Kutukan Yang Kupanggil Cinta

Reads
8
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Kutukan yang Kupanggil Cinta
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Penulis Virdytan

Tiga - Serendipity

“Dan...!”

Roni menaikkan suaranya, lebih keras daripada biasanya, seolah mencoba menembus kabut tebal yang membungkus kepala Sekar. Sudah tiga kali ia memanggil nama temannya itu, tapi tak sekalipun Sekar menoleh. Ruang kerja divisi Kejahatan dan Hukum tempat mereka berada, bagi kebanyakan orang, hanyalah sekumpulan meja dan monitor, tapi hari ini bagi Sekar, itu terasa seperti dunia kecil yang terpisah, sunyi. Kecuali, suara jemari yang mengetik cepat dan napasnya sendiri.

Di balik layar laptop, Sekar tenggelam, nyaris tidak bergerak selama tiga jam terakhir. Kopi hitam di cangkir keramik, yang masih mengepulkan aroma tajam dua jam lalu, kini dingin. Sementara di dinding depan mereka, sebelas layar televisi menayangkan saluran berbeda, memuntahkan ribuan gambar per detik tentang dunia di luar sana: politik, olahraga, infotainment, kriminal... tapi semua itu hanya riuh sunyi. Tak satu pun cukup keras untuk memecahkan konsentrasi Sekar.

Stasiun televisi tempat mereka bekerja punya sistem yang tak biasa: bukan berdasarkan program atau jam tayang, melainkan jenis berita. Ada divisi politik, infotainment, olahraga, gaya hidup, ekonomi, budaya, kesehatan, dan tentu saja divisi kejahatan — tempat Sekar menggantungkan hidup. Dunia yang kelam, penuh aroma darah, penipuan, dan dendam, justru menjadi panggung di mana Sekar merasa paling hidup.

“Woy, Dan!” Suara Roni kembali menghentak, kali ini lebih kasar, membuat Sekar sedikit tersentak. Jari-jarinya tetap saja menari, seakan enggan lepas dari hipnosis kata-kata di layar.

“Anjrit, kaget aku! Napa sih? Lagi konsen nih kelarin naskah buat Lacak,”” gumam Sekar, masih tak menoleh, matanya terpaku pada layar yang menampakkan paragraf panjang. Kata-kata dingin tentang kematian, kasus, luka.

Roni menghela napas panjang, melipat tangannya, bibirnya membentuk garis geli. Ruang tiga puluh meter persegi itu hanya berisi mereka berdua. Bukan karena jam makan siang atau tanggal merah—tapi tim mereka memang sedikit, hanya tujuh orang, dengan tugas tersebar di luar kantor. Ada yang meliput ke polsek, ada yang mengintai TKP, ada yang mengorek arsip. Jam kerja mereka pun tak pernah sama. Sistem kerja mereka memang begitu, berputar dalam dua puluh empat jam tak kenal akhir.

“Lagian kamu kebiasaan, padahal kemarin bilang mau belajar lebih aware sama sekitar? Atau, udah lupa kejadian kamu hampir ketabrak gara-gara liat hp?” cerocos Roni sambil menggeleng, separuh geli, separuh kesal.

Sekar hanya menoleh sekilas, bibirnya tertarik membentuk senyum nakal. “Sori, masih usaha tuh... Kenapa?”

Roni mengangkat ponsel, menampakkan layar pesan dari ketua divisi. “Si Bos nanya, kamu mau balik jam berapa? Ini udah lewat jam kerja kamu. Over dua jam. Nggak ada duit lembur!" cecar Roni, menganyunkan ponsel ke arah Sekar. "Lacak juga masih tiga hari lagi. Nanti malam kamu kan keliling polsek, pulang gih, tidur.”

“Kok dia malah WU kamu?” tanya Sekar, nada suaranya malas, tapi matanya mulai bergerak mencari.

“Lah, hapemu mana?”

Sekar menunduk, memindai meja. Meja kerjanya hanya berisi tumpukan kertas dan bolpoin, sticky notes berwarna cerah. Ponselnya tak ada — harusnya tergeletak manis di kanan laptop. Dia menatap Roni, cemberut cemas. “Coba, miskolin hapeku, dong...” Roni menarik napasnya, menyesap oksigen. Otaknya sudah dipenuhi racun kesal, lalu menekan layar ponselnya, kuat. Tak takut layar ponselnya cacat. Dari speaker terdengar nada sambung. Mereka menunggu, celingak-celinguk, sunyi, lama.

“Kamu silent?” Geram menyeruak dari bibir bulat Roni.

“Enggak kok...” sahutnya berusaha berkonsentrasi mendengar dering ponselnya.

Hingga samar terdengar teriakan dari ujung lorong. “Hape sapa tuh yang bunyi?”

“Kebiasaan nih anak,” desis Roni, meletakkan ponsel, kembali ke pekerjaan. Sekar tertawa kecil, jemarinya menari lagi, ikut Roni. Tenggelam dalam dealine.

“Kok malah balik ngetik? Ambil hape sana, trus cabut!”

Sekar terkikik pelan, menunduk lagi. “Ini mau di-save, abis itu ngambil hape ke pantri, trus pulang.” Dia meraih tas coklat, menyelempangkan ke bahu, mencomot gelas kopi yang tinggal dingin.

“Duluan yaak…” katanya, menepuk bahu Roni saat lewat. Lalu berjalan keluar, seraya meneguk isi gelas.

“Iyo... jangan lupa nanti malem, nginep di polsek!” seru Roni setengah malas, tak mendapat balasan selain erangan tipis engsel pintu.

Sekar tidak langsung pulang. Alih-alih menuju kos, ia malah melajukan motor ke arah berlawanan. Ada ritual yang ingin ia bayar tunai: duduk di Dacha, kafe kesayangannya, dengan secangkir Americano dan seporsi Tiropita. Kombinasi yang tidak umum. Tapi, padanan kontras ini pilihan yang menarik baginya.

Sudah sebulan lebih ia tak menyapa dinding bata ekspos di sana, tak menatap jam pendulum raksasa, tak mengamati orang-orang lalu-lalang di seberang jalan. Bayangan saja sudah cukup memicu serotonin dan dopamin menari-nari dalam darahnya. Hidup berantakan seperti miliknya memang butuh cara sederhana untuk tetap terasa pantas dijalani. Parkir dia, berjalan pelan melewati pintu kayu besar, disambut aroma espresso pekat dan kayu tua yang hangat.

Serendipity.

Kata itu menari di kepalanya saat ia melangkah kecil menuju loket pemesanan, matanya terpaku pada sosok pria dengan potongan tubuh familier. Arya. Berdiri dalam antrean, hanya berjarak dua orang dari kasir. Dunia terasa seolah sedang berkonspirasi. Rasanya janggal bertemu orang yang sama di tempat tak terduga, dalam rentang waktu sesingkat ini. Apa ini hanya permainan kebetulan? Atau semesta sedang menarik benang merah di antara mereka?

Langkah Sekar sempat melambat. Hatinya berdebat: mundur atau lanjut? Tapi lalu pikirannya menegur. Tak mungkin juga Arya sengaja mengikutinya. Ia menghela napas, melangkah lagi, tatapannya tertuju penuh pada punggung Arya, menelisik garis ototnya di balik kaos tipis. Sekar terus menatap, sampai jarak tinggal satu meter.

Arya rupanya merasakan tatapan itu.

Perlahan ia memutar tubuh, matanya langsung bersinar saat melihat Sekar menatapnya dengan alis terangkat. Senyum lebarnya seketika merekah, seolah Sekar adalah teka-teki yang baru saja diselesaikan

“Akhirnya, misteri itu terpecahkan!” Katanya, suaranya rendah, sedikit serak oleh rasa girang.

Sekar mendengus, melipat tangan di dada. “Misteri apa? Korupsi nggak ilang-ilang?”

“Nomor kamu. Pekerjaan kamu. Kamu nggak lupa, kan?” Arya sekarang benar-benar menghadapnya, menunggu dengan tatapan yang menohok. Sekar hanya mendengus, menjorokkan dagu ke depan, memonyongkan bibir. Arya menoleh, mendapati jarak lebar di antaranya. Ia mundur selangkah, tanpa memutar tubuh. Menjalankan aturan.

“So...?” Tanyanya sambil menaikkan alis, menepuk tangannya, lalu menyunggingkan senyum paling manis yang bisa ia produksi. Hampir seperti anak kecil yang memohon permen.

Sekar hanya mendengus. “So... aku nggak habis pikir kenapa kita ketemu lagi. Hello? Kota ini besar, penduduknya banyak.”

“Kamu lupa kita pertama kali ketemu di sini?" semula gigi yang ia pamerkan. Berganti kerutan di dahi. "Aku nyamperin kamu,” nadanya menggantung.

“Trus?”

“Ya berarti ada kemungkinan kamu bakalan ke sini lagi, kan?”

Sekar menghela napas, menajamkan matanya. “Jadi maksudmu…”

Belum sempat kalimatnya usai, kasir memanggil Arya. “Mas, seperti biasa ya?” suaranya cerah, mengembalikan posisi Arya.

Arya menoleh. “Iya, Mas.”

Kasir menatapnya geli. “Orang yang Mas tunggu belum datang-datang juga?” goda kasir itu sambil cekatan memasukkan pesanan ke sistem.

Arya hanya menoleh, tersenyum penuh kemenangan sambil menunjuk Sekar yang berdiri kaku di belakang. “Ini orangnya… di belakang saya.”

Kasir mencondongkan tubuh, berusaha mengintip. “Ooo... Waaah, nggak sia-sia dong Mas rajin ke sini hampir tiap hari.” Tangannya cekatan bekerja, tak perlu diberi tahu. Jarinya hapal yang diinginkan Arya.

"Udah sebulan belum, ya?” Arya hanya tertawa ringan.

“Totalnya seratus dua puluh lima ribu, Mas. Mau bayar kayak biasa?”

Arya mengangguk, merogoh ponselnya dan memindai QR code. Struk berpindah tangan. Ia bergeser, memberi Sekar tempat di depan kasir.

“Gapapa kan aku tunggu di sini?” katanya santai, menyender dan meletakkan tangan kirinya ke atas meja kasir. Tangan kanan berayun, menggenggam ponsel.

Sekar hanya menatapnya sinis, lalu menghadap kasir. “Mas, hot Americano sama Tiropita satu.”

“Totalnya sembilan puluh tujuh ribu, Mbak.”

Tangan Sekar baru merogoh saku, saat Arya mengarahkan ponselnya ke papan kecil. Kalah cepat Sekar. Tampilan layar ponsel Arya menangkap pola kotak kode pembayaran. Beep. Transaksi sukses. Sekar ternganga, wajahnya langsung memanas.

“Eee... nggak bisa dong! Mas tolong cancel, saya ulang pesan!” sergah Sekar, setengah menggertak. Ia tak sudi transaksinya disabotase lelaki macam Arya.

Kasir menggeleng minta maaf. “Maaf Mbak, sudah masuk sistem, nggak bisa di-cancel,” iramanya canggung. Tak dapat menutupi lirikkan matanya ke arah Arya.

Pemuda itu justu hanya mengangkat bahu, menahan tawa. Lalu menoleh pada Sekar. “Sorry, bukannya lancang. Anggap aja ini permintaan maafku waktu di laundry. Kalo kamu nggak suka, nanti kamu bisa bayar ke aku.”

Dan, Arya menang. Untuk kesekian kalinya. Dengan cara yang Sekar tak pernah sangka, lelaki itu terus saja mencuri celah, merangkak masuk ke dalam hidupnya, sedikit demi sedikit. Sekar menatap Arya, tatapannya tajam namun juga menyisipkan perasaan geli. Di dalam hatinya, seolah menyimpan sesuatu yang enggan ia akui. Rasanya seperti ditarik pelan ke dalam pusaran. Entah oleh pesona Arya, atau oleh misteri aneh yang seakan menautkan langkah mereka lagi dan lagi.

Sekar tak tahu pasti.

Akan tetapi, matahari sore itu seakan bersekongkol dengannya. Menunjukkan keberpihakan yang samar tapi nyata. Cahaya kuning menyengat jatuh lurus ke wajah Arya, merayap masuk ke pori-porinya, meninggalkan jejak panas yang nyaris bisa diendus. Mereka hanya dipisahkan meja kayu persegi, namun hari itu semesta memberi perlakuan berbeda pada keduanya.

Sekar dilindungi bayang reranting dan dedaunan merambat yang menjuntai malas, menahan teriknya mentari. Sementara Arya, betapapun ia mencoba menghindar, terpaksa memicingkan mata setiap kali cahaya merambat di pori kulitnya.

Ia bisa saja berpindah tempat. Atau meminta bertukar posisi dengan Sekar. Tapi naluri maskulin, atau mungkin sesuatu yang lebih rapuh dari sekadar egonya. Membuat Arya tetap di sana, menantang panas yang menampar wajahnya. Barangkali demi satu tujuan, menundukkan hati Sekar.

“Kamu mau duduk di sana kan? Aku mundurin meja sama sofanya dikit ya, biar kamu nggak kesilauan,” ujar Arya, suaranya ringan tapi ragu, seolah baru saja memutuskan hal remeh. Padahal beberapa menit lalu ia sudah membayar pesanan Sekar tanpa menunggu persetujuan, yang oleh kebanyakan perempuan mungkin dianggap manis. Menggoda.

Sekar tidak demikian.

Prinsipnya terlalu kuat, cinta tak lebih dari kamuflase. Kedok yang dipakai manusia demi menenangkan hati sendiri. Membenarkan keserakahan, kekerasan, pembunuhan. Ia terlalu sering melihat kebusukan cinta. Suami membunuh istri hanya karena cemburu buta. Istri menghabisi wanita lain demi mempertahankan suami yang tak lagi setia. Bahkan ada pelakor, dengan licik merenggut nyawa istri sah supaya bisa menguasai lelaki sepenuhnya. Semua pembenaran berkedok cinta itu menumpuk dalam kepala Sekar, jadi semacam labirin gelap yang sulit diterobos siapa pun.

Dan kasus terbaru bahkan lebih buas. Seorang pria memutilasi pacarnya jadi dua belas bagian, dikemas rapi seolah potongan daging, lalu dibuang untuk menghapus jejak. Hanya karena perempuan itu memohon dinikahi setelah telat bulan. Klise sekali alasannya: tak ingin hidupnya ‘hancur’ oleh pernikahan yang dipaksakan.

Belum lagi kehidupan adalah lingkaran muram, sebuah perjalanan menuju kematian: lahir, diasuh, bekerja, menikah supaya melahirkan manusia baru, kemudian menua dan diasuh balik sebelum akhirnya mati. Bahkan yang tak menikah sekalipun tetap berjalan menuju ujung yang sama—kuburan.

Wajar jika Sekar tak tertarik pada cinta. Ia tak pernah merasakan patah hati karena semua pria yang mencintainya akhirnya pergi. Dia pun tak pernah benar-benar menggenggam mereka.

Banginya, cinta tapi hanya sebagai bentuk kontrak sosial. Ia punya pasangan agar saat sakit ada yang mengurus, dari memberi makan sampai membantu buang hajat. Pria yang jadi kekasihnya pun untung — bisa pamer dapat wanita cantik, pintar, sukses berkarir, mandiri dan populer. Status sosial mereka naik, cukup dengan berfoto bersama Sekar.

Tapi mereka tak boleh berharap lebih. Sekar dengan lantang menolak membalas perhatian dengan waktu atau cinta. Apalagi jadi pemuas nafsu. Satu per satu mundur ketika tahu Sekar tidak akan menuruti keinginan mereka. Cinta mereka tak lebih dari ego terselubung.

Lihat saja Arya sekarang. Bersedia mendorong meja, menggeser kursi, menanggung sinar mentari yang membakar kulit lehernya. Yang lebih membuat Sekar takjub, Arya bahkan menggeser kursi dengan sangat hati-hati, agar tidak menimbulkan bunyi gesekan di lantai. Aksinya menarik perhatian banyak perempuan di kafe itu, tapi tetap Arya tetap fokus ingin membuat Sekar nyaman. Sekar tahu, semua tindakan Arya terselebuhng. Paling tidak, duduk berseberangan dengan Arya dan meladeninya.

“Bagaimana kamu tahu ini tempat favoritku?” tanya Sekar akhirnya, malas menutupi rasa ingin tahunya. Ia menoleh pada dua gadis di sudut ruangan yang sejak tadi mengamati Arya, Sekar hanya memandang sekilas dengan aura kalian tidak punya peluang, pria ini memilihku!

Arya menahan tawa — menyaksikan pancaran Sekar ke dua gadis malang, lalu mengangkat alis sebelum berkata. “Sebenarnya... pas pertama kali aku nyamperin kamu itu... …” Kalimatnya menggantung, ia menimbang. Tapi tatapan Sekar terlalu tajam, membuat Arya melanjutkan, “…itu keempat kalinya aku lihat kamu duduk di sofa ini.” Sekar mengerutkan kening, bibirnya mencibir sinis. Tapi diam-diam dadanya merasakan sengatan aneh.

“Oh ya? Jadi bisa dibilang ini ketujuh kalinya kita berada di tempat yang sama?” tanyanya, setengah menantang. Arya mengangguk, senyumnya lebar, nyaris bodoh, tapi tak bisa disangkal.

Ia menepuk sandaran kursi kosong di hadapan Sekar setelah menyelesaikan aksinya. “Aku boleh duduk di sini kan?” Sekar hanya mengangguk pelan, membuat Arya tersenyum lebar, lalu dengan ringan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Sekar tahu Arya senang bukan main, merasa sudah menaklukkan satu tahap kecil. Dan benar saja, begitu ia menatap ke sekitar, beberapa perempuan lain tampak menahan rasa tidak suka yang samar.

“So, kapan misteri itu terpecahkan?” Arya mencondongkan tubuhnya. Membiarkan semilir pendingin ruangan menghaburkan aroma tubuhnya. Sengaja agar tercium Sekar.

Sekar tak tergoda. “Kenapa waktu itu kamu nyamperin aku?” Justru balik bertanya, menolak memberikan jawabannya lebih dulu. Arya tak keberatan. Mungkin malah lega karena Sekar mau menanggapi percakapan. Ia mulai mengerti—Sekar bukan wanita biasa. Bukan yang haus sanjungan, bukan pula yang mudah jatuh karena sikap jantan. Sekar itu berkelas. Bukan dari cara berpakaian atau gaya bicara, tapi dari caranya mengendalikan situasi.

“Pertama kali aku lihat kamu tiga bulan lalu,” Arya memutar badan, menunjuk ke bangku di sudut belakang. "Aku lagi duduk di sana, tiba-tiba ada cewek di depanku yang ketawa kenceng banget. Jujur aja aku mau negur, ini kan ruang publik. Tapi pas aku liat, dia punya senyum yang bikin nagih." Sekar hanya menurunkan bibirnya. "Terus?"

"Terus, dia langsung minta maaf ke semua orang dengan muka malu-malu. Aku jadi ikut senyum.” Sekar mendengarkan dengan tatapan datar. Namun sudut bibirnya bergerak samar.

“Aku sempat terpesona sama kamu waktu itu,” lanjut Arya, suaranya menurun satu oktaf, lebih husky. Sekar mengangkat dagunya sedikit, menatap Arya dalam-dalam.

“Kamu orang kesekian yang terpesona sama aku. Terus?”

Arya tertawa kecil, matanya berkerut. “Aku tahu. Kamu tipe orang yang terbiasa dikagumi. Tapi percaya deh, aura kamu bukan cuma cantik di luar, tapi juga... entahlah. Kayak ada sesuatu yang bikin orang betah. Nyaman.”

Sekar mengedikkan bahu, menahan senyum. “Well, thanks. Terus?”

Tapi Arya tak langsung menjawab. Ia hanya menatap Sekar, lama, dengan pandangan yang membuat udara di antara mereka menegang. Pandangan Arya seperti jemari transparan yang mengusap pipi Sekar, hangat tapi juga menakutkan, seakan menyingkap hal-hal yang bahkan Sekar sendiri tak mau lihat di dalam dirinya.

Sekar mengerjap, menggigit bibir bawah. Ini salah. Ini titik lemah. Ia tak boleh tenggelam terlalu dalam pada tatapan macam itu.

“Terus?” ulangnya, kini lebih tegas, seolah berkata pada dirinya sendiri: jangan biarkan dia masuk!

Dan sore itu terus merangkak lambat, menelusup ke sela napas mereka, meninggalkan percakapan yang setipis kabut namun terasa akan menetap lebih lama dari yang seharusnya. Di sela hiruk pikuk kafe, saat suara barista, denting cangkir, dan bisik-bisik meja sebelah bercampur jadi satu, Sekar diam-diam menyadari dadanya berdebar lebih keras daripada yang ia izinkan.

Other Stories
Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Download Titik & Koma