Dua - Satu Frekuensi
“So? Kalo boleh tau waktu itu di pengadilan ngapain?” lanjut Arya. Angka digital merah di sudut kanan atas mesin cuci berkedip pelan, menurun menjadi dua belas. Ruangan itu dingin, hampir tak berbau selain aroma detergen yang menguar samar.
“Urusan pekerjaan,” timpal Sekar. Suaranya seolah melayang tipis, sekadar formalitas, tanpa jiwa.
“Kamu pengacara?" Arya menatapnya, "Jaksa? Hakim?” Lanjutnya cecar, setelah hanya dijawab sunyi. Matanya mengerjap pelan, lalu diam menunggu. Ada rasa ingin tahu yang terlalu terang dalam sorot matanya, memecah monoton bunyi mesin yang menderu.
Sekar hanya menatap ke depan. Diam menjadi semacam perisai.
Arya tertawa kecil, padahal tak ada humor. “Cocok sih, cocok banget jadi hakim.”
“Maksudnya?” Sekar menggeliat sedikit. Gerakan yang terlalu kecil, tapi cukup untuk menunjukkan dia terusik.
“Kamu cocoknya jadi hakim. Selama kita ngobrol... entah kenapa rasanya kamu idealis, analitis, adil juga. Dan yang lebih penting, mau dikritik, mau mengakui kalau salah.” Ungkap Arya bertingkah layaknya detektif. Kornea mata Arya memancarkan percaya diri, tak terdeteksi kamuflase.
“Itu pujian atau sindiran?” Sekar menoleh sejenak, menatap Arya seperti hendak menusuk balik pandangannya.
“Pujian dong. Gimana pun, ahli hukum harus kayak gitu. Biar nggak gampang disuap." Dia menjatuhkan tangan. "Biar nggak bias.” Sambung Dia mengangkat bahu, seolah itu logika paling wajar di dunia.
Sekar mendengus kecil. “Menurutku kamu orangnya judgemental. Dan itu sindiran.” Panah ancaman terbang dari mulut Sekar. Mengarah tajam ke Arya, lewat busur mata bulatnya yang memicing runcing.
Arya diam. Wajahnya meredup, seperti lampu yang ragu untuk terus menyala. Dia menggeser duduknya mendekati Sekar, dan tiba-tiba jarak mereka terasa menyesakkan.
“Kamu selalu mikir orang tuh kriminal, ya?” katanya lebih pelan, nyaris seperti gumam.
Sekar menarik napas. Dingin mesin AC menampar kulitnya. Jaketnya gagal menjalankan tugas. “Seperti yang kamu bilang. Aku analitis dan idealis. Dan yah... manusia itu kriminal.”
Hening. Lalu, seulas senyum miring muncul di bibir Arya. “Kamu bener juga. Untuk bertahan hidup, manusia pasti membunuh makhluk lain. Bukan cuma manusia sih. Hewan juga. Beberapa tumbuhan malah membunuh." Kalimatnya terhenti sejenak, Dada Arya naik pelan, nyaris tak terdengar dengusan. "Dunia dipenuhi pembunuh.” nada terakhir terucap dingin.
Ada jeda yang panjang.
Lalu Sekar menoleh. Untuk pertama kalinya wajahnya terbuka—alis terangkat, kerutan di dahi mengendur, matanya terang oleh semacam kekaguman yang nyaris takut untuk diakui. Sementara Arya memandangnya sama intensnya. Dalam sepersekian detik, ada tarikan halus, sesuatu yang rapuh tapi tak terelakkan. Seperti dua medan magnet yang saling menyeret.
Mereka berada pada satu frekuensi.
“Wow... baru kali ini ada yang sepemikiran,” kata Sekar, suaranya nyaris berbisik.
Ia tiba-tiba teringat tumpukan laporan investigasi yang selalu mengarah pada satu kesimpulan getir. Manusia itu mudah terjerumus, rapuh, licik. Mereka membunuh dalih bertahan hidup, lalu menyangkalnya demi tetap terasa pantas saat memandang cermin. Sekar malu mengakui, dia tak lebih picik. Menjalin hubungan berdasar kepentingan. Seperti semua manusia di bumi.
Serpihan jejalah delusi otak Sekar nyaris hilang, namun wajah Sekar masih melukiskan raut wajah takjub atas pernyataan Arya. Mata Arya melembut, bibirnya terangkat dalam senyum tipis. Berganti memunculkan barisan gigi rapi. Pemuda itu tak tahan membuka riang.
“Kok?” Dahi Sekar mengkerut, tak senang Arya melontarkan tawa.
“Ekspresimu lucu banget. Kamu kalau kaget gitu... menggemaskan.”
Gawat, Sekar terlena akan gelombang pemikiran Arya, berhasil membuatnya tumbang. Sikap skeptis gadis itu pun gugur. Ia merasakan panas aneh merambat dari leher ke pipinya. Ia tak bisa mengendalikan rona merah yang mekar begitu saja. Sekar lengah, tubuhnya tak dapat menolak sanjungan Arya.
Arya tahu apa yang harus ia katakan. “Pipimu merah tuh,” suaranya terdengar puas. Seperti baru saja menyelesaikan permainan yang dia yakin akan dimenangkannya. Sekar buru-buru memalingkan wajah, menolak memperpanjang rasa malu. Berusaha menarik kembali timbunan laporan investigasi yang harus ia selesaikan.
Usahanya sia-sia, ujung mata Sekat tak dapat menolak gambaran Arya yang masih menatapnya dalam diam. Menunggu Sekar menyambut. Sekar yakin, sudah lebih enam puluh menit ia terpaku. Tapi angka mesin cucinya tak kunjung berganti sejak pipinya berani merona.
Ia pasrah pada sunyi yang memegang kendali, hanya berlatar dengungan halus, ritmis, berputar-putar. Tidak lupa, tatapan Arya yang memancing hasratnya.
Selang kemudian, bunyi panjang dari mesin cuci memutus semuanya.
Sekar berdiri terlalu cepat, nyaris tergesa, menolak mengintip Arya lagi.
“Kamu mau ke mana? Dani...? Sekaar...!” panggil Arya, sedikit panik.
“Mau keringin bajuku. Udah kelar tuh,” kilah Sekar, melangkah tanpa menoleh. Tapi matanya terpaku pada mesin cuci yang... ternyata bukan miliknya. Angka dua belas berubah sebelas berkedip merah.
“Itu bukan punyamu,” ujar Arya, nada suaranya seolah hendak menertawakan. Dia bangkit, berjalan pelan. Sekar kembali duduk, menatap Arya yang kini mengambil keranjang di dekat mesin cuci yang digunakannya.
Dan di saat itulah Sekar melihatnya dengan sudut pandang berbeda. Kaos tanpa lengan itu memperlihatkan lengan Arya yang berotot secukupnya. Kulitnya kuning kecoklatan, tak gelap tapi juga tak terang. Celana jersey abu-abu hanya menutupi hingga paha atas. Arya tampak santai, tapi justru itu membuatnya semakin terasa berbahaya. Seperti hewan liar yang duduk tenang sebelum menerkam.
Arya jongkok, memindahkan pakaian, otot pahanya menegang halus. Sekar memerhatikan cara tubuh Arya bergerak; ringan, tak canggung, tapi penuh kesadaran akan ruang. Saat Arya berdiri, tubuhnya menjulang proporsional. Tangannya piawai memasukkan helai demi helai ke dalam mesin pengering. Sekar akui, kantuknya menyingkir, kalah dengan panorama Arya. Terlebih saat pria itu berbalik, memamerkan wajah maskulin dengan kumis dan berewok tipis yang membingkai mulut tebalnya. Ada sesuatu yang membuat Sekar tak bisa menoleh cepat-cepat.
Tercetak bibir Sekar melengkung kebawah. Setuju pada keindahan. Arya menangkap tatapan itu. Dia hanya mengangguk kecil, seolah berkata: ada yang salah pada diriku?
Sekar membuang muka, menanam teka-teki di sana.
“Kenapa? Kok liatinnya gitu?” langkah kaki Arya sebesar nada suaranya. Ingin cepat-cepat hinggap di bangku kosong. Jarak yang memisahkan mereka sejak awal.
Sekar menyandarkan tubuh, lalu berkata datar, “Ternyata benar kata temanku.”
“Apa? Kalau manusia itu dasarnya pembunuh?” tanya Arya bingung. Sekar menahan tawa. Hanya bibirnya yang bergerak, menggurat sinis. Gelengan kepalanya pelan.
“Terus?” Sekali lagi Arya mengangguk, bahunya turut naik.
“Kalo kamu itu... cakep.”
Arya tertawa kecil, nyaris senang. “Haha, balas dendam nih? Nggak mempan. Aku nggak bakal salting.” Dia menjatuhkan badannya di sebelah Sekar, tak ingin lagi berjarak. “Boleh, kan?”
“Silakan. Ini bukan punyaku,” jawab Sekar.
Arya mengubah posisinya, kini tubuhnya miring menghadap Sekar. Satu tangan disandarkan santai di belakang, kaki kanannya bergerak naik-turun pelan. Suaranya muncul lagi, rendah, sedikit serak. “Jadi apa pekerjaan kamu sampai harus ke pengadilan?”
Sekar balas menatap, tak kalah dingin. “Kalau kamu sendiri?” Menolak kehadiran manusia baru dalam hidupnya.
Baginya, Orang-orang hanya mendekat saat ada kepentingan, lalu lenyap saat hasrat telah usai. Ia tak lagi naif memandang hubungan. Tidak ada orang yang akan selalu bersama. Itulah satu-satunya pelajaran paling jujur yang Sekar dapat dari kehilangan orangtua dan dua adiknya dalam kecelakaan bus.
Di hari kelulusannya.
Ucapan duka turut melapisi keberhasilan Sekar menyelesaikan kuliahnya dengan nilai sempurna. Bus yang membawa keluarga Sekar dari kota asalnya, terbakar dahsyat. Setelah mengalami kecelakaan beruntun. Ditabrak dua bus pariwisata, yang juga ikut terbakar.
Tak ada satupun yang selamat.
Pelajaran lainnya, Sekar memahami kontrak sosial dari mantan-mantan yang pergi—tidak kuat akan sifat dan sikap Sekar. Juga, dari teman-teman yang memudar satu per satu. Terbukti, titel makhluk sosial pada manusia hanya berguna saat ada kepentingan.
Sikap skeptis Sekar lahir atas konsep itu.
Sekar jelas memancarkan hasrat atas tujuan Arya terhadapnya.
Arya menangkap itu, dan tidak marah. Dia hanya menghela napas pelan. “Aku? Maksudmu di pengadilan atau pekerjaanku?”
“Dua-duanya," tantang Sekar, "....kalau mau jawab.”
Arya tertawa lagi. Nyaris tak terdengar. “Selain kamu idealis, analitis... ternyata kamu egois juga ya.” serang Arya. Tak ada nada menyindir, Sekar pun tahu.
“That’s me,” kata Sekar. Kali ini dengan nada bangga, meski dadanya terasa kosong.
“Well, aku di pengadilan gara-gara ditilang.” Sekar langsung menatap dengan ekspresi meledek. “Iya tau, aku salah. Nggak lihat petunjuk jalan, muter balik sembarangan. Dapet surat cinta deh.” Nada Arya pun mengejek.
“Aku nggak ngejudge lho.” Sekar mengangkat kedua tangan, pura-pura seperti tahanan.
“Ekspresimu yang ngejudge!”
“Oke oke, sorry..." Sekar bergeser kecil, menurunkan tangannya. Sedikit memperbaiki posisi jaketnya yang tak lagi menjalaskan tugas. Deru angin AC lebih menusuk malam ini. Sekar menoleh sedikit ke Arya, "Terus, kerja di mana?”
“Aku punya usaha sendiri. Nggak besar sih, tapi lumayan.”
“Jadi... kamu ngajak kenalan, buat promosi? Atau mau ngerekrut?” Mata Sekat menatap curiga yang dibuat-buat.
“Ketahuan ya?” Arya memasang wajah pura-pura menyesal. Sekar hanya menggeleng, tanpa sadar tersenyum. “Nah, gitu dong, senyum. Koleksi ekspresimu di otakku nambah lagi nih.” Arya membetangkan kedua tangan di hadapan Sekar. Pura-pura memotret dengan jemarinya.
“Udah ngoleksi apa aja? Marah belum, kan?” tanya Sekar, matanya mengerling.
“Aku bakal senang kalo itu gara-gara aku. Artinya, kita udah cukup dekat. Aku nungguin itu.” Sekar tak tahan. Dia tertawa lepas.
“Lho? Kok malah ketawa?”
“Kamu aneh. Siapa juga yang nungguin dimarahin?” ucap Sekar menahan tawa.
“Justru orang marah karena peduli. Maksudku...," Arya berdeham sedikit, tangannya bergerak menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Marah antara dua orang yang saling kenal ya. Kalau nggak peduli mah, ngapain marah? Cuekin aja!” bela Arya. Gerak-geriknya menunjukkan kalau dia sebenarnya merasa tersindir oleh gelak Sekar.
“Itu beda. Marah yang kumaksud tuh marah beneran, yang maki-maki, emosi, bukan marah karena cemas atau kecewa.” kali ini Sekar yang menempatkan diri sebagai perisai.
Arya menatap lebih dalam. “Kalau gitu koreksi. Aku nungguin kamu marah...," ia terdiam sedikit, mata sayunya menuju mata bulat Sekar. "Karena kamu khawatir sama aku.” ucapnya pelan, tanpa bergetar. Mayakinkan Sekar, ketulusan sempurna yang melapisi.
“You wish.” Kalimat Sekar melesat tanpa jeda.
"Lho, iya, kan...," saat ingin mengakkan idenya, kalimatnya terpotong bunyi nyaring. Kini giliran mesin cuci Sekar yang mengamuk. Sekar berdiri, tak menanggapi pembelaan Arya. Pria itu frustrasi, malah mengekor.
“Mau ngapain?” Sekar berhenti, Arya berjarak dua meter di belakangnya ikut terhenti.
“Bantuin, boleh kan?”
“Sekalian kamu aja yang kerjain.” Dia menganyunkan tangan kanannya sembari mundur. Tak segan ambil kesempatan.
“Boleh, tapi...," Arya sok mikir, tangannya sampai harus menopang dagunya. "Imbalannya apa?” Arya menarik bibirnya, berusaha menggoda.
“Emang, ya manusia. Nggak ada ketulusan.” Suara Sekar menggigit. Dia berjalan menjauh, tapi Arya menarik tangannya, menatapnya menyesal.
“Sorry. Aku cuma bercanda.” Arya menuntun Sekar, memaksanya duduk. “Kamu diem aja, biar aku yang kerjain.” Dan begitu saja, Arya berjalan menjauhinya. Meninggalkan Sekar yang tidak peduli. Tak ada guratan sungkan pada wajah datar Sekar, justru mengeluarkan ponselnya. Tenggalam pada layar, sesekali sedikit melirik, saat Arya mengeluarkan pakaiannya.
Harusnya, tindakan Arya patut dipuji. Pria itu telaten memidahkan lembaran kain satu persatu. Gerakannya lembut tanpa ragu saat mendapati pakaian intim. Sekar hanya mengamati, tak peduli, tak merasa risih atau lega. Dia semata duduk dalam diam, menolak rasa asing yang hangat merayap. Dibalik matanya, Arya telah menjalankan tugasnya sempurna. Dia berlajan gagah, menunggu pujian.
“Apa?” Tanya Sekar tak paham gelagat Arya.
“Thank you?” Langkah Arya terhenti, tangannya terbuka naik ke atas dada. Diikuti bahunya yang terangkat.
“Lho, aku nggak minta. Kamu sendiri yang mau.” Sekar menepis, tapi Arya hanya mengangguk, senyum menggantung.
“Iya, kamu benar. Aku sok pede dan heroik, padahal kelihatan bodoh.” Suaranya lirih, lemas dia berjalan ke tempatnya.
“Itu tahu.”
Hening kembali menyerang. Tidak singkat. Arya berusaha tak mengajukan pertanyaan. Tapi, kerutan dahi, bibir tebal kirinya naik, matanya mengerjap. Sekar tahu itu. Ditambah, kakinya berayun cepat.
"Kenapa?" Sekar tak tahan. Ponselnya tak lagi menarik.
"Aku hanya sedang berusaha mencari cara...," sejenak tubuhnya ingin berputar menghadap Sekar. "Biar kita tetap berjodoh." Kedua tangannya diangkat, menggerakkan jari telunjuk dan tengah membentuk tanda kutip di udara.
"Kenapa harus berusaha?" pemilik sikap sinis itu menoleh sedikit, seraya memasukkan paksa ponselnya ke saku.
"Karena aku tertarik sama kamu," mungkin karena sudah terbiasa dengan Sekar, ia pun tak perlu menyaring maksud hati. Reaksinya sesuai dengan harapan. Tawa Sekar pecah. Arya menang lagi.
"Begini, Mister Arya, Anda harus ngantre,"
"Antrean terakhir, nomor berapa?" Arya menyambut kelakar Sekar.
"Enggak banyak, sekitar tiga ribu delapan orang," mata Sekar menangkap gerakan jari Arya, entah ia sedang menghitung apa.
"Waduh, bisa-bisa keburu jadi kakek-kakek, deh!"
"Selamat ya, Mister Arya, masa depan Anda cerah..." ucap Sekar mengikuti permainan Arya. Cukup menghibur di sisa waktunya yang tak beraturan. Ternyata, tidak buruk berbincang dengan Arya. Sekilas, terbesit dibenak Sekar untuk menjadikan dia pacar. Ya, saat ini, sedang sendiri dia. Baru tadi siang putus dengan Gilang. Pria yang mengincarnya lima tahun terakhir, tapi hanya dapat menikmati titel pacar Sekar selama dua hari. Itu pun dengan diskon—tanpa babak belur dihajar Sekar.
"Jadi...." Tiba-tiba bunyi mesin pengering Arya memecah ruang. Mereka menoleh bersamaan.
“Kok nggak diambil? Udah kelar kan?” tanya Sekar.
“Nanti aja. Sekalian sama punyamu. Aku yang kerjain. Nggak pake imbalan, nggak usah terima kasih. Promise...” Arya membuat isyarat dua jari, seperti sumpah pramuka yang terlalu serius.
“Liat aja nanti.” balas Sekar tak tertarik janji.
Arya kembali membuka mulut. “Jadi... apa pekerjaanmu sampe harus ke pengadilan?”
Sekar hanya menghela napas. “Jawabannya tetap, nanti! Kalau kita berjodoh.” giliran Sekar membuat gerakan membentuk tanda kutip.
“Wah berarti ada pertemuan berikutnya dong? Boleh minta nomor WU kamu?” Arya baru merogoh kantong celana jersey abu-abu ketika ponselnya berdering. Ia langsung megerutkan kening.
“Sebentar ya, kayaknya penting. Dari teknisiku,” katanya buru-buru pergi ke luar ruangan. Sekar hanya bisa melihat punggung Arya menghilang. Sedikit lega, tak harus menolak tegas permintaannya. Hubungan mereka belum sampai ke tahap itu. Paling tidak, tunggu lima tahun lagi.
Sekar bersandar, membiarkan dingin menelusup pori-porinya. Teringat ponselya, dia ambil. Berganti fokus pada Arya dan layar ponselnya—tayangan Itube tentang investigasi luar negeri. Sekali-dua kali dia melongok ke arah Arya sampai mesin pengeringnya berhenti.
Sekar beranjak, memasukkan ponsel ke dalam jaket. Berjalan mengambil keranjang, memasukkan pakaian, melipat di atas meja, memasukkan pakaian terlipat rapi ke dalam tas. Dia membereskan semuanya sendiri. Tidak tergoda tawaran Arya.
Ketika hendak mengaitkan tali tas ke bahunya, Arya muncul, dengan wajah menggerutu. “Kok nggak nunggu? Kan, aku udah janji.” Dia berlari kecil, takut ditinggal Sekar.
“Santai, aku mau cepat pulang,” ucap Sekar seraya meloloskan kaitan tali tas dari bahunya. Ia tak protes saat tasnya direnggut Arya.
"Biar aku yang bawain...," tawar Arya dengan tatapan memaksa. Tangannya kilat menggantungkan tas Sekar di bahunya. "Kamu naik apa?”
“Motor, tuh.” Mulutnya runcing mengarah pada satu-satunya motor yang terparkir. Langkah mereka berirama, ditemani sunyi dan deru angin yang berputar, saat pintu terbuka otomatis. Tak ada kata yang membalut keheningan mereka. Tak juga saling menatap. Hingga akhirnya, mereka tiba setelah melewati satu-satunya mobil yang terparkir—mobil Arya.
Arya langsung menuntun tas ke motor Sekar, menaruhnya di sela kemudi dan jok. “Taro di sini, ya?”
“Oke. Kali ini kamu pantas dapet ucapan terima kasih,” kata Sekar, lalu menaiki motornya, kemudian mengenakan helm.
“Nomor kamu?” Arya merasa tak adil.
Sekar menatapnya dari balik kaca helm. “Kalau bener kita berjodoh, nanti juga ketemu lagi. Saat itu, kamu boleh simpan nomorku, dan aku bakal bilang pekerjaanku." Ia menyalakan motor, "Senang berkenalan dengan Anda, Mister Arya.” Lalu pergi, meninggalkan Arya berdiri diam.
Wajah Arya... entah apa. Sulit ditebak. Seperti rahasia lain yang harus disimpan malam ini.
“Urusan pekerjaan,” timpal Sekar. Suaranya seolah melayang tipis, sekadar formalitas, tanpa jiwa.
“Kamu pengacara?" Arya menatapnya, "Jaksa? Hakim?” Lanjutnya cecar, setelah hanya dijawab sunyi. Matanya mengerjap pelan, lalu diam menunggu. Ada rasa ingin tahu yang terlalu terang dalam sorot matanya, memecah monoton bunyi mesin yang menderu.
Sekar hanya menatap ke depan. Diam menjadi semacam perisai.
Arya tertawa kecil, padahal tak ada humor. “Cocok sih, cocok banget jadi hakim.”
“Maksudnya?” Sekar menggeliat sedikit. Gerakan yang terlalu kecil, tapi cukup untuk menunjukkan dia terusik.
“Kamu cocoknya jadi hakim. Selama kita ngobrol... entah kenapa rasanya kamu idealis, analitis, adil juga. Dan yang lebih penting, mau dikritik, mau mengakui kalau salah.” Ungkap Arya bertingkah layaknya detektif. Kornea mata Arya memancarkan percaya diri, tak terdeteksi kamuflase.
“Itu pujian atau sindiran?” Sekar menoleh sejenak, menatap Arya seperti hendak menusuk balik pandangannya.
“Pujian dong. Gimana pun, ahli hukum harus kayak gitu. Biar nggak gampang disuap." Dia menjatuhkan tangan. "Biar nggak bias.” Sambung Dia mengangkat bahu, seolah itu logika paling wajar di dunia.
Sekar mendengus kecil. “Menurutku kamu orangnya judgemental. Dan itu sindiran.” Panah ancaman terbang dari mulut Sekar. Mengarah tajam ke Arya, lewat busur mata bulatnya yang memicing runcing.
Arya diam. Wajahnya meredup, seperti lampu yang ragu untuk terus menyala. Dia menggeser duduknya mendekati Sekar, dan tiba-tiba jarak mereka terasa menyesakkan.
“Kamu selalu mikir orang tuh kriminal, ya?” katanya lebih pelan, nyaris seperti gumam.
Sekar menarik napas. Dingin mesin AC menampar kulitnya. Jaketnya gagal menjalankan tugas. “Seperti yang kamu bilang. Aku analitis dan idealis. Dan yah... manusia itu kriminal.”
Hening. Lalu, seulas senyum miring muncul di bibir Arya. “Kamu bener juga. Untuk bertahan hidup, manusia pasti membunuh makhluk lain. Bukan cuma manusia sih. Hewan juga. Beberapa tumbuhan malah membunuh." Kalimatnya terhenti sejenak, Dada Arya naik pelan, nyaris tak terdengar dengusan. "Dunia dipenuhi pembunuh.” nada terakhir terucap dingin.
Ada jeda yang panjang.
Lalu Sekar menoleh. Untuk pertama kalinya wajahnya terbuka—alis terangkat, kerutan di dahi mengendur, matanya terang oleh semacam kekaguman yang nyaris takut untuk diakui. Sementara Arya memandangnya sama intensnya. Dalam sepersekian detik, ada tarikan halus, sesuatu yang rapuh tapi tak terelakkan. Seperti dua medan magnet yang saling menyeret.
Mereka berada pada satu frekuensi.
“Wow... baru kali ini ada yang sepemikiran,” kata Sekar, suaranya nyaris berbisik.
Ia tiba-tiba teringat tumpukan laporan investigasi yang selalu mengarah pada satu kesimpulan getir. Manusia itu mudah terjerumus, rapuh, licik. Mereka membunuh dalih bertahan hidup, lalu menyangkalnya demi tetap terasa pantas saat memandang cermin. Sekar malu mengakui, dia tak lebih picik. Menjalin hubungan berdasar kepentingan. Seperti semua manusia di bumi.
Serpihan jejalah delusi otak Sekar nyaris hilang, namun wajah Sekar masih melukiskan raut wajah takjub atas pernyataan Arya. Mata Arya melembut, bibirnya terangkat dalam senyum tipis. Berganti memunculkan barisan gigi rapi. Pemuda itu tak tahan membuka riang.
“Kok?” Dahi Sekar mengkerut, tak senang Arya melontarkan tawa.
“Ekspresimu lucu banget. Kamu kalau kaget gitu... menggemaskan.”
Gawat, Sekar terlena akan gelombang pemikiran Arya, berhasil membuatnya tumbang. Sikap skeptis gadis itu pun gugur. Ia merasakan panas aneh merambat dari leher ke pipinya. Ia tak bisa mengendalikan rona merah yang mekar begitu saja. Sekar lengah, tubuhnya tak dapat menolak sanjungan Arya.
Arya tahu apa yang harus ia katakan. “Pipimu merah tuh,” suaranya terdengar puas. Seperti baru saja menyelesaikan permainan yang dia yakin akan dimenangkannya. Sekar buru-buru memalingkan wajah, menolak memperpanjang rasa malu. Berusaha menarik kembali timbunan laporan investigasi yang harus ia selesaikan.
Usahanya sia-sia, ujung mata Sekat tak dapat menolak gambaran Arya yang masih menatapnya dalam diam. Menunggu Sekar menyambut. Sekar yakin, sudah lebih enam puluh menit ia terpaku. Tapi angka mesin cucinya tak kunjung berganti sejak pipinya berani merona.
Ia pasrah pada sunyi yang memegang kendali, hanya berlatar dengungan halus, ritmis, berputar-putar. Tidak lupa, tatapan Arya yang memancing hasratnya.
Selang kemudian, bunyi panjang dari mesin cuci memutus semuanya.
Sekar berdiri terlalu cepat, nyaris tergesa, menolak mengintip Arya lagi.
“Kamu mau ke mana? Dani...? Sekaar...!” panggil Arya, sedikit panik.
“Mau keringin bajuku. Udah kelar tuh,” kilah Sekar, melangkah tanpa menoleh. Tapi matanya terpaku pada mesin cuci yang... ternyata bukan miliknya. Angka dua belas berubah sebelas berkedip merah.
“Itu bukan punyamu,” ujar Arya, nada suaranya seolah hendak menertawakan. Dia bangkit, berjalan pelan. Sekar kembali duduk, menatap Arya yang kini mengambil keranjang di dekat mesin cuci yang digunakannya.
Dan di saat itulah Sekar melihatnya dengan sudut pandang berbeda. Kaos tanpa lengan itu memperlihatkan lengan Arya yang berotot secukupnya. Kulitnya kuning kecoklatan, tak gelap tapi juga tak terang. Celana jersey abu-abu hanya menutupi hingga paha atas. Arya tampak santai, tapi justru itu membuatnya semakin terasa berbahaya. Seperti hewan liar yang duduk tenang sebelum menerkam.
Arya jongkok, memindahkan pakaian, otot pahanya menegang halus. Sekar memerhatikan cara tubuh Arya bergerak; ringan, tak canggung, tapi penuh kesadaran akan ruang. Saat Arya berdiri, tubuhnya menjulang proporsional. Tangannya piawai memasukkan helai demi helai ke dalam mesin pengering. Sekar akui, kantuknya menyingkir, kalah dengan panorama Arya. Terlebih saat pria itu berbalik, memamerkan wajah maskulin dengan kumis dan berewok tipis yang membingkai mulut tebalnya. Ada sesuatu yang membuat Sekar tak bisa menoleh cepat-cepat.
Tercetak bibir Sekar melengkung kebawah. Setuju pada keindahan. Arya menangkap tatapan itu. Dia hanya mengangguk kecil, seolah berkata: ada yang salah pada diriku?
Sekar membuang muka, menanam teka-teki di sana.
“Kenapa? Kok liatinnya gitu?” langkah kaki Arya sebesar nada suaranya. Ingin cepat-cepat hinggap di bangku kosong. Jarak yang memisahkan mereka sejak awal.
Sekar menyandarkan tubuh, lalu berkata datar, “Ternyata benar kata temanku.”
“Apa? Kalau manusia itu dasarnya pembunuh?” tanya Arya bingung. Sekar menahan tawa. Hanya bibirnya yang bergerak, menggurat sinis. Gelengan kepalanya pelan.
“Terus?” Sekali lagi Arya mengangguk, bahunya turut naik.
“Kalo kamu itu... cakep.”
Arya tertawa kecil, nyaris senang. “Haha, balas dendam nih? Nggak mempan. Aku nggak bakal salting.” Dia menjatuhkan badannya di sebelah Sekar, tak ingin lagi berjarak. “Boleh, kan?”
“Silakan. Ini bukan punyaku,” jawab Sekar.
Arya mengubah posisinya, kini tubuhnya miring menghadap Sekar. Satu tangan disandarkan santai di belakang, kaki kanannya bergerak naik-turun pelan. Suaranya muncul lagi, rendah, sedikit serak. “Jadi apa pekerjaan kamu sampai harus ke pengadilan?”
Sekar balas menatap, tak kalah dingin. “Kalau kamu sendiri?” Menolak kehadiran manusia baru dalam hidupnya.
Baginya, Orang-orang hanya mendekat saat ada kepentingan, lalu lenyap saat hasrat telah usai. Ia tak lagi naif memandang hubungan. Tidak ada orang yang akan selalu bersama. Itulah satu-satunya pelajaran paling jujur yang Sekar dapat dari kehilangan orangtua dan dua adiknya dalam kecelakaan bus.
Di hari kelulusannya.
Ucapan duka turut melapisi keberhasilan Sekar menyelesaikan kuliahnya dengan nilai sempurna. Bus yang membawa keluarga Sekar dari kota asalnya, terbakar dahsyat. Setelah mengalami kecelakaan beruntun. Ditabrak dua bus pariwisata, yang juga ikut terbakar.
Tak ada satupun yang selamat.
Pelajaran lainnya, Sekar memahami kontrak sosial dari mantan-mantan yang pergi—tidak kuat akan sifat dan sikap Sekar. Juga, dari teman-teman yang memudar satu per satu. Terbukti, titel makhluk sosial pada manusia hanya berguna saat ada kepentingan.
Sikap skeptis Sekar lahir atas konsep itu.
Sekar jelas memancarkan hasrat atas tujuan Arya terhadapnya.
Arya menangkap itu, dan tidak marah. Dia hanya menghela napas pelan. “Aku? Maksudmu di pengadilan atau pekerjaanku?”
“Dua-duanya," tantang Sekar, "....kalau mau jawab.”
Arya tertawa lagi. Nyaris tak terdengar. “Selain kamu idealis, analitis... ternyata kamu egois juga ya.” serang Arya. Tak ada nada menyindir, Sekar pun tahu.
“That’s me,” kata Sekar. Kali ini dengan nada bangga, meski dadanya terasa kosong.
“Well, aku di pengadilan gara-gara ditilang.” Sekar langsung menatap dengan ekspresi meledek. “Iya tau, aku salah. Nggak lihat petunjuk jalan, muter balik sembarangan. Dapet surat cinta deh.” Nada Arya pun mengejek.
“Aku nggak ngejudge lho.” Sekar mengangkat kedua tangan, pura-pura seperti tahanan.
“Ekspresimu yang ngejudge!”
“Oke oke, sorry..." Sekar bergeser kecil, menurunkan tangannya. Sedikit memperbaiki posisi jaketnya yang tak lagi menjalaskan tugas. Deru angin AC lebih menusuk malam ini. Sekar menoleh sedikit ke Arya, "Terus, kerja di mana?”
“Aku punya usaha sendiri. Nggak besar sih, tapi lumayan.”
“Jadi... kamu ngajak kenalan, buat promosi? Atau mau ngerekrut?” Mata Sekat menatap curiga yang dibuat-buat.
“Ketahuan ya?” Arya memasang wajah pura-pura menyesal. Sekar hanya menggeleng, tanpa sadar tersenyum. “Nah, gitu dong, senyum. Koleksi ekspresimu di otakku nambah lagi nih.” Arya membetangkan kedua tangan di hadapan Sekar. Pura-pura memotret dengan jemarinya.
“Udah ngoleksi apa aja? Marah belum, kan?” tanya Sekar, matanya mengerling.
“Aku bakal senang kalo itu gara-gara aku. Artinya, kita udah cukup dekat. Aku nungguin itu.” Sekar tak tahan. Dia tertawa lepas.
“Lho? Kok malah ketawa?”
“Kamu aneh. Siapa juga yang nungguin dimarahin?” ucap Sekar menahan tawa.
“Justru orang marah karena peduli. Maksudku...," Arya berdeham sedikit, tangannya bergerak menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Marah antara dua orang yang saling kenal ya. Kalau nggak peduli mah, ngapain marah? Cuekin aja!” bela Arya. Gerak-geriknya menunjukkan kalau dia sebenarnya merasa tersindir oleh gelak Sekar.
“Itu beda. Marah yang kumaksud tuh marah beneran, yang maki-maki, emosi, bukan marah karena cemas atau kecewa.” kali ini Sekar yang menempatkan diri sebagai perisai.
Arya menatap lebih dalam. “Kalau gitu koreksi. Aku nungguin kamu marah...," ia terdiam sedikit, mata sayunya menuju mata bulat Sekar. "Karena kamu khawatir sama aku.” ucapnya pelan, tanpa bergetar. Mayakinkan Sekar, ketulusan sempurna yang melapisi.
“You wish.” Kalimat Sekar melesat tanpa jeda.
"Lho, iya, kan...," saat ingin mengakkan idenya, kalimatnya terpotong bunyi nyaring. Kini giliran mesin cuci Sekar yang mengamuk. Sekar berdiri, tak menanggapi pembelaan Arya. Pria itu frustrasi, malah mengekor.
“Mau ngapain?” Sekar berhenti, Arya berjarak dua meter di belakangnya ikut terhenti.
“Bantuin, boleh kan?”
“Sekalian kamu aja yang kerjain.” Dia menganyunkan tangan kanannya sembari mundur. Tak segan ambil kesempatan.
“Boleh, tapi...," Arya sok mikir, tangannya sampai harus menopang dagunya. "Imbalannya apa?” Arya menarik bibirnya, berusaha menggoda.
“Emang, ya manusia. Nggak ada ketulusan.” Suara Sekar menggigit. Dia berjalan menjauh, tapi Arya menarik tangannya, menatapnya menyesal.
“Sorry. Aku cuma bercanda.” Arya menuntun Sekar, memaksanya duduk. “Kamu diem aja, biar aku yang kerjain.” Dan begitu saja, Arya berjalan menjauhinya. Meninggalkan Sekar yang tidak peduli. Tak ada guratan sungkan pada wajah datar Sekar, justru mengeluarkan ponselnya. Tenggalam pada layar, sesekali sedikit melirik, saat Arya mengeluarkan pakaiannya.
Harusnya, tindakan Arya patut dipuji. Pria itu telaten memidahkan lembaran kain satu persatu. Gerakannya lembut tanpa ragu saat mendapati pakaian intim. Sekar hanya mengamati, tak peduli, tak merasa risih atau lega. Dia semata duduk dalam diam, menolak rasa asing yang hangat merayap. Dibalik matanya, Arya telah menjalankan tugasnya sempurna. Dia berlajan gagah, menunggu pujian.
“Apa?” Tanya Sekar tak paham gelagat Arya.
“Thank you?” Langkah Arya terhenti, tangannya terbuka naik ke atas dada. Diikuti bahunya yang terangkat.
“Lho, aku nggak minta. Kamu sendiri yang mau.” Sekar menepis, tapi Arya hanya mengangguk, senyum menggantung.
“Iya, kamu benar. Aku sok pede dan heroik, padahal kelihatan bodoh.” Suaranya lirih, lemas dia berjalan ke tempatnya.
“Itu tahu.”
Hening kembali menyerang. Tidak singkat. Arya berusaha tak mengajukan pertanyaan. Tapi, kerutan dahi, bibir tebal kirinya naik, matanya mengerjap. Sekar tahu itu. Ditambah, kakinya berayun cepat.
"Kenapa?" Sekar tak tahan. Ponselnya tak lagi menarik.
"Aku hanya sedang berusaha mencari cara...," sejenak tubuhnya ingin berputar menghadap Sekar. "Biar kita tetap berjodoh." Kedua tangannya diangkat, menggerakkan jari telunjuk dan tengah membentuk tanda kutip di udara.
"Kenapa harus berusaha?" pemilik sikap sinis itu menoleh sedikit, seraya memasukkan paksa ponselnya ke saku.
"Karena aku tertarik sama kamu," mungkin karena sudah terbiasa dengan Sekar, ia pun tak perlu menyaring maksud hati. Reaksinya sesuai dengan harapan. Tawa Sekar pecah. Arya menang lagi.
"Begini, Mister Arya, Anda harus ngantre,"
"Antrean terakhir, nomor berapa?" Arya menyambut kelakar Sekar.
"Enggak banyak, sekitar tiga ribu delapan orang," mata Sekar menangkap gerakan jari Arya, entah ia sedang menghitung apa.
"Waduh, bisa-bisa keburu jadi kakek-kakek, deh!"
"Selamat ya, Mister Arya, masa depan Anda cerah..." ucap Sekar mengikuti permainan Arya. Cukup menghibur di sisa waktunya yang tak beraturan. Ternyata, tidak buruk berbincang dengan Arya. Sekilas, terbesit dibenak Sekar untuk menjadikan dia pacar. Ya, saat ini, sedang sendiri dia. Baru tadi siang putus dengan Gilang. Pria yang mengincarnya lima tahun terakhir, tapi hanya dapat menikmati titel pacar Sekar selama dua hari. Itu pun dengan diskon—tanpa babak belur dihajar Sekar.
"Jadi...." Tiba-tiba bunyi mesin pengering Arya memecah ruang. Mereka menoleh bersamaan.
“Kok nggak diambil? Udah kelar kan?” tanya Sekar.
“Nanti aja. Sekalian sama punyamu. Aku yang kerjain. Nggak pake imbalan, nggak usah terima kasih. Promise...” Arya membuat isyarat dua jari, seperti sumpah pramuka yang terlalu serius.
“Liat aja nanti.” balas Sekar tak tertarik janji.
Arya kembali membuka mulut. “Jadi... apa pekerjaanmu sampe harus ke pengadilan?”
Sekar hanya menghela napas. “Jawabannya tetap, nanti! Kalau kita berjodoh.” giliran Sekar membuat gerakan membentuk tanda kutip.
“Wah berarti ada pertemuan berikutnya dong? Boleh minta nomor WU kamu?” Arya baru merogoh kantong celana jersey abu-abu ketika ponselnya berdering. Ia langsung megerutkan kening.
“Sebentar ya, kayaknya penting. Dari teknisiku,” katanya buru-buru pergi ke luar ruangan. Sekar hanya bisa melihat punggung Arya menghilang. Sedikit lega, tak harus menolak tegas permintaannya. Hubungan mereka belum sampai ke tahap itu. Paling tidak, tunggu lima tahun lagi.
Sekar bersandar, membiarkan dingin menelusup pori-porinya. Teringat ponselya, dia ambil. Berganti fokus pada Arya dan layar ponselnya—tayangan Itube tentang investigasi luar negeri. Sekali-dua kali dia melongok ke arah Arya sampai mesin pengeringnya berhenti.
Sekar beranjak, memasukkan ponsel ke dalam jaket. Berjalan mengambil keranjang, memasukkan pakaian, melipat di atas meja, memasukkan pakaian terlipat rapi ke dalam tas. Dia membereskan semuanya sendiri. Tidak tergoda tawaran Arya.
Ketika hendak mengaitkan tali tas ke bahunya, Arya muncul, dengan wajah menggerutu. “Kok nggak nunggu? Kan, aku udah janji.” Dia berlari kecil, takut ditinggal Sekar.
“Santai, aku mau cepat pulang,” ucap Sekar seraya meloloskan kaitan tali tas dari bahunya. Ia tak protes saat tasnya direnggut Arya.
"Biar aku yang bawain...," tawar Arya dengan tatapan memaksa. Tangannya kilat menggantungkan tas Sekar di bahunya. "Kamu naik apa?”
“Motor, tuh.” Mulutnya runcing mengarah pada satu-satunya motor yang terparkir. Langkah mereka berirama, ditemani sunyi dan deru angin yang berputar, saat pintu terbuka otomatis. Tak ada kata yang membalut keheningan mereka. Tak juga saling menatap. Hingga akhirnya, mereka tiba setelah melewati satu-satunya mobil yang terparkir—mobil Arya.
Arya langsung menuntun tas ke motor Sekar, menaruhnya di sela kemudi dan jok. “Taro di sini, ya?”
“Oke. Kali ini kamu pantas dapet ucapan terima kasih,” kata Sekar, lalu menaiki motornya, kemudian mengenakan helm.
“Nomor kamu?” Arya merasa tak adil.
Sekar menatapnya dari balik kaca helm. “Kalau bener kita berjodoh, nanti juga ketemu lagi. Saat itu, kamu boleh simpan nomorku, dan aku bakal bilang pekerjaanku." Ia menyalakan motor, "Senang berkenalan dengan Anda, Mister Arya.” Lalu pergi, meninggalkan Arya berdiri diam.
Wajah Arya... entah apa. Sulit ditebak. Seperti rahasia lain yang harus disimpan malam ini.
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...