Pacar Sewaan

Reads
7.9K
Votes
2.5K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 2 – Tiga Jam

Setelah sampai di kos, Ledi meletakkan tasnya di kursi dan membuka ponsel.

Ia menyalin nomor WA klien yang diberikan agensi, lalu mengetik pesan—prosedur yang sudah ia hafal.

“Selamat malam, Kak. Aku Ledi dari agensi sewa pacar.”

Beberapa detik berlalu. Satu centang. Dua centang. Hampir satu menit.

Ya,” balas pria di seberang sana.

Ledi menatap layar, menambahkan satu pesan lagi. “Sesuai lokasi, ya?”

Setengah menit berlalu, tidak ada balasan.

Sambil menunggu, Ledi membuka akun Instagram agensi.

“Dilarang melakukan kontak fisik melebihi pegangan tangan dan rangkulan pundak.”

“Dilarang membahas hal-hal yang berbau seksual.”

“Dilarang menggunakan jasa talent tanpa melalui agensi.”

Ledi membaca semuanya tanpa benar-benar berhenti di satu baris pun.

Jari Ledi bergerak.

Ia kini melihat postingan testimoni yang berisi foto selfie dirinya bersama klien. Wajah keduanya ditutupi stiker.

“Kencan sama Ledi seru banget. Anaknya baik, perhatian. Makasih udah dengerin curhatku.”

Nge-date sama Ledi nyaman banget. Dia tahu kapan harus ngobrol, kapan harus diam. Nggak bikin capek.”

Ledi scrolling foto talent lainnya, pria dan wanita. Bagian mulut dan hidung ditutupi stiker—tapi mata mereka tidak.

Belum ada balasan dari pria itu.

Ledi melihat foto dirinya sendiri yang memakai baju kaos putih dan rok plisket cokelat yang tingginya selutut.

Ledi, 23 tahun, Jakarta. Suka es krim, jalan-jalan dan karaokean. TB/BB 164/54.

Balasan dari pria itu masuk. “Iya.” Tidak ada emoji. Tidak ada basa-basi.

Ledi menatap ponsel itu sampai layarnya gelap.
Entah kenapa, balasan sesingkat itu, yang belum pernah ia terima sebelumnya, membuatnya sedikit tidak nyaman.

***

Restoran itu tidak mewah, tapi ramai dengan cara yang teratur.

Meja-meja panjang berjajar rapi, kompor kecil tertanam di tengah, daging mentah tersusun di baki. Bau kaldu panas dan daging yang mulai matang memenuhi udara.

Ledi datang lima belas menit lebih awal, berdiri tidak terlalu jauh dari pintu masuk.

Ia mengecek jam tangan: 18:57.

Pria itu mendekat tanpa tergesa, lalu berhenti tepat di hadapan Ledi, tersenyum singkat. “Ledi?”

“Iya,” jawab Ledi sambil tersenyum semanis mungkin.

Ledi menangkap aroma samar—bersih, hangat. Bukan parfum yang menyengat, lebih seperti sisa wewangian mahal yang menyatu dengan kulit.

Pria itu mengulurkan tangan. “Kevin.”

Ledi menjabat tangan itu. “Ledi.”

“Itu nama asli?” tanya Kevin.

“Iya.” Ledi mengangkat bahu kecil, tersenyum cepat. “Emang ngira nama palsu?”

“Foto talent-nya kan disensor wajahnya. Kirain bukan nama asli.”

Ledi tersenyum, tapi tidak menjawab. Ia sudah sering mendengar asumsi semacam itu.

“Kita punya tiga jam,” kata Kevin. Bukan bertanya. Menginformasikan.

Kevin menggandeng tangan Ledi, mengajaknya masuk ke restoran All You Can Eat.

Mereka memesan paket premium. Ledi menuangkan kaldu ke panci, tangannya bergerak otomatis seperti sudah sering melakukannya.

Pria itu memperhatikan—bukan pada gerak tangannya, tapi pada caranya menata piring, memisahkan daging, memastikan tidak ada yang tercecer.

“Kamu sering makan di tempat seperti ini?” tanyanya.

“Lumayan,” jawab Ledi. “Kadang ada klien yang minta temenin.”

Pria itu mengangguk, lalu mulai memanggang dagingnya sendiri. Tidak buru-buru. Tidak cerewet.

Dari jarak dekat, Ledi menangkap detail kecil yang tadi luput. Kemeja katun gelap dengan potongan bersih dan sepatu kulit hitam yang tampak mahal.

Tidak ada satu pun yang tampak ingin menonjol—justru itu yang membuat Ledi sulit menilai posisinya.

“Kenapa pilih aku?” tanya Ledi.

Uap dari panci kembali naik, menutup sebagian wajah Kevin. Ledi mendapati dirinya menunggu—bukan jawaban panjang, melainkan kelanjutan.

Ledi menyandarkan siku ke meja, lebih terbuka dari sebelumnya.

“Di bionya, kamu hobi nyanyi,” jawab Kevin. Ia memutar sumpitnya dengan satu tangan sebelum meletakkan irisan daging ke atas panggangan. Gerakannya rapi, tanpa tergesa.

Ledi menyadari keheningan di antara mereka tidak terasa canggung—justru memberi ruang.

Ledi tertawa kecil, merasa perlu mengisi jeda itu. “Aku nggak jago-jago amat,” katanya, sedikit lebih antusias dari yang ia rencanakan. “Cuma senang nyanyi.”

Mereka makan sambil bertukar kata.

Kevin sesekali melontarkan humor ringan, memancing senyum atau tawa ringan Ledi.

Saat tersenyum, pipi wanita itu terangkat ringan. Kulitnya tampak cerah di bawah lampu, hidungnya tegas, senyumnya manis.

Ia tahu bagaimana menampilkan diri tanpa berlebihan. Cukup untuk terasa menyenangkan. Cukup untuk membuat lawan bicara merasa diperhatikan.

***

Saat nampan mereka mulai kosong, jam menunjukkan hampir pukul setengah sembilan.

“Udah kenyang?” tanya Kevin.

“Udah dong,” jawab Ledi.

“Karaokenya di atas. Mau langsung?” tanya Kevin.

Ledi mengangguk, lalu keduanya bangkit hampir bersamaan.

Saat mereka berdiri di depan kasir, Ledi refleks melirik ke arah kartu BCA Solitaire yang Kevin gunakan.

Begitu mereka keluar dari restoran tersebut, Ledi menggandeng lengan Kevin. Gerakan itu terasa otomatis—bagian dari pekerjaannya—meski kali ini, ia sadar ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum ia beri nama.

***

Kevin memilih ruangan karaoke yang paling kecil dan memesan air mineral serta camilan. Lampu berwarna berganti pelan, memantul di dinding berlapis busa.

Ledi menyanyi lebih banyak, Kevin lebih sering menyimak. Sesekali Kevin ikut di bagian reff. Mereka tertawa saat Ledi salah nada, dan untuk beberapa saat, waktu berjalan tanpa perlu diingat.

Di layar, waktu tersisa dua puluh menit.

“Aku masih mau ngobrol. Kalau nambah waktu,” kata pria itu pelan, “harus lewat agensi?”

Ledi diam, menggigit bibir. “Aturannya, iya.”

Pria itu menatap layar, lalu kembali ke Ledi. “Kalau kita lanjut ... nggak lewat agensi?”

Kalimat itu tidak terdengar seperti ajakan. Lebih seperti kemungkinan yang diletakkan di meja.

Ledi tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke layar TV, lalu kembali menatap Kevin.

“Kalau mau lanjut,” kata Ledi, memilih kata dengan hati-hati, “sebenarnya nggak perlu lewat agensi sih. Yang penting sama-sama jaga aja.”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia mengangguk kecil, seolah mencatat sesuatu. “Baik,” katanya, “kita profesional.”

Ledi merasakan dadanya mengencang—bukan karena senang, melainkan karena keputusan itu sudah terucap. Tidak bisa ditarik.

Kevin tersenyum. “Yuk, masih bisa tiga lagu lagi. Mau lagu apa?”

“Kita foto dulu bareng ya, Kak. Bukti sama agensi.”

Kevin mengangguk.

Ledi menyalakan kamera ponselnya ... cekrek!

***

Ledi dan Kevin keluar dari ruangan karaoke dengan ekspresi lebih ringan. Tawa mereka belum sepenuhnya hilang, seperti gema yang tertinggal setelah musik berhenti. Untuk sesaat, semuanya terasa sederhana.

Kevin berjalan sejajar, menjaga jarak yang sopan. Mereka berbincang ringan—tentang tempat makan yang buka sampai larut, tentang musik yang barusan diputar.

“Kita ngobrol sambil ngopi, ya.”

Ledi mengangguk.

Di dalam lift, ia mengecek ponsel. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada yang menanyakan di mana ia berada. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di kafe yang masih buka, berbincang tanpa topik besar. Tidak ada yang dibicarakan terlalu dalam—cukup untuk menghabiskan waktu tanpa terasa kosong.

Sekitar pukul setengah dua belas, Kevin menyerahkan amplop tipis. Uang overtime dan ongkos transportasi.

“Makasih,” kata Ledi.

Kevin mengangguk, lalu pergi.

Ledi memesan taksi online, merasakan ponselnya menghangat di genggamannya.

Ia mengintip isi amplop. Jumlahnya dua kali lebih banyak dari yang ia kira.

Ini cuma kerjaan.

Kalimat itu berulang di kepalanya, terdengar masuk akal setiap kali diucapkan. Hanya saja, ia tidak tahu lagi—apakah kalimat itu ditujukan pada Bima atau dirinya sendiri.


Other Stories
Chromatic Goodbye

"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Plan B

Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Download Titik & Koma