Dua Tangkai Edelweis

Reads
90
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
Penulis Runi Ariany

MENYAMBUT DENGAN CEMAS

Petang perlahan menyambut. Rani melirik jam di pergelangan tangannya—setengah enam.

“Kita pulang, yuk,” katanya akhirnya.

Mereka sepakat. Langit mulai menggelap, udara Puncak makin dingin, dan perjalanan turun terasa lebih sunyi. Seolah masing-masing membawa pulang pikirannya sendiri.

Sekitar pukul tujuh atau delapan malam, sedan putih Bagas memasuki Cianjur. Lampu-lampu rumah sudah menyala satu per satu, menyambut malam.

Di dalam rumah Aki Lili, Mimi dan Aki Lili sudah menunggu. Duduk di ruang tengah dengan tubuh tegang, wajah tampak keras—tapi mata mereka menyimpan kecemasan.

Begitu Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin masuk, Mimi langsung berdiri.

“Kalian ke mana saja?!”

Suaranya tinggi, tapi bergetar.

Rani tercekat. Senyum di wajahnya langsung menghilang. Ia menunduk sedikit, merasa bersalah seketika.

Zaman itu belum ramai orang memakai handphone. Tak ada kabar, tak ada pesan. Wajar kalau Mimi dan Aki Lili panik.

Ternyata, setibanya mereka dari Jakarta, rumah dalam keadaan kosong. Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin tidak ada. Tak ada sepucuk pesan, tak ada secarik kertas yang memberi tahu ke mana mereka pergi.

Mimi dan Aki Lili kalang kabut—mencari ke tetangga, ke warung, ke mana pun kaki bisa melangkah.

Rani menggigit bibirnya. Ia tak pernah berniat membuat mereka cemas.

Dan ketika akhirnya anak-anak itu pulang dengan wajah cerah…

yang menyambut mereka bukan hanya marah,

tapi juga lega yang hampir berubah jadi air mata.


Other Stories
Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Love Of The Death

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Download Titik & Koma