Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 13 Jarak, Panggilan Pengabdian, Dan Ujian Rindu


Kehidupan di Jakarta mulai terasa stabil bagi Fafa dan Rayyan. Butik Fafa, meski sempat diterjang badai plagiarisme, perlahan namun pasti mulai menemukan pelanggan setianya. Orang-orang mulai mengenal bahwa "Fafa’s Tajwid Boutique" bukan sekadar soal pakaian, melainkan soal kualitas dan ketulusan di setiap jahitannya. Rayyan pun semakin mapan sebagai guru yang dicintai santri-santrinya. Namun, sebuah perubahan besar datang tanpa mengetuk pintu, membawa ujian baru yang selama ini belum pernah mereka hadapi secara nyata: Jarak.

Malam itu, hujan mengguyur Jakarta dengan ritme yang malas. Rayyan pulang lebih lambat dari biasanya. Wajahnya tidak memancarkan kelelahan biasa, melainkan semacam kegelisahan yang ia coba sembunyikan di balik senyum tipisnya.

"Mas, kok tumben jam segini baru sampai? Macetnya lebih parah ya?" tanya Fafa sambil menyodorkan segelas air jahe hangat.

Rayyan duduk di sofa, memijat pangkal hidungnya. "Bukan macet, Fa. Tadi ada pertemuan mendadak dengan yayasan. Mereka... mereka mau buka cabang pesantren baru di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lokasinya agak terpencil, tapi potensinya besar untuk dakwah."

Fafa mengangguk, masih belum menangkap arah pembicaraan. "Wah, bagus dong, Mas. Syiar agama makin luas. Terus?"

Rayyan menatap mata Fafa, ada binar ragu di sana. "Yayasan menunjuk Mas untuk jadi ketua tim kurikulum di sana selama enam bulan pertama. Mas harus memastikan sistem belajarnya berjalan sesuai standar pusat. Itu artinya..."

"Itu artinya Mas harus tinggal di sana?" potong Fafa. Gelas jahe di tangannya mendadak terasa sangat panas.

Rayyan mengangguk pelan. "Hanya enam bulan, Fa. Mas pulang setiap dua minggu sekali. Tapi ini amanah besar dari Abah juga. Abah ingin Mas belajar memimpin dari nol di lapangan yang menantang."

Fafa terdiam. Enam bulan. Bagi orang lain mungkin terasa sebentar, tapi bagi pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya membangun sarana rumah tangga di apartemen mungil, enam bulan terasa seperti selamanya.

Bayangan harus bangun tahajud sendiri, makan sahur sendiri, dan menghadapi kecoak di kamar mandi sendirian membuat nyali Fafa menciut.
Perang Batin dan Diplomasi Sepertiga Malam
Malam itu, apartemen yang biasanya penuh dengan tawa dan debat ringan soal jengkol mendadak senyap. Fafa tidur membelakangi Rayyan, bukan karena marah, tapi karena ia tidak ingin suaminya melihat matanya yang mulai sembab.

"Fa..." bisik Rayyan lembut. "Kalau kamu nggak izinkan, Mas nggak akan ambil. Mas akan bilang ke yayasan kalau Mas belum siap meninggalkan istri."

Fafa menarik napas panjang, berusaha menenangkan badai di dadanya. Ia teringat kembali semua nasihat Ummi dan Abah di Puncak. Ia teringat filosofi Tajwid Cinta yang sering mereka bahas.

"Bukannya aku nggak izinkan, Mas," ujar Fafa akhirnya, suaranya parau. "Aku cuma... aku cuma belum terbiasa. Tapi kalau aku melarang Mas berangkat demi dakwah, bukannya aku egois? Aku nggak mau jadi penghalang buat kebaikan yang mau Mas lakukan."

Fafa berbalik, menatap Rayyan di bawah temaram lampu tidur. "Tapi janji ya, Mas. Jangan sampai di sana Mas pangling sama aku karena jarang ketemu. Jangan sampai makhraj 'Rindu' Mas tertukar sama makhraj 'Sibuk'."

Rayyan tersenyum, menarik Fafa ke dalam pelukannya. "Janji. Justru jarak ini bakal jadi hukum Mad dalam cinta kita. Makin panjang jedanya, makin dalam maknanya saat kita bertemu kembali."

Hari keberangkatan pun tiba. Fafa yang semula sedih, kini berubah menjadi "Manajer Logistik" yang sangat protektif. Ia memasukkan segala hal ke dalam koper Rayyan seolah-olah suaminya itu akan pergi ke kutub utara, bukan ke perbatasan Jawa Tengah.

"Mas, ini sarung harus bawa sepuluh. Kalau kotor di sana kan belum tentu ada laundry secepat di Jakarta," omel Fafa sambil menjejalkan kain ke dalam koper.

"Fa, ini koper sudah hampir meledak. Mas cuma enam bulan, bukan mau pindah warga negara," protes Rayyan sambil mencoba menutup koper yang sudah menggembung.

"Belum selesai! Ini sambal teri kacang buatan aku, ini madu, ini obat maag, dan ini..." Fafa menyodorkan sebuah kotak kecil.

Rayyan membukanya. Di dalamnya ada sepasang sandal jepit baru berwarna hijau cerah. Di bagian talinya tertulis spidol permanen: "Harta Milik Fafa. Jangan Berani Tertukar!"

Rayyan tertawa terbahak-bahak. "Fa, kamu benar-benar trauma ya sama masalah sandal?"

"Bukan trauma, Mas. Itu tindakan preventif. Biar kalau ada ustadzah-ustadzah di sana yang mau mendekat, dia lihat sandal Mas dan tahu kalau Mas sudah ada yang punya," jawab Fafa sambil mengerucutkan bibirnya.

Rayyan menggenggam tangan Fafa sebelum melangkah ke mobil jemputan. "Jaga butik baik-baik, Fa. Jaga hafalan kamu juga. Kalau rindu, kirimkan saja lewat Surah Al-Fatihah. Mas bakal dengar di sini."

Minggu Pertama LDR: Drama Sunyi di Apartemen
Minggu pertama tanpa Rayyan adalah ujian realitas bagi Fafa. Apartemen itu mendadak terasa sepuluh kali lebih luas dan seratus kali lebih sunyi. Tidak ada lagi suara sarung yang bergesekan dengan lantai, tidak ada lagi perdebatan soal siapa yang harus mencuci piring, dan yang paling parah: tidak ada lagi imam di belakangnya saat salat.

Fafa merasa seperti hukum Iqlab—suaranya berubah, semangatnya terbalik.

"Zah," curhat Fafa lewat telepon kepada Azizah di Puncak. "Rasanya aneh banget. Masak nasi cuma sedikit, tapi makannya nggak habis-habis karena nggak ada teman rebutan lauk."

Azizah di seberang sana tertawa. "Sabar, Fa. Ini namanya ujian kenaikan kelas dalam rumah tangga. Dulu di pesantren kan kalian dipisahkan oleh tembok asrama, sekarang cuma dipisahkan oleh beberapa ratus kilometer. Doa itu melampaui jarak, Fa."

Nasihat Azizah sedikit menenangkan, tapi ujian sesungguhnya datang saat malam Jumat. Biasanya, mereka membaca Al-Kahfi bersama. Kali ini, Fafa harus membacanya sendirian di depan laptop melalui video call.

"Mas, suaranya putus-putus! Sinyal di sana buruk banget ya?" keluh Fafa, menatap layar yang menunjukkan wajah Rayyan yang sedang "lag" dengan ekspresi mulut terbuka.

"Sabar, Fa... di sini... sinyalnya... harus... manjat pohon mangga... dulu..." suara Rayyan terdengar seperti robot yang sedang kehabisan baterai.

Fafa tertawa dalam tangisnya. Pemandangan Rayyan yang rela keluar gedung pesantren hanya demi mencari sinyal di bawah pohon mangga di tengah malam adalah bukti cinta yang tidak ia temukan di desain baju mana pun.

Ujian rindu mulai dibumbui oleh ujian kepercayaan. Suatu sore, Fafa melihat unggahan foto di akun Instagram yayasan pesantren cabang baru tersebut. Di foto itu, tampak tim kurikulum sedang makan bersama. Di sebelah Rayyan, duduk seorang wanita muda berhijab rapi yang sedang menjelaskan sesuatu pada papan tulis. Keterangannya berbunyi: "Ustadz Rayyan dan Ustadzah Hana sedang merumuskan kurikulum baru."

Fafa merasakan dadanya berdenyut. "Hana? Siapa lagi ini? Kenapa namanya bagus-bagus banget sainganku?" gumam Fafa sambil men-zoom foto tersebut hingga pecah-pecah.

Pikiran negatif mulai merayap. Apakah Rayyan di sana betah karena lingkungannya nyaman? Apakah Rayyan merasa lebih "nyambung" bicara dengan ustadzah yang paham kitab gundul daripada dengan dirinya yang hanya paham pola kain?

Namun, sebelum Fafa sempat tenggelam dalam drama kecemburuan, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Itu adalah foto selfie Rayyan yang tampak konyol dengan hidung merah karena kedinginan, memakai sandal jepit hijau bertuliskan "Harta Milik Fafa".

Pesan di bawahnya berbunyi: "Fa, hari ini Mas diskusi sama tim sampai malam. Ustadzah Hana ini ternyata muridnya Abah juga, dia sudah dianggap kayak adik sendiri. Tapi tenang saja, nggak ada yang bisa ngalahin desainer favorit Mas. Mas lebih kangen dengerin kamu ngomel soal token listrik daripada dengerin rapat kurikulum. Doakan Mas kuat di sini ya, sandalnya masih aman, nggak tertukar."

Fafa tersenyum lebar. Ia merasa bodoh karena sempat meragu. Ia menyadari bahwa jarak bukanlah untuk memisahkan, melainkan untuk menguji seberapa kuat akar kepercayaan yang mereka tanam.




Other Stories
(bukan) Tentang Kita

Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Balon Kuning Di Ujung Jalan

Liburan ke rumah teman masa SD sangat menyenangkan apalagi diperkenalkan berbagai permaina ...

Berkemah, Jangan Berlemah!

Dinda, Skye, dan Sally semangat untuk sebuah liburan seru untuk berkemah. Namun dengan Sta ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Download Titik & Koma