Bab 20 – Pengakuan (21+)
Mereka mengulangi adegan tersebut beberapa malam kemudian.
Di satu tarikan napas yang lebih berat dari sebelumnya, tubuh Bima menegang. Tangannya bergeser, seolah hendak menarik diri.
Tangan Ledi menahan bahu Bima, jari-jarinya menekan ringan, seperti memintanya tetap di tempat. Ledi tidak berkata apa-apa.
Tatapan mereka bertemu—Ledi tersenyum.
Beberapa saat kemudian, mereka berbaring bersebelahan, menatap langit-langit. Tubuh tertutup selimut hingga ke bahu. Napas mulai kembali teratur.
Bima memiringkan tubuhnya, menghadap Ledi. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Bima sambil membelai rambut Ledi.
“Iya, aku nggak apa-apa, Yang,” jawab Ledi pelan, tanpa menoleh. Pandangannya tetap terpaku pada langit-langit kamar. Kipas angin berputar pelan, menggerakkan udara yang hangat.
Tangan Bima perlahan turun, berhenti di atas perut Ledi. Diam di sana.
Ledi memejamkan mata. Ia tidak tahu apakah pria itu sedang melindungi—atau sedang memilih untuk tidak bertanya.
Tangan Bima sempat berhenti—seperti hendak menarik diri—lalu kembali diam di tempatnya. Ledi tidak berkata apa-apa, hanya menarik tubuh Bima sedikit lebih dekat.
Tidak ada percakapan tentang masa depan. Tidak ada pertanyaan tentang kemungkinan. Hanya napas yang perlahan kembali teratur di atas kasur yang terlalu sempit untuk dua orang.
***
Ledi tetap bangun pukul setengah lima hampir setiap hari. Tetap mengenakan seragam biru tua. Tetap mengepel lantai yang selalu dilewati para pengunjung mal.
Hanya saja, meski perutnya belum terlihat membesar, tubuhnya terus memberi isyarat yang semakin tidak bisa diabaikan.
Mual datang lebih sering. Bau pewangi toilet kini terasa terlalu tajam. Kadang, ia harus berhenti sebentar, menunggu gelombang itu reda sambil berpegangan pada dinding.
Di kamar kos, kalender di ponsel menunjukkan tanggal yang terus bergeser. Tidak ada lagi ruang untuk menghitung ulang sambil mengharapkan hasil yang berbeda.
Suatu sore, setelah mandi, Ledi berdiri di kamar mandi sempit itu dengan sebuah testpack baru di tangan.
Beberapa menit kemudian, dua garis muncul lagi.
Ledi tidak menutup mata. Tidak juga menghela napas panjang. Ia hanya menatapnya, lalu meletakkannya di atas meja kecil di kamar.
***
Keesokan siangnya, hari Minggu, Bima kembali bertamu ke kamar kos Ledi.
Bima duduk di kursi plastik dekat jendela. Wajahnya tenang, seperti biasa. “Ada apa, Yang?” tanyanya.
Ledi berjalan mendekat, lalu meletakkan testpack itu di atas meja.
Bima menunduk, pandangannya tertuju cukup lama pada benda itu. Ia tidak langsung menyentuhnya, tidak pula langsung menatap Ledi. Sunyi turun perlahan di antara mereka.
Di luar, suara motor lewat sebentar lalu menghilang.
Bima mengangguk kecil. Rahangnya mengeras sepersekian detik, lalu kembali netral. Ia bersandar ke kursi, menatap lantai beberapa saat seperti sedang menimbang sesuatu.
Bima menatap testpack itu lama. Ia menghela napas pendek.
“Ya udah,” kata Bima beberapa detik kemudian. Dua kata yang terdengar sama seperti beberapa pekan lalu—tapi kali ini terasa lebih berat. “Kita nikah aja,” lanjut Bima. “Aku udah kerja. Gaji udah jelas.”
Ledi mengangguk.
“Kamu nggak usah kerja lagi, ya,” kata Bima lagi. “Urusan nafkah, semuanya tanggung jawabku.”
Ledi tidak menangis, hanya menatap pria di hadapannya itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
Bima melangkah mendekat. Tangannya terangkat, lalu berhenti di atas perut Ledi. Diam di sana. Sentuhan itu tidak posesif. Tidak penuh gairah. Lebih seperti memastikan sesuatu yang saat ini belum terlihat.
Ledi memegang tangan Bima yang masih menyentuh perutnya.
Mereka berdiri dalam jarak yang lebih dekat dari biasanya, tapi tanpa pelukan.
Di atas meja kecil itu, gelang cokelat masih tergeletak. Di atas kasur, boneka beruang berpita biru diam menatap langit-langit. Seragam biru tergantung rapi di dinding.
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Gm.
menakutkan. ...
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...