Dua Tangkai Edelweis

Reads
76
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Penulis Runi Ariany

KINKIN

Belakangan, Rani tahu bahwa Bagas punya seorang sahabat bernama Kinkin. Usianya satu tahun lebih muda dari Bagas. Hidupnya tak seberuntung Bagas—ia berasal dari keluarga sederhana dan tinggal tak jauh dari sana, di sebuah rumah kecil yang tampak begitu kontras jika dibandingkan dengan rumah besar Bagas.

Namun, Kinkin punya pesona sendiri. Tubuhnya agak berisi namun tidak gemuk, tingginya seimbang dengan Bagas. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya tampan dengan sorot mata yang selalu tampak jujur. Saat mereka berdiri berdampingan, perbedaan itu justru membuat Kinkin terlihat menonjol dengan caranya yang tenang.

Bagas sangat dekat dengannya. Tapi kedekatan itu tidak menghilangkan sifat bossy Bagas. Ia sering memerintah, menentukan, bahkan terkadang bersikap semena-mena.

Kinkin jarang membantah. Ia tahu betul betapa banyak keluarganya terbantu oleh keluarga Bagas. Karena itu, ia memilih diam—bukan karena tak punya harga diri, tapi karena ia merasa berutang.

Dan di mata Rani, hubungan mereka terlihat seperti dua dunia yang berbeda… dipertemukan oleh sebuah persahabatan yang tidak selalu seimbang.

Sejak pertama kali melihat Kinkin, Rani langsung merasa ada sesuatu yang berbeda darinya. Bukan karena penampilannya saja, tapi karena caranya berdiri di samping Bagas—tenang, seperti bayangan yang selalu ada tapi jarang diperhatikan.

Rani sering memperhatikan mereka dari kejauhan. Bagas bicara banyak, tertawa keras, dan memimpin. Kinkin lebih sering diam, mendengarkan, lalu tersenyum kecil seolah tak keberatan berada di posisi kedua.

Tapi justru di situlah Rani merasa Kinkin menarik. Ada ketulusan di matanya. Cara ia memandang dunia seperti seseorang yang sudah terlalu cepat belajar tentang hidup.

Rani berpikir, Kinkin adalah tipe orang yang akan mengalah bukan karena lemah, tapi karena tahu kapan harus menjaga orang lain tetap utuh.

Dan entah kenapa, di hati kecilnya, Rani merasa Kinkin bukan sekadar “sahabat Bagas”.

Ia adalah seseorang yang layak diperhatikan dengan caranya sendiri.

Rani bertemu Kinkin secara tak sengaja di warung kecil dekat rumah Aki Lili. Saat itu ia sedang membeli minuman, sementara Kinkin berdiri di depan rak, terlihat bingung memilih.

Rani melirik sekilas. Kinkin memegang dua botol, menimbang-nimbang.

“Yang itu lebih enak,” ucap Rani tiba-tiba, menunjuk salah satunya.

Kinkin menoleh, sedikit terkejut. “Oh… iya?”

Rani mengangguk. “Nggak terlalu manis.”

Kinkin tersenyum kecil. “Makasih.”

Mereka berdiri berdampingan di depan etalase kayu. Sunyi, tapi bukan canggung—lebih seperti dua orang yang sama-sama belum tahu harus bilang apa.

Setelah membayar, mereka sama-sama masih berdiri sebentar. Tak ada yang langsung pergi, seolah masing-masing menunggu sesuatu yang tak mereka mengerti.

“Kamu… Rani, ya?” tanya Kinkin pelan.

Rani menoleh. “Iya. Kamu Kinkin?”

Kinkin mengangguk. “Bagas sering nyebut nama kamu.”

Rani menelan ludah. “Bagas bilang apa tentang aku?”

Kinkin tersenyum kecil, agak ragu. “Katanya… kamu kelihatan baik.”

Rani terkekeh pelan. “Cuma itu?”

“Iya. Tapi dia ngomongnya sambil senyum.”

Pipi Rani menghangat. “Oh…”

Mereka melangkah keluar warung hampir bersamaan.

“Kamu sering ke sini?” tanya Kinkin.

“Kalau lagi liburan aja,” jawab Rani. “Aku nginep di rumah Aki Lili.”

“Oh… pantes. Kamu kelihatan betah.”

Rani tersenyum. “Soalnya di sini tenang.”

Kinkin mengangguk. “Iya. Tapi kadang terlalu tenang.”

“Makanya kamu ke warung?”

Kinkin tertawa kecil. “Iya. Biar ada alasan keluar rumah.”

Rani ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya, mereka berjalan berdampingan—dua orang yang baru saja menemukan teman bicara yang tidak direncanakan.

Other Stories
Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Download Titik & Koma