Dua Tangkai Edelweis

Reads
1.8K
Votes
274
Parts
23
Vote
Report
Penulis Runi Ariany

PAGI MEMELUK KITA

Di celah sempit antara dua dunia—halaman rumah dan jalan kecil di luar—
mereka saling memeluk.

Singkat.
Canggung.
Tapi cukup untuk membuat dada Rani terasa sesak.

Jaket Kinkin masih dingin oleh udara gunung.
Tangannya gemetar saat membalas pelukan itu.

“Hati-hati di jalan, Ran,” bisiknya di dekat telinga Rani.

Rani mengangguk, meski tenggorokannya tercekat.

Mereka melepaskan diri pelan-pelan.

Terlalu cepat.
Terlalu berat.

Rani melangkah mundur satu langkah, masih memeluk edelweis itu di dadanya.

“Terima kasih, Kinkin…”
“Untuk bunganya.”
“Untuk janjinya.”
“Dan untuk pagi ini.”

Kinkin tersenyum—senyum yang berusaha kuat, tapi matanya tak bisa bohong.

Rani berbalik menuju pintu rumah.

Tapi sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.

Kinkin masih berdiri di sana.
Di balik pagar.
Di bawah langit subuh yang pucat.

Menatapnya… sampai Rani benar-benar menghilang dari pandangannya.

Dan sejak pagi itu, Rani tahu:

ada pertemuan yang terlalu singkat,
tapi cukup untuk tinggal lama di hati.

Karena ada cinta yang tidak sempat tumbuh panjang—
tapi akarnya sudah lebih dulu dalam.



Other Stories
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

JEJAK SENI BUDAYA DI TANAH BADUY

Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Download Titik & Koma