Pacar Sewaan

Reads
8.1K
Votes
2.6K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 6 – Persiapan

Seminggu sebelum keberangkatan, Kevin menjemput Ledi di depan kosnya menjelang sore.

Mobilnya berhenti rapi di parkiran yang biasa dipenuhi motor dan jemuran pakaian yang menggantung rendah.

Kaca jendela mobil itu gelap, memantulkan bangunan kos tiga lantai yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut.

Ledi membuka pintu penumpang dengan hati-hati, memastikan ujung roknya tidak tersangkut.

Udara di dalam mobil lebih dingin dari udara luar. Wangi samar interior baru bercampur dengan parfum yang sudah ia kenal.

“Langsung?” tanya Kevin.

Ledi mengangguk. “Iya.”

Mobil bergerak perlahan meninggalkan gang sempit, lalu menyatu dengan arus kendaraan sore yang padat. Tidak banyak percakapan. Hanya suara mesin yang halus dan deru lalu lintas dari luar.

Tangan Kevin menyentuh layar di dashboard. Musik mengalun pelan memenuhi ruang kabin.

Ledi menoleh sekilas.

Itu lagu yang Ledi nyanyikan di tempat karaoke waktu itu. Lagu lama, liriknya sederhana, refnya mudah diingat.

Kevin tidak menoleh. Tangannya tetap di setir, pandangannya lurus ke depan. “Kebetulan ada di playlist,” katanya datar, seolah tidak ada maksud apa pun di baliknya.

Ledi tersenyum kecil. Ia menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan lagu itu mengalun. Sesekali ia ikut bernyanyi.

Ledi menatap keluar jendela, melihat bayangan dirinya sesekali terpantul di kaca mobil.

Sekitar satu jam kemudian, mobil berhenti di area parkir salah satu mal kelas atas di Jakarta. Lampu-lampu neon memantul di kap mesin yang mengilap.

Kevin turun lebih dulu, lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Ledi.

Ledi tersenyum tipis, merasakan dadanya menghangat tanpa benar-benar tahu penyebabnya, lalu melangkah turun dengan hati-hati agar hak sepatu tingginya tidak tersangkut.

Thud. Pintu tertutup.

Bip. Lampu mobil berkedip sekali.

Kevin mengulurkan tangan. Ledi menyambutnya tanpa ragu. Mereka berjalan menuju pintu akses mal.

Di sisi kanan, beberapa pintu logam abu-abu berjajar. Tulisan kecil di atasnya: Lift Servis.

Seorang petugas kebersihan berseragam biru tua keluar sambil mendorong troli. Sepatu karetnya menggesek lantai beton dengan suara pelan.

Di dinding dekat pintu lift itu, tertempel beberapa lembar kertas yang direkatkan dengan selotip bening. Salah satunya bertuliskan:

Dibutuhkan Petugas Kebersihan.

Shift pagi / malam.

Gaji UMP + lembur.

Langkah Ledi melambat. Ia membaca baris “Gaji UMP” sekali lagi.

“Kamu lihat apa?” tanya Kevin tanpa berhenti berjalan.

“Nggak,” jawab Ledi cepat. Ia segera menyusul Kevin.

***

Pintu kaca otomatis terbuka dengan desis pelan. Udara dingin dari dalam menyapu kulit. Lantai marmernya mengilap.

Kevin berjalan setengah langkah di depan Ledi. Tidak tergesa, tidak pula santai berlebihan. Ia hanya sesekali melambat, memastikan Ledi tetap sejajar.

Di etalase toko, manekin berdiri tegak dengan gaun-gaun yang jatuh rapi—tanpa kusut, tanpa noda, tanpa ragu.

Kevin berhenti di depan butik pertama, lalu mengangguk pada Ledi.

Ledi membalas anggukannya sambil tersenyum. Tangannya merapikan ujung blusnya yang sederhana. Ia menatap gaun-gaun indah yang tergantung rapi di balik kaca bening itu.

Kevin masuk. Ledi mengikuti.

Di dalam, cahaya lebih hangat. Rak-rak pakaian tersusun simetris. Seorang pramuniaga mendekat dengan senyum ramah, kedua tangannya dikatupkan di depan dada.

Kevin menatap pramuniaga itu sambil menunjuk Ledi dengan telapak tangan terbuka.

Wanita berseragam biru muda itu mengangguk. “Sebelah sini, Kak.”

Kevin menunjuk gaun hitam dengan potongan sederhana. Lehernya berbentuk V dangkal, lengannya pendek, dan bagian pinggangnya sedikit menyempit sebelum jatuh lurus hingga lutut.

“Potongannya pas buat ... tubuh kamu,” kata Kevin.

Gaun itu tidak memiliki motif. Tidak berkilau. Justru karena itu terlihat mahal.

Ledi mengangkatnya dari gantungan. Kainnya lembut dan jatuh berat di telapak tangannya. Ada struktur halus di bagian pinggang yang hampir tak terlihat, tapi terasa saat disentuh.

Kevin menunjuk satu lagi—warna krem lembut dengan potongan yang sama bersihnya. “Itu juga. Sama yang itu.”

Ledi mengambil keduanya.

“Kamar pasnya di sebelah sana, Kak,” kata pramuniaga.

Di ruang ganti, Ledi berdiri di depan cermin tinggi. Ia menarik ritsleting pelan hingga tertutup sempurna.

Gaun hitam itu pas di bahunya. Garis lehernya tegas. Potongannya menyempit di pinggang. Kakinya terlihat jenjang.

Ia berputar setengah lingkaran. Kainnya bergerak pelan, tidak menempel, tidak pula mengembang.

Ledi membuka tirai.

Kevin mengangkat wajah. Pandangannya bergerak singkat dari bahu ke pinggang, lalu berhenti. “Bagus.” Hanya itu.

Ledi menutup tirai.

Begitu tirai kembali terbuka, Kevin melihat Ledi mengenakan gaun berwarna krem. Kevin menggeleng pelan.

Setelah membayar di kasir, mereka pergi ke toko lain.

Di dekat pintu masuk, rak pakaian musim dingin berjajar rapi.

Kevin berhenti. Ia menyentuh kain mantel wol warna krem, lalu mengangkatnya sedikit. “Paris dingin,” katanya singkat. Mantel itu diletakkannya di lengan Ledi, seolah keputusan sudah dibuat.

Ledi memegang kainnya. Tebal. Hangat.

Mereka melanjutkan ke butik berikutnya, lalu keluar dengan goodie bag yang lebih banyak.

Mereka masuk ke toko sepatu.

“Kalau nggak cocok, cari di tempat lain,” kata Kevin datar saat Ledi terlihat ragu pada sepatu kasual yang ia pegang. “Banyak pilihan.”

Ledi tersenyum tipis. “Ini udah bagus kok.”

***

Mobil berhenti tepat di depan kos.

Mesin masih menyala. Lampu depan menyinari dinding yang catnya mengelupas.

Kevin mengambil amplop dari dasbor dan menyodorkannya.

“Kenapa dibayar? Kan—”

Kevin berdecak pelan. “Terima aja.”

Tangan Ledi menggantung sepersekian detik.

“Aku maksa.”

Jemari Ledi sedikit mengencang sebelum akhirnya menerima amplop itu. “Makasih, Kak.”

***

Malam sebelum keberangkatan, Ledi dan Bima duduk di sebuah warung kecil.

Lampunya redup, televisi di sudut ruangan menyiarkan acara musik dengan suara yang nyaris tak terdengar. Meja-meja kosong, kecuali satu yang mereka tempati.

Di hadapan mereka, sepiring nasi goreng mengepul tipis. Bima mendorong piring itu ke arah Ledi. “Aku suapin, ya.”

“Ih, kayak anak kecil aja,” balas Ledi sambil cemberut—lalu ia susul dengan senyum dan cubitan kecil di lengan Bima.

Bima tersenyum. Ia menyendok nasi, lalu menyuapkannya. Sendok menyentuh bibir Ledi. Hangat. Sederhana.

Ibu jarinya menghapus sisa nasi di sudut bibir Ledi.

Bima menyendok lagi, pelan-pelan, seolah ingin memperpanjang waktu yang tersisa.

Ledi melihat jam di tangan kirinya.

***

“Aku bakal ganti uang kamu,” kata Bima tiba-tiba setelah Ledi selesai makan.

Ledi menatapnya. “Uang apa?”

“Yang kamu kasih waktu itu.”

Ledi tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Yang. Nggak usah diganti.”

Bima menggeleng. “Aku nggak enak dikasih cewek.”

“Yang, aku kan pacar kamu,” kata Ledi. Nada suaranya lembut, tidak memaksa. “Kalau lagi ada, kita gantian.”

Bima diam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Doain ya biar aku cepet diangkat.”

“Iya. Pasti, Yang,” jawab Ledi.

***

Mereka berjalan pelan menuju parkiran di samping warung. Angin malam menerpa kulit. Ledi merapatkan lengannya ke tubuh.

Bima mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah gelang kain berwarna cokelat yang sederhana—tipis, tanpa hiasan, hanya simpul kecil di ujungnya.

“Ini apa?” tanya Ledi.

“Pakai aja,” jawab Bima.

Ledi tersenyum. “Kenapa cokelat?”

“Warna kesukaan kamu.” Bima mengikatkan gelang itu di pergelangan tangan kanan Ledi. Gerakannya hati-hati. Gelang itu ringan, hampir tidak terasa.

“Jangan dilepas, ya,” kata Bima pelan.

Ledi menatap simpul kecil itu. “Iya,” jawabnya sambil mengangguk.

Bima memeluknya. Tidak kuat—cukup untuk membuat tubuh Ledi berhenti bergerak sejenak. “Aku bakal kangen banget.”

Ledi tidak melepas pelukan itu. Gelangnya “bergesekan dengan punggung Bima. “Aku juga.”


Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Download Titik & Koma