Bab 12 – Sisa Waktu (21+)
Notre Dame berdiri megah dengan dinding batu yang tampak lebih pucat dibanding yang Ledi lihat di internet. Detail ukirannya terlihat kasar dan berbayang, lebih nyata dari foto mana pun yang pernah ia simpan.
Kevin menggerakkan tangannya, meminta Ledi menggeser tubuhnya sedikit ke kiri. “Yup! Tahan!”
Ledi tersenyum.
Cekrek!
Beberapa jam kemudian, Kevin menggendong tubuh Ledi dan mendudukkannya di wastafel kamar hotel. Permukaan marmer yang dingin menyentuh paha Ledi.Cermin besar memantulkan tubuh mereka berdua tanpa suara.
Di Louvre, Ledi berjalan setengah langkah di depan Kevin. Piramida kaca memantulkan langit pucat. Kevin memanggilnya pelan. Ledi menoleh. Kamera ponsel kembali berbunyi.
Beberapa detik kemudian, ponsel Ledi bergetar.
Ia membuka WhatsApp. Beberapa foto baru masuk—dirinya di depan piramida, rambut tertiup angin, mantel krem yang jatuh rapi di bahu. Di salah satu foto, tangan Kevin terlihat samar di pinggangnya.
Satu pesan suara menyusul. Ledi menekan tombol play.
“My lady.” Suara Kevin terdengar lebih dekat dari jarak di antara mereka. Lebih rendah. Lebih intim.
Ledi mengangkat wajahnya dari layar dan menatap Kevin. Kevin hanya mengangkat alis tipis, seolah tidak terjadi apa-apa. Ledi tertawa kecil. Kevin ikut tertawa.
Di kamar hotel, seprai kembali kusut. Tangan Kevin menindih tangan Ledi yang memakai gelang kain. Jemari mereka bertautan.
“Kevin … jangan lagi di—”
“Tenang,” jawab Kevin singkat.
Di kafe kecil dekat sungai, Kevin menerima telepon. Ia menjauh beberapa langkah. Nada suaranya sedikit berubah—lebih pelan, lebih lembut dari biasanya. Satu kata terdengar jelas: “Aku juga.”
Ledi menatap permukaan kopi yang mulai dingin. Ia tidak bertanya ketika Kevin kembali duduk di hadapannya.
Tirai kamar hotel bergoyang pelan tertiup pendingin ruangan. Tangan Ledi menyentuh kain tipis itu. Kevin mendekat dari belakang. Jarak di antara mereka lenyap tanpa aba-aba.
Di Montmartre, mereka berjalan menaiki tangga batu yang menanjak perlahan. Seorang pelukis jalanan menawarkan potret cepat. Kevin mengangguk ke arah Ledi. Mereka berdua tersenyum.
Gelang kain Ledi tergeletak di atas meja lampu tidur. Tidak lagi melingkar di pergelangan tangannya. Lampu tidur bergetar tipis setiap kali kasur bergerak. Seprai berkerut semakin dalam.
Di toko kecil dengan jendela penuh pajangan boneka beruang berpita biru, Kevin masuk sambil merangkul Ledi.
Kevin memegang dua boneka mungil dan memberikan salah satunya pada Ledi, “Biar nanti ada yang nemenin kamu kalau aku nggak ada,” katanya ringan.
Di sofa kamar, mantel tergeletak sembarangan. Di lantai, kemeja Kevin bertumpuk dengan gaun Ledi. Tidak ada lagi rasa ragu. Tidak ada lagi jeda panjang sebelum sentuhan.
Di Champs-Élysées yang ramai, mereka menyusuri deretan toko dengan kantong belanja di tangan. Kevin sesekali menarik Ledi mendekat agar tak tersenggol orang lewat, tangannya tetap bertahan di pinggang Ledi.
Ledi tidak lagi menyadari kapan tangan itu mulai menetap di sana.
Kevin membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk. Uap keluar lebih dulu sebelum tubuh Ledi terlihat di baliknya. Ledi hanya menoleh sekilas, lalu kembali mengeringkan rambutnya.
Di jembatan kecil yang menghadap sungai, mereka berhenti bersama wisatawan lain. Kevin berdiri di belakang Ledi, mencium rambutnya saat mereka menatap air yang berkilau diterpa cahaya sore.
Ponsel Ledi bergetar di atas meja. Nama yang muncul terlihat jelas: Bima.
Ledi melihat sekilas. Kevin juga. Isi pesannya: “Akhirnya aku diangkat jadi karyawan, Yang!”
Ledi meraih ponsel, mengelap bibirnya dengan tisu, lalu mengetik pelan: “Maaf tadi lagi mandi, Yang. Syukurlah kalau gitu.”
“Aku udah nggak sabar mau ketemu kamu, Yang,” kata Bima.
Ledi mengetik balasan. “Iya. Pulang nanti, ada yang mau aku omongin juga.”
Pesan terkirim. Ponsel diletakkan kembali menghadap bawah.
Kevin mengenakan jam tangannya kembali. Tidak bertanya apa pun.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Testing
testing ...
Desa Di Ujung Senja
Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...