Pacar Sewaan

Reads
8.2K
Votes
2.7K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 15 – Sendiri

Siang datang tanpa diminta.

Tirai tetap tertutup. Garis cahaya tipis menyusup dari sela kain, membelah lantai menjadi dua warna yang sama-sama redup. Udara di kamar pengap. Tidak ada kipas yang dinyalakan.

Ledi duduk di tepi ranjang sejak pagi. Kaosnya masih yang kemarin. Rambutnya kusut, menutup sebagian wajah. Perutnya kosong, tapi ia tidak ingin makan. Kulitnya terasa lengket, tapi ia tidak beranjak ke kamar mandi.

Boneka beruang berpita biru tergeletak di dekat bantal. Tidak dipeluk. Tidak dipindah. Hanya ada.

Ponsel berada beberapa sentimeter dari tangannya. Layarnya mati.

Di luar, dunia berjalan dengan iramanya sendiri. Pedagang bakso lewat sambil memukul mangkok. Motor melintas. Seseorang tertawa keras di ujung lorong. Di dalam kamar, waktu seolah tersendat.

Ia tidak menangis—hanya diam.

Drrt! Drrt!

Ledi menoleh tanpa ekspresi, lalu meraih ponselnya perlahan.

Pesan dari agensi. “Ada klien. Besok jam 19:00. Plaza Senayan. Tiga jam. Ambil?”

Sebuah foto KTP menyusul. Ledi melirik sekilas, tidak membuka foto itu. Wajahnya tidak berubah. Layar dibiarkan menyala beberapa detik, lalu gelap.

Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk. “Confirm ya.”

Ledi menggeser layar. Jarinya mengetik pelan. “Maaf, lagi nggak bisa.”

Balasan datang cepat. “Kenapa?”

Ledi menatap pertanyaan itu lama. Kursor berkedip di kolom chat.

Ia tidak mengetik apa pun. Layar kembali gelap.

***

Sore merambat perlahan. Kamar semakin gelap.

Ledi duduk bersandar pada dinding, lutut terlipat.

Pandangannya jatuh pada pergelangan tangan kanannya. Gelang cokelat itu masih melingkar. Simpul kecilnya terlihat lebih longgar dari sebelumnya. Benang di ujungnya mulai berbulu.

Ia memegang simpul itu dengan dua jari, lalu menariknya perlahan. Simpul bergeser. Ikatan melemah. Gelang terlepas tanpa suara. Bekas tipis lingkaran terlihat di kulitnya.

Ledi memandangi gelang itu.

Ia teringat cara Bima mengikatnya—hati-hati, seperti mengikat sesuatu yang rapuh. “Jangan dilepas, ya.” Waktu itu, ia mengangguk tanpa benar-benar memikirkan artinya.

Ledi meletakkan gelang itu di meja kecil dekat poster Menara Eiffel. Tangan kanannya kembali kosong.

***

Ledi berdiri di depan lemari, membukanya tanpa tujuan yang jelas. Gaun hitam dari butik tergantung rapi. Kainnya jatuh bersih. Tidak kusut. Tidak ternoda. Seolah tidak pernah dipakai untuk apa pun yang rumit.

Ia menyentuh bagian pinggang. Struktur halus di dalamnya terasa di ujung jari.

Ia menutup lemari perlahan, lalu menatap pantulan dirinya di kaca lemari. Wajahnya pucat. Matanya datar.

Kemudian, ia kembali duduk di lantai. Tidak ada tangis. Tidak ada amarah. Hanya napas panjang yang keluar lebih berat dari biasanya.

***

Dua hari berlalu tanpa banyak perubahan. Tirai tetap tertutup. Piring bekas mie instan menumpuk di sudut ruangan.

Ledi lebih sering duduk daripada berbaring. Lebih sering diam daripada tidur.

Ponsel bergetar lagi.

“Ada klien. Minggu. Pukul 13:00–19:00. Bisa?”

Ledi membaca tanpa ekspresi.

Pesan lainnya menyusul. “Kamu masih aktif, kan?”

Ia menatap dua pesan itu lama.

Jarinya bergerak. “Aku istirahat dulu.”

Balasan datang hampir instan. “Berapa lama?”

Ledi hanya membacanya—tidak membalas.

Ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.

***

Malam turun perlahan. Kamar gelap. Hanya cahaya dari layar ponsel yang menyala sebentar.

Pesan baru dari agensi. “Kalau nggak aktif, kabarin. Kita tulis pengumuman kalau kamu lagi cuti.”

Ledi membacanya. Lama.

Tidak ada jawaban yang diketik.

Layar perlahan meredup, lalu padam.

Dalam gelap, kamar terasa lebih sempit dari hari-hari sebelumnya.

Tidak ada Bima. Tidak ada Kevin. Tidak ada jadwal. Tidak ada peran yang harus dimainkan. Hanya dirinya sendiri yang duduk di tepi ranjang dengan pergelangan tangan yang kini kosong.


Other Stories
Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Download Titik & Koma