Pacar Sewaan

Reads
7.9K
Votes
2.5K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 4 – Restoran Mewah

Nama-nama pemeran bergulir di layar, putih di atas hitam. Musik penutup terdengar pelan.

Ledi melihat jam tangan: 18.14. “Aku langsung jalan ya, Kak,” kata Ledi sambil meraih tas kecilnya.

Pria itu mengangguk tanpa menoleh. “Iya. Tadi kamu udah bilang.”

Ledi berdiri, merapikan gaun hitam selutut yang sejak datang ke mal itu ia pastikan tidak kusut. Bahan gaun itu tipis, jatuh rapi, terlalu formal untuk kursi bioskop—tapi tepat untuk meja restoran hotel.

Ledi melangkah cepat menuju pintu keluar.

Sambil menyusuri lorong, ia mengeluarkan ponsel. Angka jam di layar terasa bergerak lebih cepat dari biasanya.

Ia membuka aplikasi ojek online, menekan tombol pesan sambil terus melangkah ke arah pintu keluar mal.

Driver ditemukan.

Ledi mempercepat langkah. High heels-nya berdetak cepat di lantai mengilap, suaranya terlalu jelas di antara orang-orang yang berjalan santai.

Beberapa menit kemudian, udara luar menyambut—bising, penuh klakson yang bersahutan.

Ledi menghampiri pria berjaket hijau yang sudah menunggu di tepi jalan.

“Boleh agak cepetan dikit ya, Pak,” pintanya sopan sambil menaiki motor—duduk miring.

Ia merapikan posisi duduknya, menarik ujung gaun agar tidak tersingkap angin, lalu mengaitkan kaki dengan hati-hati—high heels itu tidak dibuat untuk pijakan penumpang.

Motor langsung melaju, menyelip di antara kendaraan yang padat. Angin malam menerpa betis Ledi.

Ia melirik jam. Rahangnya mengeras. Otot di sekitar lehernya menegang.

Motor berhenti. Lampu merah. Ia tidak perlu melihat jam lagi—tubuhnya sudah menghitung sendiri setiap detik yang berlalu.

Pengemudi itu melirik kaca spion, menangkap kegelisahan di wajah penumpangnya.

Setelah melewati beberapa perempatan dan lampu merah, motor itu berhenti di depan hotel Fairmont Jakarta.

Ledi turun, mengucapkan terima kasih singkat, lalu menuju lobi dengan langkah yang sedikit dipercepat.

Saat pintu kaca menutup, bising jalanan tertinggal di luar. Udara dingin hotel menyentuh kulitnya—bersih, tenang, beraroma mahal.

Di dalam lift, Ledi menekan tombol 22. Lift bergerak naik perlahan.

Napasnya ia atur, lalu tangannya terangkat merapikan rambut—baru sekarang ia bisa berhenti sebentar.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Restoran itu tenang. Cahaya temaram. Meja-meja tertata rapi dengan jarak nyaman. Peralatan makan berkilau halus.

Kevin duduk di meja dekat jendela. Setelannya rapi, punggungnya tegak.

Begitu Ledi mendekat, ia menoleh—lalu melirik jam tangannya sekilas. Tidak ada perubahan di wajahnya. “Kamu tepat waktu,” katanya. Bukan pujian. Bukan penilaian panjang. Hanya pernyataan.

Napas Ledi tertahan sepersekian detik, lalu keluar perlahan. “Makasih,” jawab Ledi sambil mengangguk.

Kevin berdiri dan menarikkan kursi.

Ledi duduk. Kursinya terasa empuk di bokongnya, membuat otot-otot di tubuhnya mengendur.

“Senang kamu datang,” kata Kevin.

Ledi mengangguk. “Aku juga.”

Pelayan datang membawakan buku menu.

“Mau minum apa?” tanya Kevin.

“Air putih aja,” jawab Ledi cepat.

Kevin mengangguk pada pelayan. “Still water.”

Pelayan itu pergi. Keheningan turun sebentar—tapi tidak canggung.

“Kamu kelihatan capek,” kata Kevin.

“Sedikit,” jawab Ledi jujur.

Kevin tidak bertanya lebih jauh. Ia membuka buku menu, membalikkan halaman tanpa tergesa. “Kamu mau makan apa?”

Ledi membalik halaman menu, merasakan kertasnya yang tebal. “Kamu pesen apa?” Ledi bertanya balik.

Steak frites,” jawab Kevin.

“Aku pesen nasi goreng kampung,” kata Ledi sambil menunjuk tulisannya yang ada di buku.

Kevin diam sejenak, seolah mencatat pilihan itu, lalu mengangguk tanpa komentar.

Kevin menutup buku itu perlahan, lalu mengangkat tangan, memberi isyarat pada pelayan.

Beberapa menit kemudian, makanan mereka sudah terhidang di atas meja.

Ledi meneguk air putihnya perlahan. Bahunya turun sedikit.

Percakapan mereka berjalan ringan. Tamu datang dan pergi. Ada tawa kecil yang muncul lalu menghilang, ada jeda-jeda yang dibiarkan kosong.

Saat mereka berhenti sejenak, Kevin memandang ke jendela—ke pantulan cahaya kota di kaca.

“Kalau kamu bisa liburan ke mana aja yang kamu mau,” katanya seolah sambil lalu, “kamu paling pengen ke mana?”

Ledi tidak langsung menjawab. Ia memutar gelas airnya pelan, memperhatikan embun yang turun di sisi luar.

“Paris,” kata Ledi akhirnya. Nada suaranya datar, tidak dibuat-buat.

Kevin menoleh, menatapnya singkat. Alisnya terangkat sedikit—bukan terkejut, lebih seperti mencatat. “Kenapa Paris?”

Ledi mengangkat bahunya sedikit. Bibirnya melengkung tipis. “Aku tahu kedengarannya klise. Tapi … menurutku Paris itu romantis.”

Kevin mengangguk pelan. Ia mengambil serbet, melipatnya sekali, lalu meletakkannya kembali di pangkuan. “Bisa bahasa Prancis?”

“Dikit.” Ledi mempertemukan ibu jari dan telunjuk, menyisakan celah kecil. “Kenapa?”

Kevin menyuapkan potongan daging ke mulutnya, lalu berkata pelan, “Ça va?”

Ledi tersenyum kecil, sedikit terkejut, tapi tidak gugup. “Ça va.”

Kamu punya paspor?” tanya Kevin ringan, seolah hanya memperpanjang obrolan tentang Paris.

“Belum,” jawab Ledi singkat. Ia menunduk, menyuap daging ayam ke mulutnya.

Topik berpindah lagi. Kali ini, mereka mengomentari kasus korupsi yang sedang ramai dibicarakan media.

Kevin berhenti bicara sejenak. Pandangannya mengikuti pelayan yang baru saja menjauh, hingga langkah itu benar-benar hilang dari jarak dengar.

“Menurut kamu, kalau orang udah punya pacar, terus jadi pacar sewaan, itu termasuk selingkuh nggak?” tanya Kevin tanpa menatap Ledi.

Suaranya rendah, nyaris tenggelam di antara denting halus perak yang beradu dengan piring porselen.

“Menurutku sih nggak. Kan nggak ngapa-ngapain. Cuma ngobrol aja,” jawab Ledi cepat.

Ledi berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang lebih ringan, hampir seperti bercanda,
“Lagipula, kalau ada kerjaan lain yang lebih layak, aku nggak mau selamanya jadi pacar sewaan kok.”

Kevin mengangguk. Senyum tipis muncul, lalu menghilang. Garpunya diletakkan tanpa suara.

Waktu terus berjalan. Gelas diisi ulang. Sendok dan garpu kembali beradu halus.

“Kamu udah punya pacar?” tanya Kevin tiba-tiba.

Ledi meletakkan sikunya di meja, tangannya menopang dagu. “Menurut kamu?”

Kevin memegang gelas anggurnya, mencium aromanya, lalu minum.

Ledi mengangkat alis, menunggu jawaban.

Kevin hanya tersenyum. Tidak menjawab—hingga malam berakhir dan mereka pulang dengan jarak yang tetap rapi di antara keduanya.


Other Stories
.

. ...

Balon Kuning Di Ujung Jalan

Liburan ke rumah teman masa SD sangat menyenangkan apalagi diperkenalkan berbagai permaina ...

Jogja With You

Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Download Titik & Koma