Bab 11 Inspeksi Mendadak Ummi
Jkam
Jakarta sedang berada di puncak sifat temperamentalnya. Panasnya menyengat, debunya sanggup membuat cucian yang baru dijemur langsung terlihat seperti peninggalan zaman purba, dan kemacetannya sanggup membuat orang paling sabar di dunia sekalipun ingin membaca doa Qunut Nazilah. Namun, di dalam apartemen lantai sepuluh milik Fafa dan Rayyan, suasana justru jauh lebih "mencekam" daripada kemacetan Jakarta.
Ponsel Fafa bergetar di atas meja kerja, tepat di samping sketsa busana Muslimah yang baru setengah jadi. Sebuah nama muncul di layar: Ummi (Ibu Mertua).
"Assalamualaikum, Fafa sayang. Ummi sama Abah sudah di stasiun Gambir. Ini lagi naik taksi menuju apartemen kamu. Mau kasih kejutan!" suara lembut namun penuh wibawa khas Ummi Pesantren terdengar dari seberang sana.
Fafa hampir saja menjatuhkan stylus pen-nya. "Wa-waalaikumussalam, Ummi? Sekarang? Tapi Ummi, Fafa belum... maksudnya, Mas Rayyan masih di sekolah..."
"Nggak apa-apa, Ummi cuma kangen. Katanya mau lihat gimana menantu kesayangan Ummi ini menata rumah tangga di kota. Oh, taksinya sudah sampai di depan lobi. Ummi tutup ya, Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam..." Fafa terpaku.
Ia melihat sekelilingnya. Apartemen itu tampak seperti medan perang antara seni dan kekacauan. Contoh kain berserakan di sofa, bungkus cemilan (yang seharusnya dilarang) mengintip dari balik bantal, dan yang paling parah: handuk basah Rayyan masih tergeletak dengan cantiknya di atas kursi makan.
"Mas Rayyan!!!" teriak Fafa ke udara kosong, seolah-olah suaminya bisa mendengar dari jarak sepuluh kilometer. "Kenapa Ummi nggak bilang-bilang kalau mau datang?!"
Fafa bergerak seperti atlet lari gawang. Ia menyambar handuk, membuang sampah, dan menyembunyikan tumpukan kain ke dalam lemari hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Ia segera berganti baju, memakai gamis yang paling sopan dan jilbab instan yang tampak bersahaja.
Ding-dong!
Fafa menarik napas panjang, memasang senyum paling manis (senyum level "menantu idaman mertua"), dan membuka pintu.
"Assalamualaikum, Sayang!" Ummi langsung memeluk Fafa dengan hangat. Abah Kyai berdiri di belakangnya dengan tas jinjing berisi, bisa ditebak, oleh-oleh dari kebun pesantren.
"Waalaikumussalam, Ummi, Abah. Silakan masuk. Maaf ya, berantakan banget, Fafa lagi banyak deadline," ujar Fafa sambil mencium tangan kedua mertuanya.
Abah Kyai mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Matanya yang tajam seolah bisa melihat debu sekecil apa pun. "Wah, apartemennya bagus. Modern. Tapi kok baunya... kayak bau bumbu dapur yang terbakar ya?"
Fafa meringis. Itu adalah sisa-sisa lilin aromaterapi "Aroma Istri" yang ia nyalakan semalam saat cemburu pada Ustadzah Sarah. "Oh, itu... itu pengharum ruangan model baru, Bah."
Ummi, seperti layaknya ibu mertua pada umumnya, langsung menuju jantung pertahanan sebuah rumah tangga: Dapur.
"Fafa, kalian masak apa hari ini? Ummi bawakan ayam kampung dari Puncak, tadinya mau Ummi masakkan opor kesukaan Rayyan," ujar Ummi sambil membuka kulkas.
Jantung Fafa berdegup kencang. Di dalam kulkas itu hanya ada telur, beberapa lembar roti tawar, dan botol saus sambal yang sudah mau habis. Tidak ada bahan makanan "nyata" karena Fafa terlalu sibuk menggambar.
"Eh, rencananya Fafa mau belanja sore ini, Ummi. Soalnya bahan-bahan segar di pasar dekat sini biasanya datang sore," Fafa berbohong demi keselamatan harga dirinya.
Ummi tersenyum simpul, jenis senyum yang membuat Fafa merasa Ummi sudah tahu segalanya. "Oh begitu. Ya sudah, mari kita masak ayam ini bersama. Ummi ajarkan cara potong ayam yang benar menurut syariat dan estetika kuliner pesantren."
Selama dua jam berikutnya, Fafa merasa seperti sedang mengikuti ujian skripsi jilid dua. Ummi mengajarinya cara mengulek bumbu tanpa membuat dapur berantakan, cara mengatur api agar santan tidak pecah, dan cara memastikan nasi pulen sempurna.
"Menjadi desainer itu bagus, Fafa. Tapi menjadi 'desainer' rasa di meja makan itu lebih penting untuk menjaga hati suami. Rayyan itu kalau sudah makan enak, dia lupa caranya marah," nasihat Ummi sambil mengaduk opor.
Saat matahari mulai terbenam, pintu apartemen terbuka. Rayyan masuk dengan wajah lelah, tapi langsung terbelalak melihat Abah sedang duduk membaca kitab di sofa dan Ummi sedang di dapur.
"Abah? Ummi? Kok ada di sini?"
"Kamu ini, Rayyan. Datang bukannya salim malah nanya," tegur Abah sambil tersenyum.
Rayyan segera mencium tangan kedua orang tuanya. Ia melihat ke arah Fafa yang sedang memegang ulekan dengan wajah lelah namun bangga. Rayyan mendekati istrinya dan berbisik, "Kamu nggak apa-apa? Nggak kena semprot Ummi, kan?"
"Hampir, Mas. Untung aku cepat tanggap," bisik Fafa.
Makan malam berlangsung dengan khidmat. Masakan kolaborasi Ummi dan Fafa ternyata luar biasa enak. Rayyan makan dengan lahap, menambah porsinya sampai tiga kali.
"Masakan kamu makin enak, Fa. Mirip masakan Ummi," puji Rayyan.
Ummi tersenyum puas. "Itu karena Fafa punya bakat. Hanya perlu sedikit bimbingan dan banyak latihan. Jangan terlalu sibuk sama gambar, Fafa. Kasihan perut suamimu kalau cuma dikasih roti setiap hari."
Fafa tertunduk malu, sementara Rayyan hanya bisa nyengir menahan tawa.
Setelah makan, Abah memanggil Rayyan dan Fafa untuk duduk di ruang tengah. Suasana mendadak menjadi serius.
"Rayyan, Fafa," buka Abah Kyai. "Abah dan Ummi ke sini bukan cuma mau kangen-kangenan. Abah mau tanya, bagaimana ibadah kalian di sini? Apakah kesibukan Jakarta membuat kalian lupa untuk setoran hafalan?"
Rayyan terdiam sejenak. "Alhamdulillah, Bah. Kami usahakan setiap habis Maghrib atau sebelum Subuh. Fafa sudah hafal separuh Surah Maryam."
"Bagus," Abah mengangguk. "Tapi ingat, menikah itu bukan cuma soal tinggal bersama. Menikah itu adalah perjalanan menuju rida Allah. Jangan sampai dunia membuat kalian lalai. Rayyan, jaga istrimu. Fafa, dukung suamimu."
Ummi kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dari tasnya. "Ini ada hadiah buat kalian. Biar kalian ingat selalu pada rumah kita di Puncak."
Fafa membuka bungkusan itu. Isinya adalah dua pasang sandal jepit baru yang dihiasi bordir nama mereka masing-masing. Di sandal Rayyan tertulis: "Sandal Rayyan - Milik Fafa", dan di sandal Fafa tertulis: "Sandal Fafa - Milik Rayyan".
"Ini biar nggak ada alasan tertukar lagi ya," gurau Ummi.
Semua tertawa. Namun, di balik tawa itu, Fafa merasakan sebuah kedamaian yang luar biasa. Kunjungan mendadak ini, yang awalnya ia takuti, ternyata menjadi pengingat bahwa ia tidak sendirian. Ia punya keluarga yang selalu mendukungnya, dan ia punya suami yang, meskipun kadang menyebalkan dengan sarung sembarangannya, adalah tiketnya menuju kebahagiaan yang lebih tinggi.
Malam itu, setelah Abah dan Ummi istirahat di kamar tamu, Fafa dan Rayyan berdiri di balkon melihat lampu-lampu Jakarta.
"Mas," panggil Fafa.
"Ya, Sayang?"
"Makasih ya sudah jadi penengah tadi pas Ummi periksa kulkas."
Rayyan merangkul bahu Fafa. "Nggak apa-apa. Besok kita isi kulkasnya bareng-bareng. Tapi jangan cuma isi jengkol ya, kasihan hidung Ummi kalau besok mau masak lagi."
Jakarta sedang berada di puncak sifat temperamentalnya. Panasnya menyengat, debunya sanggup membuat cucian yang baru dijemur langsung terlihat seperti peninggalan zaman purba, dan kemacetannya sanggup membuat orang paling sabar di dunia sekalipun ingin membaca doa Qunut Nazilah. Namun, di dalam apartemen lantai sepuluh milik Fafa dan Rayyan, suasana justru jauh lebih "mencekam" daripada kemacetan Jakarta.
Ponsel Fafa bergetar di atas meja kerja, tepat di samping sketsa busana Muslimah yang baru setengah jadi. Sebuah nama muncul di layar: Ummi (Ibu Mertua).
"Assalamualaikum, Fafa sayang. Ummi sama Abah sudah di stasiun Gambir. Ini lagi naik taksi menuju apartemen kamu. Mau kasih kejutan!" suara lembut namun penuh wibawa khas Ummi Pesantren terdengar dari seberang sana.
Fafa hampir saja menjatuhkan stylus pen-nya. "Wa-waalaikumussalam, Ummi? Sekarang? Tapi Ummi, Fafa belum... maksudnya, Mas Rayyan masih di sekolah..."
"Nggak apa-apa, Ummi cuma kangen. Katanya mau lihat gimana menantu kesayangan Ummi ini menata rumah tangga di kota. Oh, taksinya sudah sampai di depan lobi. Ummi tutup ya, Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam..." Fafa terpaku.
Ia melihat sekelilingnya. Apartemen itu tampak seperti medan perang antara seni dan kekacauan. Contoh kain berserakan di sofa, bungkus cemilan (yang seharusnya dilarang) mengintip dari balik bantal, dan yang paling parah: handuk basah Rayyan masih tergeletak dengan cantiknya di atas kursi makan.
"Mas Rayyan!!!" teriak Fafa ke udara kosong, seolah-olah suaminya bisa mendengar dari jarak sepuluh kilometer. "Kenapa Ummi nggak bilang-bilang kalau mau datang?!"
Fafa bergerak seperti atlet lari gawang. Ia menyambar handuk, membuang sampah, dan menyembunyikan tumpukan kain ke dalam lemari hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Ia segera berganti baju, memakai gamis yang paling sopan dan jilbab instan yang tampak bersahaja.
Ding-dong!
Fafa menarik napas panjang, memasang senyum paling manis (senyum level "menantu idaman mertua"), dan membuka pintu.
"Assalamualaikum, Sayang!" Ummi langsung memeluk Fafa dengan hangat. Abah Kyai berdiri di belakangnya dengan tas jinjing berisi, bisa ditebak, oleh-oleh dari kebun pesantren.
"Waalaikumussalam, Ummi, Abah. Silakan masuk. Maaf ya, berantakan banget, Fafa lagi banyak deadline," ujar Fafa sambil mencium tangan kedua mertuanya.
Abah Kyai mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Matanya yang tajam seolah bisa melihat debu sekecil apa pun. "Wah, apartemennya bagus. Modern. Tapi kok baunya... kayak bau bumbu dapur yang terbakar ya?"
Fafa meringis. Itu adalah sisa-sisa lilin aromaterapi "Aroma Istri" yang ia nyalakan semalam saat cemburu pada Ustadzah Sarah. "Oh, itu... itu pengharum ruangan model baru, Bah."
Ummi, seperti layaknya ibu mertua pada umumnya, langsung menuju jantung pertahanan sebuah rumah tangga: Dapur.
"Fafa, kalian masak apa hari ini? Ummi bawakan ayam kampung dari Puncak, tadinya mau Ummi masakkan opor kesukaan Rayyan," ujar Ummi sambil membuka kulkas.
Jantung Fafa berdegup kencang. Di dalam kulkas itu hanya ada telur, beberapa lembar roti tawar, dan botol saus sambal yang sudah mau habis. Tidak ada bahan makanan "nyata" karena Fafa terlalu sibuk menggambar.
"Eh, rencananya Fafa mau belanja sore ini, Ummi. Soalnya bahan-bahan segar di pasar dekat sini biasanya datang sore," Fafa berbohong demi keselamatan harga dirinya.
Ummi tersenyum simpul, jenis senyum yang membuat Fafa merasa Ummi sudah tahu segalanya. "Oh begitu. Ya sudah, mari kita masak ayam ini bersama. Ummi ajarkan cara potong ayam yang benar menurut syariat dan estetika kuliner pesantren."
Selama dua jam berikutnya, Fafa merasa seperti sedang mengikuti ujian skripsi jilid dua. Ummi mengajarinya cara mengulek bumbu tanpa membuat dapur berantakan, cara mengatur api agar santan tidak pecah, dan cara memastikan nasi pulen sempurna.
"Menjadi desainer itu bagus, Fafa. Tapi menjadi 'desainer' rasa di meja makan itu lebih penting untuk menjaga hati suami. Rayyan itu kalau sudah makan enak, dia lupa caranya marah," nasihat Ummi sambil mengaduk opor.
Saat matahari mulai terbenam, pintu apartemen terbuka. Rayyan masuk dengan wajah lelah, tapi langsung terbelalak melihat Abah sedang duduk membaca kitab di sofa dan Ummi sedang di dapur.
"Abah? Ummi? Kok ada di sini?"
"Kamu ini, Rayyan. Datang bukannya salim malah nanya," tegur Abah sambil tersenyum.
Rayyan segera mencium tangan kedua orang tuanya. Ia melihat ke arah Fafa yang sedang memegang ulekan dengan wajah lelah namun bangga. Rayyan mendekati istrinya dan berbisik, "Kamu nggak apa-apa? Nggak kena semprot Ummi, kan?"
"Hampir, Mas. Untung aku cepat tanggap," bisik Fafa.
Makan malam berlangsung dengan khidmat. Masakan kolaborasi Ummi dan Fafa ternyata luar biasa enak. Rayyan makan dengan lahap, menambah porsinya sampai tiga kali.
"Masakan kamu makin enak, Fa. Mirip masakan Ummi," puji Rayyan.
Ummi tersenyum puas. "Itu karena Fafa punya bakat. Hanya perlu sedikit bimbingan dan banyak latihan. Jangan terlalu sibuk sama gambar, Fafa. Kasihan perut suamimu kalau cuma dikasih roti setiap hari."
Fafa tertunduk malu, sementara Rayyan hanya bisa nyengir menahan tawa.
Setelah makan, Abah memanggil Rayyan dan Fafa untuk duduk di ruang tengah. Suasana mendadak menjadi serius.
"Rayyan, Fafa," buka Abah Kyai. "Abah dan Ummi ke sini bukan cuma mau kangen-kangenan. Abah mau tanya, bagaimana ibadah kalian di sini? Apakah kesibukan Jakarta membuat kalian lupa untuk setoran hafalan?"
Rayyan terdiam sejenak. "Alhamdulillah, Bah. Kami usahakan setiap habis Maghrib atau sebelum Subuh. Fafa sudah hafal separuh Surah Maryam."
"Bagus," Abah mengangguk. "Tapi ingat, menikah itu bukan cuma soal tinggal bersama. Menikah itu adalah perjalanan menuju rida Allah. Jangan sampai dunia membuat kalian lalai. Rayyan, jaga istrimu. Fafa, dukung suamimu."
Ummi kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dari tasnya. "Ini ada hadiah buat kalian. Biar kalian ingat selalu pada rumah kita di Puncak."
Fafa membuka bungkusan itu. Isinya adalah dua pasang sandal jepit baru yang dihiasi bordir nama mereka masing-masing. Di sandal Rayyan tertulis: "Sandal Rayyan - Milik Fafa", dan di sandal Fafa tertulis: "Sandal Fafa - Milik Rayyan".
"Ini biar nggak ada alasan tertukar lagi ya," gurau Ummi.
Semua tertawa. Namun, di balik tawa itu, Fafa merasakan sebuah kedamaian yang luar biasa. Kunjungan mendadak ini, yang awalnya ia takuti, ternyata menjadi pengingat bahwa ia tidak sendirian. Ia punya keluarga yang selalu mendukungnya, dan ia punya suami yang, meskipun kadang menyebalkan dengan sarung sembarangannya, adalah tiketnya menuju kebahagiaan yang lebih tinggi.
Malam itu, setelah Abah dan Ummi istirahat di kamar tamu, Fafa dan Rayyan berdiri di balkon melihat lampu-lampu Jakarta.
"Mas," panggil Fafa.
"Ya, Sayang?"
"Makasih ya sudah jadi penengah tadi pas Ummi periksa kulkas."
Rayyan merangkul bahu Fafa. "Nggak apa-apa. Besok kita isi kulkasnya bareng-bareng. Tapi jangan cuma isi jengkol ya, kasihan hidung Ummi kalau besok mau masak lagi."
Other Stories
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...