Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.6K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 1 Tragedi Sandal Jepit


Liburan sekolah bagi kebanyakan remaja adalah waktu untuk membalas dendam pada jam weker, maraton serial Netflix, atau pamer foto aesthetic di kafe-kafe Jakarta. Namun bagi Fatimah—atau Fafa, begitu teman-temannya memanggil gadis dengan kerudung yang selalu rapi namun pikiran yang sering berantakan itu—liburan kali ini adalah proyek "Rebranding Iman".

Setelah dua tahun merasa hidupnya terlalu banyak dihabiskan untuk memikirkan diskon skincare dan baper karena drama Korea, Fafa memutuskan untuk ikut Short Course Tahfidz selama tiga minggu di Pesantren Al-Ikhlas, sebuah pondok yang terletak di lereng Gunung Gede, Cianjur.

​"Fafa, kamu yakin mau ke sana? Di sana itu dingin, lho. Nanti kalau kulit kamu kering gimana? Terus kalau di sana nggak ada sinyal buat update status gimana?" tanya Sarah, sahabat karibnya, sambil menyeruput boba dengan tatapan sangat prihatin, seolah-olah Fafa akan pergi ke medan perang, bukan ke pesantren.

Fafa menghela napas, memasukkan mukena dan tumpukan gamis ke dalam koper besarnya. "Sar, ini namanya jihad melawan kemalasan. Lagian, aku sudah janji sama Ayah. Kalau aku bisa hafal Juz 30 dengan lancar selama liburan, Ayah bakal izinin aku ikut kursus desain tahun depan. Jadi, ini simbiosis mutualisme antara akhirat dan cita-cita duniawi."

​"Tapi di sana nggak ada kafe, Fafa!" keluh Sarah lagi.

​"Ada masjid, Sar. Lebih tenang dari kafe mana pun," jawab Fafa mantap, meski dalam hati dia juga bertanya-tanya: Bisa nggak ya aku bangun jam tiga pagi tanpa harus disiram air satu ember?

Perjalanan menuju pesantren memakan waktu empat jam. Begitu sampai di gerbang Pesantren Al-Ikhlas, ekspektasi Fafa tentang ketenangan surgawi langsung runtuh. Hal pertama yang menyambutnya bukanlah lantunan ayat suci yang syahdu, melainkan sebuah bola futsal yang melesat cepat dan mendarat tepat di genangan air di depan kakinya.

Croot!

Lumpur cokelat sukses menghiasi gamis warna dusty pink yang baru dibelinya khusus untuk liburan ini.

​"Astaghfirullah! Gamisku!" jerit Fafa tertahan. Matanya melotot melihat noda-noda itu.


Dari arah lapangan rumput yang becek, seorang pemuda dengan sarung yang disampirkan di bahu dan kaos oblong putih berlari mendekat. Wajahnya... oke, jujur saja, dia cukup tampan untuk ukuran orang yang baru saja berkeringat. Hidungnya mancung, kulitnya sawo matang khas santri yang rajin kena sinar matahari, dan matanya terlihat cerdas. Tapi senyumnya itu, lho—senyum yang seolah-olah sedang menertawakan penderitaan orang lain.

​"Waduh, maaf ya, Ukhti. Bolanya memang punya insting mencari target yang paling cerah warnanya. Mungkin bola ini mengira Ukhti itu bunga mawar yang sedang mekar," ujar pemuda itu tanpa rasa berdosa sedikit pun.

Fafa mengambil tisu basah dari tasnya dengan gerakan gusar. "Bunga mawar apanya? Ini noda lumpur, Mas! Kamu tahu nggak ini nyucinya susah? Ini kainnya sensitif!"

​"Sama seperti hati saya, Ukh. Sensitif kalau ditolak," celetuk pemuda itu lagi, kali ini dengan kedipan mata yang membuat Fafa hampir saja melemparkan kopernya ke arah pemuda itu. "Kenalin, saya Rayyan. Anak kiai sini yang paling... ya, paling sering disuruh-suruh, sih."

​Fafa hanya mendengus. "Fatimah. Dan tolong, jauhkan bola itu, atau siapa pun yang bernama Rayyan, dari radius sepuluh meter dariku selama tiga minggu ke depan."

​Rayyan hanya tertawa renyah. "Jangan galak-galak, Fa. Di sini udaranya dingin, kalau hatinya panas nanti bisa kena asma. Selamat datang di Al-Ikhlas, semoga betah ya dengan jengkol dan hafalan."

Kehidupan pesantren ternyata adalah "tamparan" budaya bagi Fafa. Di hari kedua, dia menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah godaan untuk tidur lagi setelah Subuh, melainkan... jengkol. Rupanya, pesantren ini sedang panen jengkol, dan menu di dapur umum selama tiga hari berturut-turut adalah semur jengkol, rendang jengkol, dan jengkol balado.

​"Ini pesantren atau festival jengkol nasional, sih?" bisik Fafa pada teman sekamarnya, Azizah, saat mengantre makan siang.

​"Sabar, Fa. Katanya Abah Kiai suka jengkol karena proteinnya tinggi buat otak. Biar hafalannya lancar," jawab Azizah kalem.

Tiba-tiba, suara berat yang sangat Fafa kenali muncul dari belakang. "Betul kata Azizah. Lagian, jengkol itu ujian keikhlasan. Kalau kamu bisa ikhlas sama baunya, kamu pasti ikhlas sama takdir Tuhan."

​Fafa menoleh dan mendapati Rayyan sedang memegang piring penuh berisi jengkol. "Kamu lagi? Kamu ini muncul terus kayak iklan di YouTube, ya? Nggak bisa di-skip?"


Rayyan nyengir. "Ini kan wilayah kekuasaan saya. Lagian, kamu kelihatannya butuh bimbingan 'peta jengkol' biar nggak salah pilih menu."

​"Makasih, tapi mending aku makan nasi sama kerupuk aja," balas Fafa ketus.

Namun, kejadian yang paling memalukan—dan mungkin yang akan Fafa ingat selamanya—terjadi malam harinya setelah salat Isya berjamaah. Fafa yang saat itu sedang sangat mengantuk karena hanya tidur tiga jam, terburu-buru keluar dari masjid untuk segera kembali ke asrama.


Dia melihat sepasang sandal jepit ungu di teras masjid. Ah, ini sandalku, pikirnya. Tanpa melihat lagi, dia memakai sandal itu dan berjalan cepat menuju asrama. Tapi rasanya aneh. Sandal itu terasa sangat longgar dan berat.

​"Eh, kok jalannya jadi susah ya?" gumam Fafa.

​"Ukhti Fatimah!" Sebuah teriakan membelah keheningan malam pesantren.


​Fafa menoleh. Rayyan berlari ke arahnya dengan napas terengah-engah. Dan yang membuat Fafa ingin menghilang saat itu juga adalah pemandangan di kaki Rayyan. Pemuda itu memakai sandal jepit ungu mungil dengan hiasan bunga matahari milik Fafa.

​Kaki Rayyan yang besar dipaksa masuk ke sandal sempit itu, membuat tumitnya menggantung jauh di belakang.

​"Ukhti... kayaknya kita perlu bicara soal hak asasi sandal," kata Rayyan sambil berusaha menahan tawa sampai mukanya memerah. "Aku tahu kamu suka sama aku, tapi nggak perlu sampai tukeran sandal juga, kan?"

​Wajah Fafa mendadak panas. Dia melihat ke kakinya sendiri. Benar saja, dia memakai sandal jepit karet warna hijau tua ukuran 43 dengan tulisan spidol permanen: MILIK RAYYAN - JANGAN DICURI, DOSA!


​"Ya Allah! Maaf! Aku... aku nggak sengaja! Tadi aku ngantuk banget!" Fafa cepat-cepat melepas sandal itu dan berdiri tanpa alas kaki di atas semen yang dingin.

​Rayyan pun melepas sandal ungu itu dengan susah payah karena saking sempitnya. "Tenang, Fa. Ini bakal jadi kenang-kenangan. Sandal ini bakal aku simpan di museum hati."


​"Berhenti bercanda, Rayyan! Balikin sandalku!" Fafa merebut sandalnya dengan wajah merah padam—setengah malu, setengah kesal, tapi entah kenapa, ada sedikit tawa yang hampir meledak di dadanya.

​Rayyan memberikan sandal itu sambil tersenyum tulus, kali ini tanpa nada mengejek. "Besok setoran Surah An-Naba, kan? Jangan sampai salah baca gara-gara kepikiran sandal hijauku ya. Semangat, Calon Hafizah."

Rayyan berjalan pergi dengan sandal hijaunya, meninggalkan Fafa yang masih berdiri terpaku di bawah sinar bulan sabit. Di tengah dinginnya udara Puncak, Fafa merasakan sesuatu yang hangat menjalar di hatinya. Mungkin liburan ini tidak akan seburuk yang dia bayangkan.

Mungkin, "Rebranding Iman"-nya akan bonus satu hal lagi: sebuah cerita yang belum pernah ada di drama Korea mana pun.






Other Stories
Menjelang Siang

Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Download Titik & Koma