Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.6K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 3 Isyarat Di Balik Tabir

Seminggu setelah "Tragedi Mie Instan" dan kesepakatan rahasia dengan Rayyan, hidup Fafa berubah total. Jika sebelumnya dia adalah santri yang paling rajin curhat di buku harian tentang betapa dinginnya air mandi di Puncak, kini dia berubah menjadi pejuang Al-Qur'an yang militan. Targetnya jelas: menghafal Surah Al-Kahfi demi memerdekakan lambungnya dari rezim jengkol Kang Udin.

​"Al-hamdu lillahilladhi anzala 'ala 'abdihil-kitaba wa lam yaj'al lahu 'iwaja..."

​Suara Fafa terdengar pelan namun intens di pojok perpustakaan pesantren yang berdebu. Di depannya, tumpukan tisu berserakan—bukan karena dia sedang galau putus cinta, tapi karena dia sedang pilek akibat nekat menghafal di teras asrama sampai jam satu pagi.

​"Fa, kamu sudah ayat berapa?" tanya Azizah yang tiba-tiba muncul membawa segelas teh hangat.

​"Baru ayat lima puluh, Zah. Masih ada enam puluh ayat lagi menuju kemerdekaan kuliner," jawab Fafa tanpa mengalihkan pandangan dari mushafnya. "Aku nggak mau kalah sama si 'Akhi' itu. Bayangin, Zah, kalau aku gagal, aku harus panggil dia 'Akhi Rayyan yang Manis'. Idih, mending aku disuruh lari keliling lapangan pakai sarung!"

Azizah tertawa kecil. "Tapi jujur ya, Fa. Sejak kamu ada tantangan ini, hafalanmu jadi melesat. Mungkin Rayyan memang sengaja memacu kamu."

​"Sengaja memacu atau sengaja mau ngerjain aku, itu bedanya tipis banget kalau buat dia," gerutu Fafa.

Hari yang dijanjikan tiba. Hari Jumat. Sesuai sunnah, santri memang dianjurkan membaca Al-Kahfi, tapi bagi Fafa, hari ini adalah hari penghakiman. Dia sudah rapi dengan mukena putih bersihnya yang harum bunga lavender.

​Rayyan sudah menunggu di teras masjid, duduk bersila dengan sebuah meja kayu kecil di depannya. Di sampingnya, ada sebuah piring tertutup tudung saji kecil.

​"Sudah siap, Ukhti Fatimah? Atau mau menyerah sekarang dan mulai latihan panggil saya 'Akhi'?" tanya Rayyan dengan senyum menyebalkan yang entah kenapa terlihat sedikit lebih tampan dari biasanya di bawah sinar matahari pagi.

​"Jangan sombong dulu. Siapkan saja kontrak pembatalan menu jengkolnya," balas Fafa sambil duduk bersimpuh, menjaga jarak aman sesuai syariat.

​"Silakan dimulai. Dari ayat satu sampai seratus sepuluh. Tanpa salah tajwid, tanpa ragu," instruksi Rayyan, kini wajahnya berubah serius. Jika sedang dalam mode mengajar seperti ini, aura "anak Kyai" yang berwibawa benar-benar terpancar dari dirinya.


Fafa memulai. Bismillah.

​Sepuluh ayat pertama lewat dengan lancar. Suara Fafa yang jernih mulai mengisi keheningan teras masjid. Rayyan menyimak dengan saksama, sesekali matanya terpejam mengikuti alunan bacaan Fafa.

Masalah muncul di ayat ke-60, saat masuk ke kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Konsentrasi Fafa mulai goyah. Bukan karena hafalannya hilang, tapi karena seekor belalang hijau besar tiba-tiba mendarat tepat di atas tangan Fafa yang sedang memegang mushaf tertutup.

​Fafa benci serangga. Sangat benci.


Tubuh Fafa menegang. Suaranya mulai bergetar. "Wa idz qala musa li fatahu la abrahu hatta ablugha majma'al..."

​Mata Fafa melirik ngeri ke arah belalang itu. Belalang itu diam, seolah sedang ikut menyimak hafalan. Rayyan menyadari perubahan nada suara Fafa. Dia membuka mata dan melihat belalang tersebut.

Bukannya menolong, Rayyan malah berbisik pelan, "Lanjut, Fa. Belalangnya mau dengar sampai akhir. Kalau kamu berhenti atau teriak, dianggap gugur."

​Kurang ajar, batin Fafa.

Dengan keringat dingin bercucuran dan jantung yang berdegup lebih kencang dari tabuhan bedug, Fafa melanjutkan hafalannya. Dia membayangkan belalang itu adalah jengkol yang harus dia taklukkan. Setiap kata dia ucapkan dengan penuh penekanan, seolah sedang mengusir makhluk hijau itu dengan kekuatan ayat suci.

Akhirnya, ayat ke-110 selesai diucapkan. "...wa la yusyrik bi 'ibadati rabbihi ahada."

​Begitu selesai, Fafa langsung mengibaskan tangannya dengan histeris. "Hush! Pergi kamu makhluk hijau!"

Belalang itu terbang, dan Fafa hampir saja terjungkal ke belakang jika tidak segera menyeimbangkan diri. Rayyan tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang perutnya.

​"Hebat, hebat! Hafalan di bawah tekanan biotik. Itu levelnya sudah mahir," puji Rayyan di sela tawanya.

​"Tertawa saja terus! Jadi gimana? Lancar kan?" tagih Fafa sambil merapikan mukenanya yang sedikit berantakan.

​Rayyan berhenti tertawa. Dia menatap Fafa dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa bangga di sana. "Lancar. Mumtaz. Tajwidnya bagus, makhrajnya jelas, dan mentalnya... ya, mental pejuang serangga."

Rayyan kemudian membuka tudung saji di sampingnya. Di sana, bukannya ada semur jengkol, melainkan sebuah kotak makan berisi nasi kuning lengkap dengan ayam goreng, sambal goreng ati, dan perkedel. Masih hangat.

​"Ini apa?" tanya Fafa heran.

​"Ini hadiah kemenanganmu. Saya sendiri yang minta Ummi buatkan subuh tadi. Dan soal janji saya ke Kang Udin, sudah saya sampaikan. Mulai besok, meja makan kamu akan bebas dari jengkol selama seminggu," jelas Rayyan.


Fafa tertegun. Dia merasa sedikit bersalah karena selama ini menganggap Rayyan hanya ingin mengerjainya. "Makasih, Kang. Ternyata kamu punya sisi manusiawi juga."

​"Tunggu dulu," potong Rayyan. "Tadi ada satu bagian yang hampir salah di ayat tujuh puluh lima. Karena saya baik hati dan menganggap itu faktor belalang, saya maafkan. Tapi, sebagai gantinya..."

​"Kamu nggak perlu panggil saya 'Akhi Rayyan yang Manis'. Cukup panggil 'Mas Rayyan' saja kalau lagi di luar jam pelajaran. Kedengarannya lebih... akrab," ujar Rayyan sambil mengedipkan mata, lalu berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Fafa yang masih mematung.

Fafa menatap nasi kuning di depannya. Di atas tutup kotak makan itu, ada selembar kertas kecil yang tertempel. Fafa membukanya.

​Semangat terus hafalannya, Fa. Al-Kahfi itu pelindung dari fitnah Dajjal. Dan semoga, hafalan ini juga jadi pelindung kamu dari cowok-cowok kota yang cuma modal gaya tanpa modal doa.
​- R -

Wajah Fafa mendadak panas. Dia menoleh ke arah Rayyan yang sudah menjauh, berjalan menuju asrama putra dengan gaya santainya.

​"Mas Rayyan?" gumam Fafa pelan. Jantungnya memberikan reaksi yang aneh. Reaksi yang jauh lebih kuat daripada saat dia melihat diskon 90% di mal favoritnya.

Tiba-tiba, Azizah muncul dari balik pilar masjid.
"Cieee... nasi kuning cinta nih?"

​"Azizah! Kamu ngintip ya?" teriak Fafa malu
.
​"Nggak ngintip, cuma mengamati perkembangan hidayah," goda Azizah sambil lari menjauh.


Sore itu, di bawah langit Puncak yang mulai menguning, Fafa menyadari satu hal. Liburan ini bukan lagi soal pelarian dari kebosanan, tapi soal penemuan. Penemuan bahwa di balik tajwid yang sulit, ada ketenangan. Dan di balik kejahilan seorang anak Kyai, ada perhatian yang diselipkan dalam doa-doa diam.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Karena malamnya, sebuah kabar mengejutkan datang. Ayah Fafa menelepon dan mengatakan bahwa mereka akan menjemput Fafa lebih cepat karena ada urusan keluarga yang mendesak.

Fafa terdiam di telepon. Padahal, dia baru saja mulai menikmati aroma pegunungan ini. Padahal, dia baru saja mulai terbiasa dengan panggilan "Mas Rayyan".







Other Stories
Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Setelah Perayaan Itu Usai.

Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Download Titik & Koma