Pacar Sewaan

Reads
8.1K
Votes
2.6K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 8 – Lebih Dekat

Ledi terbangun oleh cahaya pucat yang menyusup lewat tirai. Langit di luar jendela berwarna biru keabu-abuan, belum sepenuhnya terang. Tidak ada teriakan pedagang. Tidak ada bunyi motor tua.

Selama beberapa detik, ia berdiam diri, mengingat-ingat di mana dirinya berada, lalu tersenyum tipis.

Ia duduk perlahan di tepi ranjang, memandangi simpul kecil di pergelangannya, lalu bangkit dan menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi yang lebih luas dibanding kamar kosnya itu, aroma sabun hotel yang bersih terasa samar di udara. Bathtub berdiri di sisi ruangan, permukaannya licin dan mengilap.

Ledi melepas gelang kainnya dan meletakkannya di atas wastafel.

***

Jam menunjukkan pukul delapan kurang sedikit ketika pintu kamarnya diketuk.

Ledi, yang sudah berpakaian rapi untuk keluar, membuka pintu hampir seketika.

“Laper?” tanya Kevin.

Ledi mengangguk.

Lift turun perlahan. Pantulan mereka berdiri berdampingan di cermin. Kali ini jaraknya lebih dekat dari semalam.

***

Di restoran, aroma kopi dan roti panggang bercampur dengan percakapan pelan tamu lain. Ledi mengambil croissant dan telur orak-arik.

Kevin mengeluarkan ponsel dari sakunya—tersenyum tipis saat menatap layarnya.

Ledi melihat senyum itu. Bukan senyum lebar. Hanya tarikan kecil di sudut bibir yang terasa terlalu personal untuk sekadar berita pagi.

Ledi menunggu sepersekian detik, berharap Kevin berkata sesuatu. Tapi Kevin hanya memasukkan kembali ponselnya. Ledi tidak bertanya.

Kevin menuangkan kopi untuk Ledi. “Manis?”

Ledi mengangguk.

Kevin menambahkan sedikit gula—tatapannya terkunci pada mata Ledi.

***

Udara pagi terasa lebih dingin dari yang Ledi bayangkan. Langit cerah, matahari tipis, napas terlihat samar saat diembuskan.

Mereka berjalan menyusuri trotoar batu yang rapi. Beberapa kali bahu mereka bersentuhan ringan.

Toko-toko kecil baru membuka pintu. Seorang penjual bunga menyusun buket di ember-ember logam.

Kevin membeli setangkai bunga, lalu memberikannya pada Ledi.

Sepasang lansia berjalan pelan sambil berbicara—sedikit sekali kosakata mereka yang Ledi pahami.

Di lampu penyeberangan, Kevin meraih tangan Ledi tanpa melihat ke arahnya. Genggamannya tenang. Tidak kuat, tidak ragu.

Ledi tidak menarik tangannya.

Sesampainya di seberang, Kevin tidak langsung melepaskan. Tangan mereka justru bergerak seirama.

Di tepi sungai, angin berhembus lebih kencang. Air mengalir pelan, memantulkan cahaya pagi yang mulai menguat.

Ledi berhenti, menatap permukaan air. “Indah,” katanya pelan.

Kevin berdiri di sampingnya. Bahunya hampir bersentuhan dengan bahu Ledi.

Beberapa meter dari situ, ada gerobak kecil menjual es krim dan crêpe. Asap tipis mengepul dari wajan datar. Aroma manis menyentuh udara dingin.

Ledi menoleh ke arah gerobak itu.

Kevin ikut menoleh ke arah yang sama, lalu ke arah Ledi. “Tunggu di sini.”

“Aku ikut,” kata Ledi.

Mereka berjalan ke arah penjual—lalu Kevin merangkul pundaknya.

“Rasa apa? Tunggu,” Kevin melirik gelang cokelat Ledi. “Mau yang cokelat?”

Ledi senyum lebar sambil mengangguk.

Kevin memesan dua es krim rasa cokelat.

Tak lama kemudian, Kevin menerima dua buah es krim, lalu menyerahkan salah satunya pada Ledi.

Mereka meninggalkan kerumunan kecil di sekitar gerobak dan berjalan hingga hanya suara air yang terdengar jelas.

Ledi berdiri menghadap sungai, satu tangan memegang es krim, tangan lainnya masuk ke saku mantel. Angin bertiup kencang, membuat rambutnya sedikit berantakan di sekitar wajah.

Kevin yang berdiri di samping mengangkat tangan dan menyingkirkan helai rambut yang menutup pipi Ledi. Ujung jarinya sempat menyentuh pelipis.

Ledi tersenyum tipis, lalu menggigit ujung es krim itu. Dingin menyentuh giginya. Ia meringis sebentar, lalu tertawa. Es krim itu rasanya nikmat dibanding semua es krim yang pernah ia makan.

“Lomba yuk siapa yang duluan habis,” tantang Kevin.

Ledi menjilati es krimnya lebih cepat sambil matanya sesekali melirik ke arah Kevin.

Kevin menghabiskan es krimnya terlebih dulu. Ledi menyusul beberapa detik kemudian.

“Ih, kalah,” kata Ledi sambil bibirnya sedikit dimonyongkan.

Kevin mengusap sisa cokelat di sudut bibir Ledi. Ujung jarinya tetap menempel di kulit Ledi lebih lama dari yang seharusnya.

Ledi menatapnya. Tidak tersenyum. Tidak juga menjauh.

Angin berembus lebih kencang dari sebelumnya. Ledi menarik napas, bahunya terangkat tipis.

Kevin melirik ke arah rambut Ledi yang kembali tersapu ke depan wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, ia pindah ke belakang Ledi. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa sentimeter.

Ledi menoleh ke samping, memperhatikan orang-orang yang lewat. Hampir semuanya berjalan berpasangan. Tangan saling menggenggam, lengan saling merangkul.

Ledi kembali menatap lurus ke arah sungai.

Perlahan, lengan Kevin bergerak. Satu lengan melingkar di depan perut Ledi. Satunya lagi menyusul, mengunci lembut di atas mantel. Tubuhnya menempel penuh di punggung Ledi. Hangat.

Ledi tidak beranjak. Napasnya terlihat tipis di udara dingin. Angin menyentuh pipinya, tapi kini bagian belakang tubuhnya tertutup oleh suhu tubuh Kevin.

Ledi menarik napas lebih dalam. Bahu yang tadinya tegang perlahan turun. Tubuhnya melembut. Ia tidak menoleh. Tidak berkata apa-apa.

Tangannya bergerak pelan, menyentuh lengan Kevin yang melingkar di pinggangnya. Bukan untuk melepaskan. Hanya menyentuh.

Kevin menundukkan sedikit wajahnya. Hidungnya nyaris menyentuh rambut Ledi.

Ia tidak mencium. Hanya diam. Air sungai bergerak pelan di depan mereka.

“Jangan lama-lama, ya. Nanti aku ... ketagihan,” ucap Ledi. Nada suaranya lebih rendah dari biasanya. Lebih pelan. Lebih lembut. Hampir seperti bisikan yang tidak direncanakan.

“Nikmatin aja,” kata Kevin. Embusan napasnya terasa di telinga Ledi.

Ledi menyandarkan kepalanya di dada Kevin dan membelai punggung tangan pria itu. Napasnya pelan. Angin tak lagi terasa setajam tadi.

***

Lampu-lampu kota sudah menyala penuh ketika mereka kembali ke hotel. Lift bergerak naik tanpa percakapan.

Di lorong yang sunyi, langkah mereka berhenti di depan dua pintu yang berdampingan.

Kevin mengangkat kartu kamarnya. “Sampai besok,” katanya singkat.

Ledi mengangguk.

Pintu terbuka. Pintu tertutup. Dinding di antara mereka kembali utuh.


Other Stories
Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Balon Kuning Di Ujung Jalan

Liburan ke rumah teman masa SD sangat menyenangkan apalagi diperkenalkan berbagai permaina ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Download Titik & Koma