Bab 11 – Sempit (21+)
Cahaya pagi tidak pernah benar-benar masuk.
Tirai tetap tertutup rapat sejak semalam, hanya menyisakan garis tipis terang di sela kainnya.
Di dekat lemari, koper Ledi berdiri dengan resleting setengah terbuka. Beberapa helai pakaian terlihat terlipat rapi di dalamnya.
Ledi terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa berbeda. Tidak sakit, tapi tidak sepenuhnya ringan.
Di sampingnya, Kevin masih terlelap. Wajahnya tenang. Lengan kirinya terentang di atas bantal, hampir menyentuh tempat Ledi tadi berbaring.
Ledi duduk perlahan, merapikan piyamanya. Ia menoleh noda di seprai—dan menatapnya lama.
Ia mengusap seprai di sekitar noda itu, seperti ingin menghapus sesuatu yang tidak bisa dihapus.
Kevin bergerak. Matanya terbuka pelan. “Kamu udah bangun,” katanya serak. Tatapannya turun ke leher Ledi, lalu ke bahunya.
Ledi menarik napas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kevin. “Iya.”
Kevin bangkit, menyandarkan punggungnya ke headboard.
Tangannya menyentuh bahu Ledi, lalu turun ke pinggangnya. “Kita di kamar aja hari ini.” Tangannya kembali menyentuh pinggang Ledi sebelum ia selesai berbicara.
Ledi menoleh. “Nggak jalan-jalan?”
Kevin menggeleng kecil. Ia menarik Ledi sedikit lebih dekat, mengunci jarak yang tadi masih tersisa. “Besok masih bisa.” Nada itu tidak terdengar seperti perintah, tapi juga bukan tawaran yang bisa ditolak.
Drttt! Drttt!
Ponsel Ledi di meja lampu tidur bergetar. Ledi mengambilnya—nama yang tertera: Bima.
Wajah Ledi berubah. Ia menoleh Kevin.
“Angkat,” kata Kevin sambil mengangkat dagunya.
Telunjuk Ledi menekan tombol hijau layar.
“Halo, Yang?” kata Bima segera, “Kamu baik-baik aja?”
Ledi menoleh ke Kevin di samping, lalu kembali menatap lurus. “Iya. Baik-baik aja. Aku baru bangun.” Ledi menyibakkan rambutnya ke belakang. “Kenapa emang, Yang? Kamu nggak apaa-apa?”
“Nggak apa-apa. Aku kepikiran aja sama kamu dari semalam. Aku bahkan nggak bisa tidur.”
Ujung jari Ledi mencengkeram selimut. “Kamu tenang aja, Yang. Aku baik-baik aja kok di sini.”
Terdengar suara embusan napas Bima di seberang. “Kamu hati-hati ya di sana. Jangan nakal.” Suara tawa kecil Bima terdengar.
Tatapan Ledi tertuju ke arah noda. Tangan Kevin mengusap lutut Ledi.
“Iya, Sayang. Bye,” jawab Ledi.
“Bye.”
Ledi meletakkan ponselnya ke kasur sambil mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak tiba, ia merasa tidak perlu menjelaskan apa pun lagi.
Kevin menatap layar ponsel yang kini gelap. “Udah?”
Tanpa menunggu jawaban, ia menarik wajah Ledi mendekat. Ia menahan dagu Ledi, menatapnya sebentar, lalu melumat bibirnya—seperti menutup percakapan yang baru saja selesai.
***
Makanan siang datang lewat layanan kamar. Troli didorong masuk, piring-piring tertutup tudung perak mengilap.
Ledi duduk di tepi ranjang mengenakan piyama berwarna biru muda. Rambutnya masih sedikit lembap.
Kevin memberi tip pada pelayan, lalu mereka makan di atas ranjang.
Kevin menyuapi Ledi yang sama sekali tidak menolak.
Tidak ada pembicaraan besar. Tidak ada rencana esok hari. Paris terasa jauh, seperti kota yang hanya disebut namanya.
Selesai makan, mereka duduk di sofa sambil menonton film.
Kevin merangkul bahu Ledi, megusapnya dengan lembut—sementara Ledi menyandarkan kepalanya di dada Kevin.
Tangan Kevin tetap berada di bahu Ledi, turun perlahan, lalu kembali naik. Ledi tersenyum manja.
Televisi terus menyala, suara dialog film bercampur dengan napas yang mulai berubah ritmenya.
Di luar jendela, kota berjalan tanpa mereka.
***
Ketika malam akhirnya tiba, jarak di antara mereka tetap sama seperti tadi—tidak ada ruang kosong yang tersisa.
Kini, bagi Ledi, Paris menyempit menjadi dekapan seorang pria dan seprai putih yang belum diganti.
Other Stories
Dua Tanda Baca
Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Kuntilanak Gaul
Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...