Bab 23 Tajwid Yang Sempurna (Final)
Dua puluh tahun telah berlalu sejak kabut duka menyelimuti Pesantren Al-Ikhlas atas kepergian Abah Kyai. Kini, Tanah Tinggi Puncak telah berubah. Pohon-pohon pinus yang dulu masih muda kini telah menjulang perkasa, menjadi saksi bisu transformasi pesantren yang kini menjadi salah satu pusat peradaban Islam paling berpengaruh di Indonesia. Namun, meski gedung-gedung telah bertambah megah dan sistem pendidikan telah berbasis digital, ada satu hal yang tidak pernah berubah: aroma udara pagi yang segar dan ketukan sandal jepit di atas lantai pualam masjid.
Fafa berdiri di balkon rumah kayu yang kini telah direnovasi namun tetap mempertahankan nuansa klasiknya. Rambutnya yang tertutup hijab berbahan sutra—karya butiknya yang kini melegenda—mulai dihiasi satu-dua helai uban yang ia sebut sebagai "benang cahaya". Wajahnya masih memancarkan aura kecantikan yang tenang, jenis kecantikan yang hanya bisa didapatkan dari sujud-sujud panjang di sepertiga malam.
"Mas," panggil Fafa lembut.
Rayyan muncul dari dalam ruang perpustakaan. Sosoknya kini lebih berwibawa dengan janggut yang memutih rapi dan kacamata yang bertengger di hidungnya. Ia mengenakan jubah abu-abu dan sarung tenun yang masih sama gayanya dengan dua puluh tahun lalu.
"Ya, Nyai Fafa?" goda Rayyan. Panggilan itu selalu berhasil membuat Fafa tersipu, meski usia mereka sudah tidak lagi muda.
"Lihat ke bawah, Mas. Anak kita."
Rayyan melangkah ke samping istrinya. Di halaman masjid, tampak seorang pemuda jangkung dengan wajah yang merupakan perpaduan sempurna antara ketegasan Rayyan dan kelembutan Fafa. Ahmad Rayyan Al-Fatih, yang baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Al-Azhar, Kairo, sedang dikerumuni oleh para santri. Ia baru saja pulang untuk melanjutkan estafet kepemimpinan ayahnya.
"Dia benar-benar sudah besar ya, Fa. Rasanya baru kemarin aku lari-lari cari sinyal di bawah pohon mangga cuma buat dengerin suara kamu," kenang Rayyan sambil merangkul bahu Fafa.
"Dan rasanya baru kemarin dia nangis gara-gara sandalnya tertukar di masjid," sahut Fafa dengan tawa kecil.
Hari ini adalah hari istimewa bagi keluarga besar Al-Ikhlas. Al-Fatih akan melangsungkan akad nikah. Calon pengantinnya bukan berasal dari keluarga bangsawan atau pengusaha kaya, melainkan seorang putri dari seorang kiai kampung yang merupakan sahabat lama Rayyan.
Suasana masjid Al-Ikhlas dipenuhi oleh dekorasi bunga melati dan mawar putih—konsep yang dirancang sendiri oleh Fafa. Namun, di tengah kemegahan itu, sebuah kejadian tak terduga terjadi di teras masjid, tepat beberapa menit sebelum acara dimulai.
Seorang gadis cantik dengan hijab berwarna dusty pink tampak terburu-buru keluar dari area santriwati. Ia tampak panik mencari sesuatu di deretan rak sandal yang sangat rapi. Tanpa sengaja, ia menabrak seorang pemuda yang sedang berjalan cepat menuju ruang utama masjid.
"Astagfirullah! Maaf, saya tidak sengaja," ujar gadis itu sambil menunduk dalam.
Pemuda itu, yang tak lain adalah Al-Fatih, tertegun sejenak. Ia melihat ke bawah, ke arah kakinya. Salah satu sandal kulit mahalnya telah terlempar ke arah selokan kecil, dan posisinya kini tertindih oleh sandal jepit karet milik gadis itu.
Al-Fatih tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan senyum Rayyan saat pertama kali bertemu Fafa. "Sepertinya sandal saya memang ditakdirkan untuk 'bertemu' dengan sandal Anda, Mbak."
Gadis itu mendongak sejenak, wajahnya memerah padam. "Ma-maaf, Ustadz Al-Fatih. Saya benar-benar tidak sengaja. Nama saya Maryam, saya... saya santriwati yang bertugas menjaga konsumsi."
Dari kejauhan, di atas balkon, Fafa dan Rayyan menyaksikan adegan itu dengan mata membelalak. Mereka saling pandang, lalu ledakan tawa pecah di antara keduanya.
"Mas! Kamu lihat itu?" seru Fafa sambil menepuk lengan Rayyan. "Itu benar-benar deja vu! Al-Fatih mengalami insiden sandal tertukar tepat di hari pernikahannya!"
Rayyan tertawa sampai mengeluarkan air mata. "Ternyata doa kita dulu terlalu makbul, Fa. Kita minta anak kita punya jalan hidup yang berkah, dan Allah kasih 'bonus' adegan pertemuan yang sama persis."
Acara akad nikah berlangsung dengan sangat khidmat. Al-Fatih duduk di depan penghulu dengan ketenangan seorang hafiz. Saat ia mengucapkan kalimat Qobultu dalam bahasa Arab yang sangat fasih, getarannya terasa hingga ke sudut-sudut masjid.
Fafa yang duduk di barisan ibu-ibu, menggenggam tangan Ummi yang kini sudah sangat sepuh namun tetap sehat. Air mata haru mengalir di pipi Fafa. Ia teringat perjalanannya sendiri: dari gadis kota yang hanya tahu mode, menjadi seorang ibu dan pemimpin yang mencintai Al-Qur'an.
Setelah akad selesai, Al-Fatih dan Maryam bersimpuh di depan Rayyan dan Fafa untuk memohon doa restu.
"Abi, Ummi," ujar Al-Fatih dengan suara bergetar. "Terima kasih sudah mengajarkan Al-Fatih bahwa cinta itu bukan hanya soal perasaan, tapi soal bagaimana meletakkan makhraj dan harakat yang benar dalam setiap langkah hidup."
Rayyan memegang kepala putranya. "Anakku, hari ini kamu sudah menyempurnakan setengah agamamu. Ingatlah, dalam rumah tangga, ada saatnya kamu harus berlaku seperti hukum Izhhar—jelas dan jujur. Ada saatnya kamu harus seperti Iqlab—merubah amarah menjadi kesabaran. Dan yang paling penting, jadikan istrimu sebagai Waqaf—tempat di mana kamu selalu merasa tenang untuk kembali."
Pesta pernikahan itu menjadi sangat unik. Di antara hidangan mewah yang disajikan, ada satu pojokan yang paling ramai dikunjungi: "Warung Nostalgia Kang Udin". Di sana, Kang Udin yang sudah berambut putih namun tetap energik, menyajikan jengkol balado spesial resep rahasia keluarga.
Para tamu dari berbagai kalangan, termasuk mitra bisnis Fafa dari Dubai yang sengaja terbang ke Indonesia, tampak penasaran.
"Fatimah, is this the famous 'Jengkol' you told me about in Dubai?" tanya seorang kolega asing Fafa.
Fafa tersenyum bangga. "Yes, this is the fruit of patience. Try it, it’s the secret ingredient of our happiness."
Malam itu, Puncak diselimuti kabut yang hangat. Di bawah cahaya lampu-lampu gantung yang cantik, keluarga besar Al-Ikhlas merayakan kehidupan. Rayyan dan Fafa menyelinap pergi sejenak dari keramaian, berjalan menuju taman kecil di belakang pesantren yang menghadap ke lembah.
"Fa," panggil Rayyan.
"Ya, Mas?"
Rayyan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Fafa mengira itu perhiasan, namun saat dibuka, isinya adalah sepasang gantungan kunci berbentuk sandal jepit mini yang terbuat dari perak, dengan ukiran nama mereka: Rayyan & Fafa.
"Tiga puluh tahun yang lalu, aku menemukan kamu karena sandal yang tertukar. Malam ini, aku ingin bilang, kalaupun waktu diputar kembali sejuta kali, aku akan tetap memilih untuk kehilangan sandalku di teras masjid itu, asalkan aku bisa menemukan kamu di ujungnya," ujar Rayyan dengan nada paling tulus yang pernah Fafa dengar.
Fafa menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki yang telah menjadi imamnya melewati berbagai badai kehidupan. "Dan aku, Mas... aku akan tetap menjadi gadis sombong yang menendang sandalmu ke selokan, asalkan itu adalah jalan menuju surga bersamamu."
Di kejauhan, terdengar suara Al-Fatih yang mulai melantunkan Surah Ar-Rahman untuk istrinya di dalam rumah kayu. Suaranya merdu, fasih, dan penuh dengan ruh.
Tajwid Cinta di Tanah Tinggi bukan lagi sekadar judul sebuah kisah. Ia telah menjadi sebuah warisan. Ia adalah bukti bahwa cinta yang dibangun di atas pondasi iman, diatur dengan aturan Tuhan (Tajwid), akan menghasilkan melodi kehidupan yang sempurna (Tartil).
Kabut Puncak semakin tebal, namun di hati mereka, semuanya telah Izhhar—jelas, terang, dan tak ada lagi keraguan. Perjalanan Fafa dan Rayyan mungkin telah mencapai bab penutup di buku ini, namun di dalam keabadian, cinta mereka baru saja dimulai.
Other Stories
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...