Bab 64 - Di Ambang Penilaian
“Kita tidak tahu apa lagi yang mampu dilakukan anak itu,” desak Rumsun. Suaranya meninggi, nyaris memantul di dinding bercahaya ruangan.
“Ia menyembuhkan diri dengan cepat. Kekuatan fisiknya jauh melampaui standar apa pun. Itu baru yang sudah kita lihat. Kita tidak tahu kekuatan apa lagi yang dimiliki anak itu...”
Ratu Huji menyipitkan mata, jemarinya menekan sandaran kursi.
“Apakah kemungkinan sejauh itu masuk akal?” tanyanya pelan, ragu namun waspada. Ia tidak menoleh ke Olhuioruik yang berdiri kaku di dekat pintu masuk, seolah keberadaan petugas itu sengaja dibiarkan menjadi bayangan di sudut ruangan. Rumsun dan Thungsiruv pun tampak tak terusik. Hanya Thungsiruv yang menggeleng pelan. Bukan penolakan, juga bukan persetujuan. Sebuah sikap menggantung yang jauh lebih berbahaya.
“Pokoknya kita datang dulu ke sana,” kata Rumsun, nadanya dipaksa tenang.
“Amankan semuanya. Setelah itu baru kita minta penjelasan dari Hemy. Kita dengar langsung darinya.” Hening turun, berat seperti tekanan air laut dalam. Ratu Huji akhirnya menoleh ke Thungsiruv, menatapnya lama, seolah keputusan itu sengaja diletakkan di pundaknya.
“Baiklah,” ucap Thungsiruv akhirnya. Suaranya mantap, meski matanya menyimpan keraguan.
“Kerahkan pasukan keamanan tingkat tinggi. Kita berkumpul di ruang pertemuan utama.” Ia menarik napas singkat.
“Aku akan ikut. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan Hemy.”
Rumsun segera berbalik ke arah Olhuioruik. “Kamu dengar keputusan Ketua, kan?”
Tanpa sepatah kata, Olhuioruik langsung bergerak. Langkahnya cepat dan presisi saat ia meninggalkan ruangan, tangannya sudah aktif mengirim panggilan. Tak lama, proyeksi casvet menyala dua meter di depannya, menampilkan sosok Bzarrmu.
“Ada apa lagi?” tanya Bzarrmu, suaranya terdengar berat. Ia tampak enggan, namun jelas tak punya pilihan selain menjawab panggilan itu.
“Aku sudah menemukan Komandan Mynhemeni dan anak itu. Wakil Ketua memerintahkanku untuk mengumpulkan seluruh petugas keamanan tingkat tinggi di balai pertemuan utama.” Kalimat itu dilontarkan dengan senyum kemenangan yang tak berusaha disembunyikan.
Ada kepuasan yang licin di wajahnya. Kepuasan seseorang yang akhirnya bisa membuktikan bahwa keraguan atasannya selama ini keliru. Ia melesat pergi begitu saja, tubuhnya memotong arus cahaya seperti anak panah, membuat beberapa petugas yang melayang di jalurnya terkejut saat ia menyalip tanpa peringatan.
“Petugas keamanan gedung pusat, atau keamanan distrik, atau pertahanan nasional?” tanya Bzarrmu, suaranya ragu, pikirannya sudah bekerja cepat menghitung skala perintah itu.
“Aku rasa semuanya,” jawabnya ringan. Ia menoleh sebentar saat ingin menyalip seseorang, senyumannya makin lebar.
“Kalau begitu, itu termasuk aku, kan?” Statusnya berada dua tingkat di bawah Bzarrmu, cukup tinggi untuk membuatnya otomatis masuk dalam jajaran yang dipanggil. Bzarrmu mendengus pelan, lalu mengangguk.
“Baik. Kita bertemu sekarang.” Tanpa menunda, ia langsung mengaktifkan perintah panggilan massal. Seluruh pasukan aktif diarahkan ke balai pertemuan utama.
Saluran khusus dibuka ke komandan keamanan Distrik Nor dan komandan pertahanan nasional. Jaringan komunikasi Porkah berdenyut serempak, seperti organisme besar yang tiba-tiba terbangun.
Sementara itu, di pusat jantung Distrik Anap, ruang analisis utama berdenyut pelan seperti makhluk hidup. Cahaya kebiruan merambat di dinding transparan, beriak lembut menyerupai gelombang yang membeku. Udara terasa padat namun nyaman, seolah laut memilih untuk menahan dirinya sendiri.
“Gimana?” tanya Cakra, suaranya nyaris tak bisa menyembunyikan antusiasme.
“Sudah bisa mulai menganalisis aku lagi?” Ia sudah kembali ke kursinya, lalu melayang turun, kemudian berhenti tak jauh di atas Mynhemeni. Jarak mereka tak lebih dari lima meter. Membuat Mynhemeni harus mendongak.
“Sudah aman,” jawab Mynhemeni sambil mengangkat dagunya sedikit.
“Tapi sebelumnya aku harus mengambil Svalin dari Sanvarmu.”
“Emangnya alat itu di mana…?” Kalimat Cakra terhenti. Ada sentuhan lembut di belakang telinganya.
Hampir seperti ujung jari yang lewat sekilas.
Ia refleks menegang, lalu menyaksikan sebuah benda kecil berbentuk bulat hitam melesat keluar dari kulitnya dan terbang lurus ke belakang telinga Saljiva.
“Sekarang kamu harus berbaring lagi,” ujar Mynhemeni cepat, nada suaranya berubah menjadi profesional.
“Analisis akan dimulai.” Cakra tidak membantah. Ia menurut. Begitu tubuhnya bergerak untuk berbaring di kursi, struktur itu berubah perlahan, melebar dan memanjang, membentuk kapsul tidur. Kapsul tersebut melayang turun dengan gerakan halus, lalu berhenti tepat beberapa sentimeter di atas lantai, sejajar dengan posisi Mynhemeni. Tak lama kemudian, Georu menyusul. Kursi yang ia gunakan mengecil dan menciut. Lalu berubah menjadi petakan plitan selebar bahunya.
Ia memilih berdiri di sisi kapsul, matanya tak lepas dari wajah Cakra.
“Kamu nggak balik kerja?” tanya Mynhemeni sambil menoleh, nada suaranya setengah mengomel, setengah pasrah. Seperti kakak perempuan yang sudah hafal kebandelan adiknya.
“Kerjaanku sudah selesai,” jawab Georu cepat.
“Aku mau lihat proses analisisnya.”
“Oh. Ya sudah.” Mynhemeni menghela napas pendek. Ia kembali menatap Cakra yang kini terbaring tenang di dalam kapsul transparan.
“Kamu siap?” tanyanya. Cakra mengangguk tegas. Tidak ada keraguan di wajahnya. Tidak ada ketakutan.
Mynhemeni berbalik menuju Saljiva, yang sudah berdiri di depan mesin analisis baru. Struktur alat itu tampak berbeda dari teknologi Porkah yang biasa. Lebih ramping. Lebih fokus. Mynhemeni yakin, kali ini kebenaran tidak akan bersembunyi.
Georu tetap berdiri di samping kapsul. Ia memperhatikan wajah Cakra yang santai, hampir terlalu santai untuk seseorang yang sedang dianalisis sebagai potensi ancaman kosmik. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada tanda-tanda ingin melarikan diri.
Ia terkesima.
Mungkin kakaknya benar. Anak ini mungkin memang bukan ancaman bagi negeri mereka. Georu berharap hari ini mereka menemukan jawabannya. Dengan begitu, Cakra bisa pulang. Melupakan Porkah. Melupakan laut yang terasa seperti daratan ini.
Melupakan semuanya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan kepada kami?” Suara Mynhemeni bergema di dalam benaknya. Georu tahu, pertanyaan itu bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Saljiva.
“Sebentar lagi kita akan tahu hasilnya,” ucap Saljiva pelan. Kepalanya bergerak mengikuti alur data yang melayang di sekelilingnya. Cahaya tipis berwarna kehijauan menyapu wajahnya, memantul di pupil matanya.
“Tapi kalau ternyata anak itu ancaman… Apa yang akan Kakak lakukan?” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih jujur dari yang ia kira.
“Dia kelihatan bersahabat. Aku… aku menyukai anak itu.” Tangannya masih sibuk mengatur parameter alat ciptaannya, namun kepalanya berhenti bergerak. Saljiva menoleh ke arah Mynhemeni, menunggu jawaban yang sedari tadi menggantung di antara mereka seperti arus laut yang tertahan.
“Kita tidak punya pilihan,” jawab Mynhemeni tanpa menoleh. Suaranya datar, nyaris dingin. Kepalanya tetap bergerak pelan, menyelaraskan sistem yang Saljiva kendalikan.
“Kalau dia ancaman, Kakak akan menyerahkannya ke Kerajaan.” Ia menarik napas singkat.
“Kita harus tahu asalnya. Dan tujuannya datang ke Bumi.”
Nada suaranya mengeras. “Jangan tertipu sikapnya yang bersahabat dan polos.”
“Kalau ternyata bukan ancaman?” Georu menyela. Ia berdiri di sisi kapsul, tangannya terlipat di depan perut, menutupi sedikit proyeksi identitasnya. Ia belum mengganti sanvarnya dengan proyeksi pakaian santai. Padahal, ia sudah memutuskan untuk tidak kembali ke pekerjaan.
“Apa yang akan kita lakukan?” Pertanyaan itu lebih dari sekadar prosedur. Georu pun menyukai Cakra.
Sudah lama ia tidak merasakan kesenangan sederhana seperti beberapa detik lalu. Tertawa tanpa beban. Bermain tanpa strategi. Bersama Cakra, ia merasa seperti memiliki adik laki-laki. Perasaan yang sejak kecil hanya bisa ia bayangkan.
Di sekolah dulu, ia sering iri melihat teman-temannya bercanda konyol dengan saudara laki-laki mereka. Bertengkar kecil. Berbaikan cepat. Hal-hal remeh yang tak pernah ia miliki.
Aturan Porkah memutus mimpi itu. Tidak boleh lebih dari dua anak. Ia pun menerima takdirnya sebagai anak laki-laki satu-satunya Thungsiruv. Adik dari seorang kakak perempuan yang jauh lebih dewasa. Kakaknya memang selalu bisa diandalkan. Mereka sering bermain bersama, terutama saat masih sekolah. Tapi tetap saja berbeda.
Georu menoleh ke Cakra lalu senyum. Cakra menatapnya kikuk, ikut tersenyum. Georu kembali menoleh pada Mynhemeni, menunggu jawaban.
Mynhemeni akhirnya berhenti bergerak. Ia menatap kapsul tempat Cakra terbaring.
“Seperti yang Kakak janjikan,” ucapnya tegas.
“Kita akan memulangkannya.” Ia menoleh sebentar pada Georu dan Saljiva.
“Dan seperti yang selalu kita lakukan pada manusia darat. Kita akan menghapus ingatannya.”
Kalimat itu jatuh mantap. Tanpa ragu.
Mynhemeni menyingkirkan perasaan lain yang diam-diam tumbuh di dadanya. Harapan yang tak seharusnya ada. Keinginan agar Cakra bisa tinggal di Porkah. Entah sejak kapan ia merasa nyaman berada di dekat bocah itu. Naluri melindungi muncul tanpa alasan logis. Terutama setelah mereka menghabiskan waktu bersama, bertukar pikiran, saling menantang sudut pandang.
Cakra berbeda.
Ia tidak seperti manusia darat di film-film. Tidak pula seperti manusia yang pernah ia temui saat berkunjung ke permukaan.
“Sayang sekali… aku sebenarnya ingin berteman dengan anak itu,” ujar Georu. Ada nada kehilangan di suaranya, meski wajahnya tetap tenang, seperti permukaan laut yang menyembunyikan arus kuat di bawahnya. Ia kembali menoleh pada Cakra. Kembali tersenyum. Cakra hanya mengerutkan dahi, lalu kembali membalas senyum. Kikuk. Ragu.
Saljiva menghela napas pelan. “Ya, mau bagaimana lagi.”
Ia lalu menoleh, ragu sejenak sebelum melanjutkan.
“Oh iya, Kak. Satu hal lagi. Misalkan… misalkan saja,” katanya, menekan kata itu seolah takut membiarkannya melayang bebas di udara,
“Anak ini terbukti bukan ancaman. Tapi Istana tetap menyetujui rencana Rumsun. Apa yang akan kakak lakukan?”
“Ia menyembuhkan diri dengan cepat. Kekuatan fisiknya jauh melampaui standar apa pun. Itu baru yang sudah kita lihat. Kita tidak tahu kekuatan apa lagi yang dimiliki anak itu...”
Ratu Huji menyipitkan mata, jemarinya menekan sandaran kursi.
“Apakah kemungkinan sejauh itu masuk akal?” tanyanya pelan, ragu namun waspada. Ia tidak menoleh ke Olhuioruik yang berdiri kaku di dekat pintu masuk, seolah keberadaan petugas itu sengaja dibiarkan menjadi bayangan di sudut ruangan. Rumsun dan Thungsiruv pun tampak tak terusik. Hanya Thungsiruv yang menggeleng pelan. Bukan penolakan, juga bukan persetujuan. Sebuah sikap menggantung yang jauh lebih berbahaya.
“Pokoknya kita datang dulu ke sana,” kata Rumsun, nadanya dipaksa tenang.
“Amankan semuanya. Setelah itu baru kita minta penjelasan dari Hemy. Kita dengar langsung darinya.” Hening turun, berat seperti tekanan air laut dalam. Ratu Huji akhirnya menoleh ke Thungsiruv, menatapnya lama, seolah keputusan itu sengaja diletakkan di pundaknya.
“Baiklah,” ucap Thungsiruv akhirnya. Suaranya mantap, meski matanya menyimpan keraguan.
“Kerahkan pasukan keamanan tingkat tinggi. Kita berkumpul di ruang pertemuan utama.” Ia menarik napas singkat.
“Aku akan ikut. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan Hemy.”
Rumsun segera berbalik ke arah Olhuioruik. “Kamu dengar keputusan Ketua, kan?”
Tanpa sepatah kata, Olhuioruik langsung bergerak. Langkahnya cepat dan presisi saat ia meninggalkan ruangan, tangannya sudah aktif mengirim panggilan. Tak lama, proyeksi casvet menyala dua meter di depannya, menampilkan sosok Bzarrmu.
“Ada apa lagi?” tanya Bzarrmu, suaranya terdengar berat. Ia tampak enggan, namun jelas tak punya pilihan selain menjawab panggilan itu.
“Aku sudah menemukan Komandan Mynhemeni dan anak itu. Wakil Ketua memerintahkanku untuk mengumpulkan seluruh petugas keamanan tingkat tinggi di balai pertemuan utama.” Kalimat itu dilontarkan dengan senyum kemenangan yang tak berusaha disembunyikan.
Ada kepuasan yang licin di wajahnya. Kepuasan seseorang yang akhirnya bisa membuktikan bahwa keraguan atasannya selama ini keliru. Ia melesat pergi begitu saja, tubuhnya memotong arus cahaya seperti anak panah, membuat beberapa petugas yang melayang di jalurnya terkejut saat ia menyalip tanpa peringatan.
“Petugas keamanan gedung pusat, atau keamanan distrik, atau pertahanan nasional?” tanya Bzarrmu, suaranya ragu, pikirannya sudah bekerja cepat menghitung skala perintah itu.
“Aku rasa semuanya,” jawabnya ringan. Ia menoleh sebentar saat ingin menyalip seseorang, senyumannya makin lebar.
“Kalau begitu, itu termasuk aku, kan?” Statusnya berada dua tingkat di bawah Bzarrmu, cukup tinggi untuk membuatnya otomatis masuk dalam jajaran yang dipanggil. Bzarrmu mendengus pelan, lalu mengangguk.
“Baik. Kita bertemu sekarang.” Tanpa menunda, ia langsung mengaktifkan perintah panggilan massal. Seluruh pasukan aktif diarahkan ke balai pertemuan utama.
Saluran khusus dibuka ke komandan keamanan Distrik Nor dan komandan pertahanan nasional. Jaringan komunikasi Porkah berdenyut serempak, seperti organisme besar yang tiba-tiba terbangun.
Sementara itu, di pusat jantung Distrik Anap, ruang analisis utama berdenyut pelan seperti makhluk hidup. Cahaya kebiruan merambat di dinding transparan, beriak lembut menyerupai gelombang yang membeku. Udara terasa padat namun nyaman, seolah laut memilih untuk menahan dirinya sendiri.
“Gimana?” tanya Cakra, suaranya nyaris tak bisa menyembunyikan antusiasme.
“Sudah bisa mulai menganalisis aku lagi?” Ia sudah kembali ke kursinya, lalu melayang turun, kemudian berhenti tak jauh di atas Mynhemeni. Jarak mereka tak lebih dari lima meter. Membuat Mynhemeni harus mendongak.
“Sudah aman,” jawab Mynhemeni sambil mengangkat dagunya sedikit.
“Tapi sebelumnya aku harus mengambil Svalin dari Sanvarmu.”
“Emangnya alat itu di mana…?” Kalimat Cakra terhenti. Ada sentuhan lembut di belakang telinganya.
Hampir seperti ujung jari yang lewat sekilas.
Ia refleks menegang, lalu menyaksikan sebuah benda kecil berbentuk bulat hitam melesat keluar dari kulitnya dan terbang lurus ke belakang telinga Saljiva.
“Sekarang kamu harus berbaring lagi,” ujar Mynhemeni cepat, nada suaranya berubah menjadi profesional.
“Analisis akan dimulai.” Cakra tidak membantah. Ia menurut. Begitu tubuhnya bergerak untuk berbaring di kursi, struktur itu berubah perlahan, melebar dan memanjang, membentuk kapsul tidur. Kapsul tersebut melayang turun dengan gerakan halus, lalu berhenti tepat beberapa sentimeter di atas lantai, sejajar dengan posisi Mynhemeni. Tak lama kemudian, Georu menyusul. Kursi yang ia gunakan mengecil dan menciut. Lalu berubah menjadi petakan plitan selebar bahunya.
Ia memilih berdiri di sisi kapsul, matanya tak lepas dari wajah Cakra.
“Kamu nggak balik kerja?” tanya Mynhemeni sambil menoleh, nada suaranya setengah mengomel, setengah pasrah. Seperti kakak perempuan yang sudah hafal kebandelan adiknya.
“Kerjaanku sudah selesai,” jawab Georu cepat.
“Aku mau lihat proses analisisnya.”
“Oh. Ya sudah.” Mynhemeni menghela napas pendek. Ia kembali menatap Cakra yang kini terbaring tenang di dalam kapsul transparan.
“Kamu siap?” tanyanya. Cakra mengangguk tegas. Tidak ada keraguan di wajahnya. Tidak ada ketakutan.
Mynhemeni berbalik menuju Saljiva, yang sudah berdiri di depan mesin analisis baru. Struktur alat itu tampak berbeda dari teknologi Porkah yang biasa. Lebih ramping. Lebih fokus. Mynhemeni yakin, kali ini kebenaran tidak akan bersembunyi.
Georu tetap berdiri di samping kapsul. Ia memperhatikan wajah Cakra yang santai, hampir terlalu santai untuk seseorang yang sedang dianalisis sebagai potensi ancaman kosmik. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada tanda-tanda ingin melarikan diri.
Ia terkesima.
Mungkin kakaknya benar. Anak ini mungkin memang bukan ancaman bagi negeri mereka. Georu berharap hari ini mereka menemukan jawabannya. Dengan begitu, Cakra bisa pulang. Melupakan Porkah. Melupakan laut yang terasa seperti daratan ini.
Melupakan semuanya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan kepada kami?” Suara Mynhemeni bergema di dalam benaknya. Georu tahu, pertanyaan itu bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Saljiva.
“Sebentar lagi kita akan tahu hasilnya,” ucap Saljiva pelan. Kepalanya bergerak mengikuti alur data yang melayang di sekelilingnya. Cahaya tipis berwarna kehijauan menyapu wajahnya, memantul di pupil matanya.
“Tapi kalau ternyata anak itu ancaman… Apa yang akan Kakak lakukan?” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih jujur dari yang ia kira.
“Dia kelihatan bersahabat. Aku… aku menyukai anak itu.” Tangannya masih sibuk mengatur parameter alat ciptaannya, namun kepalanya berhenti bergerak. Saljiva menoleh ke arah Mynhemeni, menunggu jawaban yang sedari tadi menggantung di antara mereka seperti arus laut yang tertahan.
“Kita tidak punya pilihan,” jawab Mynhemeni tanpa menoleh. Suaranya datar, nyaris dingin. Kepalanya tetap bergerak pelan, menyelaraskan sistem yang Saljiva kendalikan.
“Kalau dia ancaman, Kakak akan menyerahkannya ke Kerajaan.” Ia menarik napas singkat.
“Kita harus tahu asalnya. Dan tujuannya datang ke Bumi.”
Nada suaranya mengeras. “Jangan tertipu sikapnya yang bersahabat dan polos.”
“Kalau ternyata bukan ancaman?” Georu menyela. Ia berdiri di sisi kapsul, tangannya terlipat di depan perut, menutupi sedikit proyeksi identitasnya. Ia belum mengganti sanvarnya dengan proyeksi pakaian santai. Padahal, ia sudah memutuskan untuk tidak kembali ke pekerjaan.
“Apa yang akan kita lakukan?” Pertanyaan itu lebih dari sekadar prosedur. Georu pun menyukai Cakra.
Sudah lama ia tidak merasakan kesenangan sederhana seperti beberapa detik lalu. Tertawa tanpa beban. Bermain tanpa strategi. Bersama Cakra, ia merasa seperti memiliki adik laki-laki. Perasaan yang sejak kecil hanya bisa ia bayangkan.
Di sekolah dulu, ia sering iri melihat teman-temannya bercanda konyol dengan saudara laki-laki mereka. Bertengkar kecil. Berbaikan cepat. Hal-hal remeh yang tak pernah ia miliki.
Aturan Porkah memutus mimpi itu. Tidak boleh lebih dari dua anak. Ia pun menerima takdirnya sebagai anak laki-laki satu-satunya Thungsiruv. Adik dari seorang kakak perempuan yang jauh lebih dewasa. Kakaknya memang selalu bisa diandalkan. Mereka sering bermain bersama, terutama saat masih sekolah. Tapi tetap saja berbeda.
Georu menoleh ke Cakra lalu senyum. Cakra menatapnya kikuk, ikut tersenyum. Georu kembali menoleh pada Mynhemeni, menunggu jawaban.
Mynhemeni akhirnya berhenti bergerak. Ia menatap kapsul tempat Cakra terbaring.
“Seperti yang Kakak janjikan,” ucapnya tegas.
“Kita akan memulangkannya.” Ia menoleh sebentar pada Georu dan Saljiva.
“Dan seperti yang selalu kita lakukan pada manusia darat. Kita akan menghapus ingatannya.”
Kalimat itu jatuh mantap. Tanpa ragu.
Mynhemeni menyingkirkan perasaan lain yang diam-diam tumbuh di dadanya. Harapan yang tak seharusnya ada. Keinginan agar Cakra bisa tinggal di Porkah. Entah sejak kapan ia merasa nyaman berada di dekat bocah itu. Naluri melindungi muncul tanpa alasan logis. Terutama setelah mereka menghabiskan waktu bersama, bertukar pikiran, saling menantang sudut pandang.
Cakra berbeda.
Ia tidak seperti manusia darat di film-film. Tidak pula seperti manusia yang pernah ia temui saat berkunjung ke permukaan.
“Sayang sekali… aku sebenarnya ingin berteman dengan anak itu,” ujar Georu. Ada nada kehilangan di suaranya, meski wajahnya tetap tenang, seperti permukaan laut yang menyembunyikan arus kuat di bawahnya. Ia kembali menoleh pada Cakra. Kembali tersenyum. Cakra hanya mengerutkan dahi, lalu kembali membalas senyum. Kikuk. Ragu.
Saljiva menghela napas pelan. “Ya, mau bagaimana lagi.”
Ia lalu menoleh, ragu sejenak sebelum melanjutkan.
“Oh iya, Kak. Satu hal lagi. Misalkan… misalkan saja,” katanya, menekan kata itu seolah takut membiarkannya melayang bebas di udara,
“Anak ini terbukti bukan ancaman. Tapi Istana tetap menyetujui rencana Rumsun. Apa yang akan kakak lakukan?”
Other Stories
My 19 Story
Di usia sembilan belas, Liora dikhianati dan melarikan diri ke Jakarta, tempat seorang pri ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...