Pacar Sewaan

Reads
7.9K
Votes
2.5K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 13 – Pulang Dan Berakhir

Sore itu rasanya berbeda.

Ledi berdiri beberapa langkah dari ranjang. Matanya berhenti sepersekian detik di permukaan seprai—tidak ada noda merah, jejak malam itu, di sana.

Sebuah ekspresi tipis melintas di wajah. Bukan sedih, bukan bahagia. Hanya sesuatu yang samar, seperti menyadari bahwa satu fase sudah berakhir.

Ia menoleh ke Kevin yang berdiri tegak di dekat pintu, satu tangannya memegang gagang koper.

Kevin mengangguk kecil. “Udah siap?”

Ledi mengangguk balik. “Udah.”

Kevin membuka pintu. Cahaya sore memantul di lorong hotel yang sunyi.

Ledi melangkah keluar tanpa menoleh lagi ke dalam kamar.

Di ujung lorong, troli housekeeping terdorong pelan. Pintu kamar mereka tertutup dengan bunyi klik yang lebih keras dari biasanya. Seolah sesuatu benar-benar dikunci di dalamnya.

***

Di bandara Charles de Gaulle, layar elektronik memantulkan cahaya kebiruan. Pada boarding pass yang dipegang Kevin, tertera jelas:

Departure 21:30 — CDG to AUH.

Kevin menarik koper Ledi tanpa diminta—seolah itu sudah menjadi kebiasaan.

Di antrean check-in, ia berdiri sedikit di belakang Ledi, satu lengannya merangkul pundaknya.

Orang-orang berlalu-lalang. Bahasa Prancis terdengar cepat dan berirama. Bau kopi dan parfum mahal bercampur di udara.

Saat mereka duduk menunggu boarding dipanggil, Kevin menyentuh dagu Ledi, mengarahkannya sedikit ke samping. Lalu ia mencium pelipisnya. Singkat. Tidak dalam. Tidak mencolok.

Ledi tidak terkejut. Ia bahkan tidak menoleh. Ia hanya menarik napas pelan.

***

Kabin kelas bisnis kembali remang dan tenang. Lampu-lampu kecil menyala lembut. Kursi direbahkan.

Kevin menggenggam tangan Ledi di atas sandaran tangan. Jari-jarinya tidak menggenggam kuat, hanya menahan.

Ledi menyandarkan kepala ke bahu Kevin.

Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada pembahasan tentang nanti.

Beberapa jam kemudian, Ledi terbangun sebentar. Selimut tipis menutupi tubuhnya hingga bahu.

Kevin tidak menoleh. Matanya tertutup. Tapi genggamannya tidak lepas.

***

Pesawat mendarat di Jakarta saat malam sudah penuh. Kontrasnya terasa bahkan sebelum pintu terbuka.

Di Paris, batu-batu krem dan lampu hangat membuat kota tampak lembut dan elegan.

Di Jakarta, lampu putih keras memantul di aspal yang lembap. Udara terasa lebih berat.

Ledi menarik napas panjang ketika pintu otomatis terbuka.

Kevin tetap sama. Tetap berjalan di sampingnya. Tetap sesekali menyentuh siku Ledi agar tidak tersenggol orang. Tidak ada jarak di antara mereka.

Ledi menoleh ke Kevin.

Entah kenapa, Ledi merasa ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang ... sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.

***

Sopir Kevin sudah menunggu di luar. Sopir itu membuka pintu belakang, lalu melirik Ledi sekilas. Tatapan itu cepat—terlalu cepat untuk disebut kasar, terlalu lama untuk disebut biasa.

Ledi tidak tahu apa yang membuatnya ditatap seperti itu—ia hanya merasa ... ada yang aneh.

Kevin mempersilakan Ledi masuk terlebih dahulu, lalu duduk di sampingnya—sangat dekat seperti biasa.

Mobil bergerak membelah jalanan Jakarta yang padat.

Lampu-lampu kota memantul di kaca. Motor-motor menyelip. Klakson terdengar berlapis.

Kevin menyentuh tangan Ledi sekali lagi. “Capek?”

“Dikit,” jawab Ledi.

Kevin mengangguk.

***

Mobil berhenti di depan kos Ledi.

Kevin turun lebih dulu, membukakan pintu. Ia menatap Ledi beberapa detik, lalu mencium keningnya.
“Istirahat ya.”

“Iya,” jawab Ledi sambil tersenyum, lalu ia turun.

***

Begitu pintu kamar tertutup di belakangnya, suara mesin mobil Kevin masih terdengar samar di luar sebelum benar-benar menghilang.

Ledi berdiri beberapa detik tanpa menyalakan lampu. Hanya cahaya samar dari lampu di lorong yang menerangi lantai. Untuk pertama kalinya sejak turun dari pesawat, ia benar-benar sendirian.

Ledi menyalakan lampu dan berdiri di tengah kamar beberapa saat, seolah ukuran ruangan ini berubah sejak ia pergi.

Ia menatap poster Menara Eiffel di dinding, lalu meletakkan kopernya di lantai.

Ia mengeluarkan boneka beruang mungil berpita biru itu, lalu memegangnya dengan kedua tangan. Jempolnya menyentuh pita.

Di lorong, terdengar bunyi langkah kaki.

Ledi duduk di tepi ranjang dan meletakkan ponselnya di atas kasur.

Ia memeluk boneka itu—Paris sudah jauh, tapi rasanya masih dekat.

Drrt! Drrt!

Ponselnya bergetar pelan. Notifikasi dari aplikasi mobile banking muncul di layar.

Transfer masuk: Rp100.000.000. Pengirim: Kevin.

Ledi menatap angka itu cukup lama, memastikan dirinya tidak salah baca. Napasnya berubah. Matanya membesar.

Ia langsung membuka WA. “Vin, ini kenapa 100 juta? Kan cuma 14.”

Sekian detik kemudian, balasan masuk. “It’s okay. Terima aja.”

Ledi membuka WA agensi. “Aku udah balik, Kak. Bisa aktif lagi.”

“Oke,” jawab agennya singkat.

Beberapa menit kemudian, ia membuka Instagram agensi. Postingan cuti sudah tidak ada di pinned post.

Ledi menutup aplikasi Instagram dan meletakkan ponselnya di samping boneka beruang.

Di luar, terdengar bunyi kentongan bambu pedagang yang lewat.

Selama beberapa saat, ia hanya duduk menatap seprai.

Kemudian, tangan kirinya perlahan bergerak ke pergelangan tangan kanan. Gelang cokelat itu masih terikat di sana. Simpul kecilnya sedikit mengendur.

Ledi membuka WA lagi. Nama Bima ada di paling atas. Pesan terakhirnya, kemarin, yang belum ia balas: “Nanti pesawat jam berapa, Yang?”

Jarinya tertahan sekian detik di udara sebelum akhirnya mengetik: “Aku udah di kosan.”

Balasan datang cepat. “Aku mau ketemu sekarang. Kangen banget. Tapi kamu pasti lagi capek.”

Ledi menatap layar. Jam di ponsel: 22:58. Ia tidak langsung membalas.

Suara motor lewat terdengar di luar.

Ledi mengetik perlahan: “Besok aja ketemunya ....” Pesan itu buru-buru ia hapus.

Pesan Bima masuk lagi. “Besok mau aku jemput jam berapa?”

Ledi menatap tulisan itu cukup lama, lalu meletakkan ponselnya di atas kasur—layar menghadap ke bawah.

Untuk sesaat, kilasan masa lalu terlintas di benaknya.

Tawa dirinya dan Bima saat keluar dari rumah hantu.

“Lihat kamu aja udah manis banget.”

Es krim cokelat meleleh di jarinya. Pelukan hangat Bima dari belakang.

Nasi goreng yang disuapkan Bima ke mulutnya.

Gelang kain yang dipasangkan Bima di pergelangan tangannya.

Lalu, kilasan lain.

Lampu kabin bisnis yang remang. Tangan Kevin menggenggam tangannya di atas sandaran kursi.

Potongan steak di ujung garpu diangkat pelan ke bibirnya.

“Lomba yuk siapa yang duluan habis.”

Bibir Kevin menyentuh bibirnya singkat, dengan latar menara yang menjulang diam.

Ledi berkedip. Kamar kos kembali sunyi.

Ia menoleh ke boneka, menghembuskan napas panjang.

Ia mengambil ponselnya lagi. “Bim,” ketik Ledi. “Kita udahan ya.”

Titik tiga langsung muncul.

“Udahan gimana maksudnya?” tanya Bima.

Ledi menatap simpul gelang di pergelangan tangannya. “Hubungan kita.”

Tidak ada balasan.

Beberapa detik kemudian: “Karena dia?”

Jari Ledi tidak bergerak. Layar tetap menyala. Ia tidak mengetik. Tidak membantah. Tidak menjelaskan.

Titik tiga muncul, hilang, muncul lagi.

Akhirnya pesan masuk: “Kalau itu bisa bikin kamu bahagia, aku terima keputusan kamu.”

Ledi menelan ludah.

“Makasih udah pernah sayang dan tulus banget sama aku,” lanjut Bima. “Jaga diri kamu.”

Ledi tidak membalas. Ia mematikan layar. Kamar kembali sunyi.

Tangannya menyentuh gelang cokelat itu lagi. Ia menarik simpulnya perlahan. Benangnya bergeser sedikit, tapi tidak ia lepas.

Ia lalu membaringkan diri di atas ranjang sempit itu, menatap langit-langit yang retaknya terlihat jelas di bawah lampu.

Liburan di Paris sudah selesai. Uang seratus juta sudah masuk. Dan sesuatu yang sederhana, yang dulu pernah terasa cukup, baru saja ia lepaskan.


Other Stories
Painted Distance (tamat)

Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

Download Titik & Koma