Bab 15 Liburan Yang Tertunda
Jakarta pagi itu terasa seperti milik mereka berdua. Setelah drama LDR yang menguras air mata dan energi, Rayyan akhirnya kembali secara permanen ke apartemen lantai sepuluh. Namun, kembalinya Rayyan bukan berarti ketenangan total bagi Fafa. Justru, ini adalah awal dari sebuah rencana besar yang sudah disusun Rayyan selama ia mendekam di perbatasan Jawa Tengah tanpa sinyal: Operasi Balas Dendam Liburan.
"Fa, kita sudah setahun nikah dan liburan paling jauh kita cuma ke pasar Tanah Abang buat cari kain," ujar Rayyan sambil menyesap kopi paginya. Ia sudah rapi mengenakan kaos polo dan celana kargo, tampak sangat siap untuk berpetualang.
Fafa yang sedang mengoles selai ke roti tawar mengernyit. "Lho, kan waktu itu kita ke Puncak, Mas. Itu kan liburan."
"Puncak itu pulang kampung, Fa. Ke rumah Abah itu namanya sowan, bukan liburan. Liburan itu kalau kita pergi ke tempat yang nggak ada bau jengkol Kang Udin sama sekali," balas Rayyan dengan binar jenaka di matanya. "Aku sudah pesan tiket. Besok kita ke Yogyakarta. Kita bakal road trip pakai mobil, biar puas lihat pemandangan."
Fafa hampir tersedak rotinya. "Besok? Mas, butik aku gimana? Aku baru saja selesai kontrak besar!"
"Butik aman. Mas sudah minta tolong Sarah buat jaga. Ini perintah suami, Sayang. Kita butuh recharge tajwid hati kita sebelum masuk ke fase perjuangan berikutnya."
Persiapan liburan ternyata menjadi medan perang baru. Fafa, sebagai desainer, merasa setiap langkah di Malioboro atau setiap sujud di Masjid Gedhe Kauman harus didukung oleh kostum yang serasi. Ia mulai mengeluarkan koper-koper besarnya.
"Mas, aku harus bawa gamis seri 'Ikhfa' yang warna mint buat di Candi Borobudur, terus setelan 'Izhar' yang putih buat di pantai, sama..."
"Fa, kita cuma pergi tiga hari, kenapa koper kamu kayak mau pindah domisili?" Rayyan menatap horor tumpukan baju di atas kasur. "Kita ini mau liburan, bukan mau fashion show keliling Jogja."
"Mas Rayyan nggak paham. Foto itu abadi, Mas! Nanti kalau kita punya anak cucu, aku mau mereka lihat kalau Ibunya itu selalu modis dan syar'i."
Rayyan akhirnya mengalah, namun ia menyelundupkan sesuatu ke dalam koper Fafa: sebuah kantong plastik berisi mi instan cup dan kerupuk kaleng. "Jaga-jaga kalau lidah kamu nggak cocok sama gudeg yang manisnya kayak janji kampanye," bisiknya pelan
Perjalanan dimulai. Rayyan di balik kemudi, dan Fafa sebagai co-pilot yang bertugas menjaga camilan dan menentukan daftar putar audio. Awalnya, suasana sangat romantis. Mereka berkendara menembus Tol Trans-Jawa sambil melantunkan murottal Surah Ar-Rahman bersama.
"Dunia terasa indah ya, Mas, kalau kita begini terus," ujar Fafa sambil menatap hamparan sawah di daerah Brebes.
"Iya, Fa. Asalkan kamu jangan ketiduran pas aku lagi nyetir," balas Rayyan.
Namun, romansa itu hanya bertahan sampai daerah Semarang. Gara-gara Fafa terlalu asyik mengedit foto untuk konten Instagram butiknya, ia salah memberikan instruksi arah. Mereka terjebak di jalanan kecil di tengah hutan jati yang gelap karena mengikuti aplikasi navigasi yang tampaknya sedang "mabuk".
"Fa, ini kok jalannya makin sempit? Kok kanan kiri cuma pohon jati? Kamu yakin ini jalan ke Jogja?" tanya Rayyan, suaranya mulai was-was.
"Kata Google Maps begitu, Mas! 'Belok kanan menuju jalan kenangan', eh maksudnya 'jalan setapak'."
"Itu bukan jalan setapak, itu jalan menuju uji nyali!" Rayyan mengerem mendadak saat di depan mereka ada seekor sapi yang sedang tertidur dengan santainya di tengah jalan.
"Mas, sapinya nggak mau minggir! Coba diklakson pakai nada tajwid!" seru Fafa panik.
Rayyan malah tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan istrinya. "Sapi nggak paham tajwid, Fa. Dia cuma paham rumput." Akhirnya, dengan penuh kesabaran, Rayyan turun dari mobil, mengelus kepala sapi itu sambil membacakan selawat (yang entah kenapa berhasil membuat sapi itu bangun dan menepi), lalu mereka kembali ke jalur yang benar.
Mereka akhirnya sampai di Yogyakarta tengah malam. Keesokan harinya, mereka mengunjungi Masjid Gedhe Kauman untuk salat Subuh berjamaah. Udara Jogja yang tenang membuat hati Fafa terasa damai.
Namun, tragedi klasik kembali menghantui. Setelah selesai salat, Rayyan keluar lebih dulu dan menunggu di serambi. Saat Fafa keluar, ia melihat Rayyan sedang menatap barisan sandal dengan wajah pucat.
"Mas, kenapa? Jangan bilang..."
"Sandal hijau Mas, Fa. Hilang sebelah."
Fafa ingin marah tapi ingin tertawa. "Mas Rayyan! Sudah aku bilang tulis pakai spidol permanen yang gede!"
"Sudah, Fa! Masih ada tulisannya 'Milik Fafa'.
Kayaknya ada yang ambil karena saking bagusnya tulisan kamu."
Saat mereka sedang bingung, seorang bapak tua mendekat sambil membawa sebuah sandal hijau. "Mas, ini sandalnya ya? Tadi ada anak kecil yang main-main, dibawa lari sampai ke tempat wudu putra sebelah sana."
Rayyan menghela napas lega seolah baru saja menemukan emas batangan. Ia segera memakai sandalnya dan menggandeng tangan Fafa erat. "Oke, fiks. Jogja indah, tapi keamanan sandal kita tetap prioritas utama."
Malam terakhir, Rayyan mengajak Fafa ke Bukit Bintang. Dari ketinggian, mereka bisa melihat kerlip lampu kota Yogyakarta yang seperti hamparan berlian. Suasananya sangat dingin, membuat Fafa merapatkan jaketnya.
Rayyan tiba-tiba berdiri di belakang Fafa, menyampirkan sarungnya ke bahu Fafa—sebuah gerakan klasik yang selalu membuat Fafa merasa kembali ke Puncak.
"Fa," panggil Rayyan pelan.
"Ya, Mas?"
"Makasih ya sudah mau ikut dalam 'Operasi Balas Dendam' ini. Mas tahu selama ini Mas banyak kurangnya. Banyak ninggalin kamu, sering bikin kamu pusing sama kebiasaan Mas."
Fafa berbalik, menatap wajah suaminya yang terkena bias cahaya bulan. "Mas, liburan itu bukan soal tempatnya. Mau di Jogja, di Puncak, atau di pom bensin sekalipun, asalkan sama Mas, aku bahagia. Asalkan Mas tetap jadi imam aku yang benerin bacaan Al-Qur'an aku."
Rayyan merengkuh wajah Fafa dengan kedua tangannya. "Setelah liburan ini, perjuangan kita bakal makin berat, Fa. Mas mau kita mulai mikirin soal masa depan yang lebih serius. Mas mau kita... Mas mau kita segera punya 'santri' kecil di rumah kita sendiri."
Wajah Fafa mendadak merah padam. "Mas Rayyan... itu namanya bukan liburan, itu namanya program jangka panjang."
"Program jangka panjang yang butuh rida Allah," bisik Rayyan lembut.
Di bawah langit Yogyakarta yang bertabur bintang, mereka menyadari bahwa liburan ini bukan hanya untuk melepas penat, tapi untuk memperkuat simpul ikatan mereka.
Other Stories
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Cahaya Dari Menara Camlica
Fatimah, seorang gadis sederhana asal Jakarta, tidak pernah menyangka bahwa sujud-sujud pa ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...