Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 7 Walimah, Doa, Dan Drama Prasmanan

Setelah proses khitbah yang penuh haru dan percikan lumpur di Jakarta, waktu seolah berlari lebih cepat dari santri yang mengejar saf terdepan saat azan berkumandang. Persiapan pernikahan antara Fafa dan Rayyan tidak dilakukan di hotel mewah berbintang lima, melainkan di tempat semua ini bermula: Pelataran Pesantren Al-Ikhlas, Puncak.
​Fafa memutuskan bahwa ia ingin kembali ke "Tanah Tinggi" untuk mengucap janji suci. Baginya, udara dingin Puncak adalah saksi bisu bagaimana ia bertransformasi dari gadis kota yang manja menjadi wanita yang menghargai setiap butiran tasbih. Namun, mengadakan pernikahan di pesantren dengan ribuan santri dan warga sekitar berarti satu hal: Komedi massal.

Hari pernikahan pun tiba. Fafa duduk di dalam kamar asrama tamu dengan perasaan yang campur aduk. Di depannya, seorang perias pengantin sedang berusaha menutupi jerawat kecil yang muncul di dahi Fafa akibat kurang tidur menghafal Surah Ar-Rahman (yang akan dibacakan Rayyan sebagai mahar).
​"Duh, Mbak, jangan tebal-tebal ya bedaknya. Nanti kalau Mas Rayyan pangling terus dia malah nyari Fatimah yang asli gimana?" keluh Fafa cemas.

​Sarah, yang bertindak sebagai maid of honor alias pendamping pengantin, tertawa sambil membantu merapikan ronce melati di hijab Fafa. "Tenang, Fa. Rayyan itu hafal makhraj huruf kamu, masa wajah kamu dia nggak hafal? Lagian, kamu pakai riasan begini malah kelihatan kayak bidadari yang baru turun dari Gunung Gede."

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan keras. Maryam masuk dengan wajah pucat.

​"Fa! Gawat! Mas Rayyan... Mas Rayyan hilang!"

​Fafa hampir saja menjatuhkan kaca riasnya. "Apa?! Kabur?! Apa dia baru sadar kalau aku galak?"

​"Bukan kabur!" seru Maryam terengah-engah.

"Dia terjebak di kerumunan santri putra. Mereka semua minta foto bareng dan minta 'ijazah' tips dapet istri cantik kota. Mas Rayyan nggak bisa lewat ke masjid!"

​Fafa menghela napas panjang, antara ingin marah dan ingin tertawa. "Bilang ke Kang Udin, bawa spatula dapur, bubarkan mereka semua! Bilang kalau pengantin prianya nggak sampai masjid dalam lima menit, menu makan siang hari ini semuanya diganti sayur bayam tanpa garam!"

Di masjid pesantren yang penuh sesak, Rayyan duduk bersila di depan Ayah Fafa. Wajahnya yang biasanya penuh canda kini tampak sangat pucat, lebih pucat dari kain kafan—eh, maksudnya lebih putih dari baju kokonya yang baru. Keringat sebesar biji jagung (tentunya bukan jagung bakar perpisahan) menetes di pelipisnya.

​Abah Kyai membisikkan sesuatu ke telinga putranya, "Tenang, Le. Baca bismillah. Ingat, ini bukan ujian hafalan di depan Abah, ini janji sama Allah."

​Rayyan mengangguk. Ayah Fafa menjabat tangan Rayyan dengan erat. Getaran tangan keduanya terasa sampai ke barisan santri di belakang.

​"Ankahtuka wa zawwajtuka mahlubati Fatimah Azzahra..." Ayah Fafa mengucapkan kalimat ijab dengan suara mantap namun bergetar.
​Rayyan menarik napas sedalam-dalamnya, seolah ingin menghirup seluruh oksigen di Jawa Barat. "Qobiltu nikahaha wa tazwijaha linafsi bil-mahril madzkur, haalan!"

​"Sah?"

​"SAAAAH!!!" Suara ribuan santri menggelegar, meruntuhkan keheningan Puncak.

​Di kamar asrama, Fafa menunduk dalam, air matanya jatuh tanpa permisi. Detik itu juga, statusnya berubah. Ia bukan lagi gadis kota yang mengejar diskon, melainkan seorang istri dari pemuda yang pernah membuatnya kesal setengah mati gara-gara sandal jepit.

Acara berlanjut ke resepsi di lapangan pesantren. Dekorasi yang dipilih Fafa sangat sederhana namun elegan: serba putih dengan sentuhan bunga-bunga pegunungan yang segar.

Namun, yang namanya pesta di pesantren, tantangan utamanya adalah konsumsi.
​Kang Udin, sang kepala dapur, berdiri dengan gagah di samping meja prasmanan utama. Di sana, terdapat sebuah wadah besar yang aromanya sangat mencolok.

​"Mas Rayyan, Mbak Fafa," panggil Kang Udin saat kedua mempelai menyalami tamu. "Ini menu spesial dari saya. 'Semur Jengkol Pengantin'. Sudah saya rendam pakai air mawar biar baunya estetik!"

Fafa tertawa geli melihat piring-piring jengkol yang tertata rapi. "Kang Udin, makasih ya. Tapi tolong, jauhkan dari Mas Rayyan dulu, nanti dia pusing pas mau doa malam."

​Rayyan menyenggol bahu Fafa. "Lho, jangan salah, Fa. Ini jengkol bersejarah. Tanpa jengkol ini, mungkin kita nggak akan pernah ada di pelaminan ini."

​Saat mereka sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba seorang tamu mendekat. Pria itu memakai kemeja rapi namun wajahnya terlihat bingung. Dia membawa sepasang sandal jepit hijau yang sudah butut.

​"Maaf, ini benar pernikahannya Mas Rayyan?" tanya pria itu.

​Rayyan mengernyitkan dahi. "Iya, betul. Mas siapa ya?"


​"Saya kurir paket yang tiga tahun lalu pernah nganter ke sini. Masih ingat nggak? Dulu sandal saya tertukar sama sandal Mas pas saya salat di masjid. Ini saya baru sempat balikin, soalnya baru ketemu pas pindahan rumah," ujar si kurir polos.

​Seluruh keluarga besar yang mendengar itu langsung meledak dalam tawa. Fafa menutupi wajahnya dengan buket bunga, sementara Rayyan hanya bisa geleng-geleng kepala.

​"Mas, Mas... Mas ini telat tiga tahun! Sandal itu sudah jadi legenda di sini. Tapi makasih ya, simpan saja buat kenang-kenangan kalau jodoh itu nggak akan tertukar, tapi sandal bisa," ujar Rayyan sambil memberikan amplop berisi makanan dan sedikit "uang lelah" kepada si kurir.

Malam harinya, setelah seluruh keriuhan reda, Fafa dan Rayyan duduk di teras rumah kayu kecil yang disediakan pesantren untuk tempat tinggal mereka sementara. Kabut mulai turun, menyelimuti pepohonan pinus di sekitar mereka.

​Fafa mengenakan jaket tebal di atas gamisnya, sementara Rayyan kembali ke setelan favoritnya: sarung dan baju koko.

​"Dingin ya, Fa?" tanya Rayyan sambil memberikan segelas teh hangat.

​"Banget, Mas. Kayak hari pertama aku datang ke sini," jawab Fafa.

Rayyan menatap ke arah masjid yang lampunya masih menyala temaram. "Fa, makasih ya sudah mau sabar. Dari mulai saya jahilin, saya tinggal ke Mesir, sampai hari ini. Saya tahu saya bukan laki-laki sempurna kayak di novel-novel yang kamu baca."

​Fafa menoleh, menatap mata suaminya dengan tulus. "Mas, aku nggak butuh laki-laki sempurna. Aku cuma butuh laki-laki yang kalau aku salah baca tajwid, dia benerinnya pakai cinta, bukan pakai penggaris. Aku butuh laki-laki yang bisa ngajak aku ke Surga, meskipun jalannya becek dan penuh lumpur."

​Rayyan tersenyum, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kunci rumah kecil dengan gantungan kunci berbentuk... sandal jepit mini berwarna ungu.

​"Besok kita mulai petualangan baru di Jakarta, Fa. Saya sudah dapat tawaran mengajar di sekolah Islam internasional di sana. Tapi janji ya, setiap liburan sekolah, kita harus balik ke sini."

​"Kenapa? Kangen jengkol Kang Udin?"

​"Bukan," Rayyan menggenggam tangan Fafa dengan lembut. "Biar kita selalu ingat kalau Tajwid Cinta kita itu bermula dari sini. Dari tempat yang tinggi, biar doanya lebih cepat sampai ke langit."

​Fafa menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan. Di bawah ribuan bintang yang menghiasi langit Puncak, mereka menyadari bahwa akhir dari sebuah cerita adalah awal dari ibadah yang sesungguhnya. Cinta mereka bukan lagi tentang "aku" dan "kamu", melainkan tentang "kita" dalam rida-Nya.

​Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Fafa merasa bahwa aroma jengkol yang terbawa angin dari dapur pesantren... tidaklah seburuk yang ia kira. Karena terkadang, sesuatu yang baunya menyengat, justru menyimpan rasa yang paling manis jika dinikmati dengan penuh keikhlasan.




Other Stories
Hantu Dan Hati

Zaki yang baru saja pindah kesebuah rumah yang ditinggalkan, menemukan fakta bahwa terdapa ...

Menolak Jatuh Cinta

Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...

Bapakku Bukan Pengkhianat

Udin, seorang laki-laki biasa, berharap kehidupannya baik-baik saja saat para pengkhianat ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Hotel Tanpa Cermin

Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma