Bab 22 Pondasi Keabadian
Puncak sedang dalam kondisi paling melankolis. Kabut yang turun tidak lagi hanya membawa hawa dingin, melainkan seolah membawa selimut duka yang lembut namun menyesakkan. Di dalam kamar utama kediaman pengasuh Pesantren Al-Ikhlas, waktu seolah berhenti berdetak. Abah Kyai, sosok yang selama puluhan tahun menjadi makhraj utama bagi ribuan santri, telah menyelesaikan perjalanan dunianya dengan sangat tenang.
Fafa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Rayyan yang duduk bersimpuh di samping tempat tidur almarhum Abah. Rayyan tidak menangis dengan suara keras. Ia hanya menunduk, bahunya bergetar sangat halus, sementara jemarinya masih menggenggam tasbih kayu milik ayahnya.
"Mas," bisik Fafa pelan, mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Rayyan.
Rayyan menoleh. Matanya merah, namun ada kedamaian yang aneh di sana. "Fa... Abah pergi tepat setelah menyelesaikan bacaan Khatam-nya. Beliau tersenyum. Beliau pergi seperti hukum Waqaf Tamm—berhenti di tempat yang sempurna, pada makna yang sudah selesai."
Fafa memeluk suaminya dari belakang, memberikan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan. Kehilangan Abah bukan hanya kehilangan orang tua bagi mereka, tapi kehilangan kompas moral yang selama ini menjaga ritme hidup mereka di Tanah Tinggi.
Pemakaman Abah dihadiri oleh ribuan pelayat. Jalanan Puncak yang berkelok-kelok tertutup oleh lautan manusia berbaju putih. Al-Fatih, yang kini mulai mengerti arti kehilangan, menggandeng erat tangan Abahnya.
"Abi, kenapa Abah Kyai ditutup tanah?" tanya Al-Fatih polos.
Rayyan berjongkok, menatap mata putranya yang jernih. "Karena Abah Kyai itu seperti benih, Sayang. Beliau ditanam di bumi supaya nanti tumbuh menjadi pohon yang besar di Surga. Tugas kita sekarang adalah menyirami benih itu dengan doa."
Setelah masa duka berlalu, realitas besar menghantam Rayyan. Ia kini resmi menjadi pengasuh utama Pesantren Al-Ikhlas. Laki-laki yang dulu dikenal sebagai "Ustadz Sandal Jepit" kini harus memimpin lembaga besar dengan ribuan nyawa yang menggantungkan ilmu padanya.
Fafa pun harus beradaptasi. Ia bukan lagi sekadar desainer Dubai yang glamor. Ia kini adalah "Nyai" atau Ummi bagi para santriwati. Ia harus menyeimbangkan antara pesanan baju dari luar negeri dan mendengarkan curhatan santriwati yang rindu rumah atau yang kesulitan menghafal bait-bait Alfiyah.
"Mas, aku takut aku nggak bisa sehebat Ummi," ujar Fafa suatu malam di ruang kerja mereka yang kini penuh dengan kitab-kitab peninggalan Abah.
Rayyan menatap istrinya, lalu mengambil sebuah penggaris pola milik Fafa. "Fa, lihat penggaris ini. Kalau kamu pakai ini buat gambar garis lurus, hasilnya pasti lurus. Tapi kalau kamu pakai ini buat ukur kebaikan hati orang, nggak akan bisa.
Jangan jadi Ummi. Jadilah Fafa. Ummi punya caranya sendiri, dan kamu punya estetika sendiri untuk menyentuh hati para santriwati."
Di bawah kepemimpinan Rayyan dan Fafa, Al-Ikhlas mengalami transformasi unik. Fafa membangun sebuah workshop keterampilan di dalam pesantren. Ia tidak hanya mengajar mengaji, tapi juga mengajar desain grafis dan tata busana berbasis syariah.
"Ilmu agama adalah pondasinya, tapi kemandirian ekonomi adalah pagarnya," jelas Fafa kepada para santriwati.
Rayyan pun melakukan hal yang sama. Ia mengintegrasikan teknologi dalam hafalan Al-Qur'an. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah: hukum sandal jepit. Rayyan membangun sebuah rak sandal rapi yang menggunakan sistem barcode (ide dari Fafa), sehingga tidak ada lagi drama sandal tertukar di masjid.
"Abi, kalau Al-Fatih yang jaga rak sandalnya, boleh nggak?" tanya Al-Fatih yang kini sudah sangat mahir mengoperasikan tablet.
"Boleh, asal Al-Fatih jangan minta upah pakai jengkol Kang Udin terus ya," gurau Rayyan.
Ujian Kesehatan Ummi dan Keajaiban Jengkol Terakhir
Tantangan belum usai. Tak lama setelah kepergian Abah, kondisi kesehatan Ummi menurun karena faktor usia dan kerinduan pada almarhum suaminya. Ummi sering lupa makan dan hanya ingin duduk di teras masjid, menanti sosok Abah yang biasanya pulang dari mengajar.
Fafa merasa sedih melihat Ummi yang semakin kurus. Ia mencoba segala masakan, tapi Ummi tetap kehilangan selera. Hingga suatu hari, Fafa mendapatkan ide gila.
"Kang Udin, kita masak jengkol," ujar Fafa mantap.
"Lho, Mbak Fafa? Ummi kan lagi sakit, apa nggak keganggu baunya?"
"Ini bukan jengkol biasa, Kang. Kita masak pakai resep rahasia Abah yang pernah beliau ceritakan ke aku dulu. Jengkol yang direbus tujuh kali pakai kopi dan daun salam, lalu dibalado manis."
Saat aroma jengkol itu menguar dari dapur, Ummi yang sedang melamun di teras tiba-tiba menoleh. Matanya yang sayu mendadak berbinar. Ia teringat masa-masa awal pernikahannya dengan Abah, di mana mereka sering makan jengkol bersama di bawah pohon pinus karena hanya itu yang mereka punya saat membangun pesantren dari nol.
"Fafa... itu bau masakan Abah?" tanya Ummi pelan.
Fafa menyuapi Ummi dengan penuh kasih. Keajaiban terjadi; Ummi mulai makan dengan lahap. Suasana duka perlahan mencair berganti dengan nostalgia yang hangat. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kepergian Abah, tawa terdengar kembali di rumah utama.
Suatu malam, Fafa mendapatkan email bahwa ia mendapatkan penghargaan sebagai "Muslim Entrepreneur of the Year" dan diundang untuk tinggal di Paris selama setahun untuk menjadi mentor desain internasional. Itu adalah mimpi tertinggi bagi setiap desainer.
Fafa menatap layar laptopnya, lalu menatap Rayyan yang sedang mengoreksi setoran hafalan santri di depannya. Ia juga menatap Al-Fatih yang tertidur pulas dengan memegang mushaf kecil.
"Mas," panggil Fafa.
"Ya, Sayang?"
"Aku... aku menolak tawaran ke Paris."
Rayyan menghentikan aktivitasnya. Ia terkejut.
"Lho, kenapa, Fa? Itu kan impian kamu sejak kuliah. Mas bisa atur waktu buat jaga pesantren dan Al-Fatih. Kita bisa cari jalan keluar."
Fafa menggeleng pelan, tersenyum dengan ketulusan yang belum pernah Rayyan lihat sebelumnya. "Dulu, aku pikir sukses itu adalah saat namaku terpampang di menara-menara tinggi. Tapi sekarang aku sadar, Mas. Sukses itu adalah saat aku melihat santriwati kita bisa mandiri, saat aku bisa menyuapi Ummi, dan saat aku bisa berdiri di samping kamu menjaga warisan Abah."
Fafa menggenggam tangan Rayyan. "Paris itu indah, tapi Puncak adalah tempat di mana tajwid cintaku menemukan Mad Lazim-nya—panjang dan menetap. Aku nggak mau jadi desainer dunia yang kehilangan momen saat Al-Fatih khatam Al-Qur'an."
Rayyan menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa istrinya telah bertransformasi dari gadis kota yang manja menjadi seorang wanita dengan jiwa seluas samudra.
"Terima kasih, Fa. Terima kasih sudah memilih untuk berjuang di sini, di Tanah Tinggi."
dengan suasana senja di Puncak yang berwarna jingga keemasan. Rayyan dan Fafa berdiri di balkon lantai atas, melihat ribuan santri yang sedang berjalan menuju masjid untuk salat Maghrib. Suara riuh rendah doa dan tawa anak-anak menjadi musik latar yang paling indah.
Mereka menyadari bahwa hidup ini hanyalah sebuah rangkaian bab. Ada bab pertemuan, bab perjuangan, bab kehilangan, dan kini mereka sedang menulis bab pengabdian. Al-Fatih muncul dari belakang, memakai sarung kecil dan kopyah yang agak miring.
"Abi, Ummi, ayo ke masjid! Sandalnya sudah Al-Fatih tata rapi!"
Rayyan dan Fafa tertawa, menggandeng tangan putra mereka. Mereka melangkah menuju masjid, siap menyambut masa depan. Namun, mereka tidak tahu bahwa dua puluh tahun kemudian, sebuah kejutan besar.
Other Stories
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Hompimpa Alaium Gambreng!
Dalam liburan singkat di sebuah vila pegunungan, Jibon dan teman-temannya berniat menghidu ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...