KABAR DUKA
Beberapa bulan setelah Bagas dan keluarganya pulang ke Cianjur, hidup Rani kembali dipenuhi rutinitas.
Hari-harinya kembali padat: sekolah, latihan, rapat, lomba, tugas, dan ekskul yang membuat waktunya terasa selalu kurang.
Ia jarang memikirkan Cianjur.
Bukan karena lupa—
tapi karena hidupnya terlalu ramai untuk memberi ruang pada satu kota kecil yang pernah begitu sunyi di hatinya.
Sore itu, hujan turun tipis di Cirebon.
Rani sedang mengerjakan tugas di kamar ketika telepon rumah berdering.
“Ibu!” panggil Ayah dari ruang tengah.
Ibu mengangkat.
Rani mendengar suara lirih Ibu dari balik pintu.
“Iya, Neng…”
“Iya, sehat Alhamdulillah, Neng Sehat?”
“Astagfirullahaladzim.”
“Innalillahi wa innalillahi rajiun.”
“Ya Allah…”
Ada jeda panjang.
Lalu langkah kaki Ibu mendekat ke kamar Rani.
“Ran…”
Nada itu membuat Rani berdiri.
“Kenapa, Bu?” tanya Rani lirih.
Cemas sudah lebih dulu singgah di wajahnya.
Ibu menatapnya. Matanya basah.
“Itu Bi Nadin.”
Rani menelan ludah.
“Kinkin… meninggal.”
Rani seperti tak mengerti arti kata itu.
“Meninggal?”
Ibu mengangguk pelan.
“Kata Bi Nadin, Kinkin kena demam berdarah. Telat dibawa ke rumah sakit… karena nggak ada biaya.”
Kalimat itu seperti palu.
Dada Rani sesak.
Ia mundur selangkah, lalu duduk di tepi ranjang.
Dunia terasa terlalu sunyi.
Tanpa suara, Rani masuk ke lemari.
Menarik jaketnya.
Dan menemukan edelweis itu.
Ia memeluknya.
Dan tangisnya pecah.
Tangis yang selama ini ia simpan—tentang Cianjur, tentang Kinkin, tentang pagi berkabut dan janji kecil.
Dalam pelukan bunga kering itu, Rani belajar satu hal yang paling berat:
ikhlas.
Bukan karena ia siap,
tapi karena hidup memaksanya.
Rani menangis semalaman.
Malam keesokannya pun begitu.
Entah berapa lama ia sudah menangis.
Hari-harinya kembali padat: sekolah, latihan, rapat, lomba, tugas, dan ekskul yang membuat waktunya terasa selalu kurang.
Ia jarang memikirkan Cianjur.
Bukan karena lupa—
tapi karena hidupnya terlalu ramai untuk memberi ruang pada satu kota kecil yang pernah begitu sunyi di hatinya.
Sore itu, hujan turun tipis di Cirebon.
Rani sedang mengerjakan tugas di kamar ketika telepon rumah berdering.
“Ibu!” panggil Ayah dari ruang tengah.
Ibu mengangkat.
Rani mendengar suara lirih Ibu dari balik pintu.
“Iya, Neng…”
“Iya, sehat Alhamdulillah, Neng Sehat?”
“Astagfirullahaladzim.”
“Innalillahi wa innalillahi rajiun.”
“Ya Allah…”
Ada jeda panjang.
Lalu langkah kaki Ibu mendekat ke kamar Rani.
“Ran…”
Nada itu membuat Rani berdiri.
“Kenapa, Bu?” tanya Rani lirih.
Cemas sudah lebih dulu singgah di wajahnya.
Ibu menatapnya. Matanya basah.
“Itu Bi Nadin.”
Rani menelan ludah.
“Kinkin… meninggal.”
Rani seperti tak mengerti arti kata itu.
“Meninggal?”
Ibu mengangguk pelan.
“Kata Bi Nadin, Kinkin kena demam berdarah. Telat dibawa ke rumah sakit… karena nggak ada biaya.”
Kalimat itu seperti palu.
Dada Rani sesak.
Ia mundur selangkah, lalu duduk di tepi ranjang.
Dunia terasa terlalu sunyi.
Tanpa suara, Rani masuk ke lemari.
Menarik jaketnya.
Dan menemukan edelweis itu.
Ia memeluknya.
Dan tangisnya pecah.
Tangis yang selama ini ia simpan—tentang Cianjur, tentang Kinkin, tentang pagi berkabut dan janji kecil.
Dalam pelukan bunga kering itu, Rani belajar satu hal yang paling berat:
ikhlas.
Bukan karena ia siap,
tapi karena hidup memaksanya.
Rani menangis semalaman.
Malam keesokannya pun begitu.
Entah berapa lama ia sudah menangis.
Other Stories
Desa Di Ujung Senja
Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...
Ngidam
Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...