SEBELUM RANI PERGI
Malam itu, Rani pulang dari “nongkrong” lebih cepat dari biasanya.
Ia tahu, jika benar harus pulang besok, ia harus mengemas semua barangnya malam ini—supaya esok tidak panik dan tak ada satu pun yang tertinggal.
Di kamarnya, ia mulai melipat baju pelan-pelan, seperti sedang merapikan bukan hanya barang, tapi juga perasaannya sendiri.
Rani ingin tidur lebih awal. Ia ingin menjaga staminanya agar tidak kelelahan, agar tidak jatuh sakit karena perjalanan jauh yang menantinya.
Tapi meski tubuhnya ingin istirahat, pikirannya masih terjaga—
penuh bayangan tentang Puncak, tentang tawa hari ini…
dan tentang Kinkin, lalu ia tertidur.
Rani bangun pagi-pagi sekali.
Bahkan sebelum matahari sempat terbit.
Langit masih gelap, udara masih dingin, tapi ia sudah bersiap untuk pulang. Ia mandi, berganti baju, lalu berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya pelan.
Ada rasa berat di dadanya, meski tubuhnya bergerak otomatis.
Saat itulah, tanpa sengaja, matanya melirik ke arah jendela kamar.
Di luar sana—
ada sebuah siluet berdiri.
Sosok seorang laki-laki.
Rani tertegun.
Bentuk tubuh itu, caranya berdiri… terasa begitu akrab.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Ia mendekat ke jendela, menggeser tirai sedikit.
Dan saat cahaya samar subuh menyentuh wajah itu—
Rani menahan napas.
Itu Kinkin!
Ia tahu, jika benar harus pulang besok, ia harus mengemas semua barangnya malam ini—supaya esok tidak panik dan tak ada satu pun yang tertinggal.
Di kamarnya, ia mulai melipat baju pelan-pelan, seperti sedang merapikan bukan hanya barang, tapi juga perasaannya sendiri.
Rani ingin tidur lebih awal. Ia ingin menjaga staminanya agar tidak kelelahan, agar tidak jatuh sakit karena perjalanan jauh yang menantinya.
Tapi meski tubuhnya ingin istirahat, pikirannya masih terjaga—
penuh bayangan tentang Puncak, tentang tawa hari ini…
dan tentang Kinkin, lalu ia tertidur.
Rani bangun pagi-pagi sekali.
Bahkan sebelum matahari sempat terbit.
Langit masih gelap, udara masih dingin, tapi ia sudah bersiap untuk pulang. Ia mandi, berganti baju, lalu berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya pelan.
Ada rasa berat di dadanya, meski tubuhnya bergerak otomatis.
Saat itulah, tanpa sengaja, matanya melirik ke arah jendela kamar.
Di luar sana—
ada sebuah siluet berdiri.
Sosok seorang laki-laki.
Rani tertegun.
Bentuk tubuh itu, caranya berdiri… terasa begitu akrab.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Ia mendekat ke jendela, menggeser tirai sedikit.
Dan saat cahaya samar subuh menyentuh wajah itu—
Rani menahan napas.
Itu Kinkin!
Other Stories
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Awas, Ada Bakpao!
Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...