Bab 19 – Kembali (21+)
Ledi duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Lampu kamar menyala putih, menyorot dinding yang retaknya semakin jelas jika diperhatikan terlalu lama.
Ia membuka aplikasi m-banking. Saldo yang tertera: 99 juta lebih, hampir 100 juta.
Ledi menatap angka itu lama. Terlalu lama. Seolah berharap jumlahnya berubah menjadi sesuatu yang bisa menjawab pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras.
Tangannya perlahan turun ke perutnya. Datar. Belum ada yang terlihat berbeda. Hanya hangat.
Ia menunduk.
Nggak, aku nggak mau aborsi, ucapnya dalam hati.
Ledi teringat dirinya berciuman dengan Kevin dengan Menara Eiffel sebagai latar. Lalu ia teringat apa yang terjadi di kamar setelahnya.
Aku memang bukan cewek baik-baik, tapi aku bukan pembunuh.
Ia menutup aplikasi itu, lalu membuka Google Chrome.
Biaya persalinan Jakarta.
Nama rumah sakit dan daftar harga memenuhi layar. Normal sekian, caesar sekian. Belum termasuk obat, belum termasuk komplikasi.
Ia menghela napas pelan. Lalu, tanpa membaca detailnya, ia mematikan layar.
***
Ledi duduk tanpa bergerak.
Boneka beruang berpita biru tergeletak di bantal.
Gelang cokelat di meja kecil. Seragam biru tergantung rapi di dinding, kering dan bersih. Tiga benda. Tiga fase hidup.
Ia mengambil ponsel lagi, membuka chat Bima. Tidak ada pesan baru. Tidak ada titik tiga.
Jempolnya melayang di atas keyboard—tidak langsung mengetik.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya: “Bim, apa kabar? Bisa ketemu?”
Pesan terkirim. Ledi memejamkan mata.
***
Mereka bertemu di warung yang mereka kunjungi di malam sebelum Ledi pergi ke Paris.
Bima datang mengenakan kemeja biru. Tidak mahal. Tidak baru. Rambutnya tersisir rapi. Wajahnya tampak sedikit lebih matang, atau mungkin hanya lebih tenang.
Ia duduk di hadapan Ledi. “Kamu kelihatan capek,” katanya pelan.
“Iya,” jawab Ledi.
Hening sebentar.
Suara sendok beradu dengan piring dari meja sebelah. Bau sambal terasi menyeruak.
Ledi menarik napas. “Aku tahu aku salah dan aku minta maaf.” Kalimat itu keluar tanpa getar. Ledi memegang tangan Bima. “Aku masih sayang kamu. Aku pengen kita mulai lagi dari awal.”
Bima tidak langsung menjawab.
Ledi menatap wajahnya. “Kamu belum punya pacar, kan?”
Bima menggeleng pelan. “Jujur, aku lagi deket sama rekan kerja.” Ia berhenti sebentar. “Tapi, aku juga masih sayang kamu.”
Tatapan mereka bertemu.
Ledi tidak menangis. Tidak memohon. Ia hanya mengangguk kecil.
Bima menarik napas, lalu berkata, “Ya udah.”
Dua kata itu terdengar sederhana. Tapi beratnya terasa jelas di antara mereka.
Tidak ada pertanyaan tentang Kevin. Tidak ada penggalian masa lalu. Tidak ada syarat. Hanya keputusan.
***
Pasar malam itu masih di tempat yang sama. Lampu warna-warni menggantung rendah, musik dangdut terdengar samar dari kejauhan.
Bima membeli dua es krim—cokelat untuk Ledi, vanila untuk dirinya sendiri. Mereka berdiri berdampingan, tidak saling menggoda seperti dulu.
Tidak ada candaan tentang manis. Tidak ada cubitan ringan. Hanya suara sendok plastik beradu dengan cup dan orang-orang yang berlalu-lalang tanpa peduli pada mereka.
Mereka saling memegang tangan, lalu berjalan ke satu arah.
Mereka menjilat es krim itu pelan, tanpa tergesa.
Tangan mereka sempat terlepas saat Ledi mengangkat cup untuk menghabiskan sisa es krim. Bima tidak langsung menggenggam lagi. Mereka berdiri berdampingan, dengan jarak yang nyaris tak terlihat.
Setelah es krim habis, Bima memeluk Ledi dari belakang. Dan Ledi langsung merapatkan tubuhnya, seolah takut memberi jarak lagi.
***
Bima berbaring di ranjang kos Ledi, dengan satu tangan terlipat di bawah kepala.
Ledi mematikan lampu utama. Hanya lampu kecil di sudut kamar yang menyala redup, menyisakan bayangan lembut di dinding.
Ia naik ke ranjang dan berbaring di samping Bima tanpa banyak bicara.
Mereka saling mendekat.
Bibir bertemu pelan, lalu lebih dalam.
Kasur bergerak mengikuti irama mereka yang liar. Telapak tangan Bima bertumpu pada kasur di samping wajah Ledi.
Di satu momen, mata Bima melirik ke bawah sekilas. Ekspresinya berubah sepersekian detik, lalu kembali datar. Ia tidak bertanya. Tidak juga menarik diri.
Napas mereka saling bertabrakan, semakin cepat, semakin berat. Tangan Ledi mencengkeram seprai hingga kusut.
Other Stories
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Hantu Dan Hati
Zaki yang baru saja pindah kesebuah rumah yang ditinggalkan, menemukan fakta bahwa terdapa ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Horor
horor ...
Lombok; Tanah Surga
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...