Bab 18 – Konsekuensi
Hari Senin datang begitu cepat. Alarm berbunyi pukul 04:30. Ledi terbangun tanpa mengeluh.
Tangannya meraba meja kecil di samping kasur, mematikan suara itu sebelum bunyi kedua sempat menyusul. Kamar masih gelap. Udara lebih dingin dari biasanya.
Ledi duduk sebentar di tepi ranjang, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, ia sudah mengenakan kaos polos dan celana panjang jin. Rambut diikat seadanya.
Tidak ada makeup. Tidak ada tas kecil yang dipilih dengan hati-hati. Hanya tas kain biasa yang berisi dompet dan ponsel.
***
Langit masih abu-abu ketika Ledi tiba di mal. Pintu karyawan terbuka setengah. Beberapa orang sudah berkumpul di dekat pos satpam, mengenakan pakaian biasa seperti dirinya.
Seorang pria paruh baya menyerahkan plastik bening berisi seragam dan sarung tangan.
Ledi menerimanya dengan kedua tangan.
Beberapa menit kemudian, ia sudah mengenakan kemeja biru tua berlengan pendek dengan logo kecil di dada kiri, dipadukan dengan celana hitam longgar dan sepatu karet gelap. Kedua tangannya terbungkus sarung tangan karet berwarna kuning.
Hari pertama, pekerjaannya tidak langsung rapi. Pel yang ia celupkan terlalu basah; jejak air mengilap tertinggal panjang di lantai marmer.
Seorang perempuan yang lebih tua berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Diperas lagi,” katanya singkat.
Ledi mengangguk, memutar gagang pel dengan canggung sampai air menetes ke ember. Embernya sendiri hampir terguling saat ia menariknya terlalu cepat.
Ia menahan napas, membetulkan posisi roda kecilnya, lalu mencoba lagi—kali ini lebih pelan.
Tangannya masuk ke air. Kain pel digerakkan maju-mundur dengan ritme yang sama.
Ia mengepel koridor dekat lift utama.
Ia di lorong kosan, membuka pintu kamar.
Ia mengelap kaca etalase yang penuh bekas sidik jari anak kecil.
Ia memakai seragam kerjanya di kosan.
Ia mengganti kantong sampah yang berat dan berbau asam.
Pagi berganti siang. Hari berganti pekan.
Seragam biru itu mulai terasa seperti kulit kedua. Tangannya bergerak otomatis: pel dicelupkan, diperas, digerakkan lurus, lalu menyilang. Ember ditarik, roda kecilnya berderit pelan di lantai marmer.
Tidak ada yang memanggil namanya. Tidak ada yang bertanya asal-usulnya. Tidak ada yang mengajak berfoto bersama. Yang penting: hanya bersih.
***
Di toilet wanita, bau pewangi ruangan menyengat lebih tajam dari biasanya. Ledi berhenti sejenak. Perutnya terasa berputar ringan.
Ia menutup hidung dengan punggung tangan, menunggu beberapa detik. Sensasi itu mereda. Ia menghela napas pelan dan melanjutkan membersihkan wastafel.
“Mungkin belum sarapan,” gumamnya pelan.
Ia minum air dari botol yang dibawanya, lalu kembali bekerja.
***
Dua hari kemudian, saat mengepel koridor dekat pintu keluar parkir, rasa itu datang lagi. Kali ini, lebih kuat.
Ledi menahan gagang pel dengan satu tangan, tangan lainnya menempel pada dinding. Pandangannya sempat mengabur sepersekian detik.
Rekan kerja di ujung lorong melirik. “Masuk angin?”
Ledi mengangguk kecil. “Kayaknya.”
Ia duduk sebentar di bangku plastik dekat gudang peralatan, menunggu sampai rasa mual itu surut. Tidak ada pikiran panjang. Hanya tubuh yang terasa tidak sinkron.
Setelah beberapa menit, ia berdiri lagi. Ia harus bekerja sampai jam kerjanya berakhir.
***
Malamnya, di kamar kos yang kembali sunyi, Ledi duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Ia membuka aplikasi kalender. Menggeser bulan. Menghitung tanggal dengan jari.
Ia berhenti. Menghitung ulang.
Dahinya mengernyit tipis. Angka-angka di layar terasa seperti tidak mau sejajar. Ia memejamkan mata sebentar, lalu membuka lagi kalender itu.
Tidak ada suara apa pun di kamar selain dengung kipas kecil.
Ledi menurunkan ponsel perlahan.
***
Keesokan harinya, sepulang kerja, Ledi berhenti di sebuah apotek kecil di pinggir jalan. Lampu putih terang. Rak-rak dipenuhi obat batuk dan vitamin.
“Testpack ada?” tanyanya singkat sambil sedikit menunduk.
“Mau berapa?”
“Satu aja, Kak.”
***
Kamar mandi kos sempit. Dindingnya lembap di beberapa bagian. Lampu menyala putih keras.
Ledi berdiri di depan wastafel dengan kotak kecil di tangan. Ia membuka kemasannya dengan hati-hati, membaca instruksi sekilas, lalu mengikuti langkahnya tanpa berpikir terlalu jauh.
Beberapa menit terasa lebih panjang dari biasanya.
Ia duduk di tutup toilet, testpack diletakkan di tepi wastafel. Tangannya bertaut di pangkuan. Pandangannya kosong.
Garis pertama muncul lebih dulu.
Ledi tidak bergerak.
Garis kedua muncul perlahan, tipis, lalu semakin jelas.
Dua garis.
Ledi menatapnya tanpa suara. Tidak ada napas tersentak. Tidak ada tangan yang gemetar berlebihan. Hanya tatapan yang diam dan lama.
Ia mengambil alat kecil itu, memegangnya lebih dekat ke wajah. Memastikan dirinya tidak salah lihat.
Dua garis.
Ia duduk lebih lama di lantai kamar mandi, punggung bersandar pada dinding dingin. Lampu di atas kepalanya menyala stabil, tanpa berkedip.
Setelah beberapa menit, Ledi berdiri. Ia membuka pintu kamar mandi dan kembali ke kamar.
Seragam biru tergantung di dinding. Boneka beruang berpita biru tergeletak di atas bantal. Gelang cokelat terletak di meja kecil—tidak pernah dipindahkan.
Ledi duduk di tepi ranjang. Testpack masih di dalam genggaman.
Tangannya yang bebas perlahan bergerak ke perutnya.
Diam.
Lampu kamar tetap menyala.
Other Stories
Rei Kazama
Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...