PAGI MEMELUK KITA
Di celah sempit antara dua dunia—halaman rumah dan jalan kecil di luar—
mereka saling memeluk.
Singkat.
Canggung.
Tapi cukup untuk membuat dada Rani terasa sesak.
Jaket Kinkin masih dingin oleh udara gunung.
Tangannya gemetar saat membalas pelukan itu.
“Hati-hati di jalan, Ran,” bisiknya di dekat telinga Rani.
Rani mengangguk, meski tenggorokannya tercekat.
Mereka melepaskan diri pelan-pelan.
Terlalu cepat.
Terlalu berat.
Rani melangkah mundur satu langkah, masih memeluk edelweis itu di dadanya.
“Terima kasih, Kinkin…”
“Untuk bunganya.”
“Untuk janjinya.”
“Dan untuk pagi ini.”
Kinkin tersenyum—senyum yang berusaha kuat, tapi matanya tak bisa bohong.
Rani berbalik menuju pintu rumah.
Tapi sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.
Kinkin masih berdiri di sana.
Di balik pagar.
Di bawah langit subuh yang pucat.
Menatapnya… sampai Rani benar-benar menghilang dari pandangannya.
Dan sejak pagi itu, Rani tahu:
ada pertemuan yang terlalu singkat,
tapi cukup untuk tinggal lama di hati.
Karena ada cinta yang tidak sempat tumbuh panjang—
tapi akarnya sudah lebih dulu dalam.
mereka saling memeluk.
Singkat.
Canggung.
Tapi cukup untuk membuat dada Rani terasa sesak.
Jaket Kinkin masih dingin oleh udara gunung.
Tangannya gemetar saat membalas pelukan itu.
“Hati-hati di jalan, Ran,” bisiknya di dekat telinga Rani.
Rani mengangguk, meski tenggorokannya tercekat.
Mereka melepaskan diri pelan-pelan.
Terlalu cepat.
Terlalu berat.
Rani melangkah mundur satu langkah, masih memeluk edelweis itu di dadanya.
“Terima kasih, Kinkin…”
“Untuk bunganya.”
“Untuk janjinya.”
“Dan untuk pagi ini.”
Kinkin tersenyum—senyum yang berusaha kuat, tapi matanya tak bisa bohong.
Rani berbalik menuju pintu rumah.
Tapi sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.
Kinkin masih berdiri di sana.
Di balik pagar.
Di bawah langit subuh yang pucat.
Menatapnya… sampai Rani benar-benar menghilang dari pandangannya.
Dan sejak pagi itu, Rani tahu:
ada pertemuan yang terlalu singkat,
tapi cukup untuk tinggal lama di hati.
Karena ada cinta yang tidak sempat tumbuh panjang—
tapi akarnya sudah lebih dulu dalam.
Other Stories
Hibur Libur
Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...
Koper Coklat Ibu
Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Mr. Perfectionist
Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...