Bab 3 – Rumah Hantu
Antrean rumah hantu itu panjang dan berisik.
Lampu kelap-kelip menggantung di atas kepala, musik elektronik berdentum terlalu keras, bercampur dengan bau jagung bakar dan gula kapas yang lengket di udara malam.
Ledi berdiri di samping Bima, menatap pintu masuk yang sesekali terbuka, memperlihatkan sekilas lorong gelap sebelum kembali tertutup. Dari dalam, teriakan menyusul, lalu menghilang.
“Kamu yakin mau masuk?” tanya Bima sambil meliriknya. Nada suaranya ringan.
Ledi mendengus kecil. “Udah jauh-jauh ke sini masa cuma nonton orang teriak.”
Bima tersenyum, lalu merangkul pundak Ledi.
Antrean bergerak maju hingga Ledi dan Bima berada di posisi paling depan.
Ledi membuka dompet cokelatnya.
Bima melepaskan rangkulannya.
Ledi mengeluarkan uang pecahan Rp100.000 dari amplop yang ia terima dari Kevin kemarin malam, lalu menyerahkannya pada petugas.
Bima melirik ke arah uang itu. Rahangnya sedikit mengeras, lalu ia menunduk.
Petugas membukakan pintu.
“Yuk,” kata Ledi sambil menggenggam telapak tangan Bima.
Bima mengangkat wajahnya, lalu tersenyum.
Mereka melangkah masuk. Udara di dalam lebih dingin, bau lembap yang dibuat-buat menempel di hidung.
Mereka melangkah perlahan, menoleh kiri-kanan dengan waspada.
Sebuah sosok melompat dari sudut gelap—wajah pucat, mata hitam membulat, rahang terkatup setengah—disertai dentuman logam dan jeritan sintetis yang meledak di telinga.
Ledi menjerit pendek dan refleks mencengkeram lengan Bima. Pegangannya terlalu kuat untuk sekadar pura-pura.
Bima tertawa kecil, lalu merangkul pundak Ledi, menariknya sedikit lebih dekat. “Tenang,” katanya pelan. “Palsu semua.”
Ledi tahu itu. Tapi tubuhnya tetap tegang. Jantungnya berdegup cepat, napasnya pendek.
Di lorong sempit itu, dengan cahaya strobo sesekali menyala, pelukan Bima terasa hangat. Bukan romantis, tapi akrab. Seperti sesuatu yang sudah lama dikenalnya.
Mereka berjalan perlahan, saling menempel lebih dekat dari biasanya. Setiap kali ada sosok hantu yang mengagetkan mereka, Ledi menahan napas dan jari-jarinya mencengkeram kaus Bima.
Bima selalu ada di sana—tidak terlalu protektif, tapi tidak juga menjauh. Cukup untuk membuat Ledi tidak merasa sendirian.
Begitu keluar dari pintu terakhir, mereka tertawa bersamaan. Tawa yang lega, pendek, lalu menguap begitu saja.
“Penakut ah,” kata Bima sambil menyerahkan tisu dari sakunya.
“Bilang aja kamu seneng aku nempel terus,” balas Ledi sambil menyeka telapak tangannya yang masih sedikit berkeringat.
Bima tidak membantah. Ia hanya tersenyum, lalu menunjuk gerobak kecil tak jauh dari situ. “Es krim?” tawarnya.
Ledi menoleh. Gerobak itu sederhana, dengan papan menu yang warnanya sudah agak pudar. Beberapa rasa ditulis tangan dengan spidol. Vanila, cokelat, stroberi.
“Yang cokelat,” jawab Ledi.
“Tunggu di sini, ya,” kata Bima.
“Aku ikut,” kata Ledi.
Mereka berjalan bersama.
Bima memesan satu.
“Kamu nggak?” tanya Ledi.
Bima menggeleng. “Nggak. Lihat kamu aja udah manis banget.”
“Ih, gombal,” kata Ledi sambil mencubit lengan Bima.
Pria paruh baya itu menyerahkan es krim. Ledi membuka dompet—
“Nggak usah,” cegah Bima cepat. Tangannya menghalangi. “Aku aja.”
“Nggak apa-apa, Yang,” kata Ledi, tetap mencoba merogoh dompet.
Tangan si pedagang menggantung di udara, kepalanya bergerak mengikuti percakapan mereka.
Bima memelototkan mata.
Ledi mengalah—menutup dompetnya kembali.
Bima mengambil es krim itu, menyerahkannya pada Ledi, lalu membayar dengan uang recehan dari dompet tipisnya.
“Baru jadian, ya?” tanya si pedagang.
Bima dan Ledi serempak saling pandang.
“E ... nggak kok, Pak. Udah dua tahun.”
Pedagang itu mengangguk-angguk, lalu melayani pembeli lain yang baru datang.
“Makasih ya, Yang,” kata Ledi.
Bima membalas dengan senyum—manis.
Ledi tertawa kecil, lalu menggigit ujung es krim itu pelan, merasakan rasa cokelat murah yang cepat meleleh di lidah.
“Kita ke situ, yuk!” kata Bima sambil menunjuk ke satu arah.
Ledi menjilat es krim, lalu tangan kirinya menggandeng lengan Bima.
Mereka berjalan ke arah menara sutet di pinggir area pasar malam.
Ledi masih menjilati es krimnya.
Bima berdiri di sampingnya, tangan di saku celana, menatap lalu-lalang orang dengan wajah santai.
“Kok kamu tahu aku pengin es krim?” tanya Ledi.
Bima mengangkat bahu. “Abis takut-takut gitu biasanya pengin yang manis.”
“Berarti kamu takut terus dong?” tanya Ledi.
Bima terdiam, keningnya berkerut sekilas. “Oh iya, ya.” Bima tersenyum kecil. “Aku kan … pengen kamu terus.”
Mereka tertawa. Bima memeluk Ledi dari belakang. Ledi menyandarkan kepalanya di dada Bima.
Begitu es krim di tangannya habis, Ledi mengajak Bima ke rumah makan tak jauh dari area pasar malam itu.
Bima tidak menjawab. Wajahnya berubah.
“Nggak apa-apa, Yang,” kata Ledi cepat. “Kita gantian. Kamu juga nggak pelit sama aku kalau lagi ada.”
Ledi menggandeng lengan Bima. “Ayo, temenin aku, Yang. Aku mau coba makan di situ.”
Bima mengangguk tipis.
***
Ledi dan Bima duduk di meja yang ada di sudut—saling berhadapan. Meja kayu di antara mereka terasa ringan, hampir kosong. Tidak ada taplak, tidak ada lilin, hanya botol kecap dan tisu gulungan—yang seharusnya untuk toilet.
Bima membuka menu, mengernyit sebentar, lalu menunjuk dua pilihan yang paling murah. “Paket berdua aja,” katanya, “biar hemat.”
Ledi mengangguk. Ini dunia yang ia kenal—dunia di mana kata hemat selalu punya tempat.
Saat makanan datang, Bima mendorong piring ke arahnya. “Makan yang banyak. Kamu kurusan.”
Mereka makan. Rasanya biasa saja, tapi hangat.
Percakapan mereka mengalir ringan—tentang kerjaan Bima, tentang wahana lain yang akan mereka coba lain kali, tentang hal-hal kecil yang tidak menuntut keputusan besar.
Di sela percakapan itu, ponsel Ledi bergetar di atas meja bergetar.
Satu pesan masuk.
Ia tidak langsung mengambilnya. Hanya melirik sebentar, cukup untuk melihat nama yang tertera.
Kevin.
Ledi meraih ponselnya dan membaca cepat.
“Besok aku dinner di Fairmont Jakarta. Jam tujuh kamu free?”
Singkat. Tanpa emoji. Tanpa perantara agensi.
Ledi memiringkan bibir, seperti sedang menimbang, lalu mengetik balasan. “Iya, aku free.”
“See you there,” jawab Kevin singkat.
“Oke.” Ledi menekan kirim, lalu meletakkan ponsel kembali ke meja. Layarnya menghitam.
Ledi mengangkat wajahnya. Bima sedang mengaduk minumannya, menunggu es batu mencair. Wajahnya tampak lelah tapi tenang.
“Ada apa?” tanya Bima.
“Kerjaan,” jawab Ledi.
Bima mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh.
Percakapan mereka berlanjut. Tentang rencana pulang. Tentang macet. Tentang besok siang.
Ledi tertawa di waktu yang tepat, mengangguk di waktu yang tepat. Tapi di kepalanya, meja kayu itu perlahan tergantikan oleh bayangan meja lain—lebih berat, dengan lampu temaram dan peralatan makan yang berkilau.
***
Di parkiran, sebelum naik motor, Bima menggenggam tangan Ledi. “Kamu senang malam ini?”
Ledi mengangguk. “Iya.” Ia tidak berbohong. Tapi itu juga bukan seluruh kebenaran.
Motor melaju meninggalkan lampu-lampu wahana di belakang. Di dalam tasnya, ponsel Ledi kembali bergetar pelan.
Ia membiarkannya, menatap jalan di depan, sambil merasakan rasa cokelat es krim itu masih tertinggal samar di lidahnya.
Other Stories
Desa Di Ujung Senja
Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...