MENYAMBUT DENGAN CEMAS
Petang perlahan menyambut. Rani melirik jam di pergelangan tangannya—setengah enam.
“Kita pulang, yuk,” katanya akhirnya.
Mereka sepakat. Langit mulai menggelap, udara Puncak makin dingin, dan perjalanan turun terasa lebih sunyi. Seolah masing-masing membawa pulang pikirannya sendiri.
Sekitar pukul tujuh atau delapan malam, sedan putih Bagas memasuki Cianjur. Lampu-lampu rumah sudah menyala satu per satu, menyambut malam.
Di dalam rumah Aki Lili, Mimi dan Aki Lili sudah menunggu. Duduk di ruang tengah dengan tubuh tegang, wajah tampak keras—tapi mata mereka menyimpan kecemasan.
Begitu Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin masuk, Mimi langsung berdiri.
“Kalian ke mana saja?!”
Suaranya tinggi, tapi bergetar.
Rani tercekat. Senyum di wajahnya langsung menghilang. Ia menunduk sedikit, merasa bersalah seketika.
Zaman itu belum ramai orang memakai handphone. Tak ada kabar, tak ada pesan. Wajar kalau Mimi dan Aki Lili panik.
Ternyata, setibanya mereka dari Jakarta, rumah dalam keadaan kosong. Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin tidak ada. Tak ada sepucuk pesan, tak ada secarik kertas yang memberi tahu ke mana mereka pergi.
Mimi dan Aki Lili kalang kabut—mencari ke tetangga, ke warung, ke mana pun kaki bisa melangkah.
Rani menggigit bibirnya. Ia tak pernah berniat membuat mereka cemas.
Dan ketika akhirnya anak-anak itu pulang dengan wajah cerah…
yang menyambut mereka bukan hanya marah,
tapi juga lega yang hampir berubah jadi air mata.
“Kita pulang, yuk,” katanya akhirnya.
Mereka sepakat. Langit mulai menggelap, udara Puncak makin dingin, dan perjalanan turun terasa lebih sunyi. Seolah masing-masing membawa pulang pikirannya sendiri.
Sekitar pukul tujuh atau delapan malam, sedan putih Bagas memasuki Cianjur. Lampu-lampu rumah sudah menyala satu per satu, menyambut malam.
Di dalam rumah Aki Lili, Mimi dan Aki Lili sudah menunggu. Duduk di ruang tengah dengan tubuh tegang, wajah tampak keras—tapi mata mereka menyimpan kecemasan.
Begitu Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin masuk, Mimi langsung berdiri.
“Kalian ke mana saja?!”
Suaranya tinggi, tapi bergetar.
Rani tercekat. Senyum di wajahnya langsung menghilang. Ia menunduk sedikit, merasa bersalah seketika.
Zaman itu belum ramai orang memakai handphone. Tak ada kabar, tak ada pesan. Wajar kalau Mimi dan Aki Lili panik.
Ternyata, setibanya mereka dari Jakarta, rumah dalam keadaan kosong. Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin tidak ada. Tak ada sepucuk pesan, tak ada secarik kertas yang memberi tahu ke mana mereka pergi.
Mimi dan Aki Lili kalang kabut—mencari ke tetangga, ke warung, ke mana pun kaki bisa melangkah.
Rani menggigit bibirnya. Ia tak pernah berniat membuat mereka cemas.
Dan ketika akhirnya anak-anak itu pulang dengan wajah cerah…
yang menyambut mereka bukan hanya marah,
tapi juga lega yang hampir berubah jadi air mata.
Other Stories
(bukan) Tentang Kita
Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...