Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 69 - Tubuh Yang Tidak Seharusnya Hidup

Beberapa menit kemudian, Bunda Cakra sudah duduk di dalam helikopter medis. Sabuk pengamannya terpasang rapi, tangan menggenggam erat sandaran kursi. Matanya tidak lepas dari jendela.

Di bawah, pantai selatan membentang liar seperti biasa. Ombak tetap menabrak pasir, angin tetap membawa aroma garam. Seolah laut tidak peduli pada apa yang baru saja dikembalikan.

Keadaan di atas kapal tidak kalah haru, namun terasa lebih tegang dan penuh keajaiban.

Para dokter mulai memindahkan Cakra ke tandu medis hidrolik, yang akan diangkat ke helikopter lewat satu tarikan sinkron. Leher tetap terkunci, kepala tidak bergeser sepersekian inci pun.

Tandu medis itu sudah diperlengkapi monitor, pompa infus, dan oksigen portabel. Semua alat dipasang dengan cepat, tetapi tetap terukur, seperti mempersiapkan operasi di tengah laut.

Tubuh Cakra kaku oleh dingin, tapi kulitnya tidak biru. Tidak lebam. Tidak menunjukkan tanda-tanda tubuh yang seharusnya menyerah setelah berjam-jam hilang di air asin.

Para dokter mengangkat tandu penyelam dengan kehati-hatian yang nyaris berlebihan. Gerakan mereka tidak sembarangan, seolah setiap tangan memiliki peta yang sama dalam kepala. Mereka tahu persis di mana harus memegang, bagaimana menahan, dan kapan harus bergerak. Bukan karena takut, tapi karena mereka memahami satu hal yang tidak bisa diabaikan. Tubuh di hadapan mereka bukan sekadar pasien. Ia rapuh dalam cara yang tidak biasa.

Tandu itu digeser perlahan ke sisi dek, meluncur seolah dituntun oleh arus halus yang tak terlihat. Mereka menyesuaikan ketinggian hingga rangka tandu penyelam sejajar sempurna dengan tandu medis yang sudah menunggu. Semua terasa seperti koreografi yang sudah diulang berkali-kali, hanya saja kali ini yang menjadi pusatnya adalah nyawa seseorang.

Tidak ada satu gerakan pun yang tergesa. Tidak ada suara yang tidak perlu. Geladak kapal berubah menjadi ruang operasi terbuka, tempat angin laut dan cahaya matahari menjadi saksi bisu ketelitian yang dingin dan terlatih.

“Siap dipindahkan...” ucap salah satu dokter.

Tandu penyelam kemudian dilepas. Tubuh Cakra diangkat dengan bantuan tali penyangga dan pengaman penahan, berpindah dari satu alas ke alas lain dengan presisi hampir matematis. Leher tetap terkunci. Tulang belakang dijaga lurus. Tidak ada bagian tubuh yang dibiarkan tertekuk. Tidak ada sudut yang diabaikan.

Bahkan rambut basah yang menempel di dahinya diangkat sedikit, hanya cukup agar tidak mengganggu pernapasan. Seolah detail sekecil itu bisa menentukan apakah ia akan tetap hidup atau kembali hilang.

Semua berjalan cepat, tetapi tidak pernah ceroboh. Kecepatan itu lahir dari kebiasaan panjang, bukan dari kepanikan. Mereka tidak tergesa karena takut gagal, tetapi karena tahu bahwa waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa mereka ulang.

Begitu tubuhnya stabil di tandu medis, rangka logam dikunci. Rem-rem dikaitkan. Tirai penahan angin ditarik setengah, cukup untuk memberi privasi tanpa memutus pandangan ke laut.

Monitor tanda vital dipasang satu per satu. Manset tekanan darah melilit lengan kirinya. Klip oksimetri dijepitkan ke ujung jari yang masih dingin oleh air laut. Kabel-kabel disusun rapi, tidak saling tumpang tindih, seolah mereka sedang menyusun benang halus yang harus tetap utuh.

Seorang perawat berdiri di sisi kanan tandu. Kulit tangan Cakra dibersihkan dengan gerakan cepat namun teliti. Jarum infus terpasang di vena tanpa perlawanan apa pun dari tubuh itu. Cairan bening mulai mengalir perlahan, menetes dalam ritme yang tenang, seperti dunia yang akhirnya memberi pegangan agar ia tidak jatuh lebih jauh.

Layar monitor menyala.

Cahaya hijau dan biru memantul di wajah-wajah yang menunduk, menunggu. Selalu ada jeda seperti ini. Detik-detik pertama setelah data muncul, saat tubuh manusia biasanya mulai memperlihatkan ketidakberesan yang tak bisa disembunyikan.

Dokter kapal condong ke depan, matanya terpaku pada angka saturasi oksigen. Ia tidak berkedip. Ia menunggu penurunan. Menunggu fluktuasi. Menunggu sesuatu apa pun yang masuk akal.

“Saturasi sembilan puluh delapan persen,” gumamnya akhirnya.

“Stabil.” Ia melirik ke grafik nadi. Rapi. Terlalu rapi.

Detak jantung stabil. Tekanan darah berada di kisaran normal. Tidak ada takikardia. Tidak ada hipotensi. Tidak ada tanda tubuh yang baru saja bertahan hidup melawan laut selama dua belas jam.

Angka-angka itu terlalu baik.

Dokter itu merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan takut. Lebih seperti kewaspadaan yang tajam.

Seharusnya ada asidosis metabolik. Seharusnya kadar elektrolit kacau. Natrium melonjak. Kalium tak menentu. Ginjal seharusnya mulai protes. Tubuh yang terendam, kekurangan oksigen, dan hipotermia ringan tidak bangun dengan angka seperti ini.

Stetoskop sudah menempel di dada Cakra. Dokter itu memindahkannya perlahan dari satu sisi ke sisi lain, mendengarkan lebih lama dari kebiasaan. Ia mendengar napas yang pelan. Teratur. Bersih.

“Paru-parunya bersih,” katanya akhirnya. Nada suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang tertahan di sana.

“Tidak ada suara air.”

Ia berpindah sisi. Mendengarkan lagi. Lebih lama.

“Tidak ada ronki. Tidak ada wheezing.”

Ia menekan dada Cakra dengan lembut. Tidak ada respons. Tidak ada refleks defensif. Ia mengangkat kelopak mata, memeriksa refleks pupil. Cahaya matahari memantul di kornea bening. Pupil menyempit seperti seharusnya.

“Tidak ada edema paru,” lanjutnya.

“Tidak ada distress pernapasan.”

Seorang perawat mencatat dengan cepat, bolpoinnya bergerak nyaris tanpa suara. Matanya sesekali melirik jam kecil di papan pencatatan.

“Korban hanyut sekitar pukul sepuluh atau sebelas malam,” lapornya.

“Dinyatakan hilang lebih dari dua belas jam.” Dokter itu menunduk, memeriksa rongga mulut dan hidung. Tidak ada busa. Tidak ada residu air laut. Tidak ada bau khas aspirasi.

Ia berhenti sejenak.

Menarik stetoskop dari lehernya, menggenggamnya seperti seseorang yang sedang memegang benda yang tak ingin ia percaya.

“Secara medis,” ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “kondisi ini tidak cocok dengan durasi tersebut.”

Tidak ada yang menyela. Tidak ada yang bercanda. Tidak ada yang mencoba memberi penjelasan instan.

Angin laut menampar tirai medis yang setengah terbuka. Kain itu bergerak pelan, seperti napas yang ragu-ragu.

Matahari semakin terik, naik sedikit demi sedikit, menyentuh geladak dan kulit Cakra. Tubuh itu terlihat nyaris hangat. Seperti seseorang yang hanya tidur terlalu dalam.

Ayah Cakra berdiri beberapa langkah dari tandu. Ia mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap jeda. Namun ia tidak memotong. Ia menunggu, seperti orang yang tahu kesimpulan yang terlalu cepat bisa menghancurkan segalanya.

“Kalau bukan tenggelam,” gumam salah satu kru medis, nyaris seperti bisikan, “kenapa dia tidak sadar?”

Dokter itu menatap wajah Cakra lama. Terlalu utuh. Terlalu tenang.

“Kita perlakukan sebagai pasien tidak sadar dengan kemungkinan cedera kepala,” katanya akhirnya.

“Jangan dibangunkan. Oksigen tetap terpasang. Infus jalan. Pantau ketat.”

Ia menurunkan suaranya, seolah tidak ingin laut ikut mendengar.

“Dan catat. Ini bukan kondisi korban tenggelam setelah dua belas jam.”

Semua mengangguk. Tidak satu pun membantah.

Dokter itu menoleh. “Helikopter?”

“Sudah berangkat,” jawab seorang petugas.

Ayah Cakra masih berdiri di tempatnya. Menahan napas. Seolah satu tarikan udara bisa membuat semuanya runtuh. Ia menatap wajah anaknya. Mata itu tertutup, napas pelan, rambut basah dengan sisa garam yang mengering di kulit. Tapi tubuh itu hangat.

Dokter melangkah mendekat.

“Pak Adipramana,” katanya lembut.

“Anak Bapak hidup. Benar-benar hidup.”

Ayah Cakra seperti tersedak oleh kata-kata itu. Ia mendekat, tubuhnya bergetar.

“Bapak boleh menyentuhnya sekarang.”

Tangan itu terulur. Gemetar. Ujung jarinya menyentuh lengan Cakra.

Dingin. Tapi bukan dingin kematian.

Ia merasakan detak jantung itu. Pelan. Nyata.

Air mata jatuh.

“Dia hidup,” bisiknya.

Dokter itu mengangguk, lalu menepuk punggung ayah Cakra dengan lembut.

“Ya, Pak. Ini keajaiban. Dan sekarang dia aman.”

Angka-angka di monitor terus berdetak. Stabil. Terlalu stabil.

Dari kejauhan, suara helikopter mulai terdengar, berat dan berdenyut, mendekat di atas laut yang masih menyimpan rahasianya.

Beberapa menit berlalu, akhirnya helikopter medis itu mendarat di geladak kapal dengan getaran berat. Angin dari baling-baling menyapu laut, menekan udara asin ke segala arah.

Pintu samping terbuka, memperlihatkan ruang sempit berwarna putih dengan lampu dingin yang menyala stabil. Ruang itu terasa seperti sebuah dunia kecil yang tidak peduli pada ombak dan badai emosi di luar.

Bunda Cakra turun lebih dulu, disambut oleh salah satu petugas yang mengiringi langkahnya. Ia berusaha terlihat tegak, tapi langkahnya tetap goyah, seperti tubuhnya belum percaya bahwa dunia masih berjalan. Mata Bunda Cakra langsung tertuju pada tandu di tengah geladak. Di sana, anaknya terbaring, dikelilingi peralatan medis dan orang-orang berseragam yang bergerak cepat namun tenang.

Ayah Cakra berdiri di sisi tandu, tepat di samping tubuh Cakra. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap. Tidak ada kata yang perlu diucapkan. Mereka sudah melewati terlalu banyak tanpa kata.

Seorang tenaga medis memberi isyarat singkat, suara yang seolah menahan ledakan emosi.

“Kondisinya stabil,” ucapnya.

Bunda Cakra menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat.

Di sisi tandu, ia berhenti. Napasnya tertahan. Matanya menelusuri wajah pucat itu, mencari tanda-tanda bahwa anaknya benar-benar ada di sana, bukan hanya bayangan yang muncul dari mimpi panjang.

“Boleh… saya pegang tangannya?” tanyanya lirih pada tenaga medis yang berdiri di sampingnya.

Perawat itu mengangguk kecil. “Boleh, Bu. Tangannya saja. Jangan digerakkan.”

Bunda Cakra menunduk, lalu jari-jarinya menyentuh tangan Cakra dengan sangat pelan. Sentuhan itu seperti doa yang tak berani terlalu lama. Ia membiarkan kulit mereka saling mengenal kembali, seolah memastikan anaknya tidak akan hilang lagi.

Seolah takut dunia akan mengambilnya lagi jika ia berani lebih dari itu.

Tangisnya pecah.

Ayah Cakra tidak mampu menahan luapan emosi istrinya. Ia mengangkat langkahnya, menghampiri Bunda Cakra, dan memeluknya erat. Pelukan itu bukan pelukan biasa. Pelukan itu adalah pengakuan bahwa mereka masih memiliki satu sama lain, bahwa harapan mereka tidak mati.

Dokter menepuk bahu mereka dengan lembut, lalu berkata tegas.

“Kita harus melepaskan sekarang. Proses pemindahan ke helikopter akan segera dilakukan.”

Bunda Cakra mengangguk, tapi matanya masih menempel pada tangan Cakra, seolah enggan melepaskan.

Tandu itu kemudian digeser perlahan menuju pintu helikopter, dituntun oleh tangan-tangan yang sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan.

“Kita angkat sekarang,” ujar dokter singkat.

Cakra dinaikkan lebih dulu, dibawa masuk ke dalam helikopter medis dengan ritme yang sama. Cepat, presisi, dan penuh kewaspadaan.

Di geladak kapal, Bunda dan Ayah Cakra berdiri menahan dunia mereka yang hampir runtuh. Mereka tahu, setelah ini, semuanya akan berubah lagi. Namun untuk sekarang, yang paling penting adalah satu hal.

Anak mereka masih hidup.

Tubuh Cakra tetap terbaring tak bergerak ketika tandu dikunci rapat ke lantai kabin helikopter. Sabuk pengaman dipastikan terpasang, monitor disesuaikan, dan selang oksigen tetap stabil seperti tali yang menahan satu nyawa agar tidak lepas. Angka-angka di layar berdenyut tenang, nyaris terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja ditemukan di bawah laut.

“Saturasinya masih bagus,” gumam salah satu perawat, suaranya rendah namun jelas. Ia memeriksa sekali lagi, seolah ingin memastikan layar itu tidak berbohong.

“Tekanan stabil.”

Dokter menoleh, melirik layar sebentar, lalu menatap wajah Cakra yang tertutup.



“Iya,” katanya pelan. “Dan itu yang aneh.”

Mereka semua tahu satu hal. Seseorang yang hilang di laut selama belasan jam biasanya akan menunjukkan tanda-tanda jelas. Paru-paru yang tersumbat, kulit yang kebiruan, atau saturasi yang anjlok. Tapi Cakra tidak seperti itu. Dia tampak lebih seperti orang yang tertidur di kamar, bukan seseorang yang hampir hilang.

Ayah Cakra naik berikutnya, lalu Bunda Cakra. Mereka duduk berseberangan dengan tandu, cukup dekat untuk melihat wajah putra mereka, namun cukup jauh untuk tidak mengganggu kerja medis. Dalam kabin sempit itu, jarak mereka terasa seperti garis tipis antara harapan dan ketakutan.

Pintu helikopter ditutup.

Getaran mesin meningkat. Suara baling-baling memukul udara dengan ritme yang makin cepat. Kapal di bawah mereka mengecil, menjadi titik kecil yang segera hilang, lalu laut selatan kembali menjadi hamparan gelap yang bergolak. Seolah lautan itu tidak pernah kehilangan apa pun.

Bunda Cakra tidak melepaskan pandangannya dari Cakra. Matanya berkaca-kaca, namun ia tidak menangis lagi. Tangannya gemetar pelan, menahan perasaan yang belum punya tempat untuk meledak.

Ayahnya menggenggam tangan istrinya kali ini. Lebih erat dari sebelumnya. Seolah jika ia melepas sedikit saja, semua harapan akan ikut hilang.

“Dia akan baik-baik saja,” katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara mesin. Ia menggenggam tangan itu lebih erat. Bukan untuk siapa pun secara khusus. Mungkin untuk dirinya sendiri.

Helikopter itu berbelok ke utara.

Menuju kota.

Menuju rumah sakit.

Other Stories
Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

(bukan) Tentang Kita

Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Chromatic Goodbye

"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Download Titik & Koma