Dua Tangkai Edelweis

Reads
112
Votes
18
Parts
22
Vote
Report
Penulis Runi Ariany

TELEPON DARI CIANJUR

Beberapa bulan setelah Bagas dan keluarganya pulang ke Cianjur, hidup Rani kembali dipenuhi rutinitas.

Ia sudah duduk di bangku SMA.
Hari-harinya padat: sekolah, latihan, rapat, lomba, tugas, dan ekskul yang membuat waktunya terasa selalu kurang.

Ia jarang memikirkan Cianjur.

Bukan karena lupa—
tapi karena hidupnya terlalu ramai untuk memberi ruang pada satu kota kecil yang pernah begitu sunyi di hatinya.

Sore itu, hujan turun tipis di Cirebon.

Rani sedang mengerjakan tugas di kamar ketika telepon rumah berdering.

“Ibu!” panggil Ayah dari ruang tengah.

Ibu mengangkat.

Rani mendengar suara lirih Ibu dari balik pintu.

“Iya, Neng…”
“Iya…”
“Ya Allah…”

Ada jeda panjang.

Lalu langkah kaki Ibu mendekat ke kamar Rani.

“Ran…”

Nada itu membuat Rani berdiri.

“Ada apa, Bu?”

Ibu menatapnya. Matanya basah.

“Itu Bi Nadin.”

Rani menelan ludah.

“Kinkin… meninggal.”

Rani seperti tak mengerti arti kata itu.

“Meninggal?”

Ibu mengangguk pelan.

“Kata Bi Nadin, Kinkin kena demam berdarah. Telat dibawa ke rumah sakit… karena nggak punya cukup biaya.”

Kalimat itu seperti palu.

Dada Rani sesak.

Ia mundur selangkah, lalu duduk di tepi ranjang.

Dunia terasa terlalu sunyi.

Tanpa suara, Rani masuk ke lemari.

Menarik jaketnya.

Dan menemukan edelweis itu.

Ia memeluknya.

Dan tangisnya pecah.

Tangis yang selama ini ia simpan—tentang Cianjur, tentang Kinkin, tentang pagi berkabut dan janji kecil.

Dalam pelukan bunga kering itu, Rani belajar satu hal yang paling berat:

ikhlas.

Bukan karena ia siap,
tapi karena hidup memaksanya.

Other Stories
Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Download Titik & Koma