Bab 68 - Kabar Dari Laut
Permukaan laut berkilau keemasan, seolah matahari sendiri sedang menatap balik. Tandu itu muncul perlahan di antara gelombang, bagian tubuh manusia yang terbungkus rapat, dibawa naik dari tempat yang seharusnya menjadi rahasia. Di atas superyacht medis, alat penarik sudah siap. Rangka besi itu terlihat seperti tangan raksasa, siap meraih sesuatu dari dasar laut dan membawanya kembali ke dunia orang hidup.
Penyelam-penyelam bergerak dengan koordinasi yang menenangkan, tidak terburu-buru, seolah mereka sedang menari dengan ritme yang hanya mereka dengar. Mereka menempatkan tandu pada posisi stabil, memastikan setiap kait terpasang sempurna.
Tandu itu tidak diangkat secara langsung.
Ia digeser pelan ke samping lambung kapal, lalu ditahan oleh lengan mekanis yang menunggu di dek. Setiap gerakan terasa berat dan hati-hati, seperti membawa benda rapuh yang sekaligus bernilai tinggi.
Ayah Cakra menatap tanpa berkedip. Ia tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ketegangan di dadanya tetap tidak bisa ia sembunyikan. Suara tali yang ditarik, bunyi mesin, dan desah air yang menetes dari tandu memenuhi udara. Seolah-olah seluruh kapal menahan napas, menunggu hasil dari kerja yang telah berlangsung selama beberapa jam.
Tali demi tali ditarik. Tandu perlahan naik, naik, mengikuti irama mesin yang bekerja seperti napas. Setiap sentimeter yang terangkat terasa seperti jarum jam yang berjalan terlalu lambat. Ayah Cakra merasakan waktu seakan memanjang, menunda setiap detik yang ia ingin percepat.
Ketika tandu akhirnya menyentuh dek, suara logam beradu dengan air memenuhi ruang. Air yang menetes dari permukaan tandu membentuk genangan kecil yang cepat diseka. Para dokter sudah berdiri rapi, masker terpasang, tangan siap mengamankan setiap titik vital. Mereka tidak bicara banyak. Mereka tidak boleh salah.
Di samping tandu, monitor masih menyala. Detak jantung, saturasi oksigen, tekanan darah, dan pernapasan ditampilkan dalam angka-angka yang bergerak pelan, stabil. Seperti napas yang tidak ingin membuat kegaduhan, namun tetap memberi tahu bahwa ada kehidupan di dalamnya.
Ayah Cakra mendadak bergerak. Satu langkah. Dua langkah. Lalu ia berlari, seperti orang yang baru menyadari betapa rapuh batas antara kehilangan dan menemukan.
Sebelum ia sempat menyentuh tandu, seorang dokter yang paling dekat menahan lengan ayahnya. Tangan itu menahan dengan tegas, tetapi tidak kasar. Ada batas yang jelas, dan batas itu harus dijaga.
“Maaf, Pak,” kata tenaga medis itu cepat, lembut tapi tegas.
“Belum boleh. Kami harus memastikan stabilitas dulu.”
Ayah Cakra menatap dokter itu dengan mata yang tampak kosong, seperti menatap tembok yang tak bisa dipindahkan. Suaranya pecah ketika ia akhirnya berbicara, tetapi tetap tegas, seolah ia sedang menuntut kepastian dari dunia yang tidak pernah memberikannya.
“Saya harus memastikan dia hidup,” katanya.
“Saya harus tahu sendiri.”
Dokter itu tidak meninggikan suara. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menunjuk ke layar monitor kecil yang terpasang di samping tandu. Layar itu memantulkan cahaya dingin, penuh angka yang biasanya hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang telah lama terbiasa melihat hidup dan mati.
“Kami sudah memeriksa semuanya,” ujarnya.
“Detak jantungnya stabil. Pernapasannya ada.” Ia berhenti sejenak, memastikan kata-katanya tidak meleset.
“Tekanan darahnya rendah, tapi normal untuk kondisi seperti ini.”
Ayah Cakra menahan napas, matanya melebar ketika melihat angka-angka itu. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menolak, karena logika manusia seharusnya tidak mampu menerima kabar seperti ini.
Ia menelan ludah, seperti mencoba menelan kenyataan yang terasa terlalu besar untuk ditelan.
“Ini keajaiban, Pak,” dokter itu menambahkan, suaranya bergetar tipis seperti berusaha menahan haru.
“Kami tidak menemukan luka, tidak ada trauma yang berarti.”
Ayah Cakra tetap diam. Hatinya berdebar, tetapi air mata tidak kunjung datang. Tubuhnya seolah masih menolak memberi ruang pada kelembutan, karena ia sudah terbiasa menjaga diri agar tidak hancur terlalu cepat.
Perlawanan itu akhirnya melemah. Ia mengangguk pelan.
“Lakukan apa pun yang perlu,” katanya. “Saya ikut instruksi.”
Barulah saat itu Ayah Cakra berbalik. Ia meraih ponselnya, tangan masih sedikit bergetar ketika asistennya menyerahkan alat itu. Ia mundur beberapa langkah dari area medis, seperti orang yang berusaha menyeimbangkan dirinya setelah hampir jatuh. Napasnya belum teratur.
Hasratnya seakan memaksa dirinya untuk segera menyebarkan kabar gembira ini, sebelum dunia berubah lagi menjadi mimpi buruk.
Tangannya menekan layar ponsel, lalu meletakkan perangkat itu ke telinga. Dering pertama belum habis ketika sambungan sudah tersambung.
“Bun...” suaranya terdengar tegas.
Tidak ada basa-basi.
“Cakra sudah ditemukan.”
Di ujung sana, napas Bunda Cakra seketika terhenti. Seperti seseorang yang baru saja ditarik keluar dari mimpi buruknya dan menabrak kenyataan yang terlalu cepat.
“Dia…?” suaranya pelan, ragu.
“Masih hidup,” jawab Ayah Cakra, suaranya stabil, hampir seperti mengucapkan fakta yang sudah pasti.
“Sekarang di kapal Ayah. Kondisinya stabil.”
Hening menyelimuti sejenak. Jeda itu terasa seperti jarum jam berhenti berdetak, menahan waktu agar tidak berlari terlalu cepat.
Lalu, suara terisak pecah. Bunda Cakra menjerit, bukan karena takut, tetapi karena lega yang terlalu besar untuk ditahan. Suaranya bergema, mengguncang udara seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini nyata.
“Dengarin Ayah,” lanjut Adipramana cepat, suaranya menahan panik yang ingin meledak. Ia mencoba menarik istrinya kembali ke dunia nyata sebelum emosi menguasai semuanya.
“Bunda naik ke helikopter medis yang sudah disiapkan. Tim SAR akan antar. Ayah tunggu di laut. Kita ke rumah sakit bareng.”
“Rumah sakit kita yang mana?” suara Bunda Cakra masih bergetar, seolah setiap kata harus dipaksa keluar.
“Yang baru... Nusantara International Hospital Yogyakarta. Semua sudah diatur.”
“Oke… oke…” suaranya gemetar, tapi patuh.
“Ayah… jaga dia.” Suara itu melemah.
“Ayah di sini,” jawab Adiprama singkat.
“Ayah di sini.”
Panggilan ditutup.
Ayah Cakra kembali melangkah ke area medis, langkahnya tidak cepat, tapi penuh tujuan. Matanya tidak pernah lepas dari tandu yang masih tertutup kain basah. Setiap gerakan tim medis, setiap kabel yang dipasang, setiap ikatan yang dikunci, ia pantau seolah itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan satu-satunya jalan untuk menjaga nyawa anaknya tetap utuh. Ia ingin memastikan tidak ada kesalahan.
Tidak ada gangguan. Tidak ada detik yang terbuang.
Di seberang sana, di area aman tak jauh dari bibir Pantai Parangtritis, Bunda Cakra masih menutup mulutnya dengan tangan. Ponselnya sudah berpindah, tetapi tubuhnya tetap gemetar. Napasnya tidak teratur, seperti orang yang baru saja berenang terlalu jauh dan hampir tenggelam, lalu tiba-tiba ditarik kembali ke permukaan. Matanya kosong, namun di dalamnya terlihat badai yang belum reda.
“Bu… Tim SAR datang untuk menjemput…” suara itu memecah kekosongan, lembut tapi berat.
Bunda Cakra tidak menoleh. Ia mencoba berdiri, tetapi kakinya masih lemah, seperti kertas yang basah. Ia terdiam, memaksa tubuhnya untuk tetap tegak, padahal semua ototnya seolah menolak.
Seorang wanita muda segera meraih tangannya dan menopang tubuhnya. Asisten pribadi Bunda Cakra. Wajahnya tegang, namun ia berusaha terlihat tenang. Beberapa asisten lain ikut mendekat, total empat orang, mata mereka dipenuhi kecemasan yang sama. Mereka berdiri dekat, membentuk lingkaran pelindung tanpa suara, seolah ingin menahan segala kemungkinan buruk yang masih mungkin terjadi.
Tomi dan Beni, yang duduk agak jauh di belakang, langsung berlari menghampiri tanpa tahu situasi lengkapnya. Mereka datang seperti dua orang yang baru menyadari bahwa dunia bisa berubah dalam satu detik.
“Tidak perlu, biar kami saja,” kata salah satu asisten, lembut tapi tegas. Suaranya seperti mencoba menahan badai yang sedang mengamuk di hati sang ibu, memberi batas agar tidak ada yang ikut terluka oleh kepanikan.
“Mau dibawa ke mana, Mbak?” tanya Beni, suaranya pelan dan hati-hati. Ia tidak ingin mengucapkan sesuatu yang bisa membuat harapan itu pecah.
Perempuan itu hanya tersenyum, menolak menjawab. Senyum yang sopan, tetapi juga menutup rahasia. Senyum yang seolah berkata bahwa ia tidak boleh memberitahu sesuatu sebelum semuanya benar-benar pasti.
Mereka lalu berjalan meninggalkan Tomi dan Beni, meninggalkan pertanyaan yang menggantung di udara seperti kabut tipis. Di belakang mereka, angin laut membawa aroma garam dan pasir, mengingatkan bahwa semua ini terjadi di tepi dunia yang tidak pernah berhenti bergerak.
Tak lama, beberapa anggota tim SAR datang menghampiri. Mereka mengawal Bunda Cakra menuju helikopter medis yang sudah siaga di tanah lapang yang keras. Suara mesin helikopter mulai terdengar, dari kejauhan, pelan namun pasti, seperti napas besar yang menahan sesuatu.
Baling-baling berputar pelan, menunggu perintah.
Bunda Cakra berjalan dengan langkah yang tertatih, tetapi ia tetap berjalan. Setiap langkahnya terasa seperti upaya untuk menahan dirinya dari jatuh, bukan hanya secara fisik, tapi juga dari runtuhnya harapan yang baru saja kembali.
Beni kembali ke tempat tidurnya, namun tubuhnya masih kaku. Ia duduk di tepi ranjang, mematung, matanya menatap kosong ke arah laut. Tomi tidak ikut duduk. Ia tetap berdiri, membiarkan tubuhnya beku di tempat yang sama, menatap kepergian Bunda Cakra yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Ia berdiri seperti patung, tetapi di balik diam itu, ada ribuan pertanyaan yang berputar cepat. Ia tidak ingin membiarkan pikiran yang selama ini menghantuinya muncul lagi.
Namun pikiran itu datang juga, tanpa diundang. Jasad Cakra ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Gambar itu tiba-tiba muncul di benaknya, seperti potongan film yang diputar ulang. Bunda Cakra yang berjalan tertatih, dipapah empat orang. Asisten yang menolak menjawab. Semua itu mengarah pada satu kemungkinan yang paling mengerikan.
Cakra telah tiada.
Tomi menahan emosinya yang mulai tumpah, mencoba menepis bayangan itu, tetapi rasa takutnya sudah mengikat erat di dada. Ia hampir bisa merasakan kesunyian yang menelan semuanya, seperti laut yang menutup rapat di atas tubuh seseorang. Lalu, tanpa ia sadari, seseorang berlari mendekat dari arah berlawanan.
Seorang petugas tim pencarian, wajahnya penuh tergesa, napasnya masih tersengal.
“Mas, temannya Mas Cakra?” tanya petugas itu, suaranya terputus-putus oleh lariannya.
Tomi hanya mengangguk, tetapi tubuhnya sudah bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Jantungnya berdetak lebih keras, seolah sudah siap menghadapi kabar terburuk.
“Pak Adipramana meminta kami mengantarkan kalian ke rumah sakit. Cakra sudah ditemukan. Kondisinya cukup stabil. Dia hidup!”
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar langit malam. Tubuh Tomi seketika bergetar, seperti semua ototnya baru saja dilepas dari beban berat yang selama ini menekan. Bibirnya menekuk, dan mata yang sebelumnya kosong kini mulai berlinang. Tangisnya pecah, tidak lagi menahan apa pun.
Ia berlari ke arah teman-temannya, mereka yang sejak pagi menahan napas dan berharap tanpa berani mengakuinya. Langkahnya seperti orang yang baru saja diberi kembali sesuatu yang hampir hilang.
“Cakra hidup, Geeees... Cakra hiduuup!!” ia berteriak, suaranya pecah oleh emosi, lalu langsung menindih tubuh Beni yang masih berbaring, seolah ingin memastikan bahwa kabar itu benar.
Dito dan Victor terbangun seketika, tanpa perlu memproses lama. Air mata mereka ikut pecah. Tangis yang keluar bukan lagi karena takut, tetapi karena kebahagiaan yang meledak terlalu besar untuk ditahan.
Udara di tenda mewah itu seketika berubah, dari tegang dan sunyi menjadi riuh dan penuh haru. Mereka tertawa dan menangis dalam waktu yang sama, seperti orang yang baru menyadari bahwa dunia belum benar-benar runtuh.
Penyelam-penyelam bergerak dengan koordinasi yang menenangkan, tidak terburu-buru, seolah mereka sedang menari dengan ritme yang hanya mereka dengar. Mereka menempatkan tandu pada posisi stabil, memastikan setiap kait terpasang sempurna.
Tandu itu tidak diangkat secara langsung.
Ia digeser pelan ke samping lambung kapal, lalu ditahan oleh lengan mekanis yang menunggu di dek. Setiap gerakan terasa berat dan hati-hati, seperti membawa benda rapuh yang sekaligus bernilai tinggi.
Ayah Cakra menatap tanpa berkedip. Ia tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ketegangan di dadanya tetap tidak bisa ia sembunyikan. Suara tali yang ditarik, bunyi mesin, dan desah air yang menetes dari tandu memenuhi udara. Seolah-olah seluruh kapal menahan napas, menunggu hasil dari kerja yang telah berlangsung selama beberapa jam.
Tali demi tali ditarik. Tandu perlahan naik, naik, mengikuti irama mesin yang bekerja seperti napas. Setiap sentimeter yang terangkat terasa seperti jarum jam yang berjalan terlalu lambat. Ayah Cakra merasakan waktu seakan memanjang, menunda setiap detik yang ia ingin percepat.
Ketika tandu akhirnya menyentuh dek, suara logam beradu dengan air memenuhi ruang. Air yang menetes dari permukaan tandu membentuk genangan kecil yang cepat diseka. Para dokter sudah berdiri rapi, masker terpasang, tangan siap mengamankan setiap titik vital. Mereka tidak bicara banyak. Mereka tidak boleh salah.
Di samping tandu, monitor masih menyala. Detak jantung, saturasi oksigen, tekanan darah, dan pernapasan ditampilkan dalam angka-angka yang bergerak pelan, stabil. Seperti napas yang tidak ingin membuat kegaduhan, namun tetap memberi tahu bahwa ada kehidupan di dalamnya.
Ayah Cakra mendadak bergerak. Satu langkah. Dua langkah. Lalu ia berlari, seperti orang yang baru menyadari betapa rapuh batas antara kehilangan dan menemukan.
Sebelum ia sempat menyentuh tandu, seorang dokter yang paling dekat menahan lengan ayahnya. Tangan itu menahan dengan tegas, tetapi tidak kasar. Ada batas yang jelas, dan batas itu harus dijaga.
“Maaf, Pak,” kata tenaga medis itu cepat, lembut tapi tegas.
“Belum boleh. Kami harus memastikan stabilitas dulu.”
Ayah Cakra menatap dokter itu dengan mata yang tampak kosong, seperti menatap tembok yang tak bisa dipindahkan. Suaranya pecah ketika ia akhirnya berbicara, tetapi tetap tegas, seolah ia sedang menuntut kepastian dari dunia yang tidak pernah memberikannya.
“Saya harus memastikan dia hidup,” katanya.
“Saya harus tahu sendiri.”
Dokter itu tidak meninggikan suara. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menunjuk ke layar monitor kecil yang terpasang di samping tandu. Layar itu memantulkan cahaya dingin, penuh angka yang biasanya hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang telah lama terbiasa melihat hidup dan mati.
“Kami sudah memeriksa semuanya,” ujarnya.
“Detak jantungnya stabil. Pernapasannya ada.” Ia berhenti sejenak, memastikan kata-katanya tidak meleset.
“Tekanan darahnya rendah, tapi normal untuk kondisi seperti ini.”
Ayah Cakra menahan napas, matanya melebar ketika melihat angka-angka itu. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menolak, karena logika manusia seharusnya tidak mampu menerima kabar seperti ini.
Ia menelan ludah, seperti mencoba menelan kenyataan yang terasa terlalu besar untuk ditelan.
“Ini keajaiban, Pak,” dokter itu menambahkan, suaranya bergetar tipis seperti berusaha menahan haru.
“Kami tidak menemukan luka, tidak ada trauma yang berarti.”
Ayah Cakra tetap diam. Hatinya berdebar, tetapi air mata tidak kunjung datang. Tubuhnya seolah masih menolak memberi ruang pada kelembutan, karena ia sudah terbiasa menjaga diri agar tidak hancur terlalu cepat.
Perlawanan itu akhirnya melemah. Ia mengangguk pelan.
“Lakukan apa pun yang perlu,” katanya. “Saya ikut instruksi.”
Barulah saat itu Ayah Cakra berbalik. Ia meraih ponselnya, tangan masih sedikit bergetar ketika asistennya menyerahkan alat itu. Ia mundur beberapa langkah dari area medis, seperti orang yang berusaha menyeimbangkan dirinya setelah hampir jatuh. Napasnya belum teratur.
Hasratnya seakan memaksa dirinya untuk segera menyebarkan kabar gembira ini, sebelum dunia berubah lagi menjadi mimpi buruk.
Tangannya menekan layar ponsel, lalu meletakkan perangkat itu ke telinga. Dering pertama belum habis ketika sambungan sudah tersambung.
“Bun...” suaranya terdengar tegas.
Tidak ada basa-basi.
“Cakra sudah ditemukan.”
Di ujung sana, napas Bunda Cakra seketika terhenti. Seperti seseorang yang baru saja ditarik keluar dari mimpi buruknya dan menabrak kenyataan yang terlalu cepat.
“Dia…?” suaranya pelan, ragu.
“Masih hidup,” jawab Ayah Cakra, suaranya stabil, hampir seperti mengucapkan fakta yang sudah pasti.
“Sekarang di kapal Ayah. Kondisinya stabil.”
Hening menyelimuti sejenak. Jeda itu terasa seperti jarum jam berhenti berdetak, menahan waktu agar tidak berlari terlalu cepat.
Lalu, suara terisak pecah. Bunda Cakra menjerit, bukan karena takut, tetapi karena lega yang terlalu besar untuk ditahan. Suaranya bergema, mengguncang udara seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini nyata.
“Dengarin Ayah,” lanjut Adipramana cepat, suaranya menahan panik yang ingin meledak. Ia mencoba menarik istrinya kembali ke dunia nyata sebelum emosi menguasai semuanya.
“Bunda naik ke helikopter medis yang sudah disiapkan. Tim SAR akan antar. Ayah tunggu di laut. Kita ke rumah sakit bareng.”
“Rumah sakit kita yang mana?” suara Bunda Cakra masih bergetar, seolah setiap kata harus dipaksa keluar.
“Yang baru... Nusantara International Hospital Yogyakarta. Semua sudah diatur.”
“Oke… oke…” suaranya gemetar, tapi patuh.
“Ayah… jaga dia.” Suara itu melemah.
“Ayah di sini,” jawab Adiprama singkat.
“Ayah di sini.”
Panggilan ditutup.
Ayah Cakra kembali melangkah ke area medis, langkahnya tidak cepat, tapi penuh tujuan. Matanya tidak pernah lepas dari tandu yang masih tertutup kain basah. Setiap gerakan tim medis, setiap kabel yang dipasang, setiap ikatan yang dikunci, ia pantau seolah itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan satu-satunya jalan untuk menjaga nyawa anaknya tetap utuh. Ia ingin memastikan tidak ada kesalahan.
Tidak ada gangguan. Tidak ada detik yang terbuang.
Di seberang sana, di area aman tak jauh dari bibir Pantai Parangtritis, Bunda Cakra masih menutup mulutnya dengan tangan. Ponselnya sudah berpindah, tetapi tubuhnya tetap gemetar. Napasnya tidak teratur, seperti orang yang baru saja berenang terlalu jauh dan hampir tenggelam, lalu tiba-tiba ditarik kembali ke permukaan. Matanya kosong, namun di dalamnya terlihat badai yang belum reda.
“Bu… Tim SAR datang untuk menjemput…” suara itu memecah kekosongan, lembut tapi berat.
Bunda Cakra tidak menoleh. Ia mencoba berdiri, tetapi kakinya masih lemah, seperti kertas yang basah. Ia terdiam, memaksa tubuhnya untuk tetap tegak, padahal semua ototnya seolah menolak.
Seorang wanita muda segera meraih tangannya dan menopang tubuhnya. Asisten pribadi Bunda Cakra. Wajahnya tegang, namun ia berusaha terlihat tenang. Beberapa asisten lain ikut mendekat, total empat orang, mata mereka dipenuhi kecemasan yang sama. Mereka berdiri dekat, membentuk lingkaran pelindung tanpa suara, seolah ingin menahan segala kemungkinan buruk yang masih mungkin terjadi.
Tomi dan Beni, yang duduk agak jauh di belakang, langsung berlari menghampiri tanpa tahu situasi lengkapnya. Mereka datang seperti dua orang yang baru menyadari bahwa dunia bisa berubah dalam satu detik.
“Tidak perlu, biar kami saja,” kata salah satu asisten, lembut tapi tegas. Suaranya seperti mencoba menahan badai yang sedang mengamuk di hati sang ibu, memberi batas agar tidak ada yang ikut terluka oleh kepanikan.
“Mau dibawa ke mana, Mbak?” tanya Beni, suaranya pelan dan hati-hati. Ia tidak ingin mengucapkan sesuatu yang bisa membuat harapan itu pecah.
Perempuan itu hanya tersenyum, menolak menjawab. Senyum yang sopan, tetapi juga menutup rahasia. Senyum yang seolah berkata bahwa ia tidak boleh memberitahu sesuatu sebelum semuanya benar-benar pasti.
Mereka lalu berjalan meninggalkan Tomi dan Beni, meninggalkan pertanyaan yang menggantung di udara seperti kabut tipis. Di belakang mereka, angin laut membawa aroma garam dan pasir, mengingatkan bahwa semua ini terjadi di tepi dunia yang tidak pernah berhenti bergerak.
Tak lama, beberapa anggota tim SAR datang menghampiri. Mereka mengawal Bunda Cakra menuju helikopter medis yang sudah siaga di tanah lapang yang keras. Suara mesin helikopter mulai terdengar, dari kejauhan, pelan namun pasti, seperti napas besar yang menahan sesuatu.
Baling-baling berputar pelan, menunggu perintah.
Bunda Cakra berjalan dengan langkah yang tertatih, tetapi ia tetap berjalan. Setiap langkahnya terasa seperti upaya untuk menahan dirinya dari jatuh, bukan hanya secara fisik, tapi juga dari runtuhnya harapan yang baru saja kembali.
Beni kembali ke tempat tidurnya, namun tubuhnya masih kaku. Ia duduk di tepi ranjang, mematung, matanya menatap kosong ke arah laut. Tomi tidak ikut duduk. Ia tetap berdiri, membiarkan tubuhnya beku di tempat yang sama, menatap kepergian Bunda Cakra yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Ia berdiri seperti patung, tetapi di balik diam itu, ada ribuan pertanyaan yang berputar cepat. Ia tidak ingin membiarkan pikiran yang selama ini menghantuinya muncul lagi.
Namun pikiran itu datang juga, tanpa diundang. Jasad Cakra ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Gambar itu tiba-tiba muncul di benaknya, seperti potongan film yang diputar ulang. Bunda Cakra yang berjalan tertatih, dipapah empat orang. Asisten yang menolak menjawab. Semua itu mengarah pada satu kemungkinan yang paling mengerikan.
Cakra telah tiada.
Tomi menahan emosinya yang mulai tumpah, mencoba menepis bayangan itu, tetapi rasa takutnya sudah mengikat erat di dada. Ia hampir bisa merasakan kesunyian yang menelan semuanya, seperti laut yang menutup rapat di atas tubuh seseorang. Lalu, tanpa ia sadari, seseorang berlari mendekat dari arah berlawanan.
Seorang petugas tim pencarian, wajahnya penuh tergesa, napasnya masih tersengal.
“Mas, temannya Mas Cakra?” tanya petugas itu, suaranya terputus-putus oleh lariannya.
Tomi hanya mengangguk, tetapi tubuhnya sudah bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Jantungnya berdetak lebih keras, seolah sudah siap menghadapi kabar terburuk.
“Pak Adipramana meminta kami mengantarkan kalian ke rumah sakit. Cakra sudah ditemukan. Kondisinya cukup stabil. Dia hidup!”
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar langit malam. Tubuh Tomi seketika bergetar, seperti semua ototnya baru saja dilepas dari beban berat yang selama ini menekan. Bibirnya menekuk, dan mata yang sebelumnya kosong kini mulai berlinang. Tangisnya pecah, tidak lagi menahan apa pun.
Ia berlari ke arah teman-temannya, mereka yang sejak pagi menahan napas dan berharap tanpa berani mengakuinya. Langkahnya seperti orang yang baru saja diberi kembali sesuatu yang hampir hilang.
“Cakra hidup, Geeees... Cakra hiduuup!!” ia berteriak, suaranya pecah oleh emosi, lalu langsung menindih tubuh Beni yang masih berbaring, seolah ingin memastikan bahwa kabar itu benar.
Dito dan Victor terbangun seketika, tanpa perlu memproses lama. Air mata mereka ikut pecah. Tangis yang keluar bukan lagi karena takut, tetapi karena kebahagiaan yang meledak terlalu besar untuk ditahan.
Udara di tenda mewah itu seketika berubah, dari tegang dan sunyi menjadi riuh dan penuh haru. Mereka tertawa dan menangis dalam waktu yang sama, seperti orang yang baru menyadari bahwa dunia belum benar-benar runtuh.
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
Horor
horor ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...