Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 4 Malam Perpisahan

Kabar dari Ayah melalui telepon sore itu terasa seperti petir di siang bolong, atau lebih tepatnya, seperti disiram air kolam pesantren yang sedingin es di tengah malam. Fafa terdiam di koridor asrama, menggenggam ponselnya erat-baik. Ayah bilang ada urusan bisnis mendadak di Singapura dan seluruh keluarga harus ikut berangkat lusa. Itu artinya, besok adalah hari terakhir Fafa di Pesantren Al-Ikhlas.

Padahal, durasi short course ini masih tersisa sepuluh hari lagi. Padahal, Fafa baru saja mulai hafal setengah Surah Maryam. Dan yang paling mengganggu pikirannya—meskipun ia gengsi mengakuinya—ia belum siap berhenti berdebat dengan Rayyan.

​"Kenapa, Fa? Wajahmu kok kayak adonan donat gagal?" tanya Maryam yang baru saja kembali dari jemuran.

​"Aku... aku harus pulang besok, Mar," lirih Fafa.

Kabar itu menyebar lebih cepat daripada aroma jengkol Kang Udin. Dalam sekejap, Azizah sudah memeluknya erat, dan beberapa santriwati lain memberikan ucapan perpisahan prematur. Namun, satu orang yang paling ingin Fafa temui justru tidak kelihatan batang hidungnya. Rayyan menghilang sejak ashar.

Sebagai bentuk perpisahan, Ummi (istri Abah Kyai) mengizinkan santriwati mengadakan acara bakar jagung kecil-kecilan di halaman samping asrama malam itu. Udara Puncak malam ini terasa berkali-kali lipat lebih dingin, atau mungkin hanya hati Fafa yang sedang menggigil.

Fafa duduk di dekat api unggun kecil, membolak-balik jagung dengan malas. Pikirannya melayang. Ia teringat saat pertama kali datang dengan gamis dusty pink yang terkena lumpur. Ia teringat sandal hijaunya yang tertukar. Dan ia teringat bagaimana Rayyan menantangnya menghafal Al-Kahfi.


​"Jagungnya gosong, Fa. Kayak hati yang lagi galau," sebuah suara berat memecah lamunannya.

​Fafa menoleh. Rayyan berdiri di sana, mengenakan jaket parka gelap di atas sarungnya. Wajahnya tidak seceria biasanya. Tidak ada senyum jahil yang biasanya menghiasi bibirnya.

​"Mas Rayyan..." Fafa tanpa sadar memanggilnya dengan sebutan yang diminta pemuda itu tadi siang.

​Rayyan tertegun sejenak mendengar panggilan itu, lalu ia duduk di sebuah batang kayu besar, agak jauh namun masih dalam jangkauan suara. "Jadi, benar mau pulang besok?"

​Fafa mengangguk pelan. "Ayah yang minta. Katanya mendesak."

​"Padahal tinggal sepuluh hari lagi. Kamu belum lulus ujian 'Ketahanan Jengkol' tingkat lanjut," canda Rayyan, tapi suaranya terdengar hambar.

​"Iya, nih. Padahal aku sudah mulai terbiasa nggak makan mie instan diam-diam," balas Fafa sambil menatap api yang menari-nari. "Makasih ya, Mas. Buat semuanya. Buat tantangannya, buat nasi kuningnya, dan buat... sudah sabar ngadepin aku yang bawel ini."

Rayyan terdiam cukup lama. Ia mengambil sebuah ranting kayu dan mengais-ngais bara api.

"Pesantren ini bakal sepi kalau nggak ada teriakan kamu gara-gara serangga atau noda lumpur."

​"Bagus dong, Mas jadi nggak pusing lagi."

​"Pusing itu kadang perlu, Fa. Biar kita tahu kalau kita masih punya kepala. Dan kehilangan orang yang bikin pusing itu... ternyata lebih bikin pusing lagi."

Fafa merasakan pipinya memanas. Ini bukan efek api unggun, pikirnya.

Saat acara hampir usai dan santri lain mulai masuk ke asrama, Rayyan memberikan sebuah bungkusan kecil yang dibalut kertas cokelat sederhana.

​"Apa ini? Jengkol kering buat oleh-oleh?" tanya Fafa, berusaha mencairkan suasana yang mendadak melankolis.

​"Buka saja nanti kalau sudah di mobil," kata Rayyan. "Isinya bukan makanan. Itu sesuatu yang bisa bikin kamu ingat kalau 'hijrah' itu nggak boleh berhenti cuma karena liburan sekolah selesai."

Fafa menerima bungkusan itu dengan perasaan campur aduk. "Mas, boleh aku tanya sesuatu?"

​"Apa?"

​"Kenapa Mas baik banget sama aku? Padahal aku sering ketus, sering ngeluh, dan sering bikin malu Mas di depan santri lain?"

Rayyan menatap langit yang penuh bintang, lalu beralih menatap mata Fafa sejenak sebelum menunduk kembali. "Karena saya lihat ada cahaya di hati kamu, Fa. Cahaya yang mungkin kamu sendiri belum sadar. Kamu itu kayak ayat Sajdah. Bikin orang pengen sujud syukur karena sudah dipertemukan."

​Fafa hampir saja menjatuhkan jagungnya. Gombalan Islami ini benar-benar berbahaya bagi kesehatan jantung, batinnya.

Keesokan paginya, mobil hitam Ayah sudah terparkir di depan gerbang pesantren. Fafa berpamitan dengan Ummi dan Abah Kyai. Ummi memeluknya lama, membisikkan doa agar Fafa tetap istikamah di kota nanti.

​Saat koper terakhir dimasukkan ke bagasi, Fafa mencari-cari sosok Rayyan. Namun, pemuda itu hanya berdiri di kejauhan, di teras masjid, melambaikan tangan dengan senyum tipis. Dia tidak mendekat, mungkin untuk menjaga hati, atau mungkin karena dia tahu jika dia mendekat, perpisahan ini akan jadi jauh lebih berat.

​Di dalam mobil, saat perjalanan menuruni jalur Puncak yang berkelok-kelok, Fafa membuka bungkusan cokelat dari Rayyan. Isinya adalah sebuah mushaf saku berwarna ungu—warna kesukaan Fafa—dengan pembatas buku berbahan kulit.

​Di dalam pembatas buku itu, ada tulisan tangan yang rapi:

"Untuk Fatimah, yang sandalnya pernah tertukar namun hatinya semoga tidak salah berlabuh. Teruslah menghafal. Jika rindu dengan suasana pesantren, bacalah Al-Kahfi. Jika rindu dengan... jengkol, doakan saja yang menanamnya. Sampai bertemu di tajwid yang lebih sempurna."

​- Rayyan -


Di balik kertas pembatas itu, ada satu baris kalimat tambahan yang membuat Fafa refleks menutup wajahnya dengan mushaf tersebut:

P.S: Aku sudah minta izin ke Ayahmu untuk berkunjung ke Jakarta setelah ujian semester nanti. Jangan lupa siapkan teh hangat, tanpa jengkol.

Fafa tersenyum lebar di balik mushafnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia menyadari bahwa liburan sekolah ini memang sudah berakhir, namun sebuah babak baru dalam Hidupnya baru saja dimulai.

​Gunung Gede perlahan menghilang di balik kabut spion mobil, namun satu hal yang pasti: Tajwid Cinta itu tidak pernah berakhir dengan tanda baca titik, melainkan dengan tanda Waqaf Lazim—harus berhenti sejenak untuk mengambil napas, lalu melanjutkan perjalanan menuju rida-Nya.









Other Stories
Setelah Perayaan Itu Usai.

Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...

Awan Favorit Mamah

Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Cahaya Di Ujung Mihrab

Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...

Reuni Mantan

Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma