Pacar Sewaan

Reads
8.1K
Votes
2.6K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 7 – Bienvenue

Bandara Soekarno-Hatta siang itu terasa seperti paru-paru yang tak pernah benar-benar berhenti bernapas.

Layar keberangkatan berkedip berganti nama kota. Suara pengumuman berlapis-lapis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Deretan koper beroda bergerak seperti arus kecil yang saling mendahului.

Kevin memegang boarding pass dan paspor mereka berdua. Ia membuka paspor Ledi. “Ternyata benar 23 tahun.” Ia menoleh ke arah Ledi. “Kirain baru dua puluh.”

“Lumayan awet muda, ya?” tanya Ledi.

Kevin mengangkat alis tipis. “Iya.” Ia menatap foto di paspor itu lalu menutupnya. “Bagus. Berarti kamu nggak terlalu polos.”

Ponsel di saku celana Kevin berbunyi. Ia merogohnya, melihat layar sebentar, lalu tersenyum. “Aku angkat dulu.”

Ia melangkah menjauh, beberapa meter dari Ledi, berdiri menghadap jendela besar yang memperlihatkan landasan.

Beberapa saat kemudian, ia memasukkan kembali ponselnya dan berjalan ke arah Ledi.

***

Pukul 17:20, panggilan untuk naik ke pesawat diumumkan. Kevin bangkit, diikuti Ledi.

Sebelum melangkah ke lorong menuju pesawat, Ledi menunduk, melihat gelang kain itu, lalu menoleh ke belakang—merasa ada sesuatu yang besar yang sedang ia tinggalkan.

“Yuk,” kata Kevin singkat.

Ledi menghadap ke depan lagi, diam sejenak. Ia melirik Kevin sekilas, lalu melangkah masuk.

***

Kabin kelas bisnis remang dan sunyi. Kursi lebar, jarak lega. Lampu-lampu kecil menyala lembut seperti bintang redup.

Ledi duduk dan menatap sekeliling, sedikit kaku.

Kevin meraih sabuk pengamannya sendiri, lalu tanpa banyak kata membantu memasangkan sabuk Ledi. Gerakannya cepat, tidak dramatis. “Nyaman?”

Ledi mengangguk. “Iya.”

Setelah lepas landas, lampu kabin diredupkan. Kota Jakarta menjadi gugusan cahaya kecil di bawah, lalu hilang ditelan awan.

Pramugari datang membawa minuman. Kevin memesan anggur merah. Ledi memilih jus.

Kevin mengangkat gelasnya sedikit, tidak menyentuh gelas Ledi, hanya memberi isyarat kecil.

Ledi tersenyum dan membalas dengan gerakan yang sama.

Beberapa jam kemudian, layar di depan kursi menampilkan peta jalur penerbangan. Garis putih tipis membentang melewati lautan dan daratan asing.

Ledi memiringkan kursinya sedikit. Kevin mengatur sandarannya tanpa diminta, memastikan posisinya pas.

“Kamu bisa tidur,” katanya pelan.

Ledi mengangguk.

Saat Ledi mulai terlelap, kepalanya perlahan miring ke arah Kevin. Ia tersadar sesaat, hendak membenarkan posisi, tapi Kevin sudah mengangkat sandaran tangan di antara mereka.

“Biar aja,” katanya.

Ledi tidak menjawab. Ia membiarkan bahunya menyentuh lengan Kevin. Tubuhnya perlahan melemas. Di luar jendela, langit hitam tak bergerak.

Ketika ia terbangun beberapa jam kemudian, selimut tipis sudah menutupi kakinya. Ia tidak tahu kapan Kevin menyelimutinya.

Kevin sedang membaca sesuatu di layar ponsel. Cahaya biru tipis memantul di wajahnya. Ia menoleh saat menyadari Ledi bangun.

“Kita hampir sampai,” kata Kevin.

Ledi mengangguk. Suaranya serak tipis. “Aku ngorok nggak?”

Kevin diam beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Nggak.”

***

Pesawat mendarat ketika langit malam baru saja menyelimuti kota Paris.

Lampu-lampu kota terlihat seperti garis emas tipis di kejauhan, terputus-putus oleh bayangan sungai yang gelap. Di balik jendela, sayap pesawat memantulkan cahaya landasan yang bergerak cepat lalu melambat.

Sabuk pengaman Kevin sudah terbuka dan ia membukakan sabuk Ledi.

“Makasih,” kata Ledi.

Kevin mengangguk. “De rien.”

Ledi tersenyum.

Saat mereka keluar dari pintu otomatis bandara, angin malam menyapu lebih dingin dari yang Ledi bayangkan. Ia refleks menarik kerah mantel yang Kevin belikan pekan lalu.

Kevin mengangkat tangan, membenarkan lipatan kerah mantel Ledi. Ujung jarinya menyentuh kulit di bawah telinga.

Mobil hitam sudah menunggu. Sopir mengucapkan selamat datang, lalu membukakan pintu. Kevin mempersilakan Ledi masuk terlebih dahulu.

Kota bergerak pelan di luar jendela. Fasad batu krem yang rapi. Balkon besi hitam berulang seperti pola. Jendela-jendela tinggi dengan tirai setengah tertutup. Lampu jalan menyala. Trotoar tampak bersih dan sunyi.

Di dalam mobil, jarak di antara mereka tidak terlalu lebar.

Ledi menaruh tangannya di atas paha, masih sedikit kaku oleh dingin. Beberapa detik kemudian, punggung tangan Kevin menyentuh tangannya—tidak menggenggam.

Ledi menoleh sekilas. Kevin tetap melihat ke depan. Ledi tidak menarik tangannya.

Beberapa saat kemudian, jari mereka bertemu sepenuhnya. Saling bertautan.

Ujung jari Kevin menyentuh gelang kain di pergelangan Ledi—ia tidak bertanya apa-apa tentang gelang itu.

Sentuhan itu singkat, tapi cukup terasa. Ledi sempat menggeser pergelangannya sedikit, namun tidak menarik tangannya.

Ibu jari Kevin bergerak pelan, mengusap punggung tangan Ledi. “Kamu capek?” tanyanya pelan.

“Dikit,” jawab Ledi tanpa menoleh.

Kevin menoleh singkat. “Kalau besok kamu masih capek, kita nggak usah ke mana-mana aja dulu.”

Ledi menoleh, sedikit cemberut. “Masa udah jauh-jauh nggak jalan-jalan?”

“Ya udah. Kalau gitu, besok kita ke tempat yang kamu pasti suka,” kata Kevin.

“Ke mana?”

Kevin mengangkat bahu ringan. “Surprise.”

Ledi tertawa pelan. Tangannya masih di dalam genggaman Kevin.

***

Hotel bintang lima itu berdiri di sudut jalan yang tenang. Pintu kaca terbuka dengan desis halus. Lobi luas, lantai marmer memantulkan cahaya lampu gantung. Ledi menurunkan kopernya. Tangannya terasa dingin.

Di meja resepsionis, Kevin berbicara dalam bahasa Prancis yang fasih. Dua kartu kamar diletakkan di atas meja, berdampingan.

“Sebelahan,” katanya ketika mereka berjalan menuju lift.

Ledi mengangguk.

Lift bergerak naik. Angka-angka menyala satu per satu. Pantulan mereka berdiri berdampingan di dinding cermin: Kevin tegak dan kokoh, Ledi mengusap kedua telapak tangannya.

Lorong lantai atas sunyi. Karpet tebal meredam langkah. Kevin berhenti di depan pintu kamarnya. Ia menyerahkan satu kartu pada Ledi.

Ledi menerima kartu itu. “Makasih.”

Kevin mengangkat kartu kamarnya. “Fais de beaux rêves.”

Ledi tersenyum. "Toi aussi.”

Tidak ada jeda canggung. Tidak ada percakapan tambahan.

Pintu kamar Ledi terbuka dengan bunyi klik pelan. Ruangan luas dan terang. Ranjang putih. Tirai tipis bergerak sedikit karena ventilasi.

Ledi meletakkan koper di lantai, berdiri beberapa detik di tengah kamar. Heningnya berbeda. Tidak ada suara motor, tidak ada televisi tetangga, tidak ada klakson. Hanya dengung halus pendingin ruangan.

Ia berjalan ke arah jendela. Di bawah, seorang pria berjaket panjang melintas cepat, bayangannya memanjang di bawah lampu jalan.

Ledi mengeluarkan ponsel, mengarahkan kamera belakangnya ke sekeliling kamar. Ranjang. Meja. Sofa. Pintu kamar mandi. “Kamarnya luas banget, Yang.” Ia menyorot dinding yang berbatasan dengan kamar Kevin. ”Pisah kamar yaaa.”

Kemudian, ia mengarahkan kameranya ke pergelangan tangan. “Nih gelangnya udah nyampe Paris.” Suara tawa kecil Ledi terdengar.

Tombol “kirim” ditekan.

Beberapa detik kemudian, masuk pesan WA. “Syukur kamu udah nyampe. Aku belum bisa tidur sebelum ada kabar dari kamu, Yang.”

Ledi melihat jam. “Pukul satu kurang di sana,” kata Ledi pada dirinya sendiri.

Ledi tersenyum, lalu mengetik balasan. “Udah. Sekarang bobo, ya. Aku juga mau istirahat.”

“Hati-hati di sana. I love you,” balas Bima.

I love you too.”

Ledi mematikan layar, lalu menoleh ke dinding kamar yang memisahkan dirinya dengan Kevin.
Hanya satu lapis tembok di antara mereka.


Other Stories
Lombok; Tanah Surga

Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Download Titik & Koma