SEBELUM RANI PERGI
Malam itu, Rani kembali ke rumah Aki Lili lebih cepat dari biasanya.
Ia tahu, jika benar harus pulang besok, ia harus mengemas semua barangnya malam ini—supaya esok tidak panik dan tak ada satu pun yang tertinggal.
Di kamarnya, ia mulai melipat baju pelan-pelan, seperti sedang merapikan bukan hanya barang, tapi juga perasaannya sendiri.
Rani ingin tidur lebih awal. Ia ingin menjaga staminanya agar tidak kelelahan, agar tidak jatuh sakit karena perjalanan jauh yang menantinya. Tapi meski tubuhnya ingin istirahat, pikirannya masih terjaga—
penuh bayangan tentang Puncak, tentang tawa hari ini…
dan tentang Kinkin, lalu ia tertidur.
*
Rani bangun pagi-pagi sekali.
Bahkan sebelum matahari sempat terbit.
Langit masih gelap, udara masih dingin, tapi ia sudah bersiap untuk pulang. Ia mandi, berganti baju, lalu berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya pelan.
Ada rasa berat di dadanya, meski tubuhnya bergerak otomatis. Saat itulah, tanpa sengaja, matanya melirik ke arah jendela kamar.
Di luar sana—
ada sebuah siluet berdiri.
Sosok seorang laki-laki.
Rani tertegun.
Bentuk tubuh itu, caranya berdiri… terasa begitu akrab.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Ia mendekat ke jendela, menggeser tirai sedikit.
Dan saat cahaya samar subuh menyentuh wajah itu
Rani menahan napas.
Itu Kinkin.
Ia tahu, jika benar harus pulang besok, ia harus mengemas semua barangnya malam ini—supaya esok tidak panik dan tak ada satu pun yang tertinggal.
Di kamarnya, ia mulai melipat baju pelan-pelan, seperti sedang merapikan bukan hanya barang, tapi juga perasaannya sendiri.
Rani ingin tidur lebih awal. Ia ingin menjaga staminanya agar tidak kelelahan, agar tidak jatuh sakit karena perjalanan jauh yang menantinya. Tapi meski tubuhnya ingin istirahat, pikirannya masih terjaga—
penuh bayangan tentang Puncak, tentang tawa hari ini…
dan tentang Kinkin, lalu ia tertidur.
*
Rani bangun pagi-pagi sekali.
Bahkan sebelum matahari sempat terbit.
Langit masih gelap, udara masih dingin, tapi ia sudah bersiap untuk pulang. Ia mandi, berganti baju, lalu berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya pelan.
Ada rasa berat di dadanya, meski tubuhnya bergerak otomatis. Saat itulah, tanpa sengaja, matanya melirik ke arah jendela kamar.
Di luar sana—
ada sebuah siluet berdiri.
Sosok seorang laki-laki.
Rani tertegun.
Bentuk tubuh itu, caranya berdiri… terasa begitu akrab.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Ia mendekat ke jendela, menggeser tirai sedikit.
Dan saat cahaya samar subuh menyentuh wajah itu
Rani menahan napas.
Itu Kinkin.
Other Stories
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Test
Test ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...