Bab 19 Begadang Berjamaah
Kehidupan di Pesantren Al-Ikhlas setelah kehadiran Ahmad Rayyan Al-Fatih berubah menjadi sebuah simfoni yang acak-acakan namun merdu. Jika dulu Fafa dan Rayyan hanya perlu mengkhawatirkan makhraj huruf masing-masing, kini mereka harus belajar menginterpretasikan "makhraj" tangisan bayi di jam-jam yang tidak masuk akal.
Pukul dua pagi di Puncak bukan lagi waktu untuk sekadar bermimpi indah di bawah selimut tebal. Bagi Rayyan, itu adalah waktu "dinas malam".
"Mas... Al-Fatih sepertinya pup," bisik Fafa dengan suara serak, matanya hanya terbuka satu milimeter. Rasa kantuknya terasa lebih berat daripada gulungan kain sutra di butiknya.
Rayyan, yang baru saja memejamkan mata setelah tadarus, segera bangun dengan gerakan otomatis yang ia pelajari secara kilat dalam seminggu terakhir. "Tenang, Ummi. Biar Abu Al-Fatih yang turun tangan. Ini adalah hukum Mad Lazim dalam kepengasuhan: panjang perjuangannya, tapi harus dilaksanakan dengan berat hati yang ikhlas."
Fafa tertawa kecil di tengah kantuknya. Melihat Rayyan yang dengan sigap mengganti popok sambil bersenandung pelan adalah pemandangan yang lebih indah daripada fashion show manapun di Jakarta. Rayyan tidak lagi memakai parfum kayu cendana; ia kini beraroma minyak telon dan bedak bayi, namun bagi Fafa, Rayyan belum pernah terlihat sejantan ini.
Setelah masa nifas selesai, Fafa tidak bisa sepenuhnya meninggalkan dunia desain. Bisnisnya di Jakarta sedang di puncak popularitas. Namun, membawa bayi ke Jakarta yang penuh polusi belum menjadi pilihan utama.
Akhirnya, sudut rumah kayu mereka di Puncak disulap menjadi studio desain dadakan.
Pemandangan sehari-hari Fafa kini adalah: tangan kanan memegang stylus pen di atas tablet grafis, sementara tangan kiri menepuk-nepuk punggung Al-Fatih yang sedang tertidur di gendongan kain jarik.
"Mas, lihat desain ini. Aku beri nama 'Seri Safar'. Konsepnya baju muslimah yang nyaman dipakai menggendong anak tapi tetap kelihatan anggun," pamer Fafa saat Rayyan pulang dari mengajar di madrasah.
Rayyan mengamati layar tablet itu dengan saksama. "Bagus, Fa. Tapi itu di bagian bahunya, apa nggak terlalu polos? Bagaimana kalau dikasih aksen sedikit, kayak simbol Waqaf? Artinya, meskipun sibuk jalan-jalan atau urus anak, tetap harus ingat berhenti sejenak buat salat."
Fafa tertegun. "Mas... ide kamu makin brilian ya sejak jadi Bapak-bapak."
"Tentu saja. Inspirasi itu datang dari popok yang penuh dan tangisan tengah malam, Fa," canda Rayyan sambil mengambil alih Al-Fatih dari gendongan Fafa agar istrinya bisa beristirahat sejenak.
Tantangan menjadi orang tua baru bukan hanya soal fisik, tapi juga soal perbedaan pendapat dengan "generasi senior". Suatu sore, Ummi masuk ke kamar dengan membawa sebotol kecil madu dan air zam-zam.
"Fafa, ini buat Al-Fatih. Kasih sedikit di bibirnya supaya dia cepat bicara dan suaranya merdu kalau ngaji nanti," ujar Ummi dengan keyakinan penuh.
Fafa, yang sudah banyak membaca buku parenting modern, merasa ragu. "Tapi Ummi, kata dokter, bayi di bawah enam bulan cuma boleh minum ASI. Nanti kalau pencernaannya kaget gimana?"
Suasana mendadak kaku. Rayyan yang sedang melipat sarung di pojok ruangan langsung merasakan "tegangan tinggi" antara istri dan ibunya. Ini adalah ujian bagi seorang suami: menjadi jembatan antara dua wanita yang paling dicintainya.
Rayyan mendekat, merangkul bahu Ummi dengan lembut sembari menggenggam tangan Fafa. "Ummi, terima kasih perhatiannya buat Al-Fatih. Niat Ummi mulia sekali. Tapi, bagaimana kalau madunya kita simpan dulu? Kita tunggu sampai Al-Fatih umur enam bulan, pas dia mulai makan. Nanti pas suapan pertama, Ummi yang kasih madunya sebagai tanda berkah. Jadi, kita ikut aturan kesehatan sekaligus ikut tradisi Ummi di waktu yang tepat."
Ummi terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Ya sudah, kalau itu yang terbaik menurut kalian. Yang penting Al-Fatih sehat."
Setelah Ummi keluar, Fafa menghela napas lega. "Makasih ya, Mas. Aku tadi hampir saja panik."
"Sama-sama, Ummi Al-Fatih. Dalam rumah tangga, ada kalanya kita harus pakai hukum Ikhfa: menyamarkan ego kita supaya kedamaian tetap terjaga. Nggak semua perdebatan harus dimenangkan dengan suara keras, kan?"
Suatu hari, Kang Udin meminta izin untuk menggendong Al-Fatih. Dengan tangan yang sudah dicuci bersih (dan dipastikan tidak bau jengkol), Kang Udin menimang-nimang bayi itu.
"Masya Allah, Mas Rayyan... ini Al-Fatih wajahnya mirip banget sama Mbak Fafa pas lagi marah, tapi matanya teduh kayak Mas Rayyan pas lagi khutbah Jumat," puji Kang Udin.
Tiba-tiba, Al-Fatih tertawa kencang. Itu adalah tawa pertama Al-Fatih yang sangat jelas. Seluruh orang di dapur pesantren ikut bersorak.
"Lihat! Dia suka sama Kang Udin!" seru Rayyan bangga.
"Bukan suka, Mas," sela Fafa sambil menunjuk ke arah baju Kang Udin. "Al-Fatih kayaknya tertawa karena melihat gantungan kunci sandal jepit di pinggang Kang Udin. Ternyata, hobi keluarga ini terhadap sandal sudah turun ke anak kita."
Rayyan tertawa terbahak-bahak. "Yah, genetik memang tidak pernah berbohong, Fa. Sepertinya Al-Fatih memang ditakdirkan untuk melanjutkan dinasti Tajwid Cinta kita."
Ketika Al-Fatih akhirnya tertidur pulas di boks bayinya, Fafa dan Rayyan duduk di teras kecil mereka. Dinginnya Puncak malam itu terasa sangat syahdu. Mereka saling menyandarkan kepala, menatap bayangan pohon pinus yang menari tertiup angin.
"Mas, aku nggak sangka ya. Dari mulai kita berantem soal sandal, terus Mas ninggalin aku ke Jakarta, sampai sekarang kita sudah punya malaikat kecil ini," bisik Fafa.
Rayyan menggenggam jemari Fafa, memainkannya dengan lembut. "Hidup itu kayak belajar Al-Qur'an, Fa. Awalnya kita susah payah kenalan sama huruf-hurufnya. Terus kita belajar menyambungnya jadi kata. Sekarang, kita lagi belajar membaca 'ayat-ayat' kehidupan yang lebih kompleks. Tapi asalkan kita bacanya bareng-bareng, dan makhraj niat kita cuma buat Allah, insya Allah semuanya bakal terdengar indah."
"Mas..."
"Ya?"
"Nanti kalau Al-Fatih sudah besar, aku mau dia jadi Hafiz yang juga paham seni. Aku mau dia melihat keindahan Tuhan lewat warna dan nada," ujar Fafa penuh harap.
"Insya Allah, Fa. Tugas kita sekarang cuma satu: jadi contoh yang baik. Dia nggak akan dengar apa yang kita katakan kalau dia nggak lihat apa yang kita lakukan."
Tiba-tiba, terdengar suara Oeeeek! dari dalam kamar.
Fafa dan Rayyan saling pandang, lalu tertawa bersamaan.
"Nah, itu dia. Panggilan 'jihad' tengah malam sudah datang. Ayo, Abu Al-Fatih, waktunya ganti popok!" seru Fafa semangat.
Rayyan berdiri, merapikan sarungnya dengan gagah. "Siap, Ummi! Demi Al-Fatih, Abu siap tempur melawan bau pup di sepertiga malam!"
Other Stories
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...