EPILOG — YANG TERTINGGAL DI CIANJUR
Rani menjalani hidupnya.
Ia menikah.
Ia memiliki dua anak.
Dan suatu hari, ia juga menjadi nenek.
Tahun-tahun membawanya jauh dari Cianjur, jauh dari Kinkin, jauh dari Bagas—namun tidak pernah benar-benar jauh dari kenangan.
Ia belajar ikhlas.
Ia belajar tertawa lagi.
Ia belajar hidup sepenuhnya.
Tapi ada bagian dari hatinya yang selalu tertinggal di satu kota kecil,
bersama satu pagi berkabut,
satu gitar di sore hari,
dan satu bunga kecil yang pernah ia simpan di lemari.
Pada tahun 2026, beberapa minggu yang lalu, Rani menerima kabar duka lagi.
Bagas telah berpulang.
Ia pun sudah berkeluarga.
Ia pun sudah punya dua anak.
Dan kini, ia menyusul Kinkin.
Rani menangis—bahkan di usianya yang menginjak lima puluh empat tahun.
Bukan karena ia belum sembuh,
melainkan karena kehilangan tidak pernah benar-benar punya usia.
Ia tahu, hidup telah mengambil banyak darinya.
Ia kehilangan dua nama yang pernah mengajarinya tentang cinta—
dengan cara yang berbeda,
dengan luka yang berbeda.
Namun Rani tidak membuang cerita itu.
Ia menyimpannya.
Dan ia sudah membagikannya.
Kepada anak-anaknya yang telah dewasa.
Dan suatu hari nanti—
saat cucu-cucunya cukup besar untuk mengerti—
Rani akan membuka lemari itu…
dan bercerita tentang Cianjur,
tentang Kinkin,
tentang Bagas,
dan tentang edelweis kecil yang mengajarkannya
cara mencintai dan merelakan.
Edelweis itu tidak pernah layu—
hanya berpindah tempat ke dalam dada Rani.
Ia menikah.
Ia memiliki dua anak.
Dan suatu hari, ia juga menjadi nenek.
Tahun-tahun membawanya jauh dari Cianjur, jauh dari Kinkin, jauh dari Bagas—namun tidak pernah benar-benar jauh dari kenangan.
Ia belajar ikhlas.
Ia belajar tertawa lagi.
Ia belajar hidup sepenuhnya.
Tapi ada bagian dari hatinya yang selalu tertinggal di satu kota kecil,
bersama satu pagi berkabut,
satu gitar di sore hari,
dan satu bunga kecil yang pernah ia simpan di lemari.
Pada tahun 2026, beberapa minggu yang lalu, Rani menerima kabar duka lagi.
Bagas telah berpulang.
Ia pun sudah berkeluarga.
Ia pun sudah punya dua anak.
Dan kini, ia menyusul Kinkin.
Rani menangis—bahkan di usianya yang menginjak lima puluh empat tahun.
Bukan karena ia belum sembuh,
melainkan karena kehilangan tidak pernah benar-benar punya usia.
Ia tahu, hidup telah mengambil banyak darinya.
Ia kehilangan dua nama yang pernah mengajarinya tentang cinta—
dengan cara yang berbeda,
dengan luka yang berbeda.
Namun Rani tidak membuang cerita itu.
Ia menyimpannya.
Dan ia sudah membagikannya.
Kepada anak-anaknya yang telah dewasa.
Dan suatu hari nanti—
saat cucu-cucunya cukup besar untuk mengerti—
Rani akan membuka lemari itu…
dan bercerita tentang Cianjur,
tentang Kinkin,
tentang Bagas,
dan tentang edelweis kecil yang mengajarkannya
cara mencintai dan merelakan.
Edelweis itu tidak pernah layu—
hanya berpindah tempat ke dalam dada Rani.
Other Stories
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...