Bab 16 – Profesional
Hari-hari mulai sulit dibedakan. Minggu kedua setelah pulang dari Paris, Ledi akhirnya membuka pesan agensi tanpa rasa ingin mematikan ponsel.
“Hari ini kosong?”
Ledi membacanya. Tidak ada ekspresi. Jarinya bergerak. “Iya.”
Balasan datang cepat. “Dinner. Dua jam. Pacific Place. 18:30.”
Foto KTP masuk.
Ledi mengetik: “Oke.”
Pesan terkirim. Ia menurunkan ponsel perlahan. Tidak ada degup jantung yang lebih cepat. Tidak ada gugup. Tidak ada antusiasme. Hanya jadwal dan rutinitas yang kembali dimulai.
***
Sore hari.
Lemari terbuka.
Gaun hitam yang ia pakai di Paris tergantung di sisi kanan. Kainnya jatuh lurus, elegan. Ledi menyentuh ujungnya sebentar.
Tangannya berhenti. Ia melewatinya.
Ia memilih dress yang lama. Dress yang sudah berkali-kali ia pakai untuk bekerja. Tidak mencolok. Tidak istimewa.
Di depan cermin, ia memoles foundation, merapikan alis, memberi sedikit warna pada bibir. Gerakannya presisi. Tekniknya tidak berubah.
Ia tersenyum—namun matanya tetap kosong.
Ia berpaling, lalu mengambil tas.
***
Restoran di Pacific Place ramai dengan cara yang biasa—lampu kuning hangat, gelas berkilau, tawa-canda dari mereka yang sedang menyantap hidangan.
Pria itu duduk di meja yang ada di sudut. Kemejanya putih, jam tangannya besar. Ia berdiri ketika Ledi mendekat. "Ledi?"
"Iya. Kak Arga?"
Pria itu mengangguk, tersenyum tipis. Mereka duduk.
Beberapa menit pertama berjalan normal. Tanya-jawab ringan. Pekerjaan. Hobi. Makanan kesukaan. Percakapan mengalir dengan cara yang sudah Ledi hapal—seperti mengenal rute yang sering dilalui.
“Tatapan kamu beda dari yang di foto,” kata Arga sambil menatapnya.
Ledi tersenyum. “Beda gimana?”
“Lebih … serius.”
Ledi tertawa kecil.
Arga bicara tentang proyek kantornya. Tangannya bergerak antusias. Suaranya terdengar jelas—tapi entah kapan, kata-katanya mulai menjadi latar belakang.
Cahaya restoran yang hangat berubah menjadi cahaya kabin yang redup. Suara piring di meja sebelah menjadi suara turbin pesawat yang berdengung pelan. Selimut tipis. Tangan yang menggenggam di atas sandaran kursi. “My lady.” Suara Kevin terdengar dekat.
"Kamu dengerin nggak sih?" tanya pria di hadapannya.
Ledi berkedip. "Denger kok."
Arga menatapnya sebentar sebelum melanjutkan.
Makanan datang. Ledi menyuap dengan ritme yang benar, mengangguk di waktu yang seharusnya tepat—tapi beberapa kali anggukan itu jatuh di tempat yang salah, dan Arga meliriknya dengan ekspresi yang ... sulit dibaca.
Saat pelayan datang menanyakan minuman tambahan, Ledi menoleh ke Arga. “Mau tambah minum, Kevin?” Ia berhenti. “Eh, maksudnya Kak Arga.”
Hening jatuh di antara mereka.
Arga tidak tertawa. Ia hanya menatap Ledi dengan ekspresi yang tidak bisa disebut marah, tapi juga tidak bisa disebut biasa. Kemudian, ia menoleh ke pelayan. "Nggak usah."
Pelayan mengangguk dan pergi. Sisa makan malam pun berlanjut tanpa obrolan.
Selesai makan, pria itu meletakkan uang Rp100.000 di atas meja. “Buat taksi.”
“Maaf, Kak,” jawab Ledi.
“Take care,” kata Arga. Ia berdiri, lalu pergi.
Kepala Ledi menoleh mengikuti ke mana pria itu melangkah.
Jam di tangan Ledi: 19:13. Kencan mereka belum genap satu jam.
***
Di kamar kos, lampu menyala putih.
Ia masih memakai dress saat mencoba tersenyum di depan cermin—tapi senyumnya terlihat lebih buruk dari tadi sore. Jauh lebih buruk dari sebelum ia pergi ke Paris.
Drrt! Drrt!
Pesan dari agensi. “Ini fee kamu, tapi klien komplain.”
Ledi menatap layar.
Pesan berikutnya masuk. “Katanya kamu nggak fokus.”
Beberapa detik hening.
Ledi mengetik: “Maaf.”
Balasan datang cepat. “Kamu sakit?”
Ledi tidak menjawab.
Pesan lainnya menyusul. “Profesionalitas itu reputasi.”
Belum sempat Ledi mengetik balasan, pesan lainnya masuk. “Kamu cuti dulu aja.”
Ledi menurunkan ponselnya perlahan, tidak bisa berkata-kata.
Ia duduk di tepi ranjang. Dress masih melekat, makeup belum dibersihkan.
Di meja kecil, gelang cokelat tergeletak di samping boneka beruang berpita biru. Dua benda dari dua dunia yang berbeda, diletakkan berdampingan seolah tidak ada yang istimewa dari keduanya.
Ledi membuka galeri. Foto-foto Paris berderet. Menara di senja hari. Piramida kaca. Senyum yang terlihat seperti milik orang yang lebih bahagia dari dirinya sekarang.
Jarinya berhenti di satu foto—wajahnya bercahaya, tangan pria di belakangnya memeluk pinggangnya erat.
Jarinya menekan lama. Opsi “hapus” muncul. Ia menatap foto itu beberapa detik. Kemudian memilih opsi itu. Satu foto hilang. Tapi ia tidak menghapus yang lain.
Ponsel diletakkan di samping bantal. Kamar kembali sunyi. Di luar, bunyi kentongan bambu pedagang yang lewat terdengar menjauh, lalu hilang.
Other Stories
Rest Area
Hidup bukan tentang menemukan tempat tanpa luka, tetapi bagaimana tetap hidup untuk esok d ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...