Dua Tangkai Edelweis

Reads
96
Votes
4
Parts
22
Vote
Report
Penulis Runi Ariany

DINGIN YANG HANGAT

Mereka tiba di Puncak Pass, Bogor. Satu per satu turun dari mobil.

Tahun itu, di era delapan puluhan, udara Puncak terasa jauh lebih dingin dari yang pernah Rani bayangkan. Anginnya seperti menggigit kulit, merayap sampai ke tulang-tulang.

Rani merapatkan jaketnya. Tapi pikirannya justru melayang pada sesuatu yang lain. Sebuah pertanyaan kecil menggelitik di benaknya:

Kalau Bagas benar-benar naksir aku… kenapa tadi dia tidak memintaku duduk di depan saja, di sebelahnya?

Alih-alih dirinya, Bagas justru mempersilakan Mang Acep duduk di kursi depan.

Mungkin dia masih malu-malu, pikir Rani. Atau mungkin karena Mang Acep yang paling tua di antara kami, jadi dia menghormatinya.

Sementara itu, Bi Nadin—yang tak tahu apa-apa soal gejolak kecil di hati Rani—meminta duduk di tengah di bangku belakang.

Posisi itu, tanpa disengaja, justru membuat jarak antara Rani dan Kinkin semakin dekat.

Kinkin tampak senang.

Dan entah kenapa, Rani bisa merasakan satu hal lain yang tak diucapkan:

Bagas pasti kecewa.

Mereka lalu masuk ke warung kopi pertama yang mereka temukan. Sebuah bangunan kecil dengan dinding kayu dan lampu kuning temaram.

Mereka memesan kopi hitam—karena memang hanya itu yang ada. Di zaman itu, belum ada kopi sachet seperti sekarang.

Tak lama, cangkir-cangkir kopi datang. Hitam pekat, panas mendidih, dengan kepulan asap yang menari di atasnya.

Tapi di Puncak, panas tidak pernah bertahan lama.

Dalam lima menit saja, kopi itu sudah dingin.

Uapnya hilang, tapi rasanya tetap enak.

Tak seorang pun mengeluh.

Mereka tetap menyeruput kopi sambil tertawa, bercakap, dan menikmati kebersamaan.

Di tengah udara yang menggigit tulang, lima orang itu justru merasa hangat…

karena mereka bersama.

Di tengah asyiknya mereka menikmati suasana Puncak, Kinkin perlahan mendekat ke arah Rani. Langkahnya tenang, nyaris tak terdengar di antara tawa dan suara angin.

Ia menunduk sedikit, lalu berkata dengan nada pelan, hampir seperti rahasia,

“Kamu mau bunga edelweis, nggak?”

Rani terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di telinganya, itu seperti penawaran paling manis yang pernah ia dengar.

Edelweis—bunga abadi.

Rani merasa ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya, mengalahkan dingin Puncak yang sejak tadi menggigit kulit.

Ia menatap Kinkin, dan untuk sesaat lupa pada dunia di sekitarnya.

Tawa, angin, kopi dingin… semuanya menghilang.

Yang tersisa hanya satu hal:

kata-kata itu, dan perasaan yang tiba-tiba terasa sangat romantis.

“Boleh… aku mau,” jawab Rani sambil tersenyum.

Senyum kecil, tapi cukup untuk membuat Kinkin menatapnya sedikit lebih lama.

“Oke. Nanti aku naik gunung, ambilin buat kamu, ya,” balas Kinkin pelan.

Rani tertegun.

Naik gunung. Untuk sebuah bunga. Untuk dirinya.

Dadanya terasa hangat, meski udara Puncak begitu dingin.

“Hati-hati,” ucap Rani lirih.

Kinkin tersenyum. “Tenang. Demi edelweis.”

Dan di antara kabut, kopi dingin, dan tawa yang samar, Rani tahu satu hal:

tawaran sederhana itu… sudah cukup untuk membuat hatinya bergetar.

Bukan salah Kinkin jika ia selangkah lebih cepat dari Bagas dalam menunjukkan rasa sukanya pada Rani. Dalam hal ini, Kinkin memang lebih unggul—lebih berani.

Mungkin Bagas terlalu memeluk gengsinya.
Atau mungkin ia segan pada Mang Acep dan malu pada Bi Nadin.

Apa pun alasannya, pada akhirnya Bagas tertinggal.

Satu langkah di belakang Kinkin.

Dan dalam urusan perasaan, satu langkah saja…
sudah cukup untuk mengubah segalanya.


Other Stories
Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Download Titik & Koma