Pacar Sewaan

Reads
7.9K
Votes
2.5K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 17 – Pekerjaan Baru

Ledi duduk di lantai dengan laptop terbuka di atas kasur. Beberapa tab terbuka, menampilkan informasi lowongan kerja.

“Pendidikan minimal S1.”

“Pendidikan minimal D3.”

Ia menatap persyaratan itu lama. Dua huruf tambahan di ijazah bisa mengubah segalanya.

Ledi mengetik “Lowongan pekerjaan SMA sederajat di Jakarta.”

Deretan hasil bermunculan. Ia menggulir kursor ke bawah. Ada lowongan Sales Promotion Girl di department store.

***

Beberapa hari kemudian, Ledi duduk di ruang tunggu kantor dengan dinding kaca dan kursi logam berwarna abu-abu. AC terlalu dingin. Tangannya memegang map tipis berisi berkas.

Namanya dipanggil.

Di dalam ruangan, seorang wanita berblazer hitam menatap CV di depannya. “Freelancer di bidang apa?”

Ledi tersenyum tipis. “Event dan hospitality, Bu.”

“Durasi event terakhir berapa lama?”

“Sekitar… dua minggu, Bu,” jawab Ledi.

“Kenapa tidak lanjut?”

“Kliennya sudah selesai.”

Wanita itu mengernyitkan dahi sekilas, lalu mengajukan pertanyaan berikutnya, “Rencana lima tahun ke depan?”

Ledi terdiam—sadar dirinya tidak punya rencana hidup jangka panjang. “Mau berkembang, Bu,” jawab Ledi akhirnya.

Wanita itu mengangguk, mencatat sesuatu. “Nanti kami hubungi lagi.”

Ledi tahu kata-kata itu tidak menjanjikan apa-apa sehingga ia keluar dari kantor itu tanpa perasaan kecewa—tanpa berharap diterima.

***

Malam itu, Ledi membuka lemari. Gaun hitam, mantel dan pakaian lain yang Kevin belikan masih tergantung rapi.

Ia membentangkan gaun itu di atas kasur yang seprai putihnya sudah agak kusut. Kain hitam itu rapi—lebih elegan dari kamar ini.

Ia meratakan lipatan dengan telapak tangan—seolah sedang menyiapkan sesuatu untuk dipamerkan.

Ponsel diangkat. Kamera dibuka. Cekrek.

Ia memeriksa hasilnya. Memotret lagi dari sudut lain. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Ia membuka aplikasi marketplace, lalu mengetik: Dress hitam. Preloved. Kondisi sangat baik. Harga Rp1.500.000.

Unggah.

Ia memotret mantel wol. Lalu pakaian lain—semua yang Kevin belikan ia jual.

***

Pagi harinya, Ledi langsung membuka aplikasi marketplace—tidak ada notifikasi. Ia menghela napas.

Saat ia akan makan siang, satu notifikasi masuk. Seseorang bertanya, “Masih ada?”

Ledi mengetik: “Masih.”

Tidak ada balasan lagi.

***

Malam harinya, Ledi membuka kembali aplikasi itu. Angka “0 terjual” tertera di bagian atas.

Ia tidak merasa kecewa. Ia juga tidak merasa terdorong untuk memperbaiki foto, mengubah harga, atau membuat promo.

Ia memandangi layar ponselnya selama beberapa saat, lalu menutup aplikasi itu.

Ia menyalakan laptop, membuka Excel, lalu membuat tiga kolom.

Modal.

Untung.

Strategi.

Kursor berkedip di sel pertama—seolah sedang menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Setelah lama menatap layar, ia tetap tidak mengisi apa pun.

Ia menghela napas panjang, lalu mematikan laptopnya tanpa menyimpan file tersebut.

Aku memang nggak cocok jualan, kata Ledi dalam hati.

***

Beberapa hari kemudian, ia berdiri di lantai dasar sebuah mal. Lampu putih menyala terang. Musik instrumental mengalun dari speaker langit-langit.

Di dekat toilet wanita, sebuah papan pengumuman kecil ditempel di dinding.

DIBUTUHKAN PETUGAS KEBERSIHAN.

Shift pagi / siang. Lulusan minimal SMA. Hubungi nomor tertera.

Tidak ada kalimat tentang mimpi. Tidak ada kata “kesempatan emas”. Tidak ada janji peluang karier. Hanya jadwal dan nomor telepon.

Ledi membaca pengumuman itu tanpa ekspresi.

Jam kerja jelas.

Tugas jelas.

Tidak perlu menjual senyum.

Tidak perlu menjawab pertanyaan pribadi.

Tangannya masuk ke dalam tas, mengeluarkan ponsel, lalu memotret nomor itu.

***

Dua hari kemudian, ia duduk di ruangan kecil dengan meja kayu dan AC yang tidak terlalu dingin.

Seorang pria paruh baya menatap fotokopi KTP-nya. “Pengalaman kerja?”

“Pernah kerja event,” jawab Ledi.

Pria itu mengangguk—tidak bertanya lebih jauh. “Shift pagi mulai jam enam. Bisa?”

“Bisa, Pak.”

“Mulai Senin, ya.”

Ledi mengangguk. “Baik, Pak.”

Hanya itu. Tidak ada pertanyaan tentang lima tahun ke depan. Tidak ada kalimat “Nanti kami hubungi lagi.”

Tak lama kemudian, Ledi keluar ruangan dengan langkah datar.

Senin. Jam enam pagi. Jadwalnya sudah jelas.

Ia melewati etalase butik dengan gaun hitam—seperti yang baru saja ia jual—yang tergantung di balik kaca. Lampu hangat menyinari kainnya. Ia tidak berhenti melangkah.

Di dekat pintu mal, Ledi tidak langsung keluar. Ia berdiri, melihat cahaya matahari sore yang memantul di lantai yang mengilap.

Beberapa orang lewat membawa tas belanja bermerek. Anak kecil berlari sambil tertawa.

Ledi memperhatikan anak kecil itu beberapa saat, lalu melangkah keluar. Pintu kaca tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan.


Other Stories
Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Download Titik & Koma