TANGIS SEORANG KAKEK
Tangis Aki Lili akhirnya pecah. Rasa cemas yang sejak tadi ia tahan berubah menjadi lega saat melihat Rani—cucu kesayangannya—dan kedua anaknya berdiri di depannya dalam keadaan selamat.
Mereka baik-baik saja.
Hanya pergi tanpa pamit… dan pulang ketika langit sudah gelap.
Tapi alasan itu tak berarti apa-apa bagi Mimi dan Aki Lili.
Di mata mereka, anak-anak itu tampak seperti sekumpulan remaja bandel yang membuat jantung orang tua nyaris copot.
Meski begitu, satu hal tak pernah berubah:
rasa sayang Mimi dan Aki Lili pada mereka—
tak pernah berkurang, sedikit pun.
Aki Lili menangis sejadi-jadinya, seperti anak kecil yang kehilangan pegangan. Tubuhnya gemetar saat ia terduduk di lantai. Kedua kakinya bergerak maju-mundur, persis seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan tapi tak dituruti orang tuanya.
Perasaannya berkecamuk.
Di dalam pikirannya, bayangan-bayangan buruk berkelebat tanpa ia undang—tentang Rani dan kedua anaknya. Semua kemungkinan yang menakutkan itu hanya ada di kepalanya, tapi terasa begitu nyata.
Dan lebih dari itu, ia takut pada satu hal lain: Ayah Rani.
Jika sesuatu sampai terjadi, Aki Lili tak tahu bagaimana harus mempertanggungjawabkannya.
Dengan suara parau dan mata basah, ia menatap Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin.
“Jangan… jangan pernah ulangi lagi,” pintanya lirih.
Bukan dengan marah—
tapi dengan hati seorang kakek yang nyaris patah karena cemas.
Mereka baik-baik saja.
Hanya pergi tanpa pamit… dan pulang ketika langit sudah gelap.
Tapi alasan itu tak berarti apa-apa bagi Mimi dan Aki Lili.
Di mata mereka, anak-anak itu tampak seperti sekumpulan remaja bandel yang membuat jantung orang tua nyaris copot.
Meski begitu, satu hal tak pernah berubah:
rasa sayang Mimi dan Aki Lili pada mereka—
tak pernah berkurang, sedikit pun.
Aki Lili menangis sejadi-jadinya, seperti anak kecil yang kehilangan pegangan. Tubuhnya gemetar saat ia terduduk di lantai. Kedua kakinya bergerak maju-mundur, persis seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan tapi tak dituruti orang tuanya.
Perasaannya berkecamuk.
Di dalam pikirannya, bayangan-bayangan buruk berkelebat tanpa ia undang—tentang Rani dan kedua anaknya. Semua kemungkinan yang menakutkan itu hanya ada di kepalanya, tapi terasa begitu nyata.
Dan lebih dari itu, ia takut pada satu hal lain: Ayah Rani.
Jika sesuatu sampai terjadi, Aki Lili tak tahu bagaimana harus mempertanggungjawabkannya.
Dengan suara parau dan mata basah, ia menatap Rani, Mang Acep, dan Bi Nadin.
“Jangan… jangan pernah ulangi lagi,” pintanya lirih.
Bukan dengan marah—
tapi dengan hati seorang kakek yang nyaris patah karena cemas.
Other Stories
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Lain Dari Foto Biasanya
Kata yang mungkin saja tepat, yaitu, ada cerita di balik setiap foto yang di abadikan. Mom ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...