EDELWEIS UNTUK RANI
Rani buru-buru keluar kamar, berjalan pelan agar tidak membangunkan siapa pun. Ia membuka pintu depan dengan hati-hati. Udara subuh langsung menyergap wajahnya. Dingin dan basah.
Di luar pagar, di tanah yang berundak, berdiri sosok yang sejak tadi ia lihat dari jendela.
Kinkin.
Ia memakai jaket tebal dan kupluk yang menutup sebagian rambutnya. Napasnya terlihat tipis di udara dingin.
“Kinkin…” panggil Rani pelan.
Kinkin menoleh. Matanya langsung menemukan Rani.
Rani mendekat ke pagar, lalu menjulurkan tubuhnya sedikit melalui celah besi karena posisi tanah di luar lebih rendah.
Kinkin melangkah lebih dekat.
Dengan suara yang masih serak oleh dingin dan lelah, ia berkata,
“Ran… semalam aku naik gunung cuma buat ambilin bunga edelweis untuk kamu.”
Rani menahan napas.
“Aku ingat… aku punya janji.”
Tangan Kinkin terangkat. Di antara jemarinya ada bunga kecil berwarna pucat—edelweis. Rani menatapnya lama. Dadanya terasa sesak. Lalu Kinkin meraih tangan Rani melalui celah pagar. Sentuhannya membuat Rani tersentak.
Dingin.
Sangat dingin. Hampir seperti membeku.
“Tangan kamu dingin banget…” gumam Rani lirih.
Kinkin tersenyum kecil. “Nggak apa-apa.”
Tapi hati Rani terasa diremas. Semalam ia tidur nyenyak di kamar yang hangat…
sementara Kinkin sudah mendaki gunung, menembus dingin dan gelap, lalu turun lagi hanya untuk menepati satu janji sederhana.
“Aku… maaf,” ucap Rani pelan, matanya mulai basah.
“Kamu capek-capek buat aku…”
Kinkin menggeleng. “Aku senang, Ran.”
Rani menerima edelweis itu dengan tangan gemetar.
Bunga kecil itu ringan…
tapi maknanya terasa berat di dadanya.
(Di masa itu, belum ada larangan hukum yang tegas untuk memetik edelweis dari gunung. Edelweis masih dianggap bunga liar yang bisa diambil, sebelum akhirnya dilindungi secara resmi di tahun-tahun berikutnya.)
Di antara pagar besi, tanah berundak, dan udara subuh yang dingin, Rani dan Kinkin saling menatap—
dengan perasaan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Rani menggenggam edelweis itu erat. Jarinya masih dingin karena sisa sentuhan tangan Kinkin.
Mereka saling menatap, lama… seolah sama-sama ingin mengatakan banyak hal, tapi tak satu pun berani keluar lewat kata-kata.
“Ran…” suara Kinkin nyaris tak terdengar.
Rani maju satu langkah.
Lalu, tanpa benar-benar berpikir, ia menjulurkan tubuhnya melewati pagar besi itu.
Kinkin ikut mendekat.
Di luar pagar, di tanah yang berundak, berdiri sosok yang sejak tadi ia lihat dari jendela.
Kinkin.
Ia memakai jaket tebal dan kupluk yang menutup sebagian rambutnya. Napasnya terlihat tipis di udara dingin.
“Kinkin…” panggil Rani pelan.
Kinkin menoleh. Matanya langsung menemukan Rani.
Rani mendekat ke pagar, lalu menjulurkan tubuhnya sedikit melalui celah besi karena posisi tanah di luar lebih rendah.
Kinkin melangkah lebih dekat.
Dengan suara yang masih serak oleh dingin dan lelah, ia berkata,
“Ran… semalam aku naik gunung cuma buat ambilin bunga edelweis untuk kamu.”
Rani menahan napas.
“Aku ingat… aku punya janji.”
Tangan Kinkin terangkat. Di antara jemarinya ada bunga kecil berwarna pucat—edelweis. Rani menatapnya lama. Dadanya terasa sesak. Lalu Kinkin meraih tangan Rani melalui celah pagar. Sentuhannya membuat Rani tersentak.
Dingin.
Sangat dingin. Hampir seperti membeku.
“Tangan kamu dingin banget…” gumam Rani lirih.
Kinkin tersenyum kecil. “Nggak apa-apa.”
Tapi hati Rani terasa diremas. Semalam ia tidur nyenyak di kamar yang hangat…
sementara Kinkin sudah mendaki gunung, menembus dingin dan gelap, lalu turun lagi hanya untuk menepati satu janji sederhana.
“Aku… maaf,” ucap Rani pelan, matanya mulai basah.
“Kamu capek-capek buat aku…”
Kinkin menggeleng. “Aku senang, Ran.”
Rani menerima edelweis itu dengan tangan gemetar.
Bunga kecil itu ringan…
tapi maknanya terasa berat di dadanya.
(Di masa itu, belum ada larangan hukum yang tegas untuk memetik edelweis dari gunung. Edelweis masih dianggap bunga liar yang bisa diambil, sebelum akhirnya dilindungi secara resmi di tahun-tahun berikutnya.)
Di antara pagar besi, tanah berundak, dan udara subuh yang dingin, Rani dan Kinkin saling menatap—
dengan perasaan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Rani menggenggam edelweis itu erat. Jarinya masih dingin karena sisa sentuhan tangan Kinkin.
Mereka saling menatap, lama… seolah sama-sama ingin mengatakan banyak hal, tapi tak satu pun berani keluar lewat kata-kata.
“Ran…” suara Kinkin nyaris tak terdengar.
Rani maju satu langkah.
Lalu, tanpa benar-benar berpikir, ia menjulurkan tubuhnya melewati pagar besi itu.
Kinkin ikut mendekat.
Other Stories
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Horor
horor ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Fatimah (Fafa), seorang gadis kota yang lebih akrab dengan diskon skincare daripada kitab ...