Bab 10 Rivalitas Hijab
Bulan ketiga di Jakarta, Fafa merasa sudah mulai menguasai medan. Ia sudah tahu jam berapa harus berangkat agar tidak terjebak macet total di depan mal, dan ia sudah tahu cara menghadapi kurir paket yang sering tersesat di apartemennya. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia kuasai: perasaan aneh yang muncul setiap kali Rayyan pulang membawa cerita tentang sekolah tempatnya mengajar.
Pagi itu, Jakarta sedang mendung galau. Fafa sedang sibuk di depan laptopnya, menggambar sketsa gaun pengantin Muslimah yang ia beri nama "Seri Al-Ikhlas".
"Mas berangkat dulu ya, Sayang," pamit Rayyan. Hari ini ia tampil sangat rapi dengan kemeja koko berwarna biru dongker dan aroma parfum kayu cendana yang menenangkan.
Fafa mencium tangan suaminya. "Mas, nanti pulang jam berapa? Aku mau nitip beli martabak, tapi yang jualnya harus laki-laki ya."
Rayyan tertawa kecil. "Masih saja protektif. Iya, nanti Mas usahakan. Oh ya, hari ini ada rapat guru besar. Katanya ada ustadzah baru dari lulusan Al-Azhar juga yang mau gabung tim kurikulum. Namanya Ustadzah Sarah—eh, bukan Sarah temanmu ya, ini Sarah yang lain."
Fafa menghentikan gerakannya. "Lulusan Al-Azhar? Wah, pasti pinter banget ya, Mas. Pasti bahasa Arab-nya sudah level dewa."
"Iya, katanya sih begitu. Abah yang rekomendasikan langsung. Ya sudah, Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam," jawab Fafa pelan. Tiba-tiba, sketsa gaun pengantin di layarnya terlihat tidak semenarik tadi.
Seminggu kemudian, ada acara Open House di sekolah tempat Rayyan mengajar. Fafa diundang untuk hadir sebagai istri salah satu guru berprestasi. Fafa berdandan ekstra rapi. Ia memakai hijab bahan sutra berwarna nude yang ia desain sendiri, dengan bros kecil berbentuk bunga melati.
"Aku harus kelihatan seperti desainer sukses, bukan cuma istri yang hobi komplain soal handuk basah," gumam Fafa di depan cermin.
Sesampainya di sekolah, Fafa melihat Rayyan sedang berbincang di lapangan basket dengan seorang wanita yang mengenakan jilbab panjang berwarna hitam—sangat syar'i, sangat anggun, dan terlihat sangat berwibawa. Wanita itu memegang sebuah kitab tebal dan tertawa kecil mendengar sesuatu yang diucapkan Rayyan.
"Itu pasti Ustadzah Sarah Al-Azhar," batin Fafa. Hatinya mendadak merasa seperti jengkol yang digoreng terlalu lama: agak pahit dan keras.
Fafa mendekat dengan senyum yang dipaksakan. "Assalamualaikum, Mas Rayyan."
Rayyan menoleh dan matanya langsung berbinar. "Waalaikumussalam! Nah, ini dia istri saya, Fatimah. Fa, kenalkan ini Ustadzah Sarah."
"Ah, ini Ummi Fatimah? Masya Allah, aslinya lebih cantik daripada di foto yang sering ditunjukkan Ustadz Rayyan," ujar Ustadzah Sarah dengan suara yang sangat lembut dan tenang.
Fafa merasa sedikit "tertampar" oleh kelembutan itu. "Oh, Mas Rayyan sering tunjukin foto saya? Foto yang mana ya? Yang lagi pakai mukena atau yang lagi pegang ulekan?"
Rayyan tertawa canggung. "Yang lagi cantiklah, Fa."
"Tadi kami sedang diskusi soal metode menghafal cepat untuk santri milenial, Ummi Fatimah. Ustadz Rayyan ini sangat cerdas, idenya selalu segar," lanjut Ustadzah Sarah.
Fafa tersenyum tipis. "Oh, kalau soal ide segar, suami saya memang jagonya. Terutama ide-ide jahilnya."
Sepanjang perjalanan pulang, Fafa lebih banyak diam. Jakarta yang macet biasanya membuatnya mengomel, tapi kali ini ia hanya menatap keluar jendela.
"Fa, kamu kenapa? Kok diam saja? Lapar? Mau martabak?" tanya Rayyan khawatir.
"Nggak, Mas. Aku cuma lagi mikir, kayaknya aku perlu kursus bahasa Arab lagi deh. Biar kalau diajak diskusi kurikulum aku nyambung, nggak cuma nyambung kalau bahas harga kain doang."
Rayyan menepikan mobilnya sejenak. Ia menatap Fafa dengan tatapan serius tapi lembut. "Fa, kamu cemburu sama Ustadzah Sarah?"
"Siapa yang cemburu? Nggak ada waktu buat cemburu, Mas. Desainku lagi numpuk," elak Fafa, meski wajahnya merah padam.
"Dengar, Fa. Ustadzah Sarah itu rekan kerja yang hebat. Tapi dia itu... ya ustadzah. Kalau sama dia, aku diskusinya soal Nahwu dan Saraf. Tapi kalau sama kamu, aku diskusinya soal hidup.
Soal gimana cara ngadepin kamu yang kalau lapar galaknya melebihi singa, atau gimana cara kita bangun rumah tangga yang berkah."
Rayyan menggenggam tangan Fafa. "Kamu punya sesuatu yang nggak dia punya."
"Apa?"
"Sandal jepit ungu yang tertukar. Itu kunci akses ke hati saya yang nggak dimiliki lulusan Al-Azhar mana pun."
Fafa tak bisa menahan tawa. "Mas! Masih saja bawa-bahu sandal!"
Sesampainya di rumah, rasa cemburu Fafa menguap, tapi ia ingin sedikit mengerjai suaminya. Ia tahu Rayyan sangat tidak suka jika rumah berantakan saat ia ingin istirahat.
Fafa sengaja menaruh semua contoh kain desainnya di atas sofa tempat Rayyan biasa duduk. Ia juga menyalakan lilin aromaterapi yang baunya... sangat mirip dengan bau bumbu dapur.
"Fa, kok rumah baunya kayak... kayak tumis
bawang putih campur terasi?" tanya Rayyan saat masuk ke ruang tengah.
"Itu aroma relaksasi baru, Mas. Namanya 'Aroma Istri Solehot'. Biar Mas nggak lupa kalau di rumah ada istri yang nungguin pakai daster, bukan cuma ustadzah yang pakai jilbab panjang," goda Fafa sambil keluar dari dapur membawa sepiring... jengkol balado.
Rayyan melongo. "Fa, bukannya kita sudah sepakat nggak masak jengkol di apartemen?"
"Ini kiriman dari Kang Udin tadi sore, Mas. Katanya sebagai pengingat sejarah. Ayo makan, Mas. Katanya Mas kangen Puncak."
Rayyan menatap piring itu, lalu menatap Fafa. Ia tahu ia sedang "dihukum" secara halus. Rayyan tersenyum pasrah, lalu duduk di antara tumpukan kain Fafa.
"Oke, oke. Saya menyerah. Saya akan makan jengkol ini sampai habis, tapi syaratnya satu."
"Apa?"
"Kamu harus dengerin saya setoran hafalan Surah Yusuf. Biar kamu tahu, kalau Nabi Yusuf saja yang gantengnya luar biasa bisa menjaga hati, apalagi saya yang gantengnya cuma level 'lumayan' menurut survei kamu."
Malam itu, di tengah apartemen Jakarta yang modern, aroma jengkol bersaing dengan lantunan ayat suci. Fafa menyadari bahwa cemburu itu manusiawi, tapi percaya pada pasangan adalah kunci. Rayyan tetaplah Rayyan—laki-laki sarungan yang mungkin kadang-kadang membuat kesal dengan kebiasaannya, tapi hatinya telah terkunci rapat oleh sebuah insiden sandal di masa lalu.
"Mas," panggil Fafa saat mereka sedang mencuci piring bersama (Rayyan bagian membilas, Fafa bagian menyabun).
"Ya, Ummi?"
"Besok-besok, kalau Ustadzah Sarah tanya lagi soal metode menghafal, bilang saja metodenya adalah: 'Jangan pernah tukar sandal dengan santriwati lain'."
Rayyan tertawa kencang, suaranya memenuhi ruang apartemen yang hangat. "Siap, laksanakan! Tajwid cinta saya sudah waqaf di kamu, Fa. Nggak akan lanjut ke ayat lain."
Fafa tersenyum puas. Jakarta malam itu tidak terasa begitu gerah lagi. Karena baginya, sejauh apa pun godaan di luar sana, "Tanah Tinggi" di hatinya akan selalu milik Rayyan, dan Rayyan akan selalu tahu jalan pulang ke rumah—ke arah sandalnya yang asli.
Other Stories
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Ijr
hrj ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...