Mata tuanya melebar, kilatan kaget tak sempat ia sembunyikan.

“Hemy baik-baik saja?” Ia berhenti sejenak, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.

“Segera kirimkan pasukan ke lokasi itu,” lanjutnya cepat.

Ada kelegaan yang menyusup di balik nadanya, meski ia berusaha tetap terdengar tegas. Dalam hatinya, keselamatan putrinya jauh lebih penting daripada kekacauan politik yang ditimbulkan oleh kaburnya manusia darat berkekuatan abnormal itu.

“Mergin,” sela Rumsun dengan suara yang kini terdengar lebih hidup. Ia menoleh ke arah kecerdasan ruang kerjanya.

“Suruh Petugas Olhuioruik datang ke ruang kerja Ketua Thungsiruv sekarang.” Ia mengepalkan jemarinya perlahan, seolah menahan sesuatu yang mendidih di dadanya.

“Aku harap Hemy belum melakukan tindakan gegabah pada anak itu,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

“Semoga dia tidak melukainya. Atau membunuhnya.”

“Itu tidak mungkin. Keponakan kita bukan anak yang seperti itu.” Ratu Huji menjawab dengan tenang, suaranya mengalir stabil seperti arus laut yang tak pernah tergesa. Ia mengenal betul anak pertama dari sepupunya itu. Mynhemeni bukan tipe yang bergerak sembarangan. Setiap langkahnya selalu dihitung, setiap keputusan diambil setelah kesabaran mengendap cukup lama.

Ketelitian dan keteguhan itu bukan sesuatu yang tumbuh dalam semalam. Kualitas semacam itu dibentuk oleh waktu, tekanan, dan pilihan-pilihan sulit yang terus diulang. Tanpa semua itu, mustahil Mynhemeni bisa mencapai posisi tertinggi di usia yang begitu muda. Empat puluh tahun.

Di kalangan bangsa Porkah, usia tersebut biasanya masih berada di tingkat empat atau tiga dalam jenjang karier. Masih mengumpulkan pengalaman, masih menunggu giliran. Namun Mynhemeni tidak pernah mengikuti jalur kebanyakan. Ia melampaui batas yang seharusnya, dan melakukannya dengan cara yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karier Mynhemeni melesat tidak karena keberuntungan. Ia melompati tiga tingkat jabatan sekaligus, setelah melompati sembilan tahun rangkaian pendidikan profesi kurikulum. Sesuatu yang jarang terjadi bahkan di Porkah. Namun sistem mereka memang memungkinkan itu. Jabatan tidak harus menunggu kekosongan. Siapa pun yang terbukti layak dan kompeten berhak melangkah lebih tinggi.

Dan Mynhemeni berkali-kali membuktikan kelayakannya.

Analisisnya tentang Bumi, manusia darat, serta berbagai peristiwa krusial selalu tepat sasaran. Hampir terlalu tepat. Itulah yang membuatnya dipercaya. Itulah yang membuatnya berbahaya bagi mereka yang takut kehilangan kendali.

“Benar,” sahut Thungsiruv pelan namun mantap.

“Kalau dia memang berniat membunuh anak itu, pasti sudah dilakukannya sejak awal. Saat dia diculik.”

Rumsun menghela napas pendek. Senyumnya kembali muncul, tipis dan penuh arti. “Atau justru sebaliknya, bagaimana jika Hemy sengaja membawa kabur anak itu?” katanya perlahan.

Ratu Huji menoleh tajam ke arahnya.

“Banyak rumor yang beredar,” lanjut Rumsun, kini terdengar lebih yakin.

“Dan salah satu yang paling vokal mencurigai hal itu adalah Petugas Olhuioruik.” Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini, keheningan itu terasa berat, seperti tekanan laut yang perlahan meningkat.

“Jangan sembarangan bicara, Rumsun. Hemy bukan anak seperti itu!”

Kali ini kemarahan Ratu Huji tak terbantahkan. Sapaan akrab yang biasa ia gunakan lenyap, digantikan jarak yang dingin dan resmi. Ia tidak berbicara sebagai adik Rumsun, melainkan sebagai seorang Ratu yang berdiri di balik otoritasnya sendiri.

Other Stories
Setelah Perayaan Itu Usai.

Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Balon Kuning Di Ujung Jalan

Liburan ke rumah teman masa SD sangat menyenangkan apalagi diperkenalkan berbagai permaina ...

Download Titik & Koma