Satu - Kebetulan Yang Disengaja?
Pukul tiga sore, selalu punya caranya sendiri memijit urat lelah manusia. Udara yang perlahan mendingin memberi ruang napas bagi para pekerja yang sedari pagi menekuk wajah demi sesuap nasi. Di sana-sini wajah lelah mencoba tersenyum. Mungkin karena tahu waktu pulang hampir tiba. Atau setidaknya, itu yang mereka yakini.
Tapi tidak bagi Sekar.
Ia sudah tak berdaya untuk sekedar menarik bibirnya.
Setelah hampir dua puluh dua jam terjaga.
Sejak awal ia tahu risiko profesi yang diidam-idamkannya ini, tak ada lagi definisi pagi atau malam yang baku, tak ada pekan yang selalu lapang. Siang kemarin bisa saja tiba di kantor, besok malam mungkin baru bersiap kerja.
Atau saat sekarang ini, mayoritas orang dalam radius dua ratus kilometer dalam keadaan dengan segar, menyambut pulang kerja. Sekar justru menapaki taraf terendah sebagai manusia, lebih mirip zombie. Bukan zombie haus darah yang mengincar manusia hidup, melainkan mayat hidup yang hanya ingin memangsa kasur empat kaki berseprai putih, bersembunyi di balik kain lembut.
Sekar bahkan tak peduli teriakan tetangga kosnya yang kesal karena pagar tidak ia tutup. Atau, pada mochi, kucing kampung sedikit ras asing, yang mendesis saat ekornya diinjaknya. Atau saat mendapati hordennya masih tersingkap, membuat matahari tanpa malu menampar wajahnya. Atau bahkan, ketika meteor jatuh di atap kosnya. Metabolisme tubuhnya sudah malas memproduksi energi tambahan.
Yang penting sampai kasur, yang berjarak tiga meter lagi.
Begitu tubuhnya rebah, sekilas tampak garis senyum mengambang, hampir menenggelamkan bibir tipis atas. Dalam hati ia merasa sudah merdeka. Baru saja hendak menggapai tahap dua non-REM, seketika dadanya tiba-tiba berdenyut cepat.
Memompa darah liar sampai ke pelipis.
Matanya terbuka lebar.
Ponselnya terlalu santun untuk sekadar bergetar, ia menjerit lantang di ujung ranjang. Sekar mencoba pura-pura tuli. Sugesti pada otaknya sunyi, tak ada dering. Tapi usaha itu percuma. Tubuhnya masih terpasung di tepi sadar, dan ponselnya terus meraung, makin pongah.
Dengan setengah putus asa, Sekar mengait ransel coklat di dekat paha kirinya, menggunakan kaki kirinya pula. Setelah beberapa kali menendang dan menyeret, barulah tas itu teraih. Tangannya masuk, meraba dalam gelap. Ia sungguh tidak dapat membuka mata sampai menemukan si biang ribut. Sedikit memicing, Sekar menemukan nama Si Bos terpampang jelas di layar.
Ia menjawab dengan helaan napas panjang, siap mendengar kabar apa lagi yang datang. “Sorry... tapi ini mendesak banget. Kamu sekarang juga ke Polda! Tersangka kasus pembunuhannya Sherly ketangkep!” Seketika adrenalinnya menari.
Mayat hidup itu pun seolah disulap kembali bernyawa. Sekar mengangkat tubuhnya cepat, menghiraukan aliran darah yang mengalir cepat ke otaknya.
“Aku udah share loc. Cuma kamu yang bisa ke sana. Si Baim masih sakit, Dian sama Ipul lagi fokus sama perampokan massal di Sampit. Roni sudah OTW ke sana. Kamu buruan, kalo bisa nanti on cam ya!”
Tak perlu menunggu jawaban.
Sekar langsung bangkit, menyambar tas, tak peduli rambut panjangnya makin mengembang acak, tiga hari tak kena sampo. Wajah kusamnya memperlihatkan garis-garis usia yang seharusnya belum dia miliki. Bibir merahnya sudah nyaris hilang, digantikan debu putih entah bekas apa, di pinggir mulut. Matanya besar, alis tebalnya menukik, kantung matanya jelas menandakan dia sudah terlalu lama terjaga.
Sekar memarkir motor matic-nya tepat saat rombongan mobil patroli masuk halaman Polda. Sekar memicingkan mata. Pohon Tanjung itu, dengan tajuknya yang bertumpuk seperti payung, rupanya tak sanggup menahan cahaya matahari yang masih tekun menyala lembut di ujung barat langit.
Pandangan Sekar beralih, saat gerombolan haus cerita menyerbu mobil patroli. Mesin-mesin kamera hidup, suara perekam mengaum. Langkah kaki serentak tak beraturan menggema. Sekar menyesap adrenalin itu. Denyut kecil yang selalu membuatnya hidup. Ia melihat Roni di antara kerumunan, barisan paling belakang, tergopoh menyodorkan kamera. Sekar langsung menarik lengannya, mendorong maju hingga berada paling depan, tepat saat pintu mobil terbuka dan suara teriakan mulai pecah.
Semua terjadi singkat.
Wawancara kilat, jumpa pers kecil, tangkap-tangkap gambar. Secepat itu, ia bahkan tidak sadar akan prosesnya. Ia hanya sadar tubuhnya terlanjur segar, tapi pikirannya terlalu riuh untuk berada sendirian di kamar kos. Setelah serangkaian kasus Sherly, kamarnya terasa kurang bersahabat. Kamar kos yang seharusnya menjadi sarang paling aman bagi seorang perantau, malah menjadi teror baru bagi Sekar.
Maka ia singgah di kafe favoritnya, menepi di dekat jendela kaca besar. Bersandar di sofa empuk dengan sandaran sampai kepala. Menggenggam es Americano dengan kedua tangan. Sudah cukup untuk meremajakan psikisnya.
Dari situ, matanya lekat memandang jalan bersapal yang sepi, tak satu kendaraan pun lewat sejak ia duduk. Lagi-lagi memikirikan Sherly, yang ditemukan di tepi jalan tak bernyawa.
“Hey!” Suara mengiris hening seperti pisau tipis, membawa Sekar dari lamunan. Ia mengangkat wajah, sedikit mengernyit, menatap laki-laki seusianya, begitu pikirnya, yang berdiri di samping meja. Tangan kiri Sekar lepas dari cangkir, mengarah ke dadanya, sementara tangan kanan masih memegangnya.
“Iya, aku Arya,” ujar laki-laki itu santai, mencondongkan badan dan mengulurkan tangan.
Tak tahu kehadirannya tak diharapkan.
“Maaf, saya sedang tidak ingin diganggu,” Sekar menimpali cepat, membuang muka.
“Hmmm... oke, maaf kalau ganggu.” Arya mundur beberapa langkah.
Semenit berikutnya, keheningan kembali memeluk Sekar, dan ia pun larut lagi dalam aliran kafein.
Berusaha menyingkirkan Sherly.
***
Kasus Sherly akhirnya ditutup.
Terdakwa divonis penjara seumur hidup. Sekar melaporkan langsung di depan kamera, menutup kalimatnya dengan senyum lega yang tak benar-benar sampai ke mata. Ia yakin, Sherly masih ingin hidup.
“...atas pembunuhan tersebut ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Sekar Diajeng Wardani melaporkan!”
Usai siaran, ia berjalan menuju Roni. Namun langkahnya terhenti saat seseorang menabraknya ringan. Ketika ia ingin menegur, orang itu cepat-cepat menunduk, mengangguk kecil sebagai permintaan maaf, lalu menghilang ke arah parkiran.
“Kamu nggak papa?” tanya Roni. Sekar hanya menggeleng, pandangan matanya belum lepas dari punggung lelaki itu.
“Kamu kenal?”
“Itu cowok yang kemarin aku cerita,” bisiknya.
“Yang ngajak kenalan di Dacha?” Sekar mengangguk, pelan.
“Cakep lho Dan! Tapi ya... percuma lah, paling juga bakalan nyerah sama kamu.” Roni terkikik, sembari membereskan tripodnya.
“Aaaasem... udah dibilang,”
“Bukannya kamu yang bermasalah, tapi mereka aja yang nggak tahu diri... Iya iya, tauk! Udah yuk cabut.”
Mereka meninggalkan gedung pengadilan. Kasus Sherly resmi tinggal sejarah.
***
Kalau ada yang paling sulit dari tinggal sendiri, bagi Sekar, itu bukan soal kesepian. Bukan juga rasa takut. Tapi rasa malas. Malas memikirkan apa pun selain tugasnya sebagai reporter investigasi. Malas merawat diri. Malas memesan makan. Malas mencuci. Malas beres-beres. Namun semalas-malasnya Sekar, ia tak mau lagi ditolak masuk kantor hanya karena lupa mencuci seragam. Hari Senin adalah hari seragam. Tak patuh berarti tak boleh menjejakkan kaki di kantor, potong gaji, reputasi tercoreng.
Ia pernah mengalaminya.
Seragamnya belum siap, meski sudah lewat empat hari saat ia datang ke tempat laundry andalannya yang janjinya dua hari. Sejak itu, ia memaksakan satu kebiasaan dalam hidupnya yang kacau. Setiap hari Minggu, bagaimanapun caranya, harus ke laundry self-service 24 jam. Itulah satu-satunya pegangan rutinitas yang ia miliki, supaya masih bisa merasa normal.
Seperti malam ini, atau lebih tepatnya dini hari pukul dua. Sekar melaju dengan motor, di bawah cahaya bulan yang menumpuk bersama lampu jalan. Menuju tempat laundry self-service 24 jam yang sudah seperti sahabatnya sendiri.
Begitu masuk, Sekar langsung membuka mesin, menjejalkan pakaian kotor, menempelkan kartunya, mesin pun bekerja. Cukup menguntungkan datang di pagi buta seperti ini, ia tak perlu antre. Hanya ada satu mesin cuci selain yang dipakai Sekar, yang ikut begadang.
Angka digital memintanya menunggu tiga puluh menit. Sekar berjalan mundur menuju bangku, tak jauh dihadapan mesin cuci. Hanya berjarak sepuluh langkah.
Tercium aroma deterjen.
Menyengat, namun candu.
Sekar tak menyadari. sedari ia masuk sepasang mata mengamatinya. Hingga ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi panjang, mata itu tak juga berpaling.
Sampai akhirnya Sekar merasa ada yang aneh.
Tangan kanannya berhenti, saat berhasil masuk ke dalam kantong jaketnya. Sudah menyentuh ponsel. Tapi tidak jadi, justru bergerak keluar tanpanya. Ia menoleh, pandangan mereka bertemu. Ada jeda sunyi, Sekar hanya memiringkan kepala, memicingkan mata, bingung.
“Ketemu lagi,” suara familiar bagi Sekar, terdengar sedikit semangat.
“Aku sempet nggak yakin kalau itu kamu,” sambung Arya, memperbaiki duduk hanya berjarak satu bangku kosong dari Sekar. Sekar refleks ikut mengatur posisi duduk. Membiarkan jarak tetap terbentang. Ia memperhatikan lelaki itu dengan hati-hati.
“Wah, nggak nyangka kita ketemu di sini. Pertemuan pertama, emang aku sengaja nyamperin kamu. Tapi ini? Kita dipertemukan. Kalau sampai ketemu lagi tanpa sengaja, berarti kita jodoh nih.”
Sekar mendecak kecil. “Kamu yakin ini pertemuan kedua?” Kedua tangannya menyilang di dada. Tak suka dirinya terganggu.
Menoleh padanya tajam.
“Lho? Emang ada lagi?”
“Kamu... beberapa hari lalu... Di pengadilan... Ah sudahlah,” Sekar meracau, berpaling kembali ke mesin cucinya. Arya mengerutkan alis, lalu seolah lampu menyala di kepalanya.
“Oooh iya! Baru ngeh! Wah, fix ini mah jodoh.” Ia mencodongkan badan, senyumnya melebar, nada suaranya dibuat setengah serius setengah menggoda.
“Mas-nya, nge-Drakor?” gumam Sekar hambar. Matanya menyipit menahan geli atau ilfeel.
Arya tak mundur. Ia menyandarkan satu tangan ke atas bangku, posturnya santai, sok dramatis. “Bisa banget! Plotnya random, tapi karena kamu, jadi makin hidup..” Nadanya ringan, tapi matanya jelas menantang. Seolah menikmati betul ketusnya Sekar.
Sekar mendesah, berat, seperti menahan tumpukan kesabaran yang mulai rontok.
“Begini, Mister...?” Ia menoleh lagi pada Arya.
“Arya.”
“Oh iya, Mister Arya!" Sekar kembali tertuju pada mesin cucinya.
"Pertama, kita tinggal di kota yang sama, jadi peluang untuk bertemu sesekali itu wajar. Kedua, saya tidak percaya dengan yang namanya jodoh tanpa adanya proses. Apalagi sama orang yang tidak saling kenal.” Ujung matanya memancarkan pertahanan diri.
“Makanya kenalan. Arya Alvaro.” Tangannya terulur. Menggantung di udara, goyah menunggu disambut.
Sekar menatapnya malas. “Saya nggak ada alasan kenalan sama Anda.”
“Lho, apa salahnya? Nambah kenalan, kan nambah peluang jodoh!” Bola mata Sekar menari, kemudian melirik layar mesin cuci.
Angka dua puluh tujuh tertera.
“Kamu ngikutin aku ya?” serang Sekar tak memedulikan argumen Arya.
“Hah? Ngikutin kamu?”
“Lumayan langka lho. Bisa ketemu orang yang sama di tempat beda, waktu berdekatan, kota segede ini.” Arya cuma menunjuk ke mesin cuci lainnya dengan ujung jempol kanannya. Dua deret dari mesin cuci Sekar. Angka enam belas di layarnya berkedip.
“Oke! Kenapa tiba-tiba ngomongin jodoh? Mas-nya kebelet nikah ya?”
Arya malah tertawa lepas. “Jodoh tuh nggak mesti tentang asmara. Bisa aja tepat dijadikan teman, sahabat, relasi. Lagian aku tadi cuma becanda.”
“Trus?”
“Menurutku, kenalan sama orang asing tuh nambah pengalaman, wawasan, link." Arya kembali bergerak, alisnya terangkat, bibirnya ditarik.
"Tau nggak, kalau peluang dapat kerja atau proyek dari relasi itu lebih gede daripada nyari sendiri?” Sekar mengangguk, sorot matanya tak menolak kenyataan.
“Hmmm... Anda ada benarnya.”
“So...” Arya kembali mengulurkan tangan. Sekar meliriknya sejenak, sebelum akhirnya menyambut.
“Dani.”
“Dani...?”
“Sekar Diajeng Wardani.”
Arya tersenyum, menyingkap gigi rapi, bibirnya menebal, rahangnya sedikit oval. Sekar buru-buru menarik tangannya lagi.
“Salam kenal Dani. Semoga kita berjodoh, dalam arti apa pun,” katanya.
Tapi tidak bagi Sekar.
Ia sudah tak berdaya untuk sekedar menarik bibirnya.
Setelah hampir dua puluh dua jam terjaga.
Sejak awal ia tahu risiko profesi yang diidam-idamkannya ini, tak ada lagi definisi pagi atau malam yang baku, tak ada pekan yang selalu lapang. Siang kemarin bisa saja tiba di kantor, besok malam mungkin baru bersiap kerja.
Atau saat sekarang ini, mayoritas orang dalam radius dua ratus kilometer dalam keadaan dengan segar, menyambut pulang kerja. Sekar justru menapaki taraf terendah sebagai manusia, lebih mirip zombie. Bukan zombie haus darah yang mengincar manusia hidup, melainkan mayat hidup yang hanya ingin memangsa kasur empat kaki berseprai putih, bersembunyi di balik kain lembut.
Sekar bahkan tak peduli teriakan tetangga kosnya yang kesal karena pagar tidak ia tutup. Atau, pada mochi, kucing kampung sedikit ras asing, yang mendesis saat ekornya diinjaknya. Atau saat mendapati hordennya masih tersingkap, membuat matahari tanpa malu menampar wajahnya. Atau bahkan, ketika meteor jatuh di atap kosnya. Metabolisme tubuhnya sudah malas memproduksi energi tambahan.
Yang penting sampai kasur, yang berjarak tiga meter lagi.
Begitu tubuhnya rebah, sekilas tampak garis senyum mengambang, hampir menenggelamkan bibir tipis atas. Dalam hati ia merasa sudah merdeka. Baru saja hendak menggapai tahap dua non-REM, seketika dadanya tiba-tiba berdenyut cepat.
Memompa darah liar sampai ke pelipis.
Matanya terbuka lebar.
Ponselnya terlalu santun untuk sekadar bergetar, ia menjerit lantang di ujung ranjang. Sekar mencoba pura-pura tuli. Sugesti pada otaknya sunyi, tak ada dering. Tapi usaha itu percuma. Tubuhnya masih terpasung di tepi sadar, dan ponselnya terus meraung, makin pongah.
Dengan setengah putus asa, Sekar mengait ransel coklat di dekat paha kirinya, menggunakan kaki kirinya pula. Setelah beberapa kali menendang dan menyeret, barulah tas itu teraih. Tangannya masuk, meraba dalam gelap. Ia sungguh tidak dapat membuka mata sampai menemukan si biang ribut. Sedikit memicing, Sekar menemukan nama Si Bos terpampang jelas di layar.
Ia menjawab dengan helaan napas panjang, siap mendengar kabar apa lagi yang datang. “Sorry... tapi ini mendesak banget. Kamu sekarang juga ke Polda! Tersangka kasus pembunuhannya Sherly ketangkep!” Seketika adrenalinnya menari.
Mayat hidup itu pun seolah disulap kembali bernyawa. Sekar mengangkat tubuhnya cepat, menghiraukan aliran darah yang mengalir cepat ke otaknya.
“Aku udah share loc. Cuma kamu yang bisa ke sana. Si Baim masih sakit, Dian sama Ipul lagi fokus sama perampokan massal di Sampit. Roni sudah OTW ke sana. Kamu buruan, kalo bisa nanti on cam ya!”
Tak perlu menunggu jawaban.
Sekar langsung bangkit, menyambar tas, tak peduli rambut panjangnya makin mengembang acak, tiga hari tak kena sampo. Wajah kusamnya memperlihatkan garis-garis usia yang seharusnya belum dia miliki. Bibir merahnya sudah nyaris hilang, digantikan debu putih entah bekas apa, di pinggir mulut. Matanya besar, alis tebalnya menukik, kantung matanya jelas menandakan dia sudah terlalu lama terjaga.
Sekar memarkir motor matic-nya tepat saat rombongan mobil patroli masuk halaman Polda. Sekar memicingkan mata. Pohon Tanjung itu, dengan tajuknya yang bertumpuk seperti payung, rupanya tak sanggup menahan cahaya matahari yang masih tekun menyala lembut di ujung barat langit.
Pandangan Sekar beralih, saat gerombolan haus cerita menyerbu mobil patroli. Mesin-mesin kamera hidup, suara perekam mengaum. Langkah kaki serentak tak beraturan menggema. Sekar menyesap adrenalin itu. Denyut kecil yang selalu membuatnya hidup. Ia melihat Roni di antara kerumunan, barisan paling belakang, tergopoh menyodorkan kamera. Sekar langsung menarik lengannya, mendorong maju hingga berada paling depan, tepat saat pintu mobil terbuka dan suara teriakan mulai pecah.
Semua terjadi singkat.
Wawancara kilat, jumpa pers kecil, tangkap-tangkap gambar. Secepat itu, ia bahkan tidak sadar akan prosesnya. Ia hanya sadar tubuhnya terlanjur segar, tapi pikirannya terlalu riuh untuk berada sendirian di kamar kos. Setelah serangkaian kasus Sherly, kamarnya terasa kurang bersahabat. Kamar kos yang seharusnya menjadi sarang paling aman bagi seorang perantau, malah menjadi teror baru bagi Sekar.
Maka ia singgah di kafe favoritnya, menepi di dekat jendela kaca besar. Bersandar di sofa empuk dengan sandaran sampai kepala. Menggenggam es Americano dengan kedua tangan. Sudah cukup untuk meremajakan psikisnya.
Dari situ, matanya lekat memandang jalan bersapal yang sepi, tak satu kendaraan pun lewat sejak ia duduk. Lagi-lagi memikirikan Sherly, yang ditemukan di tepi jalan tak bernyawa.
“Hey!” Suara mengiris hening seperti pisau tipis, membawa Sekar dari lamunan. Ia mengangkat wajah, sedikit mengernyit, menatap laki-laki seusianya, begitu pikirnya, yang berdiri di samping meja. Tangan kiri Sekar lepas dari cangkir, mengarah ke dadanya, sementara tangan kanan masih memegangnya.
“Iya, aku Arya,” ujar laki-laki itu santai, mencondongkan badan dan mengulurkan tangan.
Tak tahu kehadirannya tak diharapkan.
“Maaf, saya sedang tidak ingin diganggu,” Sekar menimpali cepat, membuang muka.
“Hmmm... oke, maaf kalau ganggu.” Arya mundur beberapa langkah.
Semenit berikutnya, keheningan kembali memeluk Sekar, dan ia pun larut lagi dalam aliran kafein.
Berusaha menyingkirkan Sherly.
***
Kasus Sherly akhirnya ditutup.
Terdakwa divonis penjara seumur hidup. Sekar melaporkan langsung di depan kamera, menutup kalimatnya dengan senyum lega yang tak benar-benar sampai ke mata. Ia yakin, Sherly masih ingin hidup.
“...atas pembunuhan tersebut ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Sekar Diajeng Wardani melaporkan!”
Usai siaran, ia berjalan menuju Roni. Namun langkahnya terhenti saat seseorang menabraknya ringan. Ketika ia ingin menegur, orang itu cepat-cepat menunduk, mengangguk kecil sebagai permintaan maaf, lalu menghilang ke arah parkiran.
“Kamu nggak papa?” tanya Roni. Sekar hanya menggeleng, pandangan matanya belum lepas dari punggung lelaki itu.
“Kamu kenal?”
“Itu cowok yang kemarin aku cerita,” bisiknya.
“Yang ngajak kenalan di Dacha?” Sekar mengangguk, pelan.
“Cakep lho Dan! Tapi ya... percuma lah, paling juga bakalan nyerah sama kamu.” Roni terkikik, sembari membereskan tripodnya.
“Aaaasem... udah dibilang,”
“Bukannya kamu yang bermasalah, tapi mereka aja yang nggak tahu diri... Iya iya, tauk! Udah yuk cabut.”
Mereka meninggalkan gedung pengadilan. Kasus Sherly resmi tinggal sejarah.
***
Kalau ada yang paling sulit dari tinggal sendiri, bagi Sekar, itu bukan soal kesepian. Bukan juga rasa takut. Tapi rasa malas. Malas memikirkan apa pun selain tugasnya sebagai reporter investigasi. Malas merawat diri. Malas memesan makan. Malas mencuci. Malas beres-beres. Namun semalas-malasnya Sekar, ia tak mau lagi ditolak masuk kantor hanya karena lupa mencuci seragam. Hari Senin adalah hari seragam. Tak patuh berarti tak boleh menjejakkan kaki di kantor, potong gaji, reputasi tercoreng.
Ia pernah mengalaminya.
Seragamnya belum siap, meski sudah lewat empat hari saat ia datang ke tempat laundry andalannya yang janjinya dua hari. Sejak itu, ia memaksakan satu kebiasaan dalam hidupnya yang kacau. Setiap hari Minggu, bagaimanapun caranya, harus ke laundry self-service 24 jam. Itulah satu-satunya pegangan rutinitas yang ia miliki, supaya masih bisa merasa normal.
Seperti malam ini, atau lebih tepatnya dini hari pukul dua. Sekar melaju dengan motor, di bawah cahaya bulan yang menumpuk bersama lampu jalan. Menuju tempat laundry self-service 24 jam yang sudah seperti sahabatnya sendiri.
Begitu masuk, Sekar langsung membuka mesin, menjejalkan pakaian kotor, menempelkan kartunya, mesin pun bekerja. Cukup menguntungkan datang di pagi buta seperti ini, ia tak perlu antre. Hanya ada satu mesin cuci selain yang dipakai Sekar, yang ikut begadang.
Angka digital memintanya menunggu tiga puluh menit. Sekar berjalan mundur menuju bangku, tak jauh dihadapan mesin cuci. Hanya berjarak sepuluh langkah.
Tercium aroma deterjen.
Menyengat, namun candu.
Sekar tak menyadari. sedari ia masuk sepasang mata mengamatinya. Hingga ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi panjang, mata itu tak juga berpaling.
Sampai akhirnya Sekar merasa ada yang aneh.
Tangan kanannya berhenti, saat berhasil masuk ke dalam kantong jaketnya. Sudah menyentuh ponsel. Tapi tidak jadi, justru bergerak keluar tanpanya. Ia menoleh, pandangan mereka bertemu. Ada jeda sunyi, Sekar hanya memiringkan kepala, memicingkan mata, bingung.
“Ketemu lagi,” suara familiar bagi Sekar, terdengar sedikit semangat.
“Aku sempet nggak yakin kalau itu kamu,” sambung Arya, memperbaiki duduk hanya berjarak satu bangku kosong dari Sekar. Sekar refleks ikut mengatur posisi duduk. Membiarkan jarak tetap terbentang. Ia memperhatikan lelaki itu dengan hati-hati.
“Wah, nggak nyangka kita ketemu di sini. Pertemuan pertama, emang aku sengaja nyamperin kamu. Tapi ini? Kita dipertemukan. Kalau sampai ketemu lagi tanpa sengaja, berarti kita jodoh nih.”
Sekar mendecak kecil. “Kamu yakin ini pertemuan kedua?” Kedua tangannya menyilang di dada. Tak suka dirinya terganggu.
Menoleh padanya tajam.
“Lho? Emang ada lagi?”
“Kamu... beberapa hari lalu... Di pengadilan... Ah sudahlah,” Sekar meracau, berpaling kembali ke mesin cucinya. Arya mengerutkan alis, lalu seolah lampu menyala di kepalanya.
“Oooh iya! Baru ngeh! Wah, fix ini mah jodoh.” Ia mencodongkan badan, senyumnya melebar, nada suaranya dibuat setengah serius setengah menggoda.
“Mas-nya, nge-Drakor?” gumam Sekar hambar. Matanya menyipit menahan geli atau ilfeel.
Arya tak mundur. Ia menyandarkan satu tangan ke atas bangku, posturnya santai, sok dramatis. “Bisa banget! Plotnya random, tapi karena kamu, jadi makin hidup..” Nadanya ringan, tapi matanya jelas menantang. Seolah menikmati betul ketusnya Sekar.
Sekar mendesah, berat, seperti menahan tumpukan kesabaran yang mulai rontok.
“Begini, Mister...?” Ia menoleh lagi pada Arya.
“Arya.”
“Oh iya, Mister Arya!" Sekar kembali tertuju pada mesin cucinya.
"Pertama, kita tinggal di kota yang sama, jadi peluang untuk bertemu sesekali itu wajar. Kedua, saya tidak percaya dengan yang namanya jodoh tanpa adanya proses. Apalagi sama orang yang tidak saling kenal.” Ujung matanya memancarkan pertahanan diri.
“Makanya kenalan. Arya Alvaro.” Tangannya terulur. Menggantung di udara, goyah menunggu disambut.
Sekar menatapnya malas. “Saya nggak ada alasan kenalan sama Anda.”
“Lho, apa salahnya? Nambah kenalan, kan nambah peluang jodoh!” Bola mata Sekar menari, kemudian melirik layar mesin cuci.
Angka dua puluh tujuh tertera.
“Kamu ngikutin aku ya?” serang Sekar tak memedulikan argumen Arya.
“Hah? Ngikutin kamu?”
“Lumayan langka lho. Bisa ketemu orang yang sama di tempat beda, waktu berdekatan, kota segede ini.” Arya cuma menunjuk ke mesin cuci lainnya dengan ujung jempol kanannya. Dua deret dari mesin cuci Sekar. Angka enam belas di layarnya berkedip.
“Oke! Kenapa tiba-tiba ngomongin jodoh? Mas-nya kebelet nikah ya?”
Arya malah tertawa lepas. “Jodoh tuh nggak mesti tentang asmara. Bisa aja tepat dijadikan teman, sahabat, relasi. Lagian aku tadi cuma becanda.”
“Trus?”
“Menurutku, kenalan sama orang asing tuh nambah pengalaman, wawasan, link." Arya kembali bergerak, alisnya terangkat, bibirnya ditarik.
"Tau nggak, kalau peluang dapat kerja atau proyek dari relasi itu lebih gede daripada nyari sendiri?” Sekar mengangguk, sorot matanya tak menolak kenyataan.
“Hmmm... Anda ada benarnya.”
“So...” Arya kembali mengulurkan tangan. Sekar meliriknya sejenak, sebelum akhirnya menyambut.
“Dani.”
“Dani...?”
“Sekar Diajeng Wardani.”
Arya tersenyum, menyingkap gigi rapi, bibirnya menebal, rahangnya sedikit oval. Sekar buru-buru menarik tangannya lagi.
“Salam kenal Dani. Semoga kita berjodoh, dalam arti apa pun,” katanya.
Other Stories
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Kota Ini
Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...